
Dua insan manusia itu bergumul, berlomba-lomba mencari titik kepuasan masing-masing.
Vano lah yang tampak sangat bahagia, momen inilah, yang dapat meyakinkan dirinya bahwa sesungguh istrinya menginginkanya dan menerimanya.
Allin tak akan segan menunjukkan segala sikapnya, perempuan tersebut tak hanya diam. Dia juga aktif membalas setiap sentuhan Vano. Nikmat mana lagi yang mau dia dustakan, semua terasa manis berbuah pahala.
Mereka tak hanya saling melengkapi dan menerima, kadang juga diselingi protesan kecil dari mulut Allin atau rayuan Vano yang membuat mereka tambah bersemangat untuk saling memuaskan satu sama lain.
Sebagai seorang pria, Vano merasa diinginkan, senyumnya pun tak lepas seusai pergumulan hebatnya.
Di lain tempat, mereka berempat sedang menunggu kedatangan Vano. Sella yang di temani sang ayah tampak tenang, tetapi kedua paruh baya lain, bunda dan ayah Vano mulai tampak kesal.
Waktu hampir menunjukan konferensi pers akan segera di mulai. Rumor tentang anak dan menantunya membuat bunda marah, karena itu dia menyempatkan untuk hadir menemani anak-anaknya untuk mengkorfirmasi rumor yang sudah salah menuduh menantunya.
"Sella coba kau hubungi Vano," perintah ayahnya yang sudah mulai tak nyaman melihat kedua besannya yang mulai gusar.
Sella berkali-kali mengulang panggilannya tetapi Vano belum juga mengangkat.
Tidak biasa Vano begini. Ada rasa khawatir terbesit dari raut wajah Sella dan ketiga paruh baya itu pun menyadari perubahan tersebut.
"Ada apa Sella, Apakah Vano belum mengangkat juga?" Tanya bunda Vano ikutan khawatir. Dan ayah Vano dan ayahnya Sella, kedua paruh baya itu cuma diam menyimak.
"Iya, Bun. Mungkin dia sedang dalam perjalanan," dugaan Sella sementara.
Rasa khawatir yang ditunjukkan bunda Vano membuat Sella dengan cepat menunjukan sikap biasa dengan senyum menenangkan.
Tak lama kemudian sambungan itu mulai terdengar suara seseorang. "Hallo, Sella ada apa?"
Ada apa? Apakah dia lupa?
"Hallo Vano, kau dimana? Acara sebentar lagi akan di mulai." Cecar Sella lansung.
__ADS_1
"Aku masih di rumah" balas Vano dengan suara santai.
"Apa? Kau tau tidak lupakan malam ini ada konferensi pers," tanya Sella yang mulai kesal.
"Iya aku ingat, tapi Allin tidak ingin menghadirinya. Aku kini sedang membujuknya"
"Membujuk apa? Kau malah membuatku berguling lagi di atas ranjang," guman Allin pada diri sendiri tapi masih bisa terdengar oleh telinga Vano. Pria itu seketika membungkam mulut Allin dengan tangannya berharap Sella tak mendengarnya.
"Lalu, kami harus menunggumu atau bagaimana?" tanya Sella sedikit kebingungan mendengar krasak krusuk yang samar.
"Tidak perlu, bisakah kau saja yang mewakili kami .... Auw, sakit Allin." Rintih Vano. Allin menggigit telapak tangannya.
Membuat Sella berpikir keras.
Ada apa ini sebenarnya. Sella sempat terpaku sebentar untuk mencerna dan menduga, tapi tak butuh lama dia bisa memahami sedang apa mereka.
"Astaga, kau menipuku Vano!" Sentak Sella dan segera memutuskan sambungan teleponnya dengan berdecak kesal.
Apa yang mereka berdua pikirkan, saat-saat seperti ini mereka masih saja bergumul di atas ranjang. Bunda dan ayahnya sengaja meluangkan waktu untuk menemani mereka, tapi apa yang mereka lakukan. Pikir Sella sembari menggeleng tidak mengerti.
"Mereka sedang memberikan asupan gizi pada calon bayinya" gerutu Sella.
Ketiga paruh baya itu sontak menggelengkan kepala.
"Jadi kita mulai sekarang saja konferensi persnya, Bunda. Toh, kita tidak perlu lagi menunggu pasangan itu." Usul Sella sembari berdiri.
"Ya, baiklah." Sahut bunda Vano ikut bangkit dari posisi duduknya.
Sella dan ayahnya sudah keluar dari ruangan, tetapi ayah Vano masih terlihat santai dengan bacaanya, padahal pikirannya sedang melayang pada sosok anak dan menantunya.
