Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Terimakasih


__ADS_3

"Terimakasih"


"Untuk apa?" tanya perempuan itu dalam dekapan suaminya.


"Untuk kau masih tetap di sampingku" pria itu bicara sembari menghidu rambut istrinya dan sesekali memberi kecupan.


"Tapi itu masih berasa sakit" akui perempuan itu dengan jujur. Perempuan itu makin membenamkan wajahnya di dada suaminya dengan remasan jemarinya pada lengan pria itu makin kuat, dia mengingat momen saat suaminya berkata ingin menceraikannya.


"Maaf" ucap pria itu memejamkan matanya menahan rasa nyeri tiba-tiba di hatinya. Dia pun ikut merasakan, rasa sakit itu dan tangannya makin mengeratkan pelukannya.


Perempuan itu pun menengadah, menatap suaminya dan tersenyum dengan mata berkaca. Membelai wajah suaminya, seolah menguatkan suaminya bahwa itu sudah berlalu.


"Aku juga tak mau begini, tetapi disini terasa sakit" ucapnya sambil menunjuk pada dadanya.


"Itu menyakitkan karena selama ini aku tak pernah bermimpi, aku tau semua itu takkan mungkin bagiku." lanjutnya lagi tanpa menyudutkan pria itu, dia malah terdengar seperti bocah yang sedang mengeluh minta perhatian dengan bibirnya mengerucut usai bicara.


"Itu mungkin sayang" ucap pria itu meyakinkan istrinya.


"Aku tidak mau terlalu percaya padamu" ucapnya sembari mencibir.


"Lalu?" tanya pria itu tenang, dia tak terlihat sama sekali tersinggung dengan ucapan istrinya.


"Entahlah! Setelah aku pikir lagi, apa pun pilihanku tetap akan terasa sakit, sakit menghindar atau sakit mencoba"


"Kenapa kau perumpamakan begitu"


"Seharusnya"


"Menghindar takkan menjamin kau bahagia tetapi dengan mencoba ada harapan untuk kita bahagia"


"Tapi nyatanya tidak"


"Kau yakin? Lihatlah wajahmu ini, sekarang kau sering tersenyum diam-diam" godanya sembari mencupit pipi istrinya.


Dia mengangguk mengiyakan dan tersenyum menatap suaminya, sesaat kemudian raut mukanya mulai datar "Aku menekan dan membuang harapan itu jauh dalam hatiku, tetapi saat itu kau meyakinkanku tentang harapan itu ada. Kau juga mengiyakan, saat aku bertanya 'bolehkah aku egois' dan untuk pertama kalinya juga aku memberanikan diri dan membuka hatiku ini"


Pria itu diam menatap istrinya penuh kasih sayang, dia tau saat inilah yang dia tunggu, saat istrinya mengeluarkan ganjalan di dadanya. Dia hanya membelai punggungnya untuk mendorong istrinya untuk mengeluarkan uneg-uneg di hatinya.


"Saking bahagianya, aku menelpon tante Mia dan berbagi kebahagiaanku itu. Tetapi kebahagiaan itu hanya sesaat kau merampasnya lagi dengan kejam, seharusnya kau tak berjanji atau memberi harapan padaku." ucapnya sembari membelai wajah suaminya, tetapi air mata sudah jatuh di wajahnya.


Dia diam sebentar menikmati usapan jemari suaminya di pipinya, menimang kata-katanya dalam diam, dia ingin melepas bebannya tanpa melukai perasaan suaminya. Lalu pandangannya mulai kosong tapi dia kembali fokus menatap suaminya.


"Dari kecil aku selalu menekan diriku sendiri, saat aku mengidamkan atau menginginkan sesuatu, karena aku tau semua yang aku inginkan itu akan menyusahkan ibu."


"Kalau boleh menyusahkanku" pria itu mencoba menyela sedikit.


Perempuan itu mencibir. "Sakit itu, saat kita terlalu berharap tetapi mustahil buat kita dapatkan. Kau, membuat aku berharap! Dan hampir seharian aku tersenyum senang untuk sesaat aku mulai egois dan melupakan perasaan mbak Sella atau apa yang akan di katakan orang nanti"


"Kau tak egois sayang" pria itu mencoba membenarkan pemikiran istrinya. "Kita terjebak dalam hubungan ini, kau sudah menjaganya dengan sikapmu"

__ADS_1


"Di mata orang lain aku tetap saja merebutmu dari mbak Sella"


Pria itu menggeleng sembari terkekeh, dia lebih tertarik dengan panggilan istrinya buat Sella, "mbak Sella" godanya.


"Memangnya kenapa? Dia yang memintaku menganggapnya sebagai seorang kakak, tapi dia kesal saat aku memanggilnya mbak" gerutu Allin antusias. Dia lebih terlihat seperti bocah sedang mengadu dengan nada suaranya terdengar begitu senang.


"Kau senang?"


Dengan malu-malu Allin mengangguk.


"Kenapa?" pria itu tersenyum senang. Ada rasa lega dalam hatinya, dua perempuan dalam hidupnya menjalin hubungan lebih akrab dan mengakhiri hubungan ini tanpa ada permusuhan dan kebencian.


