
Rumah besar nan megah itu terlihat sunyi, dari semenjak siang, sejak di tinggal ayah dan bundanya Vano.
Langit sudah menunjukan warna orange kecokelatan, burung-burung mulai beterbangan kembali pada sangkarnya. Matahari pun makin surut ke barat dan akan menghilang di bawah garis cakrawala, membiarkan gelap menyelimuti bumi dan tenggelam di balik awan.
Seperti mereka yang tenggelam dalam pikiran-nya.
Vano pergi, entah kemana. Tak ada kabar atau pesan. Allin sebentar-bentar melihat notifikasi ponselnya, berharap satu pesan masuk. Padahal hanya baru beberapa jam dia di tinggalkan begitu saja oleh suaminya. Ada rasa bersalah dan penyesalan, tak seharusnya di bersikap egois, dan memperkeruh masalah.
Sedangkan Sella terbaring di ranjangnya, di kamar. Dia hanya menggeser layar ponselnya, tanpa berniat untuk fokus dia telusuri, hanya menggeser tanpa tentu arah.
Keputusan apakah yang harus di ambil. Dia bisa saja tinggal memojokkan Allin, tetapi dia sadar perempuan itu tak berdosa. Dia tau kini mereka masing-masing memiliki alasan tersendiri untuk bertahan pada keputusannya. Hanya tinggal siapa yang dulu mengambil langkah, langkah untuk pergi atau langkah untuk bertahan.
Menghilangkan rasa bosannya, Allin pergi membawa Dio ke taman. Rencananya untuk pergi meninggalkan rumah majikannya telah dia urungkan. Setelah bunda Vano menghampirinya, membujuk dia untuk menunggu.
"Sebentar saja" pinta mertuanya itu.
Menunggu Vano yang akan mengambil keputusan.
Demi menghormati mertua perempuannya itu, Allin menahan diri, hanya menahan diri bukan untuk menerima semua ke putusan itu.
Karena dia sudah memiliki ke putusan sendiri.
Di taman, Allin memperhatikan anak-anak bermain dengan riang bersama para orang tuanya, matanya terlalu sibuk memperhatikan. Sedangkam Dio dalam pangkuannya, ikut riang melihat suara tawa anak-anak yang bermain.
"Allina Cantika" panggil seseorang membuyarkan pandangannya. Suara yang tak asing di pendengarannya. Menarik pandangan untuk menatap sosok jangkung yang berdiri di sampingnya.
Pria itu!
Pria yang selalu mengisi hari remajanya, memuja dan mengikuti dia kemana saja. Tapi naas, semua berakhir menyakitkan, meninggalkan luka dan kesakitan.
Allin mencoba menghindar, dengan gerakan cepat, dia memindahkan Dio ke stroller. Bayi tampan itu akhirnya terduduk manis di situ.
Tangan yang kekar itu menariknya, tubuh mereka berbentur, membuat posisi mereka begitu intim.
__ADS_1
Seseorang di sana melihat dengan senyum sinis, mengabadikan momen itu di dalam ponselnya.
"Lepaskan!" pekiknya.
"Maaf" kata Ardio dengan penyesalan, dia terlalu antusias saat menarik tangan perempuan itu, membuat tubuh perempuan itu menubruknya dengan keras.
Allin mencoba melawan rasa takutnya, dia menarik napasnya dalam-dalam.
"Aku bisa, aku bisa, aku bisa" mulutnya tak henti merapalkan kata-kata itu, matanya ia pejamkan, napasnya mulai tersengal.
"Hei, kau tak apa-apa?" tanya Ardio sembari menguncang kedua lengan perempuan itu. Sentuhan Ardio membuat rasa paniknya makin menjadi.
"Kau kenapa?" tanya Ardio lagi, dia ikutan panik, perempuan di hadapannya tidak menyahuti dan tiba-tiba dia sudah terjatuh lunglai, napasnya tersengal.
Melihat perempuan itu tergeletak tak berdaya. Ardio spontan memberi napas buatan seperti biasa yang dia lakukan saat syuting, kebiasaan itulah yang membuat dia spontan memberikan napas buatan.
Sepasang mata yang tak jauh berada dari mereka menyeringai, tersenyum kemenangan, dan lagi-lagi dia mengabadikannya.
