Pesantrenku Saksi Cintaku

Pesantrenku Saksi Cintaku
Ep. 72


__ADS_3

Saat di tengah jalan ingin menuju rumah, gus Afnan bertemu dengan ustadzah Uca, lalu mereka berbicara masalah uang santri yang hilang kemarin itu. 


Gus Afnan sebenarnya sudah mengetahui, namun gus Afnan meminta sama ustadzah Uca untuk membantunya menjebak, agar lebih percaya lagi dan terbukti jelas. 


Malam harinya, sesuai rencana, ustadzah Uca dibantu dengan ustadzah Muti dan ustadzah Ratna, mulai melaksanakan rencananya.


"Memang akan berhasil pakai rencana seperti ini?" tanya ustadzah Ratna


"Insya Allah, para santri belajar malam di kelas, nah kita taruh fulus ini diatas salah satu lemari.. Kita lihat, siapa yang mengambilnya.. Diperkirakan uang hilang saat jam jam belajar malam seperti ini" kata ustadzah Uca


"Ya sudah, mau ditaruh berapa uangnya?" tanya ustadzah Muti


"Nih ana ada 50rb, pakai aja uang ana" kata ustadzah Ratna


"Ya kholas, ayuk syur'ah.. Kita sembunyi" kata ustadzah Uca


Setelah menunggu setengah jam, akhirnya terlihat sosok santri sedang mengendap ngendap menuju kamar. 


"Wah, ada uang nih.. Punya siapa ya? Pasti punya Putri, mumpung nggak ada orang.. Hihi" katanya berbisik


"Maaf ya put, duitnya ana ambil.. Ana butuh uang buat jajan.. Orang tua ana belum bisa kirimin ana uang, jadi terpaksa deh ana mencuri" kata seorang tersebut


Setelah merasa aman, santri itu lekas buru buru keluar dari kamar dan kembali ke kelas untuk belajar malam. 


Namun sayangnya, saat ia mau menuju kelas, ia di cegat oleh para ustadzah yang telah merencanakan ini semua. 


"Ila aina anti dzahib ukhti?"


"Ustadzah" kaget santri itu


"Apa yang ente sembunyikan Rena?" tanya ustadzah Muti


"La, ana la ukhfi' a'yu syai'(tidak, saya tidak menyembunyikan apapun)." gugup Rena


"Anti tukadzib( kamu bohong)."kata ustadzah Uca


"La, ustadzah" gugup Rena


Akhirnya Rena di bawa ke dalam kamar khusus ustadzah pengabdian dan di sidang di dalam kamar tersebut.


Karena Rena kekeh tidak mau mengaku padahal bukti sudah ada, dengan terpaksa ustadzah membawa Rena menghadap gus Afnan dan gus Arkan. 


Setelah mengabari gus Afnan dan gus Arkan, mereka mengunjungi rumah gus Afnan karena permintaan gus Afnan yang tak bisa meninggalkan rumah.


Tok.. Tok.. Tok.. 


"Assalamualaikum" salam mereka


"Wa'alaikumussalam" jawab gus Afnan dan gus Arkan

__ADS_1


"Masuk sini" perintah gus Afnan


"Gimana?" tanya gus Afnan 


"Afwan gus, seharusnya kami bisa menyelesaikan masalah ini, tapi Rena bener bener tidak mau memberitahu dan selalu mengelak." jelas ustadzah Uca


"Tidak apa apa, lalu ana mau bertanya sama Rena, kenapa Rena bisa sampai mencuri?" tanya gus Afnan


"Ana tidak mencuri gus!" kata Rena


"Bukti sudah ada kan? Kenapa pakai mengelak?" tanya gus Arkan


"Jawab saja yang jujur, tak usah takut" kata gus Afnan lembut


"Ada apa ini?" tanya Shahia yang baru datang


"Ini masalah santri, uangnya ada yang hilang, dan mereka mencurigakan Rena yang mengambil" jelas gus Afnan


"Terus?" tanya Shahia


"Ya sudah ada bukti, cuma Rena belum mau mengaku" kata gus Arkan


"Rena benar mengambil fulus temannya?" tanya Shahia lembut


Lalu Rena pun menangis karena takut dan menyesal atas perbuatannya. 


"Jujur saja sekarang, mungkin di asrama ente takut di dengar teman teman. Di sini tidak ada yang dengar, cuma kita kita saja" kata ustadzah Uca


"Jujur sayang, jangan menangis" kata Shahia mengusap air mata Rena


"Afwa ustadzah, afwan gus, iya benar memang ana yang mengambil uang itu.. Tapi ana punya alasan" tangis Rena pecah


"Kenapa ente mengambil uang itu?" tanya gus Arkan


"Orang tua ana sedang sakit, karena beberapa hari lalu ana dapat telpon kalau kontrakan tempat tinggal kami kebakaran, bapak dan mama sedang tidur, mereka tidak tahu kalau kebakaran, akhirnya mereka sesak nafas tidak bisa keluar karena api cukup besar.. Untungnya masih ada celah sedikit untuk mereka keluar." jelas Rena sembari menangis


Mereka yang berada di situ kaget dan terenyuh, menatap kasihan terhadap Rena santrinya itu. 


"Kenapa ente tidak bilang? Kan kita bisa menyuruh ente pulang untuk melihat keadaan orang tua ente" kata ustadzah Muti lembut


"Kata bapak gak usah pulang, kalau pulang butuh ongkos, belum lagi saat balik ke asrama, itu juga butuh uang" kata Rena


"Tapi cara ente salah sayang kalau ente mencuri, ente kan bisa pinjam uang" kata ustadzah Uca lembut  


"Afwan ustadzah, ana tidak akan mengulanginya lagi" kata Rena penuh sesa


"Terus bagaimana keadaan mereka sekarang?" tanya gus Afnan


"Ana tidak tau gus, ana belum menelepon orang tua lagi dan orang tua ana juga belum menelepon ana lagi" kata Rena lirih

__ADS_1


"Ya sudah gini saja, sekarang balik ke asrama. Ana maafkan kesalahan ana yang ini, tapi tetap yaa hukuman berjalan. Biar ustadzah langsung yang memberi hukuman.


Besok telpon orang tua ente, kalau sudah telepon, ente temui ana lagi" kata gus Afnan


"Na'am gus, syukron.. Ustadzah ana minta maaf" kata Rena


Ustadzah Uca, Muti dan Ratna mengangguk memaafkan


"Iya, jangan diulangi lagi ya.. Kalau gak punya uang atau punya masalah cerita sama ustadzah. Mereka pengganti orang tua kalian selama kalian berada disini. Ente kalau malu meminta bantuan sama mereka,ente bisa langsung temui ana ya" kata Shahia lembut


"Syukron ustadzah" kata Rena


"Yaudah, sekarang balik ke asrama istirahat" kata gus Arkan


Setelah itu, mereka pamit undur diri. 


Tersisalah gus Afnan, gus Arkan dan Shahia.. 


"Kesian ya mas, dia pasti pengen banget pulang menemui orang tuanya" kata Shahia


"Iya, makanya besok mas suruh dia kesini lagi.. Kita akan datang ke rumahnya dan beri bantuan.. Arkan, tolong besok mintain dana seikhlasnya sama para asatidz untuk membantu Rena" perinta gus Afnan


"Siaap bos" saut gus Arkan


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.. 


Ayo dong ka.. Like,komen dan votenya.. Biar author tambah semangat.. 😊


Beri rate 5 bintang juga yaa, sama jangan lupa tambahkan ke favorite kalian, agar dapat info update part berikutnya.. Terimakasih 😘

__ADS_1


__ADS_2