Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Extra part 3


__ADS_3

Sudah beberapa menit mereka dalam satu kendaraan yang sama, tapi tak satu pun ada yang bersuara. Sella lebih banyak memperhatikan jalanan yang mereka lewati, dirinya memang terbiasa diam. Tapi kali ini diamnya membuat dia gusar, ketenangannya mulai terganggu.


Ardio tidak terlalu fokus pada jalanan, ekor matanya seolah tak dapat dia kendalikan, belum lagi lidahnya tiba-tiba keluh, banyak kata yang seharusnya dia ucapkan tapi tenggelam lagi dengan rasa tidak percaya dirinya. Berkali-kali dia menelan saliva membasahi tenggorokan, tetap saja dia ragu dan takut untuk memulai obrolan.


Ketika kesunyian itu terlalu hening membuat mereka berinisiatif mengulurkan tangan untuk menyalakan musik pada mobil. Tangan Sella yang lebih dahulu berada di dekat audio mobil itu beberapa detik kemudian di susul oleh tangan Ardio, tangan mereka saling bersentuhan, hanya sebentar, hanya beberapa detik, Ardio dengan cepat menarik kembali tangannya. Tapi sensasi yang mereka dapatkan membuat kecangguan itu makin menjadi.


Sentuhan tak terduga itu membuat sebuah getaran yang telah lama terpendam, seolah meletupkan buih-buih kecil ke permukaan mengantarkan riak gelombang yang sampai pada ujung hati yang telah lama kering. Membasahi dan tanpa di sadari membuat sesuatu mulai tumbuh menjadi benih.


"Ma-maaf," ucap Ardio sedikit terbata melirik Sella sebentar yang sedang menunduk menatap Dio yang tertidur dan Ardio kembali fokus pada jalanan. Dia menarik napas dalam dan diam-diam menghembuskan dengan pelan. Seolah menyesal telah membuat keadaan mereka tampak begitu kikuk.


Sella mengangguk tanpa menjawab.


Ternyata kematangan usia mereka tak menjamin bisa menutupi luapan kegugupan, sesuatu itu tetap begetar membuat jiwa muda mereka merona.


"Hmm" Ardio mencoba memberanikan diri, sebagai seorang lelaki dia harus mampu mengendalikan situasi, menekan rasa malu dan takutnya.


"Kita akan ke mana?" tanya Ardio dengan tatapan tetap lurus ke depan.


Sella berpaling menatap Ardio dan pada detik yang sama Ardio juga menatapnya. Kali ini Sella tak menghindar. "Aku kira kau sudah menentukan kita akan kemana?" sahut Sella tenang. Terlalu tenang malah, kegugupan yang tadi sesaat ditunjukkan oleh tubuhnya, kini menghilang begitu saja.


"Baiklah kita akan ke mall," jawab Ardio masih sedikit gugup hingga dia mengajukan ke tempat itu.Tempat yang paling ingin dia hindari tapi dia tak tau lagi, ke tempat mana yang pantas dia mengajak Sella dan Dio.


"Kau yakin?" tanya Sella heran.


"Hmm, sebenarnya aku tak tahu ke tempat yang mana yang cocok membawa jalan-jalan anak seusia Dio kecuali di tempat yang banyak permainan anak, ya di mall," terang Ardio dengan sedikit malu.


"Jangan ke sana"


Ardio mengerutkan dahinya, mencoba mencerna maksud dari Sella, perempuan yang irit bicara itu, membuat otaknya harus mampu menerka. Dia sudah hafal dengan sikap Sella tapi kadang dia berharap perempuan itu menjelaskan maksudnya.


Ardio memutar stirnya berlawanan arah dari tempat tujuan sebelumnya. Dia menyeringai melirik Sella dan Dio bergantian, otak nakalnya seolah pulih dengan cepat dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mengirimkan pesan pada Bams.

__ADS_1


Ardio


Batalkan semua agendaku dua hari ke depan.


Bams


Kau gila! Ini akhir pekan Ar, kau harus mengganti semua kerugian tiga kali lipat dari kontrak.


Ardio


Urus semuanya.


Bams


Kau di mana? Kau sedang mabukkah?


Bams tak habis pikir dengan pesan Ardio, dia pun mengira temannya dalam keadaan tidak sadar. Dia tidak bisa begitu saja membatalkan kontrak kerja Ardio dengan alasan yang di buat-buat, nama baik Ardio kelak yang di pertaruhkan.


Ardio


Bams


Untuk apa?


Balasan Ardio terakhir meyakinkan Bams, bahwa keadaan temannya sedang dalam kondisi tak wajar.


Ardio tak membalas pertanyaan Bams, dia mengirimkan sebuah alamat lalu mematikan ponselnya.