Orang di sekitar melihat Allin jatuh lunglai bergerak cepat menghampiri dan membantu, terapi dia tidak. Dia berdiri dengan kemenangan, dia tidak perlu memutar otaknya membuat cara dan alasan untuk memojokkan Allin.
Allin masih melawan serangannya, pendengaran masih menangkap suara suara di sekitarnya yang membantu mengangkatnya dan sekaligus membawa Dio.
Rasanya dia ingin berteriak, aku tidak apa-apa, tapi mulutnya masih kaku untuk dia gerakkan, dan tubuhnya masih lunglai dalam dekapan Ardio. Pria itu menggendongnya ala bridal style, tangannya telah di kalungkan seseorang ke leher Ardio, dia tak mampu menolak, di terlalu lemah melawan.
"Bawa dia ke klinik sebelah" anjuran seseorang. Ardio mengangguk dan mlangkahkan kakinya dengan cepat.
Beberapa orang mengikuti sembari mendorong stroller Dio. Bayi tampan itu mulai menangis ketakutan, suara teriakan banyak orang membuat dia takut, apalagi wajah-wajah mereka yang tak dia kenal.
Allin mendengar suara tangisan Dio, dia makin mencoba menguatkan diri, dalam dekapan Ardio dia meremas jemarinya untuk menunjukkan reaksinya. Tak lama dari itu, dia merasakan dia di turunkan, tubuhnya mendarat pada ranjang yang lumayan keras di bandingkan ranjang yang biasa dia tempati.
"Maafkan aku" kata-kata itu terus di bisikan seseorang ke telinganya. Meski matanya belum mampu dia buka, pendengaran masih jelas untuk mendengar permohonan itu.
"Aku salah, aku berdosa, tetapi aku benar-benar tidak sadar ketika itu" Ardio mencoba menjelaskan, berharap perempuan yang terbaring di hadapannya mendengar.
__ADS_1
Seorang dokter masuk, menghentikan kegiatannya. Seorang perawat mempersilahkan dia untuk keluar.
Pekikan suara bayi menyambut Ardio di luar. Dengan gerakan cepat dia menghampiri bayi yang sedang di gendong perempuan paruh baya yang ikut membantunya.
Ardio mengulurkan tangannya. Dio seketika menyambut, tangan pria yang pernah menggendongnya. Dio merasa lebih nyaman dengan orang yang pernah dia temui.
"Kau anak pintar, diam ya sayang." bujuk Ardio sembari mengayunkan tubuhnya agar bergoyang membuat rasa nyaman buat Dio.
"Sella" gumannya.
Dia harus menghubungi seseorang. Dia butuh Sella karena mereka orang terdekat dari perempuan dan anak ini.
Tak butuh waktu lama, Sella sampai, dia juga ikutan panik. Meski dia tidak terlalu jelas apa yang di derita Allin, tapi dia tahu, Allin mempunyai trauma yang akan membuat dia kesulitan bernapas.
"Dimana Allin?"
Sella menghampiri Ardio dan mengambil Dio dari gendong pria yang ada di hadapannya.
"Dia ada di dalam! Dokter sedang memeriksa kondisinya"
Pintu pun terbuka. Dokter menghampiri mereka dan menjelaskan keadaan Allin baik-baik saja, dia hanya butuh istirahat.
Sella menghampiri Allin, wajah perempuan itu masih pucat, tetapi dia tersenyum menyambut Sella.
"Tuan Vano mana?" pertanyaan itu terucap begitu saja dari mulut Allin.
"Aku sudah menghubunginya, tetapi ponselnya mati" jawab Sella dengan sedikit menerangkan.
"Maaf sudah merepotkan. Jangan beri tahu Tuan" ucapnya lirih sembari menggeleng.
Allin sadar, dia sudah bersikap lancang bertanya pada Sella tentang suaminya. Bersikap seolah Vano miliknya.
Ardio hanya melihat dari jauh. Dia menyadari bahwa perempuan itu kesakitan karena melihat sosoknya, seperti saat mereka bertemu di restoran.
__ADS_1
Perempuan itu takut padanya bukan karena ucapannya, tetapi karena perbuatan dosanya pada masa lalu. Memaksa dan merenggut kehormatannya.
Ardio makin yakin, dialah perempuan yang selama ini yang dia cari.