
Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan..
Dirumah Gus Afnan
"Bu, ada yang ingin yayah bicarakan" kata gus Afnan
"Bicara tinggal bicara mas.. Kayanya serius banget" kata Shahia
"Mas akan masukkan Ziya ke sebuah pesantren" kata gus Afnan
"Gak yah, bubu gak setuju" kata Shahia
"Setuju gak setuju ya harus setuju.. Ini demi kebaikan Ziya sayang" kata gus Afnan lembut
"Kenapa sih yayah tega banget sama anak sendiri" kata Shahia yang sudah menangis
"Ini bukti cinta dan sayang kita kepadanya." kata gus Afnan
"Ini bukan cinta dan sayang namanya" kata Shahia
"Kita sudah berjanji kan? Bahwa anak kita harus menjadi anak yang berguna bagi agama dan bangsa? Ini sudah waktunya" kata gus Afnan
"Mas tega sama anak sendiri.. Kesian dia kalau jauh dari kita.. Nanti dia disana sama siapa? Siapa yang nyuciin bajunya?" tanya Shahia
"Kita cari yang sudah ada laundrynya sayang.. Jadi Ziya gak perlu nyuci baju.. Gak mungkin juga lagian Ziya nyuci baju sendiri.. Dia nanti hanya fokus belajar, belajar dan belajar saja" jelas gus Afnan
"Gak, Shahia tetap tidak setuju.. Dia perempuan mas, dia masih kecil.. Baru juga kelulusan tk, masa sudah harus dipisah dari kita.. Tunggu dia tsanawiyah aja yaa" pinta Shahia yang masih mengeluarkan air mata
"Dari dini sudah harus digembleng, agar besarnya mampu memimpin dunia.. Walau dia perempuan tapi mas yakin, Ziya akan jada wanita yang kuat nantinya" kata gus Afnan
"Terserah" kata Shahia meninggalkan gus Afnan
__ADS_1
Ya, usia Ziya sekarang 6th.. Dan ia baru lulus TK..
Gus Afnan berencana untuk mengirimnya kesebuah pesantren yang letaknya lumayan jauh dari pesantren mereka..
Sebagai Ibu, Shahia tak mengizinkan.. Shahia ingin Ziya sekolah di pesantren ini saja.. Dekat dengan keluarga..
Dilalah melihat Ziya yang masih sangat kecil sudah harus dikirim ke pesantren.. Shahia sangat tidak tega..
"Bisa bisanya mas Afnan mau mengirim Ziya jauh dariku" tangis Shahia
Gus Afnan masuk kedalam kamar, ia melihat sang istri tengah menangis..
"Bu, sudah lah jangan menangis.. Kesihan bayi yang ada didalam kandungan bubu" kata gus Afnan memeluk sang istri
"Gimana gak nangis? Mas ayah yang jahat tau gak sama anak" teriak Shahia
"Shuutt, sayang.. Mas dulu juga begitu.. Kelar tk mas langsung di oper ke pesantren" kata gus Afnan lembut
"Shuutt.. Sayang sudah yaa jangan menangis.. Nanti dedek bayinya ikut nangis" kata gus Afnan
Usia kandungannya sudah memasuki 8 bulan..
Tinggal menunggu kurang lebih 1 bulan lagi ia akan melahirkan.. Dan jenis kelamin anak kedua mereka adalah laki laki..
Malam hari, Shahia memasuki kamar anaknya.. Ia melihat Ziya yang sudah terlelap dalam tidurnya..
Ia kembali sedih saat mengingat gus Afnan akan mengirimkan anaknya ke pesantren dan jauh dari mereka.. Bagi Shahia, Ziya masih sangat kecil.. Walau diusianya ia terlihat dewasa tapi dia tetaplah anak kecil yang masih butuh banyak perhatian hari orang tuanya.. Shahia takut diusinya Ziya, ia belum siap harus berjauhan dari orang tuanya..
"Bubu akan berusaha membujuk yayahmu nak agar kamu tidak dikirim ke pesantren" batin Shahia sambil mengelus ramvut sang anak
Air matanya menetes, lalu dengan cepat ia menghapusnya dan keluar dari kamar sang anak.. Ia kembali masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya disamping gus Afnan yang juga sudah lelap..
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
Maaf ya buat para readers, beberapa hari kemarin tidak dapat up karena kesibukkan yang teramat padat.. Kelar kerja langsung tepar dan gak sempat buka noveltoon..
Terimakasih banyak yang sudah setia menunggu dan membaca karyaku..
__ADS_1
Tetap beri support yaa.. Dengan like, komen dan vote.. 😘