
"Kau yakin?" tanya Vano memperhatikan hasil laporan orang suruhannya.
Pria itu mengangguk.
"Ternyata memang dia, perempuan ini benar licik"
Apa maksudnya dia mengirimkan gambar itu padaku dan adakah hubungannya dia dengan kejadian yang dialami Allin.
Vano mencoba mengaitkan kejadian itu satu sama lain. Dia tau istrinya dulu begitu penurut dengan Mila karena istrinya itu ingin memiliki seorang kakak tempat dia berbagi.
Apakah dia memanfaatkan ke polosan Allin lalu menjebaknya. Pikir Vano lagi sembari melihat gambar Mila dan laporan tentang saudara sepupu istrinya itu.
Perempuan itu pernah menghilang beberapa bulan lalu dia kembali dengan perut besarnya dan melahirkan seorang bayi. Dan bayinya juga di vonis sakit saat baru dilahirkan dan di rawat beberapa minggu.
Anak itu, dua bulan lebih muda dari anaknya Allin. Pikir Vano
Perempuan itu mengidap trauma pasca melahirkan membuat kondisi kejiwaannya tak terkendali.
"Lalu bagaimana hasil tes DNA-nya?"
"Semua sudah saya lampirkan di laporan itu, Tuan. Hasilnya negatif" jawab pria orang suruhan Vano dengan singkat.
Laporan tentang hasil tes DNA Allin dan Tegar.
"Sudah kuduga, perempuan tua itu tak sebaik perawakannya. Dia selama ini memanfaatkan Allin," guman Vano.
"Lalu, dimana anak dari istriku?"
"Tantenya memberikan kepada temannya."
"Astaga! Bagaimana perasaan Allin jika dia tau, orang yang dia percaya selama ini malah menghianatinya." Batin Vano, dia mulai gusar, apa yang harus dia lakukan menyembunyikan kebenaran ini atau dia jujur dengan informasi yang baru dia ketahui.
"Segera temukan anak itu!" perintah Vano.
Pria itu hanya mengangguk.
"Menurut informasi, bayi istri Anda dititipkan ke panti asuhan, tetapi pihak panti sendiri mengatakan mereka tidak menerima satu pun bayi pada bulan itu. Kemungkinan bayi Bu Allin ditinggalkan begitu saja atau dibuang ke tempat lain," ucap pria itu ragu. Dia merasa ada ke janggalan dengan keterangan dari pihak panti seolah mereka sedang menutupi sesuatu. Yang membuat anak buah Vano merasa curiga adalah pihak panti seolah sudah menduga kedatangan mereka.
"Terus selidiki lagi!"
"Baiklah."
__ADS_1
"Tuan ..., seseorang juga sedang menyelidiki keluarga itu."
"Ya, aku tau. Kau harus lebih cepat dari mereka."
Pria itu mengangguk dan berlalu pergi.
"Ardio Pamungkas," guman Vano.
***
"Aku tak mau tau, itu tugasmu membuat keributan di dalam rumah itu."
"Tetapi aku tidak bisa, Tuan Vano akan memecatku jika dia tau."
"Gunakan akalmu, aku hanya menyuruhmu menyebarkan gosip, hal kecil begitu saja kau tak becus. Aku ingin kau pojokkan dia, buat dia terguncang dengan gosip itu."
Mila memutuskan sambungan itu dengan kesal. Rencananya menghancurkan Allin gagal, ternyata Allin kembali rujuk dengan suaminya membuat Mila tidak terima.
"Kau tak boleh lebih dari aku Allin."
Lalu perempuan itu tertawa memandangi gambar adik sepupunya itu dengan seorang pria.
"Aku menawarkan diriku padamu, tapi kau menolakku. Dan apa yang kau buat, kau merenggut kehormatan adik sepupuku. Aku gagal menjebakmu, tetapi aku bersyukur untuk itu, kau membuat perempuan ini menderita karena ulahmu."
"Allin, kenapa kau begitu beruntung, tetapi aku takkan membiarkanmu menemukan anakmu."