Beberapa puluh menit telah Ardio lalui dengan ketenangan karena perempuan di sampingnya tertidur dengan lelap sedangkan mereka sudah sampai tempat tujuan. Jauh dari keramaian, jauh dari polusi udara, hanya suaran deburan ombak yang terhempas ke pasir dan hembusan angin menerpa wajah dan tubuh Ardio saat ia keluar dari kendaraan.


Sella terbangun saat panggilan Ardio yang ke tiga menyebut namanya. Pria itu telah berdiri disampingnya dan memindahkan Dio ke dalam gendongannya. Mata Sella mengerjap-ngerjap saat silaunya cahaya lansung masuk ke mata. Tempat ini terlalu asing untuknya tapi terlalu indah untuk dia protes pada Ardio. Entah ke tempat apa pria itu membawa dirinya dan Dio. Tak penting. Sella terlalu senang melihat pemandangan di depannya, matahari tenggelam dengan warna jingganya yang sedikit-sedikit akan tenggelam dan berganti dengan langit yang menggelap.

__ADS_1


***


Setelah membersihkan diri dan makan malam, mereka keluar dari bangunan Vila. Dan tak lama kemudian sebuah kendaraan terpakir di samping mobil Ardio. Bams keluar dari mobil dengan tatapan kesal dan setelah itu gadis berambut pendek keluar dengan menatap heran pada Sella.


Otaknya sedang berpikir keras, menatap perempuan di samping Ardio yang begitu familiar di matanya saat tatapannya bertemu dengan mata Sella. Dalam beberapa detik kemudian wajah itu mengenali siapa yang berdiri di samping Ardio, raut mukanya seketika menampakkan ke tidak sukaannya.


Gea, nama yang di sebut oleh Ardio saat tatapan mereka bertemu. Sella hanya mengangguk, lalu dia kembali melihat kedatangan dua orang bersaudara itu.


"Jadi ini alasanmu" sindir Bams melihat Sella di samping Ardio yang sedang menggendong Dio.


Sella diam dan matanya silih berganti memandang kedua laki-laki yang berada di dekatnya. Tetapi raut tak peduli masih tercetak jelas di wajah perempuan itu.


"Jadi kita pergi?" tanya Sella sengaja memancing emosi Bams, menganggap tidak pentingnya kehadiran mereka.


Perempuan di samping Bams berdecak kesal melihat sikap Sella yang mengabaikan kehadiran dirinya bersama kakaknya, dan dengan gampang Sella malah mengajak Ardio pergi, padahal mereka baru saja datang.


Sambutan Sella yang begitu tak peduli membuat dia makin tak suka dengan perempuan yang namanya selalu di sebut oleh dua pria di hadapannya.


Bukan hanya tak suka dengan sikap Sella, dia merasa sakit hati apa yang pernah di lakukan Sella pada Ardio, dia tau jelas kisah perempuan cantik di hadapannya dengan orang dia sukai, sedangkan pria yang dia sukai masih saja setia.


"Kak," sapa Gea dengan manja sembari merangkul lengan Ardio. "Aku baru saja datang. Kau sendiri memintaku, setidaknya beri aku makan, setelah itu kita pergi bersama" rengek Gea di hadapan Sella.


"Ya, sebaiknya kau urus dulu adik ... mu itu!" sindir Sella menekan kata adik dengan intonasi kuat sambil menatap sinis pada Gea.


Ardio mengkerutkan dahinya melihat sikap keduanya, dia pun mengode Bams untuk mengajak Gea ke dalam. Toh, percuma juga dia bicara yang ada perempuan seperti Sella takkan peduli. Ada atau tidak ada dirinya Sella pasti akan pergi sesuai rencananya.


Langit di atas begitu terang dengan cahaya sang rembulan yang dikelilingi jutaan bintang. Sella sudah tak tahan ingin mengabadikannya dengan kameranya yang selalu ia bawa kemana-mana. Objek utamanya kali ini adalah Dio dan Ardio dengan suasana pantai yang gelap dan penerangan dari bulan membuat otaknya sudah membayangkan angel yang bagus akan dia ambil dari setiap sudut.


"Kak, aku ikut!" pinta Gea mengekori Sella dan Dio dari belakang.


"Gea, sebaiknya kau membersihkan diri dan menyantap hidangan makan malammu. Tadi penjaga Vila sudah mengantarkan makanan, kau tidak usah mengikuti kami kau akan lelah jika memaksakan diri." tolak Ardio selembut mungkin.

__ADS_1


Sella Menahan senyum saat Gea terlihat kesal dengan penolakkan Ardio.


__ADS_2