Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Ke kompakan


__ADS_3

Allin menyisir rambutnya yang masih setengah basah, air menetes membasahi baju bagian atasnya. Vano menatap dengan tatapan sayu, dan dia mulai beranjak lebih merapatkan tubuhnya ke Allin.


Tangannya sibuk mencari sesuatu di dalam laci yang tak jauh berada dari tempat duduknya, sebuah hairdryer sudah dalam genggamannya. Ia mencoba membantu istrinya untuk mengeringkan rambutnya yang masih sangat basah, tetapi Alin mencoba untuk menepisnya.


"Tuan, tidak perlu dikeringkan! Biarkan saja nanti rambut ini akan kering dengan sendirinya"


"Kau kebiasaan Allin. Bagaimana selama ini kau mengurus diri sendiri, hal sepele ini saja kau tidak peduli. Rambut yang basah tidak boleh dibiarkan. Karena pada dasarnya rambut yang basah jika terkena angin dingin akan membuat rambutmu menjadi rapuh dan rontok. Jadi sebaiknya sesudah kau keramas, kau harus mengeringkan rambutmu dengan handuk dengan menggosok-gosoknya dengan lembut atau kau bisa menggunakan hairdryer ini."


"Sebagai seorang pria kau terlalu berlebihan Tuan. Ya, mungkin penampilan merupakan suatu yang penting untukmu, tetapi tidak untukku" jawab Allin cuek.


"Kau tau ada yang bilang, jagalah penampilanmu, karena penampilan adalah modal utama-mu untuk percaya diri. Jika penampilanmu tampak buruk. Bagaimana kau bisa percaya diri?"


Saat mereka sedang asyik berdebat, seseorang masuk tanpa mereka sadari. Mata mereka bertiga saling bertukar pandang bergantian.


Vano yang sedang mengeringkan rambut Allin terlihat santai, tapi tidak dengan Allin yang merasa tak enak hati dengan majikan satu lagi.


"Hai ...!" sapa Sella memecahkan rasa canggung mereka.


"Bu," jawab Allin gugup sembari sedikit merenggangkan jaraknya dari tuannya.


"Tidak apa-apa Allin. Kau tidak perlu sungkan dia juga suamimu" jawab Sella yang sudah terlihat santai dengan sedikit mencibirkan bibir bawahnya ke arah Vano.


"Bagaimana keadaanmu, aku hampir jantungan melihat kondisimu semalam. Sepertinya kau habis di terkam Serigala kelaparan," sindir Sella


"Hmm" tegur Vano


"Maaf" jawab Sella mengolok, mendengar teguran halus dari suaminya itu.


Allin hanya menampakkan wajah datar sedikit bingung. Tetapi dia sadar ada yang salah terjadi pada malam itu, tetapi dia juga tidak ingin untuk mengingat kejadian semalam.


"Sebaiknya kamu membersihkan dirimu dan berganti pakaian Al. Lihatlah dirimu begitu kacau." Sindir Sella sembari menyodorkan paper bag yang berisi pakaiannya Vano.


"Vano, Sel" tegur Vano mengingatkan istrinya yang satu lagi yang sedang menyindir dirinya.


"Itu kan juga namamu, nama depanmu Al. Terdengar romantiskan Allin?" tanyanya kepada Allin tentang panggilannya untuk Vano.


"Saya jadi teringat teman kamu, siapa ya namanya" ucap Sella sembari mengingat, bukan mengingat tetapi pura-pura mengingat, dia sengaja memancing emosi Vano.

__ADS_1


"Bian," dia menjawab pertanyaannya sendiri dengan antusias.


Allin hanya diam menyimak, Vano menggeleng melihat sikap Sella.


"Dia juga memanggilmu begitukan Alin" Sindir Sella, entah kepada siapa.


Alin menunduk merasa dirinyalah yang disindir oleh majikan perempuannya itu.


Vano lagi-lagi menanggapi dengan menggeleng dan pergi beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Bersihkan dirimu Al dengan benar. Baumu terlalu tajam di penciumanku. Kenapa kau begitu kacaunya, hingga tidak memperdulikan penampilanmu Al. Kau lebih buruk dari tukang parkir di depan" Sindirnya makin tajam dengan senyum merekah tanpa merasa berdosa.


