
"Ar!" teriak seseorang.
Ardio seketika menoleh, di belakangnya berdiri seoarang pria, dengan wajah penuh tanya. Lirikan mata pria itu bergantian melihat ke arah Ardio dan bayi kecil yang di gendong Ardio. Sedangkan Ardio hanya menatap sekilas lalu menjawab, "Apa?", rasanya dia ingin mengabaikan panggilan itu, ada hal yang lebih penting yang harus dia lakukan.
"Kau mau ke mana?" Tanya pria itu menghampiri Ardio yang sudah melangkahkan kakinya, mengabaikan dirinya. Pria itu melebarkan langkahnya mendahului Ardio.
"Anak siapa ini?" Tanyanya lagi penuh selidik sembari menghadang jalan Ardio.
"Anak Sella" Ardio tahu Sella mengadopsi seorang anak, postingan di Instagram Sella penuh dengan wajah bayi kecil ini dan babysitternya.
Karena itu dia merasa sangat marah, saat melihat Vano begitu perhatiannya pada babysitter anaknya itu.
Tetapi Ardio mulai meragu, ia lihat wajah bayi tampan yang di dalam gendongan, wajahnya begitu familiar, dan wajah babysitter itu tergambar samar di wajah bayi ini tetapi tetap berasa kental di penglihatannya.
Perasaan lain juga muncul saat Ardio melihat bola mata anak itu, ada rasa kedekatan yang menghampiri pikirannya.
Mengenal tapi tidak tau siapa.
"Aku harus pergi. Orang tuanya akan khawatir jika aku tidak segera menghampirinya." Tunjuk Ardio ke arah Vano yang sedang menggendong Allin.
"Tunggu saja di dalam, aku pergi sebentar untuk mengantarkan anak ini" pinta Ardio pada temannya.
Pria itu mengangguk tetapi tatapannya tak lepas dari Dio. Bayi kecil itu diam, dia hanya menatap Ardio dari tadi dengan rasa bingung, dia tidak mengerti dan tidak mengenali siapa pria yang menggendongnya.
"Lihatlah dia sangat mirip denganmu Ar" Seru Bams teman Ardio, menyadari adanya kemiripan wajah Ardio dengan bayi yang di gendong temannya itu.
"Kau jangan asal bicara, dia anak orang! Kau bilang mirip denganku, bisa jadi bapaknya menghajar diriku, di kira aku yang mengahamili istrinya" Ardio tidak terima.
Bams terkekeh mendengarnya.
"Siapa tau Ar, mengingat sepak terjangmu selama ini" sindir Bams.
"Aku tidak pernah merusak rumah tangga orang Bams dan aku hanya melakukan itu dengan ...," Ardio terdiam begitu juga Bams, mereka mengingat kejadian satu setengah tahun yang lalu.
"Sudahlah! Aku mau mengantarkan anak ini ke suaminya Sella" Ardio memberhentikan pembicaraan mereka yang tidak sepantasnya di bahas di tempat terbuka.
Bams mengerti Ardio tak meneruskan kata-katanya, rasa bersalah menghantui dirinya apalagi dengan temannya itu.
Bams memperhatikan Ardio pergi, meninggalkannya dengan rasa penasaran, kakinya pun mengikutinya Ardio dari belakang.
***
__ADS_1
Vano menurunkan Allin dengan hati-hati ia menyenderkan tubuh Alin ke body mobil.
"Apa kau kuat?"
Allin merasakan tubuhnya masih lemah, tetapi dia sudah kuat untuk menompang dirinya sendiri.
"Ya" jawab Allin lemah
Seseorang mendekati mereka. Allin bisa merasakan tatapan pria itu tertuju padanya, dia mencoba menghindar dan memalingkan wajahnya, rasa takut masih bisa dia rasakan tetapi tidak sebesar rasa yang tadi.
Vano membuka pintu dan membantu Alin untuk masuk ke dalam mobil. Dia dengan lembut meletakkan istrinya untuk duduk dengan posisi nyaman.
Allin menatap Vano dengan rasa takjub, rasa syukur meluap begitu besar, melihat perhatian Vano.
Menarik hampir seluruh perhatiannya, membuat dia melupakan rasa sakit dan mengurangi rasa takutnya pada Ardio.
