
Dengan langkah kaki yang di seret dan kesakitan dia pergi meninggalkan kamar, dadanya terasa sesak menahan suara tangisnya.
"Kak Mila sedang menungguku" dia bermonolog menguatkan langkahnya.
Sesampai di loby hotel, matanya mengedar mencari sosok Mila. Tak lama ponselnya berbunyi dan tangannya pun merogoh ponsel yang berada di saku celananya, ternyata ada dua pesan dari Mila dan Ibunya.
Allin pulanglah duluan, aku ada urusan. Kau bisa pulang naik taksi, pesan Mila.
Nak, kamu di mana? Kamu baik-baik saja, kan. Perasaan ibu tidak enak, cepatlah pulang! Pesan ibunya.
Allin pun tak membalas pesan Mila dan ibunya. Dengan sedikit kesadaran dia lebih fokus menguatkan dirinya.
"Ibu aku baik-baik saja, aku akan pulang!" dia bermonolog berulang-ulang dengan pandangan kosong.
Kadang dia tersenyum mengingat kebodohannya, memuja seseorang yang pada akhirnya merengut kehormatannya.
Tuhan, inikah bentuk teguranmu padaku, karena diriku telah berlebihan memuja seseorang. Dulu menyebut namanya kebanggaan kini rasanya sakit.
Kadang dia membeku memikirkan bagaimana dia mengahadapi ibunya dan pandangan orang.
Ibu, maafkan aku! Aku membohongimu demi mementingkan kesenangan sesaat, yang berujung kesakitan tak terperihkan.
Kadang dia juga terlihat ketakutan mengingat kejadian mengerikan tersebut yang merampas kehormatan dan harga dirinya.
Apa yang dapat kubanggakan kelak pada suamiku, jika kehormatanku telah hilang akibat salah pergaulan.
Air matanya makin deras membanjiri ke dua belah pipinya sembari mengutuk dirinya sendiri.Yang tersisa hanya lah sebuah penyesalan yang tak berujung, merenggut kepercayaan dirinya sebagai perempuan.
"Allin" panggil Vano memberhentikan ingatannya pada kejadian nahas itu.
Mendadak rasa sakit dan ketakutan mulai muncul lagi dan tanpa dia sadari pipinya mulai basah, dengan segera ia menyembunyikan air matanya dari pandangan suaminya. Dia menunduk lebih dalam sambil menggenggam erat tangan suaminya mencari rasa nyaman dan perlindungan. Entah Vano menyadari atau tidak, pria itu membalas genggaman istrinya dengan satu tangannya lagi dengan usapan lembut.
Dimanakah dirimu saat itu kak Mila? Kenapa kau tak mencariku. Dan semenjak acara tersebut, kenapa kau mulai menghindar dariku? Mungkinkah? Dan bila benar, kenapa kau lakukan padaku? Allin pun mencoba mempertanyakan pada dirinya sendiri.
Untuk sesaat dia mencoba menenangkan diri, menikmati usapan lembut Vano ditanganya, sedikit demi sedikit usapan lembut itu membuat dia lebih rileks dan mampu meredakan gejolak di dadanya.
"Apakah kau mengira, kak Mila sengaja menjebakku?" Tanya Allin sedikit bergetar tetapi dia mencoba menetralkan suaranya agar terdengar datar, ketakutan dalam dirinya tak dapat ia elak jika yang di katakan suaminya adalah benar.
Ia pun mulai memainkan jemarinya pada ujung pakaiannya, menandakan kegusarannya.
"Bisa jadi, tapi itu akan kupastikan kebenarannya" jawab Vano antusias. Orang suruhannya sudah ia gerakkan untuk mencari bukti-bukti kejahatan Mila lainnya. Vano yakin perempuan ambisius seperti Mila akan menghalalkan segala cara demi kepuasannya. Meski tak ada saut pautnya dengan Allin, dia perlu bukti itu untuk mengontrol Mila atau dengan terpaksa perempuan licik tersebut akan dia paksa masuk ke dalam penjara.
"Jika itu benar, apa yang ingin kau lakukan!" tanya Allin sembari menengadah menatap suaminya dengan tatapan sendu, pandangannya seolah memohon untuk Vano melepaskan Mila.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang bertanya itu padamu Allin"
"Bagaimana pun dia saudaraku" ucap Allin lemah dan menunduk lagi.
"Jika semua itu benar. Lupakan bahwa dia adalah saudaramu dan jauhi. Dia adalah perempuan gila yang tak boleh berada di dekatmu dan itu bahaya untukmu, Allin." Vano sedikit mengguncang bahu Allin untuk menyadarkan istrinya bahwa Mila itu patut untuk di jahuhi.
"Dia kakakku Tuan!" Sentak Allin tidak terima. Dia mendorong bahu Vano mencoba memberi jarak. "Kau boleh membencinya, tetapi jangan kau bilang dia gila. Bagaimanapun, hanya dia lah saudaraku, aku tak mungkin menjahuinya" Dia pun mulai terseduh, tangis yang sedari tadi dia tahan tak mampu lagi dia bendung.
