Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Kejujuran


__ADS_3

"Tuan tanganmu"


Mulutnya masih diam, tapi yang lain yang bergerak.


"Tuan kakimu"


Dia makin menjadi bergerak


"Tuan dadamu terlalu menempel, aku sulit bergerak!" ungkapku seraya meronta.


"Diam dan nikmati saja" perintahnya.


Dia gila apa? Mana ada orang yang digelitiki bisa diam.


"Kau pikir aku patung Tuan" dia makin menjadi menggelitiki.


"Tuan ampun?" pintaku


"Sudah sudah aku tidak tahan," suaraku mulai ngos-ngosan.


"Bukannya kau suka mentertawakan aku, dan sekarang nikmati dan puaskan tawa mu itu"


"Tuuuaan aku sudah tidak tahan, aku ingin buang air" suaraku sudah melemah, dengan tenaga tersisa aku menggigit lengannya sekuat mungkin"


"Aaaaa...." pekiknya seraya menarik tubuhnya mundur menjauh.


Aku melompat cepat turun dari ranjang, dia sibuk mengusap-usap lengannya.


"Kau benar benar menganiaya aku Allin," tuduhnya seraya membuka baju piyamanya.


"Cih, kau Tuan. Kau bicara seperti tidak bersalah saja, kau duluan yang menggelitikku, aku bukan menganiaya tetapi membela diri"


Bukankah dimana-mana yang sering teraniaya itu wanita, sekarang dia mengaku aku yang menganiayanya.


Aku tidak percaya dia kesakitan, paling juga dia hanya menggoda ku. Tapi entah kenapa semenjak dari liburan, tak ada hari yang bebas dari godaanya.


"Sakittt Allin" rengeknya seraya menunjukkan bekas gigitanku dilengannya.


Menjijikan...


Dio kenapa papi mu begini, lihat dirinya bersikap kekanak-kanakan dengan wajah sangar itu, dia tidak pantas berulah seperti itu.


"Cepat kesini obati!!" perintahnya


"Tangan mu tidak kenapa-kenapa Tuan. Jadi tidak perlu aku obatin" ucapku seraya mencibir.


"Lihatlah kesini, disini jelas ada tanda bekas gigitan mu. Ini sakit Allin" rengeknya seraya meringis.


"Tidak mungkin" jawabku mulai ragu.


Lengannya sekeras batu itu tak mungkin gigiku bisa menembusnya.


"Percayalah, cepat kesini"


"Tidak mau"


"Kau yakin?" Tanyanya seraya mengambil remot tv di atas nakas.

__ADS_1


Dia tau aku tidak suka dengan tv? Tapi darimana dia tau, aku tak memberi tahu siapapun.


"Kau ingn aku menyalakannya?"


Aku menggeleng


"Tuan," aku merayu dengan suara manja.


"Hmm" dia pura-pura tidak peduli dengan rayuan ku.


Aku menghampirinya.


"Sakit ya?" Aku menghelus lengannnya dengan sedikit membungkuk ke arahnya.


"Euh...euh.." angguknya seperti anak kucing.


"Ini" tunjuknya dengan wajah di buat-buat semanis mungkin.


Bodoh kau Allin yang kau gigit lengan yang sebelah sana, kenapa kau mengelus sebelah sini.


Dia mengejekmu dengan memasang wajah bak anak kucing.


"Malu lah dengan umurmu Tuan, bertampang sok manis, yang ada aku geli, mana ada anak kucing berotot, kalo berkumis ya!" gerutuku sambil memasang wajah tersenyum padanya.


"Yang ini" dia mengingatkan lagi padaku, dengan rasa terpaksa aku menaiki ranjang mendekat ke arah lengannya.


"Yang ini ya?' tanyaku seraya mengelus-elus.


Dia mengangguk dengan tempo yang cepat dan berulang.


Kenapa dengan dia, apa dia kesambet hantu di penginapan ini, yang jelas bukan hantu bocah, pasti hantu kakek cabul.


Gemas? Tidak salah kamu Allin mengartikan begitu!


Aku geleng-geleng


"Tuan lepas!!!" Makin meronta.


"Tidak!" Tangannya makin erat memegang pinggangku.


"Kenapa tidak Tuan? Aku tidak mau duduk disisni," rengekku.


"Diam sebentar aku mau bicara"


Kenapa dengan posisi begini?


"Allin, bagaiman jika pernikahan ini bukan permainan bagiku?" Seketika aku diam mendengar pertanyaannya.


"Maksudmu Tuan??" Aku menoleh sedikit kebelakang.


Mata kami bertemu, seketika suasana menjadi hening.


Ini terlalu dekat!


Aroma khas tubuhnya menusuk-nusuk penciuman ku. Mata hitamnya mampu menyedot ku kedalamnya, belum lagi wajahnya yang terpatri sempurna mencuri perhatian ku, tak mampu ku elak pesonanya. Dengan bentuk rahang yang tegas, tulang hidung yang menjulang tinggi, barisan alis yang begitu tebal dan rapi, tiba-tiba dibalik sana jantung ku berpacu kencang, suara detaknya sampai ke pendengaran, tapi bukan berasal dari tubuhku saja tapi dia juga.


