
"Kau masih di sini, Mbak?" tanya Allin seketika, saat melihat Sella yang tengah meringkuk di atas ranjang Dio.
"Kau ingin mengusirku?" tanya Sella balik, sambil bersungut-sungut.
"Memang kau bisa di usir!" cibir Allin dengan tatapan mengejek.
Sella tak menyahut, dia melemparkan bantal kecil pada Allin dan di tangkap oleh Allin dengan baik.
"Kau, kenapa?" tanya Allin lagi sambil menaikan tubuhnya ke atas ranjang. Dia tampak kesulitan karena perut besarnya membuat geraknya tak selincah biasanya.
Sella tak menjawab, dia fokus melihat gerakan Allin dan dia juga memposisikan dirinya untuk duduk. "Apakah itu tak berat," tunjuk Sella dengan cebikkan bibirnya pada perut Allin.
Allin menggeleng sambil tersenyum. Perempuan itu ingin menceritakan bagaimana sensasi menjadi seorang ibu hamil, tapi dengan segera dia tahan.
Kadang kebahagiaan kita tak selamanya orang terima, malah membuat orang lain menjadi cemburu, karena asumsi itu, Allin hanya tersenyum sambil menggeleng.
"InsyaaAllah, kau juga pasti akan merasakannya." Allin coba meyakinkan Sella.
"Aamiin." Allin dan Sella mengaminkan secara bersama.
"Allin ..., apakah kau tidak takut, jika kelak kebahagiaanmu diambil oleh tuhan?" tanya Sella sendu.
Allin tidak lansung menjawab, dia mengambil tangan Sella untuk dia genggam, lalu perempuan hamil itu menatap Sella dengan lekat. Dia ingin meyakinkan Sella bahwa perempuan itu berhak bahagia.
"Jika tuhan akhirnya mengambil kebahagiaan dari sisiku dan menggantinya dengan sebuah kesedihan, aku takkan takut. Pada dasarnya kebahagian itu ada karena kita mau menerima keadaan kita sendiri.
"Jika kita sedih dengan perubahan yang terjadi, itu wajar! Kita hanya perlu menata hati kita untuk menerima. Tiap orang mempunyai tolak ukur masing-masing mengartikan kebahagian, seperti orang miskin akan merasa bahagia jika dia kaya, yang buta akan bahagia jika dia melihat, tapi banyak di antara mereka yang tetap bahagia meski semua yang mereka harapkan tidak sesuai harapan.
"Dari situ kita belajar bahagia itu adalah menerima keadaan kita, jika menggunakan tolak ukurnya untuk si miskin hingga menjadi kaya, atau si buta yang menunggu bahagia setelah dia bisa melihat, maka seumur hidupnya mereka takkan bahagia.
"Cara pikirmulah yang membuat semua tampak menakutkan Mbak, kau berhak bahagia, dan kau juga sanggup melawan kesedihanmu kelak."
"Aku tak sanggup Allin! Aku melihat sendiri bagaimana rapuhnya ayahku setelah dia ditinggalkan oleh ibuku. Dia menangis diam-diam dan pura-pura kuat di hadapan kami. Melihat itu menyakitkan bagiku, aku takut Allin!"
Pria tua itu menangis bukan hanya karena tersakiti saja, tapi karena penyesalannya tak menghargai keberadaan istrinya, ketika istrinya sudah pergi darinya, penyesalan itu menghantuinya.
"Tapi ayahmu masih hidup sampai sekarang, 'kan?" goda Allin.
"Sialan kau!" umpat Sella sambil nyegir.
"Kata-katamu Mbak!" protes Allin.
Sella tak peduli dia hanya mengedikkan bahunya.
"Lalu, kenapa kau tampak murung begini?" lanjut Allin menanyakan sesuatu yang dari tadi membuat dia penasaran.
"Entahlah!" Sella berucap sambil mengangkat bahunya lagi dan berpaling dari tatapan Allin.
"Huh! Kau tak mau cerita. Yang seperti ini yang membuat rasa takutmu menjadi ... kau tak ingin berbagi dengan siapapun dan menyimpan sendiri. Seharusnya kau bisa mendapat dukungan dariku, kau malah menghindar," gerutu Allin tidak terima.
"Kau tidak bisa di percaya!" cibir Sella, sambil tersenyum melihat muka merengut Allin. Dia tau, apa yang dikatakan Allin benar. Perasaannya sedikit lega bisa bercerita dengan Allin.
__ADS_1
Ternyata usianya tak menjamin kedewasaannya, dia harus menerima nasihat bocah hamil itu dengan pikiran terbuka.
Tak lama dari itu, sambungan telpon dari ayahnya Sella menghentikan obrolan mereka.
"Kau di mana Sella?"
"Sekarang aku berada di rumah Allin, Yah."
"Pulanglah, ada yang ayah ingin bicarakan padamu."
"Baiklah!"
Sella pun mematikan sambungan telpon itu. Dia bergegas turun dari ranjang, dan mencari keberadaan tas kecilnya. Allin yang masih berada di atas ranjang hanya memperhatikan Sella yang tampak gelisah, dia menunggu perempuan itu bicara, tapi karena rasa penasarannya Allin pun bertanya.
