
Malam ini aku tidur dengan gelisah. Rasa malu karena kejadian tadi pagi belum juga dapat kuhapus dalam ingatanku. Apalagi kejadian tadi sore membuat dia tambah bersikap dingin lagi padaku.
Aku merasakan setiap tingkahku tadi begitu bodoh dan akhirnya membuat aku makin jauh dengan dirinya.
Kau terlalu berharap Allin
Handle pintu berputar, kulihat jam menunjukkan hampir tengah malam. Sedikit ada rasa takut, membayangkan mahluk alam lain mencoba memasuki kamarku.
Bodoh kau Allin, kau pikir ini rumah hantu.
Pintu itu makin melebar, ternyata dia disana dengan piyama hitam di padukan lis putih di sisi bagian kerahnya, surai rambutnya yang mulai panjang menutupi pelipisnya sampai ke alis, bagiku dia terlihat begitu polos, bukan seperti tuan Vano biasanya, yang selalu tampil dengan gaya elegan dan semua tertata rapi.
Matanya sedikit membola melihat ke arahku, mungkin dia tidak menduga jika aku masih terjaga. Ya aku tau, aku ini "si ***** alias nempel lansung molor" yang setiap berdekatan dengan posisi yang pas aku akan terlelap dengan mudah.
Dia menatap diriku begitu dingin, sepertinya dia masih marah dengan diriku. Ia berjalan mendekat ke arah nakas, meletakkan ponselnya dekat lampu hias dan di sebelah ada powerbank yang sedang tersambung ke stop kontak.
Nakas itu berada tak jauh dari ranjang yang aku tempati, lalu ia melepaskan alas kakinya dan naik ke atas ranjang membaringkan badannya. Tubuhnya membelakangiku, dia benar-benar mengabaikanku, menganggap diriku tidak ada.
Tapi sebelum dia menyelimuti badannya dia sempatkan bicara padaku.
"Tidurlah, jangan dipikirkan. Aku tau kau menikmatinya bukan? Tidak perlu kau tutupi, aku bisa merasakannya" kata-katanya terlalu percaya diri sekaligus mengejek diriku.
Rasa kesal dan malu makin menjadi, rasa tidak terima menguar begitu saja. Ada rasa ingin mencoba membalas kata-katanya tetapi otakku tak mampu untuk berpikir. Karena dalam hatiku, aku merasa senang dia ada disini bersamaku, jauh dalam hatiku aku merindukannya.
Rindu akan dekapannya, rindu akan kata manis, dan rindu interaksi kami yang selalu heboh dan penuh emosi.
Tubuhku yang terduduk sejak dia memasuki kamar ini, akhirnya aku baringkan. Tatapanku tak bisa lepas dari punggung lebarnya, aromanya yang memabukkan, ingin rasanya mendekap dan menenggelamkan wajahku di situ.
"Tuan bolehkah aku memelukmu?" ucapku begitu saja tanpa kusadari keluar dari mulutku yang tidak bisa dikontrol ini.
Dia berbalik badan seketika, tepat pada saat aku menepuk mulutku yang tidak bisa di atur ini.
"Kau bilang apa Allin?" tanyanya begitu antusias.
Aku hanya geleng-geleng membalas pertanyaannya.
"Cepat katakan lagi! Aku mendengarnya dengan jelas Allin, kau tak bisa mengelak Allin, sekarang aku hanya memastikan saja. Jangan coba-coba untuk berbohong" ucapnya beruntun tak memberi kesempatan untukku menyela.
"Aku menghela napas kalah! Kau sudah tahu, kau sudah dengar, kenapa Anda masih bertanya lagi. Anda ingin mempermalukan saya lagi" ucapku menjadi ketus.
Dia tersenyum miring, lalu sekejap mata dia sudah mendekap tubuhku dengan senyum mengembang.
"Tu-tuan" ucapku tergagap di dalam dekapannya. "Apakah kau tidak marah lagi padaku?" aku menengadah menatapnya, posisi kami begitu dekat, membuat jantungku berpacu dengan keras, rasa bahagia menguar begitu saja dari tubuhku.
__ADS_1
Ya aku bersyukur, karena aku masih bisa merasakan dekapan hangatnya.
"Hmm" dia tersenyum dengan tatapan hangat.
Sungguh aku rasakan tubuhku lunglai seketika.