"Tunggu aku di sini, aku akan membayar tagihan kita. Ingat Allin! Aku ada disini dan takkan ada yang akan melukaimu atau menyakitimu." Vano memberi pengertian pada Allin.
Allin mengangguk
Pintu mobil itu masih terbuka, Vano membalikkan badannya. Seseorang berdiri tak jauh darinya, Vano menatapnya dengan amarah yang tertahan. Lalu dia mengambil Dio dari dekapan Ardio, tanpa mengucapkan rasa terimakasih, menatap pun Vano tak sudi.
"Kau ingin aku menaruh Dio di belakang atau ...,"
Allin menggeleng, "Biarkan Dio di pangkuanku" Allin memotong perkataan Vano. Dia butuh Dio dalam dekapannya, untuk menenangkan hatinya.
Ardio menatap mereka dengan rasa bersalah, meski rasa kesal tetap bergemuruh di dadanya. Adanya rasa penyesalan di dalam dirinya melihat babysitter itu shock karena perkataannya.
"Maaf Nona, aku tidak bermaksud membuat kau shock dengan perkataanku, tetapi aku benar tidak suka melihat kalian terlalu dekat tak selayaknya seperti majikan dan pengasuh. Dan kau Tuan, seharusnya kau tidak memperlakukannya terlalu berlebihan, ini di depan umum, kau akan melukai istrimu."
"Permintaan maaf macam apa itu, kau meminta maaf tapi kau tetap menghujam kami, kau tidak perlu ikut campur urusan kami."
Vano membalikan badannya menatap tajam pada Ardio. Dia makin emosi, tangannya mengepal, urat-uratnya menyembul, rasanya ingin dia menghantam mulut pria yang di hadapannya itu.
Allin menangkap dengan jelas aura kemarahan Vano, dia dengan lembut mengusap tangan Vano. "Aku ingin segera pulang" rengek Allin dengan nada lemah.
Vano menatap Allin dengan mata sendu, amarahnya seketika mereda, dia mengangguk, dan mengusap kepala istrinya itu, dan kemudian dia menutup pintu mobil.
Ardio melihat dengan jelas bagaimana sikap Vano yang begitu lembut dan penuh perhatian, dia tak mampu berkata lagi.
Rasanya ingin dia menghajar pria yang di nikahi mantan kekasihnya itu, tetapi dia sadar mereka berada di tempat umum, dan dia juga tidak ingin lagi membuat perempuan tadi tambah sock apalagi ada anak kecil di sekitar mereka.
__ADS_1
"Cepat kau pergi dari sini sebelum aku menghajarmu" ancam Vano dengan wajah dingin.
Ardio mengikuti permintaan Vano tanpa mengatakan apa pun, dia beranjak dan pergi meninggal Vano begitu saja masuk ke dalam restoran.
Bams mengikuti Ardio dari belakang, dari tadi dia berdiri di balik kerimunan mobil, bersembunyi dan mendengarkan perdebatan mereka. Tapi bukan hal itu yang menarik perhatian Bams, perempuan yang bersama Vano lah yang menjadi pusat perhatiaannya.
"Siapa perempuan itu?" bisik Bams pada Ardio.
"Dia babysitter anak itu."
"Lalu apa masalahmu denga mereka"
"Bukan apa-apa" jawab Ardio, dia sadar masalah ini menyangkut dengan Sella dia tidak ingin orang lain menjadikan Sella jadi bahan pembicaraan, meski itu temannya sendiri.
"Kau tak mengenali perempuan itu?"
"Aku tidak kenal dia, tetapi aku merasa pernah melihat dia"
"Ya, wajahnya begitu familiar. Dia seperti seseorang ..., mungkin bukan" Bams bicara terputus, meragukan sendiri pemikirannya.
Ardio memperhatikan Bams dengan lekat.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Ardio dengan rasa curiga kepada Bams.
"Entahlah, tetapi wajahnya tak asing" jawab Bams ragu.
"Mungkin dia salah satu fansku" ucap Ardio menambahi.
Deg, deg,
Fans?
Bams merasa mengingat sesuatu, tetapi dia belum yakin sepenuhnya.
"Kenapa kau tiba-tiba mematung?" tanya Ardio melihat Bams berhenti melangkahkan kakinya.
"Tidak apa-apa, aku harus memastikan sesuatu"
"Apa?"
"Nanti juga kau tau" ucap Bams melangkah lebih cepat mendahului Ardio.
__ADS_1