"Ada apa Mbak?"
"Aku harus segera pulang!"
"Kenapa kau begitu tergesa-gesa?"
"Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang penting yang ingin di katakan oleh ayahku."
"Oo ...." Allin hanya mengangguk mengerti.
Sella pun bergegas keluar kamar Dio, tak jauh dari pintu kamar Dio perempuan itu hampir terpeleset, untung saja tubuhnya dapat menahan keseimbangan. Sella yang memang tak peduli dengan sekitar, pergi begitu saja.
"Mbak, kau pulang naik apa?" Suara Allin terdengar di belakangnya. Sella membalikkan badannya, melihat Allin sedang melangkah pada lantai yang dia lewati tadi. Matanya membelalak.
"Bruk! Auww....!!" Suara pekikkan perempuan terjatuh itu membuat Vano yang berada di dalam kamarnya bersigera keluar. Matanya membelalak tak percaya, seseorang sudah tergeletak di lantai dengan merintih kesakitan.
"Kau sedang apa di sana?" tanya pria itu masih terheran.
"Aku sedang berjemur di pantai!!" jawab Sella ketus.
Allin yang masih membeku karena syok berpaling menatap Vano, matanya melotot menatap pada suaminya.
Jika Sella tak berlari menghentikan langkahnya, mungkin dialah yang akan terjatuh.
Membayangkan itu membuat Allin hanya diam membeku tak lansung menolong Sella.
"Kalian benar-benar pasangan tak tau diri!" umpat Sella kesal.
"Maaf Mbak, aku benar-benar terkejut!" ucap Allin penuh permohonan. Dia tau, dia telah salah.
Vano hanya menatap bingung sambil menghampiri istrinya yang sedang membantu Sella berdiri.
"Sayang tanganmu kenapa begitu dingin?" tanya Vano begitu khawatir pada Allin, saat dia menggenggam tangan istrinya terasa begitu dingin.
Sella berdecak kesal, seharusnya dialah yang perlu di khawatirkan. Dia pun pergi begitu saja meninggalkan pasangan itu.
"Mbak, terima kasih," ucap Allin begitu tulus matanya sudah berkaca karena haru.
__ADS_1
"Sayang, kau kenapa?" tanya Vano makin heran.
Allin menatap kembali suaminya setelah Sella menghilang di undakan tangga. Dia memukul dada Vano beruntun.
"Kau jahat!!" hardik Allin marah, matanya telah banjir air mata.
"Aku?" Vano yang tidak mengerti menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Allin melempar tubuhnya pada dada bidang suaminya. Vano mulai khawatir, saat merasakan tubuh Allin yang bergetar hebat dan jantung istrinya juga berdebar dengan kencang.
"Kau tau, jika Mbak Sella tak menolongku, mungkin aku yang akan terjatuh di lantai itu," ucap Allin sesenggukan di dalam pelukan Vano.
Vano seketika terkejut tak percaya, jantungnya pun berdetak kencang membayangkan itu.
"Pelayan!" Pekik Vano begitu menggema, nada suara terdengar sekali ada luapan kemarahan. Dia tidak terima dengan keteledoran para pelayannya, yang hampir mencelakai istri dan calon anaknya.
Vano menatap ke lantai tempat Sella terjatuh tadi, ada genangan air bercampur sedikit minyak. Kecurigaannya makin menjadi.
Vano membawa Allin ke kamarnya dan membuat istrinya tenang. Sebelum itu, dia sudah memerintahkan para pelayannya berkumpul di belakang, dan menyuruh salah satu kepercayaannya untuk menyelidiki siapa yang sudah telah sengaja melakukan perbuatan itu.
Perempuan yang sama, yang pernah berkerja sama dengan Mila, yang telah mencoba menjelek-jelekkan Allin dalam rumah ini.
Dia adalah babysitter pertama Dio sebelum Allin. Perempuan itu bersujud di hadapan Vano, dan teman sejawatnya tak ada satu pun yang peduli atau mengasihaninya, mereka seolah ikut senang perempuan licik itu akhirnya kena batunya juga.
Vano yang penuh amarah akhirnya membawa perempuan licik tersebut ke jalur hukum. Dia sudah lama mencoba ingin mendepak perempuan licik itu dari rumahnya, tapi Allin selalu saja mencoba menghalanginya.
Vano memasukin kamarnya, dia tersenyum lega saat melihat Allin sudah terlelap di atas ranjang. Lalu pria itu duduk di pinggir ranjang memperhatikan Allin dengan tatapan penuh syukur. Tak lama ada raut penyesalan dari dirinya telah mengabaikan Sella, malah dia sempat mengolok mantan istrinya itu.
"Dia selalu begitu, dia tak peduli dengan apa yang orang pikirkan," guman Vano sambil mengingat mantan istrinya tersebut.
Sella tak penting anggapan orang padanya, itulah dia.
Baik atau buruknya dirinya, tetap saja ada orang-orang yang tidak menyukainya.
Tidak peduli. Pikirannya tak jauh dari dua kata itu.
-
-
-
-
-
-
Bonus Part ini masih tiga lagi ya.
Bocoran part selanjutnya Sella akan menikah dengan Suparman🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
Tungguin ya.