Pesantrenku Saksi Cintaku

Pesantrenku Saksi Cintaku
Ep. 63


__ADS_3

"Paaahhh.. Paaahhh" teriak mamah Nida


"Apa mah?" tanya papah Nida


"Ko bunga di pelaminan jadi pada layu sih?" tanya mamah Nida heran


"Loh iya ini.. Gimana sih orang WO nya" kata papah Nida


"Suruh Nida telpon orang WO nya lagi pah mumpung belum jauh mungkin kan belum lama pergi" kata mamah Nida


Lalu papah Nida menyuruh Nida menelpon orang WO nya lagi..


Setelah orang WO nya di telpon mereka langsung menuju rumah Nida lagi..


"Ko bisa ya jadi pada layu seperti ini?" tanya orang WO heran


"Ya mana saya tau, tadi kita keluar mau lihat pelaminannya ko malah bunganya pada layu" kata mamah Nida


"Padahal saya memberikan bunga yang fresh bu, sesuai permintaan calon pengantin" kata orang WO


"Ya sudah mas gini saja, ini ganti sama bunga yang baru lagi.. Masalah biaya nanti saya yang bayar" kata papah Nida


"Baik pak, tapi tunggu ya pak.. Mungkin nanti siang saya baru kesini lagi atau sore membawa bunga yang baru" kata orang WO


"Ya gak papa asal selesai soalnya besok sudah acaranya" kata papah Nida


Nida yang sedang di pingit dan tak bisa keluar rumah pun heran, kenapa bunganya pada layu semua.. Tidak mungkin orang WO itu memberikan bunga yang tidak fres secara WO itu yang terkenal di kota ini..


Di kediaman Abah, Umi merasakan hal yang tidak enak kepada putra ke duanya itu.. Ini sudah pukul 10:00 tetapi sang anak belum juga pulang ke rumah..


"Abah telpon Arkan dong, kapan dia pulang? apa anak yang di temuinya itu parah sampai dia tidak bisa pulang" kata Umi


"Ponselnya tidak aktif mii.. Mungkin sebentar lagi pulang" kata Abah


"Setidaknya dia beri kabar bah" kata Umi cemas


"Mii dia kan kemarin pergi gak bawa apa apa, pasti dia juga gak bawa charger ponsel.. Sudah kita tunggu saja" kata Abah


Para santriwati tengah sibuk membuat kue kue untuk seserahan besok saat pernikahannya gus Arkan..

__ADS_1


"Gak nyangka yaa Nida jadi juga sama gus Arkan" kata Muti


"Ya namanya juga jodoh" kata Ratna


"Banyak banget ya seserahannya, pakai roti buaya juga lagi" kata Evi


"Ho'oh.. Denger denger juga mereka pakai jasa WO terkenal di kota ini loh" kata Ratna


"Wahh pasti harganya mahal tuh" kata Evi


"Udah sekarang kita buat ini.. Berikan yang terbaik untuk sahabat kita" kata Muti


Di kediaman Abah


Dering telpon berbunyi di ponsel milik Abah


*📞 "Selamat siang, apa benar ini dengan Abahnya saudara Arkan?"


"Iya.. Benar.. Maaf ini dengan siapa?" tanya Abah


📞 "Kami dari pihak kepolisian ingin memberi tahu bahwa saudara Arkan sedang berada di rumah sakit akibat kecelakaan" jelas polisi


"Silahkan bapak kemari saja di rumah sakit xxxx untuk melihat keadaan saudara Arkan" kata polisi


"Baik, terimakasih banyak pak" kata Abah*


Setelah menerima telpon itu, Abah memberitahu Umi dan gus Afnan atas apa yang menimpa gus Arkan..


"Bagaimana bisa terjadi ini bah?" tanya gus Afnan


"Abah juga tidak tau, sebaiknya kita kerumah sakit saja" kata Abah


"Apa kita tidak memberitahu ke keluarga Nida bah?" tanya Shahia


"Sebaiknya nanti saja kita beri tahu.. Sekarang kita harus lihat keadaan Arkan dulu" kata Umi


"Iyaa, nanti kita bicarakan baik baik kalau perlu kita kerumah Nida langsung.. Abah takut malah membuat Nida stres dan ke fikiran kalau hanya lewat telpon" kata Abah


"Yasudah kalau gitu kita kerumah sakit.. Bubu, Ziya biar di rumah saja.. Yayah tadi udah hubungi ustadzah Uca untuk menjaga Ziya" kata gus Afnan

__ADS_1


"Iya yah ayuk secepatnya kita kesana" kata Shahia


Sesampainya di rumah sakit, mereka melihat seorang laki laki terbaring lemah di ranjang rumah sakit penuh dengan luka bahkan di wajahnya pun amat penuh dengan luka..


"Tadi pihak kepolisian menemukan dompet ini beserta ponsel milik saudara Arkan" kata Suster jaga


"Baik sus terimakasih" kata gus Afnan


"Ini memang punya Arkan, ya Allah nak kenapa jadi begini? besok hari bahagia mu nak" kata Umi memeluk laki laki tersebut sembari menangis


"Umi, yang sabar.. Jangan sedih.. Gus Arkan pasti sembuh ko" kata Shahia menenangkan Umi


"Gimana Umi gak sedih nak, anak Umi ya Allah astaghfirullah" tangis Umi pecah


Karena luka yang cukup parah jadi bagi yang melihatnya pun takut dan ngeri..


"Sebaiknya Afnan kerumah Nida dulu untuk memberitahukan hal ini" kata gus Afnan


"Shahia ikut yah" kata Shahia


"Bubu di sini saja temani Umi, biar Yayah dan Abah yang pergi" kata gus Afnan


"Yasudah hati hati di jalan" kata Shahia


"Pasti sayang" kata gus Afnan mengecup kening sang istri


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2