Vano tidak mempedulikan apa yang dikatakan Sella dia tidak sedikit pun membalas sindiran istrinya itu. Dia malah tetap terlihat santai dan masuk


ke dalam kamar mandi.


Vano sudah menghilang di balik pintu, Sella mendekat ke arah ranjang Allin, dia duduk di tempat Vano tadi.


Tiba-tiba dia menggenggam tangan Allin dengan hangat, seharusnya kehangatan yang di rasakan oleh Allin tapi rasa takutlah yang membanjiri perasaannya melihat sikap majikannya itu.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan masa lalumu Allin, tetapi kau hebat di mataku." ucapannya begitu tulus dari sorot matanya tetapi Allin tak merasakan hal itu.


"Apakah kau tidak ingin sembuh dari trauma masa lalumu. Kau bisa melakukan terapi, aku akan mencari psikiater yang terbaik di kota ini. Apakah kau mau Alin?" tanya Sella penuh perhatian, tapi lagi-lagi Allin meragukannya, menyangkal semua sikap baik istri pertama dari suaminya itu.


"Tidak Bu, terima kasih. Aku baik-baik saja dan terima kasih atas niat baikmu" ucap Alin hati-hati meski bagaimana pun dia tidak ingin menyinggung perasaan majikannya itu.


Alin menatap lekat wajah majikan dengan sorot mata penuh selidik, majikannya itu tak terbaca sama sekali. Kadang dia sangat perhatian dan tulus, tetapi jika mengingat bagaimana dia bicara dengan sindiran halusnya yang cukup menusuk, Allin mulai meragu


Alin tau diri, dia sekarang sedang berbicara dengan istri lain dari suaminya yang seharusnya rasa persaingan atau kebencian pada dirinya pasti ada.


Kebaikan Sella selama ini bukan dia ingin mengartikan tidak tulus, tetapi baginya berhati-hati bersikap itu lebih baik.


Cukup dia sekali merasa di tekan dan ikut dalam permainan pernikahan ini.


Dia tidak ingin di masa depan Sella menggunakan kelemahannya lagi untuk menekannya.


Ayah dan bunda tuan Vano sudah setuju calon anaknya kelak, yang dia kandung dan lahirkan, dia-lah sendiri yang akan merawatnya, sampai anak itu cukup besar untuk dia lepaskan.

__ADS_1


"Aku mengerti Allin kau meragukanku, tetapi kadang kebaikan seseorang yang kau lihat baik itu tak selamanya begitu dan sebaliknya." ucapnya tenang membaca sikap Allin yang meragukannya, tapi dia tidak terlihat merasa tersinggung dari wajahnya.


Allin menunduk tak enak hati.


"Mungkin selama ini, bisa saja kau salah dalam melihat sisi kebaikan seseorang, kadang matamu sendiri bisa menipu, tak selamanya yang nampak itu nyata."


"Apa maksud dari ucapanmu Bu, aku sungguh tidak mengerti"


Alin berpikir sejenak mengingat ini bukan pertama kali majikannya berkata seperti ini, dia juga pernah berkata seperti ini saat mereka liburan, penuh teka teki.


"Apakah ini ada hubungannya dengan sikap tanteku Bu? Tanya Allin penuh selidik"


"Ya, mungkin bisa jadi. Aku hanya mengingatkanmu Allin, kau terlalu muda dan polos. Banyak hal yang belum kau pahami. Semua yang terlihat kadang tidak menunjukkan yang sebenarnya."


"Termasuk dengan sikap dirimu"


"Bisa jadi"


Cklek


Pintu terbuka, Vano keluar dengan tubuh yang segar.


Allin dan Sella menatap tajam kepada Vano, suasana ketegangan mereka sedari tadi di tembakkan kepada Vano.


"Ada apa dengan kalian, melihatku seperti ingin menerkamku saja"


"Bisa jadi" jawab Allin dan Sella kompak, mereka bertukar pandang, dan entah siapa yang lebih dulu memulai mereka saling tersenyum.


"Melihat kalian begitu kompak, berasa punya istri dua itu nikmat juga ya" ucapnya tak tau malu.


Allin dan Sella lagi-lagi kompak mendelikkan bola matanya melihat Vano dengan rasa jengah.


"Apa aku salah?" tanya Vano menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya" jawab Allin dan Sella kompak.


Vano seketika terkekeh senang melihat ke kompakan kedua istrinya.

__ADS_1


******


__ADS_2