Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Nasihat Bi Inah


__ADS_3

Hari sudah malam, Vano belum juga pulang.


Suaminya hanya mengirimkan pesan singkat, mengabarkan dia tak bisa pulang lebih awal. Allin pun mulai gelisa, dia hanya mondar mandir di ruang tamu berharap pintu itu terbuka atau berharap ada yang mengetuk, tapi harapannya tiap menit meninggalkan rasa kecewa.


Apalagi pesan terakhirnya pun tak di balas oleh Vano. Jarum jam sudah menunjukkan angka sebelas malam, tak biasanya suaminya pulang selarut ini, dan ponsel suaminya tak bisa dihubungi.


"Allin, sebaiknya kamu istirahat di kamarmu. Biar bibi yang menunggu tuan Vano" Ujar bi Inah membujuk Allin.


"Tidak, Bi. Sebaiknya Bibi saja yang istirahat, biarkan aku menunggu tuan Vano sendiri" tolak Allin dengan sopan sambil tersenyum.


"Kalau begitu kita tunggu bersama saja." Saran bi Inah, perempuan tua itu tak tega membiarkan Allin sendiri menunggu suaminya apalagi dalam kondisi Allin yang sedang hamil.


Allin tak mampu berkata apalagi, dia hanya membalas dengan senyuman.


"Bi, duduk di sini!" Ajak Allin pada bi Inah untuk duduk disampingnya.


Perempuan tua itu pun menghampiri Allin dan duduk di sofa besar yang mungkin selama bertahun-tahun dia berkerja di rumah majikannya ini, dapat di hitung dengan jari berapa kali dia duduk di situ. Walau tak ada larangan bagi pelayan untuk duduk di ruang tamu majikannya, tapi tak sepantasnya juga mereka duduk berleha-leha disitu untuk melepaskan penat. Gazebo belakang lebih menarik dan nyaman untuk mereka gunakan untuk bersantai dan melepaskan penat.


Allin tersenyum senang. "Bi, boleh saya berbaring di sini," tunjuk Allin pada kedua paha bi Inah.


"Tentu saja boleh, Allin!" Bi Inah menepuk pahanya menyambut Allin segera merebahkan kepalanya. Allin dengan antusias merebahkan kepalanya di atas paha pelayan tua yang sudah dianggap seperti ibu sendiri.


Allin juga tidak ingin bi Inah memanggil dia dengan sebutan ibu/nyonya, dia selalu merasa tidak pantas dan tidak sopan pada bi Inah yang selama ini sudah menganggapnya seperti anak sendiri.


"Allin apa kau bahagia?" tanya bi Inah sembari membelai kepala Allin.


"Aku sangat bahagia Bi, saking bahagianya aku takut ini hanyalah mimpi. Dan aku takut terbangun setelah itu dan akan menyakitkan bagiku" jawab Allin dengan nada gusar.


Bi inah tersenyum mendengar pernyataan Allin dan memandangi wajah perempuan polos yang dulu menjadi teman sepekerjaan yang kini menjadi majikannya.


"Ini nyata Allin, ini takdirmu, Bibi tau, kau selama ini menekan perasaanmu dan juga merasa tertekan dengan statusmu yang berada di antara tuan Vano dan bu Sella. Tapi tuhan membalas semua itu dengan memberimu sepenuhnya tuan Vano untukmu Allin. Bu Sella, nyonya dan tuan besar pun menerimamu. Kau harus bahagia Allin, dan kau tidak merebut kebahagian siapa pun." Nasihat bi Inah pada Allin, dia paham perempuan polos dipangkuannya ini masih meragu dan takut.


Mereka pun hanyut dengan perbincangan kecil membahas tentang PELAKOR. Allin kali ini lebih banyak mendengar apa yang di katakan Bi Inah hanya sesekali dia menyahuti.


"Pada hakikatnya, orang ketiga dalam rumah tangga orang, di mata masyarakat mereka akan nampak di anggap buruk. Apalagi yang dengan sengaja menjajakan diri dan merusak rumah tangga orang, siaplah mereka untuk di kutuk, di hujat sekejam mungkin." Tutur bi Inah penuh penekanan.


"Apa artinya kebahagian yang tak seberapa harus mereka tukar dengan hujatan masyarakat untuk selama hidupnya." Tambahnya lagi.


"Kenapa tak seberapa, Bi." Tanya Allin

__ADS_1


bingung.


"Bagaimanapun Allin, yang namanya kita merebut suami orang, hati kecil kita juga berteriak dan rasa bersalah menghantui. Kebahagian itu takkan sempurna ada bayangan dosa yang mencekik, kecuali dia sudah mati rasa dan mati urat malunya." Jawab bi Inah frontal dengan nada suara kental dengan ketidak sukaan.