Merasa ada yang salah, dengan cepat aku beranjak melepaskan diri dari kukungannya, menjauhkan diri dari tubuhnya, meski masih berada di atas ranjang yang sama.

__ADS_1


"Tak ada namanya permainan pernikahan, dan tak ada juga pernikahan yang sudah merencanakan perceraiannya" ucapnya dengan suara tegas dan mata yang tajam.


Aku menggeleng-geleng, menduga-duga sesuatu.


"Jangan Tuan, jangan Tuan," aku makin yakin ada yang salah.


Ya sesuatu yang selama ini aku sangkal, jangan bilang perhatian itu lebih, jangan bilang tatapan mu selama ini tatapan memuja, jangan bilang selama in kau ingin menjaga da melindungi, jangan bilang semua kata manis itu benar.


Tidak, tidak, boleh Tuan. Aku sudah menyangkalnya, aku sudah memagari diriku untuk tidak menganggap itu lebih, aku sudah berjuang membuang benih-benih yang sudah bertebaran di dalam hatiku, jangan kau sia-sia kan perjuangan Tuan. Tolong jika benar itu semua, pura-puralah, jangan mengatakan padaku, aku akan hancur dan tak berdaya menolaknya.


"Iya Allin, di hadapan tuhan aku meminta mu pada walimu, itu bukan main-main, aku sepenuhnya meminta dirimu untuk mendampingiku seumur hidupku" matanya makin tajam menatapku, tidak ada keraguan di dalamnya.


"Tidak Tuan!!" pekik ku mundur lebih jauh.


Dia mencoba menahan aku menepis.


"Kau keliru berharap begitu Tuan, semua disini kita sudah sepakat," sangkal ku.


"Kita? Aku tidak pernah membuat kesepakatan apapun dengan mu, ayah, bunda, maupun Sella. Kalian yang membuat kesepakatan itu, tanpa persetujuanku," suaranya meninggi.


"Tapi Tuan ini tidak benar kau akan menyakiti Bu Sella dan keluargamu"


"Aku sudah mengingatkan kalian berkali-kali, jangan memcoba bermain dengan semua ini. Bagaimana kalian bisa semudah itu menganggap pernikahan permainan. Kau sekarang milikku dan selamanya begitu Allin, aku takkan melepaskan mu," ucapnya lebih tegas.


Duaarr.....


"Tidak Tuan, aku bukan milikmu, aku hanya ibu dari calon anakmu"


"Jangan harap Allin, aku akan memberikan benihku sedangkan kau ingin lepas dariku. Aku sudah cukup bahagia kau ada bersama ku untuk selamanya"


"Apa maksud mu semua ini Tuan? Kenapa kalian menjebakku dan memaksakan kehendak kalian padaku."


Aku sudah terduduk di lantai, air mata ku mengalir tak terbendung.


Bu Sella, bagaimana ini? Bukannya semua sudah kau atur dengan sempurna mengapa semua tak terkendali begini. Aku harus apa? Dan bagaimana?


Dirinya sudah berada didekat ku, membenamkan kepala ku di dadanya, memeluk ku begitu erat, seolah memberikan kekuatan yang tak nampak tapi jelas rasa hangatnya.


Ternyata air matanya juga jatuh membasahi rambut kepalaku, di mencium kepalaku berulang-ulang, membelai punggungku untuk menenangkan.


Tuan kenapa begini, apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mempunyai persiapan apapun untuk menghadapi semua ini, semua ini jauh dari angan-angan ku.


"Mengapa Tuan? Mengapa harus aku?" Aku memukul-mukul dadanya, melepaskan rasa kecewa ku, rasa tidak berdaya.


"Karena aku mencintai mu Allin"


Duuuaaaarrrrrrrrrr....!!?


Hancur sudah pertahankan ku.


Aku menengadah menatapnya, matanya juga penuh dengan air mata, tanpa aku sadari tanganku sudah terangkat menghapus tetesan itu. Entah keberanian dari mana atau dorongan dari apa.


"Tidak Tuan, tidak, kau salah." lirihku seraya menggeleng.


Dia menatap ku dalam dalam, menantang mataku, untuk aku membaca perasaannya.


Aku kalah

__ADS_1


Aku sudah menjaga perasaan ku untuk tidak lebih, kenapa sekarang kau memberi kepada ku tuan, bagaimana aku menolaknya atau bagaimana cara aku menerimanya.


Tidak Allin, kau tidak bisa menerimanya, bagaimama perasaa Bu Sella, disini kau adalah orang ketiga, dan di mata dunia kaulah yang merusak hubungan mereka, alasan apapun tetap kau lah yang bersalah.


__ADS_2