"Rasanya ingin sekali, tapi aku tidak bisa untuk lebih jauh darimu, untuk tidak peduli denganmu, atau untuk mengabaikan dirimu lama-lama, seperti aku menyiksa diri sendiri" suara beratnya bicara meyakinkanku dengan sorot mata teduh.
"Lagi-lagi mulutmu begitu manis!" ucapkan malu-malu kucing, wajahku terasa memanas dan menghangatkan hatiku yang sedari dulu sudah aku bekukan.
"Jangan-jangan kau setiap hari begini?" tanyaku penuh selidik.
"Maksudmu?" dia terlihat tampak bingung denga pertanyaanku.
"Kau diam-diam mengendap masuk ke dalam kamarku"
Dia hanya diam menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, sembari tersenyum tipis, matanya tetap saja sibuk memperhatikan diriku, membuat aku merasa jengah.
Bukan, tapi itu rasa malu Allin.
Aku mencoba menghindar dari tatapannya, tapi tangan hangat itu merangkum pipiku hingga aku tak bisa menghindar dari tatapannya.
"Aku pikir akan baik-baik saja dengan menjauh darimu. Tapi ternyata tidak, aku selalu mencuri kesempatam untuk dekat denganmu. Sungguh lucu, waktu yang kita habisnya sangat singkat, tapi kau mampu membuatku bergantung pada dirimu" ucapnya begitu tulus membuat air mataku mengalir, dengan segera aku merapatkan jarak kami dan membenamkan kepalaku di dadanya.
Tapi lagi-lagi semua ini tidak tepat, sangkalku.
"Apakah bisa kita melakukan malam ini?" tanyaku tanpa rasa malu.
Matanya seketika membola, suasana romantis itu pecah menjadi adegan lucu baginya.
"Melakukan apa?" tanyanya menggoda.
"I-itu..."
"Apa...?" tanyanya pura-pura tidak mengerti dengan seringai di wajahnya.
"Ya seperti adegan di novel-novel" jawabku sembari melotot padanya. Dia memasang wajah bodohnya untuk mengejekku.
"Aku tidak suka baca novel Allin" gemasnya.
"Seharusnya kau juga membaca novel untuk memahami seorang wanita" cecarku yang sebenarnya aku juga ragu dan tidak paham, apa hubungan bacaan novel dengan memahami sikap seorang wanita.
"Aku tidak yakin itu maumu, kau sulit untuk terbaca Allin. Kau tidak suka meniru, dan kau tidak ingin terbaca dengan orang lain"
__ADS_1
"A-aku mau..., karena itu aku meminta" ucapku sembari mengerucutkan bibirku.
"Sekarang ini kau meminta apa Allin? Es krim atau cokelat?" ucapnya gemas
"Aku mengenalmu Allin." lanjutnya
"Tidak, kita hanya kenal baru beberapa bulan, kau tidak mengenal aku sepenuhnya" elakku membalas kalimatnya. Seharusnya aktingku tidak terbaca olehnya, tapi apa? Dia dengan mudahnya menebak.
"Tapi untuk ini aku mengenalmu Allin" dia menegaskan lagi.
"Aku tidak mengerti maksudmu"
"Kau seperti orang yang ingin menyelesaikan tugasmu bukan ingin bercinta denganku" sembari menarik hidungku dengan gemas.
"Ya itu memang tugasku untuk melayanimu"
"Pintar sekali kau menjawab ya"
"Aku memang pintar Tuan"
"Karena itu aku tidak mau terpedaya olehmu"
"Ta-tapi kau harus memberikannya, karena itu hakku" suaraku mulai meninggi, karena kesal dia tidak bisa aku pancing sama sekali.
"Untukmu pengecualian"
"Kenapa?"
"Karena maksud tersembunyimu itu, ingin lepas dan menjauh dariku" tembaknya dengan tepat.
"Ti-tidak Tuan. Bukan begitu, tetapi Anda-kan sebentar lagi makin tua, jika Anda tunda-tunda, kita akan lebih lama lagi untuk mempunyai seorang baby" kataku dengan muka tebal.
"Aku belum tua Allin. Aku bisa memberikan kesebelasan untukmu" sangkalnya dengan percaya diri.
Seketika aku melepaskan pelukannya dan duduk menghadapnya denga sorot tajam.
"Apa? Kau kira aku kucing bisa melahirkan anak hingga belasan. Aku tidak mau" pekikku.
"Kita akan membuatnya satu-satu dan berulang-ulang" bisiknya menggoda.
"Tuaannnn..., kau begitu mesum!"
***********
__ADS_1