Allin terkekeh mendengarnya.


"Ingat, orang mungkin lupa dengan dosa mereka sendiri, tetapi tidak untuk dosa orang lain, mereka malah sengaja mengingat untuk menjadikan bahan gosipan bagi mereka yang haus dosa."


"Haus dosa?" Tanya Allin dengan raut bingung.


"Penggosip bagi Bibi, mereka adalah manusia yang haus dosa. Dia lebih sibuk menyikap aib orang lain, tapi lupa memperbaiki diri sendiri."


Allin mengulurkan jempolnya untuk setuju dengan ucapan bi Inah.


"Buanglah benih-benih jiwa pelakor dari tubuh kita. Jagalah jarak dengan lawan jenis, baik itu tua maupun muda." Bi Inah memberikan nasihat lebih dalam lagi pada Allin.


"Mulanya dari senda gurau, lalu bertukar cerita, merasa saling memahami dan petaka itu muncul, mengatas namakan Cinta."


Dia diam sejenak, menjeda ucapannya dan menarik napas lebih dalam untuk mengontrol emosinya.


"Bulshitt, Cinta takkan menyakiti orang lain, Cinta tak merebut hak orang lain. Itu hanya kesenangan semata. Sebelum terjerat lebih jauh, menyamarkan yang salah menjadi benar, atau menjadikan semua benar atas nama cinta. Sebaiknya kita menghindar dan menjaga batas pada lawan jenis."


Kamu sudah menjaga itu Allin, tapi takdir tuhan memberi kesempatan terhormat bukan sebagai PELAKOR tapi ....


Suara pintu menghentikan ucapan bi Inah, perempuan tua itu memutar kepalanya menatap siapa yang masuk.


"Tuan" panggil bi Inah senang. Seketika dia memutar kepalanya lagi untuk memberi tahu Allin, ternyata Allin sesudah tertidur.


"Bibi kenapa belum tidur?" tanya Vano heran.


"Maaf Tuan saya hanya ingin menemani Allin menunggu Anda"


Allin menungguku. Batin Vano.


"Dimana Allin, Bi?" Tanya Vano sambil mengedarkan pandangan ke segala arah mencari sosok istrinya.


"Disini, dia sedang tidur" tunjuk bi Inah kepangkuannya.


Vano melebarkan langkah kakinya menghampiri dan ternyata sosok istrinya tertidur di pangkuan bi Inah.

__ADS_1


Senyum pun terukir indah di wajah Vano melihat Allin yang meringkuk di pangkuan bi Inah.


"Terimakasih Bi sudah menemani Allin"


"Seharusnya Anda menegur saya Tuan sudah membiarkan Allin menunggu, bukan mengucapkan terimakasih. Karena saya tak mampu membujuk Allin untuk istirahat." Elak bi Inah merasa tidak enak hati pada majikannya.


Vano terkekeh tanpa suara mendengar pengakuan bi Inah.


"Dia keras kepala dan susah untuk di bujuk Bi" bisik Vano seolah takut Allin mendengar.


Bibi Inah tersenyum sambil mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Vano.


Vano pun memindahkan Allin ke dalam gendongannya dan berpamitan dengan bi Inah sebelum dia melangkahkan kakinya menuju ke kamar mereka.


***


"Aduh pinggangku rasanya ingin copot" rengek Vano sesampai kamarnya, setelah dia meletakkan Allin di atas ranjang. Tangannya pun sibuk memijit pingganngnya sembari melirik Allin dengan ekor matanya.


Allin bergeming dengan napas teratur.


Vano mencibir melihat sikap istrinya.


"Ayo sayang bangun" tegur Vano tak tahan dengan kepura-puraan Allin mencoba menipunya.


Allin seketika mencibir dan bergerak duduk dari tidurnya.


"Kau menyebalkan! Sudah tahu aku pura-pura tidur mengapa kau tak menyuruhku jalan sendiri ke kamar"


"Aku tak ingin membuatmu malu di depan bi Inah sayang"


Allin berdecak melihat sikap sok manis Vano


"Lalu kenapa kau baru pulang jam segini. Aku menunggumu seperti orang gila mondar-mandir di ruang tamu, dan sebentar-bentar mengecek ponselku berharap ada pesan atau panggilan darimu." Rajuk Allin menggerutu.


"Oh, ternyata istriku mengkhawatirkanku." Vano ingin mendekap Allin tiba-tiba dia menarik lagi tangannya dan menjauh, lalu berlalu ke kamar mandi dengan cepat.


Ada apa dengannya? Batin Allin kesal.


bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2