"Ayo, sayang" ajak bunda pada suaminya.
__ADS_1
"Dunia seperti milik mereka berdua saja," guman ayah Vano. Istrinya seketika menyahuti. "Dia tidak jauh beda dari dirimu sayang" sindir bunda pada ayah Vano.
Pria tua itu tersenyum sembari mengedikkan bahunya.
Aula tempat yang dipersiapkan untuk konferensi pers telah di penuhi sederet kamera dan beberapa reporter, yang sengaja di undang untuk mengkonfirmasi rumor yang sedang beredar.
"Selamat malam semuanya. Disini saya akan meluruskan kepada kalian tentang rumor yang beredar di media sosial itu tidaklah benar. Saya dan keluarga, terutama Sella istri pertama dari Vano telah memberikan izin kepada anak saya untuk menikahi istrinya sekarang." Tandas bunda Vano membuka acara konferensi pers tersebut.
Para reporter yang hadir mulai mengajukan pertanyaan, dan mereka menjawab bergantian saling mendukung. Mereka menunjukkan dengan sikap santai, bahwa tak ada masalah sama sekali yang membuat hubungan kekeluargaan mereka menjadi renggang, tapi tak semua pertanyaan itu mereka jawab dengan jelas.
"Untuk alasan Vano menikah lagi atau alasan kami mengizinkannya, kami tidak bisa publikasikan di sini, biarkan menjadi urusan kami. Yang jelas kami sekeluarga sangat menerima dan menyayangi istri ke dua Vano." Tambah ayah Vano menerangkan bagaimana posisi Allin dalam keluarganya.
"Alasan mengapa saya menggugat cerai, karena pada dasarnya untuk berpoligami itu berat buat saya. Awalnya, sayalah yang membuat hubungan pernikahan ini menjadi rumit dengan meminta Vano menikahi perempuan lain, anggap saja ini bayaran dari tanggung jawab saya. Jadi saya mencoba mundur bukan karena ada penghianat dari suami saya atau tekanan dari orang lain, mutlak ini pilihan saya," terang Sella.
"Tentang kehamilan istri ke dua Vano memang benar adanya, kami sangat bersyukur untuk itu. Dan alasan Vano dan istrinya tak bisa hadir, kami ingin menjaga psikis-nya agar tak terlalu stress yang bisa membahayakan kehamilannya." Jawab bunda pada pertanyaan yang diajukan salah satu reporter.
"Saya pikir cukup penjelasan dari kami, mohon bagi pihak luar di sana yang sudah menyebarkan isu buruk ini untuk segera sadar dan meminta maaf pada kami" ancam ayah Sella dingin menutup acara konferensi pers.
Sebagi pengacara kondang di negeri ini. Yang sepak terjangnya tak diragukan lagi membuat para reporter paham bahwa isu beredar itu adalah fitnah belaka.
Tak mungkin pengacara kondang dan tegas itu bisa diajak bernegosiasi untuk meluruskan isu yang beredar ini jika itu memang benar.
Ekspresi mukanya juga terlihat biasa dan tak menunjukkan kemarahan pada keluarga besannya, malah dia mendukung dan melindungi keluarga itu.
Jika isu tersebut benar, seharusnya dialah yang paling marah karena anaknya lah yang menjadi korban dalam hubungan pernikahan itu.
Para wartawan mulai menyimpulkan kebenaran tentang isu yang sudah menyebar di setiap media sosial itu adalah salah.
Esoknya berita konfirmasi tersebut beredar di semua media. Sebagian netizen mulai berkomentar baik tentang Allin, meski tak semuanya percaya dengan hasil liputan tersebut. Ada saja satu dua orang yang menduga semua itu settingan dan tetap mencoba menyudutkan Allin sebagai PELAKOR dengan tuduhan yang mereka buat-buat.
"Sial, kenapa pengacara itu ada pihak mereka," umpat Mila. Dia tidak terima isunya tenggelam begitu saja. Walau postingannya yang dia upload hanya beberapa jam beredar tapi pengaruhnya sangat luar biasa karena membawa nama keluarga Fahrizi.
__ADS_1
Mila merasa tak mampu berkutik lagi, apalagi saat dia mengetahui dia sedang berurusan dengan pengacara kondang yang ternyata adalah ayah Sella. Dia terlalu percaya diri selama ini dan melupakan kemungkinan yang tak terduga yang akan menyudutkan dirinya sendiri.
Apalagi seharusnya keluarga Sella lah yang akan marah dan terprovokasi dengan isunya tersebut, tetapi mereka malah tampak kompak melindungi Allin dan keluarga Fahrizi.