Sakit dan sesak, perasaan yang kini menyelimutinya. Seseorang yang dia anggap saudara tetapi membenci dan ingin menyakitinya.
Vano yang tidak mengerti dengan sikap istrinya mencoba mengalah dan merangkul istrinya untuk menenangkan Allin.
Ada apa denganmu Allin. Perempuan jahat itu masih saja kau anggap saudara.
"Maafkan aku dan tenangkan dirimu, sayang" bujuk Vano.
Allin menatap Vano dengan mata berkaca. "Tolong untuk kali ini maafkan dia"
Vano menghela napas kalah. "Baiklah, tapi kau harus berjanji takkan menemuinya kecuali ada aku di sampingmu."
"Iya" sahut Allin mengiyakan dengan cepat. "Terimakasih" lanjutnya lagi.
"Apa yang sebenarnya yang membuat kau tetap memaafkannya Allin"
Rahasia yang pernah membuat dia senang setengah mati dan sekaligus mencekiknya.
Vano mencoba untuk mengerti. "Hanya untuk kali ini Allin. Jika dia mencoba menyakitimu, aku takkan memaafkannya"
Allin mengangguk mengerti. Tapi sebenarnya, di dalam hatinya dia juga ragu.
Apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan sikap buruk kak Mila.
"Apakah kau juga akan memaafkan pria brengsek itu"
"Kenapa?" Tanya Allin bingung, Vano tiba-tiba menanyakan tentang pria yang tak ingin dia bahas.
"Tidak" Vano menggeleng sebentar dan dia melanjutkan lagi ucapannya. "Dia sudah beberapa kali mencoba untuk bisa menemuimu. Melihat kegigihannya membuat aku takut." Suara Vano terdengar gusar. Pria itu membuang jauh pandangan lurus kesamping dengan tatapan kosong.
Benaknya penuh dengan dugaan yang berasal dari rasa cemburu dan sedikit ketakutan akan kehilangan. Dia belum sepenuhnya bisa meluluhkan hati Allin. Entah, karena Allin menganggap dirinya sebagai orang kedua atau karena ada pria lain di dalam hatinya.
Takut, kenapa? Meski dalam benaknya ada pertanyaan Allin tetap diam menyimak dan menunggu kelanjutan ucapan suaminya.
"Di antara kalian ada seorang anak, dan mungkin dialah orang yang pernah kau sukai dalam hidupmu" tuduh Vano lemah. Semenjak dia melihat gambar-gambar Allin yang di kirim Mila dan bagaimana cara istrinya memuja pria itu membuat pikirannya membayangkan hal yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Kau sedang tidak percaya dirikah Tuan atau kau sedang cemburu," sindir Allin dengan seringai jail. Tapi tatapan Allin begitu bersinar menatap lekat pada suaminya. Ada rasa haru yang terpikirakan, saat dirinya ada yang menginginkan.
"Ya, aku cemburu," sentak Vano. Rona malu tak mampu disembunyikan dari wajahnya, membuat Allin mengulum senyum.
"Ternyata kau bisa malu juga, Tuan" goda Allin sembari membelai pipi suaminya
"Kau kira aku patung dan berhenti panggil aku Tuan," ucap Vano mencoba menutupi kecangguan dari sikapnya.
"Kenapa?" Allin bertanya sembari memiringkan kepalanya dengan bibir mengerucut.
"Perempuan bodoh! Aku ini suamimu, bisakah kau manggilku dengan panggilan ...." Melihat tatapan Allin yang mulai mengejeknya dia pun tak meneruskan ucapannya.
"Ayo lanjutkan! Kau ingin aku memanggilmu apa?" rengek Allin menggoda suaminya.
"Kau tidak perlu di ajarkan untuk ini Allin, aku ingin dengan kesadaran dirimu sendiri untuk memanggilku dengan sapaan yang manis"
"Tuan, kenapa dengan panggilan itu"
"Kau tau, aku seperti ******** jika kita berada di luar sana. Bagaimana aku bisa nyaman untuk memegang tanganmu, tiba-tiba kau memanggilku dengan 'Tuan', mereka akan pikir aku pria tua mesum."
"Bukankah kau memang pria tua mesum"
"Allin!!"
"Iya, sayang"
"Apa?" Seru Vano dengan sepasang alisnya terangkat menatap Allin lekat. Pria itu mendengar jelas tetapi dia tetap ingin memastikan panggilan istrinya untuk dirinya.
"Apa?" tanya Allin pura-pura tidak mengerti, ekpresinya begitu datar membalas tatapan Vano.
"Cepat katakan lagi!" cecar Vano mulai kesal.
"Katakan apa?" tanya Allin. Sebuah seringai jail terukir di sudut bibirnya.
"Ya, yang kau katakan tadi!" rajuk Vano dengan sedikit terbata.
Allin hanya memutar bola matanya. "Tidak ada siaran ulang Tuan"
Vano berdecak kesal sembari mengangkat istrinya dan membawa perempuan itu ke atas ranjang.
"Apa yang kau lakukan, Tuan" pekik Allin sambil merangkul tangannya di leher Vano.
Vano hanya tersenyum licik.
__ADS_1