***
Brak! pria itu memukul meja di hadapannya.
"Lagi-lagi wanita licik itu!"
Ardio sedang membaca informasi yang di berikan Bams padanya, membuat dia terkejut. Perempuan yang dia nodai, Allina Cantika adalah sepupu dari perempuan yang selalu ingin menjebaknya, Mila.
Dan tak lama dari kejadian tersebut, perempuan licik itu meminta pertanggung jawabannya, tetapi Ardio tak mau begitu saja mempercayai Mila. Hingga perempuan itu menyerah dan pergi dari kehidupannya. Tapi tak di sangka, saat dia mencoba mencari tau sosok Allin, ternyata perempuan licik itu ada hubungan dengan Allin.
"Ya, kau harus hati-hati padanya!"
"Jadi anak itu benar anakku," guman Ardio mengingat hadil tes DNA yang pernah dikirimkan Mila padanya.
Temannya hanya mengangkat bahunya menanggapi pernyataan Ardio, karena semua informasi yang dia dapati belum terlalu jelas untuk ia mengambil kesimpulan.
__ADS_1
"Lalu, anak yang mana yang dia lakukan tes itu. Dari hasil tes ini, mengapa menunjukkan bahwa itu bukan anakku."
Ardio menatap laporan terbaru dari hasil tes DNA yang dia lakukan menggunakan sampel rambut Tegar. Di situ menunjukan hasilnya negatif, sedangkan di laporan tes DNA dulu yang diberikan Mila jelas-jelas mengatakan bahwa dia adalah ayah dari bayi itu.
"Sudah kau coba mencari tau tentang anak itu."
"Aku sedang mengusahakan tapi sangat sulit, keluarga Fahrizi juga sedang menyelidiki, dia mencoba menghalangi orang suruhanku untuk mendapatkan informasi tentang anakmu."
Ardio mengangguk mengerti.
"Wajar, Mila berani mengaku bahwa dialah perempuan yang aku tiduri, ternyata dia tau dengan jelas kejadian tersebut dan siapa perempuan itu."
"Untungnya kita tidak percaya dengan perempuan licik seperti Mila. Pada kenyataaanya anak yang di rawat ibunya itu adalah anak dia sendiri. Bukan anak dari adik sepupunya, Allin."
Ardio mengangguk setuju dengan argumen temannya itu.
"Sedikit rumit dan memusingkan. Perempuan itu benar licik, bagaimana dia mengatur semua ini. Dan dia juga membohongi adik sepupunya sendiri."
"Lalu, apa kau sudah bisa mendekati perempuan itu?"
Ardio menggeleng, Vano memperketat penjagaan di rumahnya sejak kejadian Allin bertemu dengannya. Dia juga tak memberi cela buat Ardio bertemu dengan Allin lagi.
"Lalu rencanamu apa?"
"Entahlah." Ardio terlihat pasrah.
"Dan tentang Sella, apa kau sudah mencari tahu. Bagaimana bisa dia membiarkan suaminya menikahi perempuan lain?" tanya Bams penuh selidik.
Dia merasa ikut jengkel, saat tahu bahwa perempuan yang di gendong suami Sella di restoran adalah istri Vano juga. Dan ia kenal rupa meski tak tau namanya karena Allin salah satu mantan anggota fans club Ardio bersama Mila.
"Dia menghindariku." Ardio menjawab begitu tak bersemangat.
"Ternyata wajah tampanmu itu tak berguna di hadapan Sella"
"Tak usah mengejekku," geram Ardio sambil melototkan matanya.
"Kasihan, kasihan, poor Ardio," ejek Bams makin menjadi.
Ardio hanya berdecak kesal melihat kelakuan temannya tersebut.
"Kutunggu jandamu tapi kau tetap menolakku. Tema yang bagus bukan? Bisakah kau membuatkan lagu itu untukku," pinta Bams sambil memprovokasi Ardio.
__ADS_1
"Brengsek kau!"