Pesantrenku Saksi Cintaku

Pesantrenku Saksi Cintaku
Ep. 103 Season 2


__ADS_3

Malam harinya dirumah Gus Afnan, Shahia mengajak Gus Afnan untuk berbicara serius perihal Ziya dan Hasna yang ia dengar akan mengabdi dipondokkan ini..


Ada rasa khawatir di hati Shahia, bukan takut Gus Afnan berpaling darinya tapi takut Hasna yang berbuat macam macam pada keluarganya..


"Mas, bisa kita bicara serius?" tanya Shahia


"Bicaralah" kata Gus Afnan


"Perihal Ziya anak kita.." kata Shahia menggantung


"Mas tidak akan mengirimnya ke pesantren lain.. Ia akan tetap sekolah disini tapi dengan syarat ia harus mengikuti kajian kitab bersama para santri" kata Gus Afnan


"Mas, kalau ikut kajian sama santri ilmu Ziya belum sampai sana.. Dia baru belajar shorof dasar, itu juga mas yang ajarin bukan guru di sekolahnya.. Lagian belajar shorof juga untuk kelas 4 SD sedangkan Ziya? dia aja baru lulus TK" kata Shahia


"Sedari kecil sudah harus diajarkan" kata Gus Afnan


"Okeehh.. Sha setuju kalau itu demi pendidikan Ziya.. Dan ada lagi tentang yang lain.." kata Shahia ragu


"Tentang Hasna yang ngabdiin dirinya disini? mas tak akan tergoda sayang.. Mas akan tempatkan dia di kampus, jadi mas tak sering bertemu, bertemu paling kalau ada rapat jajaran kampus saja.. Mas kan bukan dosennya" kata Gus Afnan lembut


"Mas emang bukan dosennya.. Tapi mas yang punya kampusnya" saut Shahia


"Sayaaang" kata Gus Afnan lembut


"Yaa.. Na'am.. Sha ngerti" jawab Shahia


"Jangan marah yaa.. Hati mas selalu untuk kamu" kata Gus Afnan memeluk sang istri

__ADS_1


"Sha takut dia ngerebut mas dari sha" kata Shahia sedih


"Hanya Allah yang bisa memisahkan kita sayang" kata Gus Afnan mengecup pucuk kepala istrinya


Setelah diberi pengertian oleh Gus Afnan dan masalah Ziya juga sudah diputuskan, ada kelegaan di hati Shahia..


Di balik pintu kamar, ternyata ada Ziya yang mendengarnya.. Ia tidak mengerti masalah orang yang bernama Hasna karena ia tak mengenalinya.. Tapi yang ia mengerti adalah masalah sekolahnya..


Ada kelegaan di hatinya dan kesenangan karena ia tidak dikirim ke pesantren lain.. Tak masalah jika ia harus belajar dengan para santri.. Toh ia juga sudah mulai menghafal kitab, jadi tinggal mengikuti alurnya saja..


Ia berjanji dalam dirinya tak akan membuat Yayah dan bubu nya kecewa.. Ia akan belajar segiat mungkin dan menjadi contoh yang baik untuk adik adiknya.. Ia begitu senang mendengar berita ini..


Ia lalu pergi keluar rumah dan menuju rumah Abah.. Ia ingin memberi tahu Abah dan jiddahnya tentang sekolahnya itu.. Baginya tak masalah sekeras apapun yayahnya mendidiknya, yang penting ia tak jauh dari keluarga..


Ziya anak yang pintar dan dewasa.. Ia selalu menjadi kebanggaan keluarga..


"Wa'alaikumussalam sayang" jawab Jiddah


"Jiddah tau gak? Yayah gak akan kirim Ziya ke pesantren loh.. Ziya seneng banget dengernya" ucap Ziya senang


"Oh ya? Jiddah belum tau tuh.. Ziya tau dari mana?" tanya Jiddah


"Tadi Ziya gak sengaja dengar Yayah dan bubu ngomongin masalah sekolah Ziya" jawab Ziya


"Ziya harus jadi anak yang pandai.. Jangan kecewain Yayah dan bubu.. Yayah sudah mengalah tak mengirim Ziya ke pesantren.. Jadi Ziya harus nurut apa kata Yayah" kata Jiddah memberi nasihat


"Na'am jiddah." saut Ziya dengan senyum manisnya..

__ADS_1


"Yayah.. Bubu.. Ziya sayang kalian" batin Ziya tersenyum


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2