"Dia seperti penyihir jahat tetapi dia baik"


Pria itu tertawa mendengar ucapan istrinya itu. "Kau memujinya atau menghinanya Allin"


"Entahlah, dia sulit terbaca, tetapi aku nyaman dengannya. Dari dulu aku berharap punya seorang kakak yang dapat aku berbagi cerita. Karena itu aku selalu mengikuti mbak Mila kemana saja dan aku juga jadi penurut dengannya, tetapi dia tetap saja tidak suka denganku." bibirnya mengerucut dan wajahnya tampak kesal mengingat momen dia bersama Mila.


"Lalu sekarang kau menyukai siapa, aku atau Sella?"


Dia tersenyum tipis, bola matanya memutar dengan raut wajah licik. "Aku menyukai diriku" ucapnya, senyuman tipis itu berubah menjadi senyuman lebar membuat kedua matanya mengecil.


"Kau tak menyukaiku?" tanya pria itu pura-pura marah.


"Sedikit" jawabnya dengan menunjukkan jemari tangan telunjuk dan jempolnya yang menyatu.


"Aku tidak mau bicara denganmu lagi" dia membalikan badan memunggumi suaminya.


Pria itu tertawa.


"Tidak lucu" cicitnya.


"Kau memang menggemaskan saat cemburu" ucapan pria itu sembari memeluk istrinya dari belakang.


"Saat itu aku hanya menggodamu sayang" akui pria itu.


Perempuan itu seketika membalikkan badannya lagi, menatap suaminya untuk mencari kebohongan di mata pria itu.


"Lalu semalam kau tidur di mana?"


"Semalam?" tanya pria itu balik, dia menatap istrinya dengan lekat lalu dia tersenyum tipis.


"Kau tau, aku selalu tidur di sini?"


Perempuan itu tersenyum canggung.


"Ternyata kau sekarang menjadi rubah licik ya! Kau nyaman berada di pelukan tiap malam, tetapi saat terjaga kau memusuhiku seperti anti berdekatanku, kau licik Allin"


"Tidak, bukan diriku yang nyaman, itu anak kita, dia suka aromamu" sangkalnya tak mau mengakui.

__ADS_1


"Ayo jujur" perintah pria itu sembari menggelitik istrinya.


Perempuan itu menggeliat geli dan mencoba menjauhkan dirinya dari suaminya. "Aku tidak bohong, anakmu yang menginginkanmu" ucapnya dengan napas tersengal.


"Ya baiklah, terserah dirimu!"


***


Suasana mulai hening, hanya detak suara jam memberi nada kecil di pendengaran. Mata mereka pun belum terpejam sedangkan dingin udara makin menjadi menandakan waktu sepertiga malam telah mereka lewati. Dalam diam mereka menikmati kehangatan satu sama lain dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Tuan!" panggil perempuan itu lirih, dia hanya memastikan apakah suaminya sudah terlelap atau belum.


"Hmm"


"Kau juga belum tidur?" tanyanya perempuan itu sembari mengusap lembut pada tangan suaminya yang melingkar di perutnya.


"Hmm" pria itu hanya berdehem lagi.


Perempuan itu menyadari suaminya tak bersemangat menyahuti panggilannya dia pun mulai diam. Tetapi badan itu bergerak mencari posisi yang nyaman.


"Kenapa, kau belum tidur? Apa yang kau pikirkan" tanya suaminya akhirnya membuka suaranya.


Mendengar suaminya bersuara, perempuan itu membalikkan badannya, menatap suaminya dengan sendu dengan raut wajah tertekuk.


"Ada apa?" tanya suaminya lagi.


"Apa kau sengaja memilih aku?" tanya perempuan itu sedikit ragu.


"Aku tak punya keberanian untuk memilih. Sella-lah mundur dari hubungan kita ini" ucap pria itu dengan tatapan kosong, pria itu fokus dengan perasaan dan pikirannya, ada rasa bersalah yang mengganjal di hatinya.


"Kenapa?"


"Kenapa yang mana? Aku tidak memilihmu atau kenapa Sella mundur"


"Dua-duanya"


"Itu pilihan sulit bagiku. Saat aku memilihmu, aku takut menyakiti Sella dan aku tak ingin itu. Saat aku memilih Sella, aku tak yakin bisa jauh darimu" pria itu menatap lekat pada istrinya lalu mata mulai kosong menatap tanpa arah.


"Aku tau kau juga takkan menerima apapun keputusanku, tetapi Sella mengambil keputusan sendiri dan itu ada hubungan dengan ayahnya , dia terlalu mencintai ayahnya" terangnya, tetapi sedikit ada keraguan tentang alasan Sella, mengapa perempuan itu memutuskan untuk mundur.


"Maksudmu"


"Kau tak perlu tau, yang kau perlu tau hanya tentangku dan kita"


Perempuan itu hanya mencibir dan senyuman tipis terukir di wajahnya walau hanya sekilas.


"Allin, buanglah pikiranmu itu tentang kau merebutku dari Sella"


Seketika wajah perempuan menjadi datar, "aku akan mencoba" sahutnya tak yakin.

__ADS_1


__ADS_2