Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Mila


__ADS_3

Vano mengemudikan mobil dengan pelan, kosentrasinya terbagi. Pertanyaan berkejaran terus-menerus di kepalanya. Alasan apalagi yang memicu trauma Allin ketika di restoran.


Dia tau Ardio hanya menyindir mereka, dan kata-katanya masih dapat di toleransi.


Selama dia mengenal Allin, dia perempuan yang cuek atas sindiran orang, apalagi saat dia merasa benar. Sindiran sudah menjadi makanan Allin setiap hari, para pegawainya yang merasa tidak terima kehadiran Allin menjadi nyoya baru di rumah itu, sering membicarakan Allin di belakangnya.


Malah Vano sempat menjanjikan pada Allin, untuk memecat pegawai yang suka bergosip di belakanngnya, tetapi Allin melarang tindakannya dengan keras, dia tidak ingin karena hal sepele itu mematikan rezeki orang lain, apalagi dirinya-lah yang menjadi penyebab.


Vano merasa bukan hal itu yang membuat trauma Allin mencuat.


Lampu lalu lintas tiba-tiba berganti warna merah, memaksa kendaraan Vano untuk berhenti. Selang waktu yang singkat itu ia manfaatkan untuk memandangi Allin yang terlelap, sedangkan Dio menyusu di atasnya. Jok mobil yang terdorong ke belakang, membuat posisi nyaman buat Allin terbuai dalam mimpinya.


Vano tersenyum geli. Allin selalu begitu, matanya mudah sekali terlelap saat menyusui Dio, sedangkan bayi itu tengah asyik menghisap minumannya tanpa mempedulikan Ibu susunya sudah terlelap terlebih dahulu darinya.


Mungkin jika dia bukan suaminya, Vano akan histeris dan menyentak habis-habisan perempuan di sampingnya ini. Sekarang baginya itu menjadi hal yang lucu, mengelitiknya tanpa di sentuh.


Vano mengambil Dio dari atas tubuh Allin, membenarkan posisi Allin, dan meletakkan Dio di atas pangkuannya.


Bayi kecil itu kegirangan, memukul stir mobil berulang-ulang.


"Dum, dum, dum ...." Dio dan Vano mulai heboh dengan suara menyerupai suara drum. Sedangkan Allin tetap terlelap tanpa merasa terganggu.


***


Mobil Vano telah memasuki halaman yang tidak terlalu besar. Seseorang sudah menunggu di depan pintu, senyum wanita paruh baya itu merekah menyambut kedatangan mobil Vano. Di dalam gendongannya tampak Tegar yang juga ikut tersenyum.


Bayi itu murah senyum.


Vano membangunkan istrinya, mengusap lembut pipi Allin, tak butuh waktu lama Allin terbangun dari alam mimpinya, matanya mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya.


"Kita sudah sampai" tanya sembari menyisir ke sekeliling.


Vano hanya tersenyum tanpa menjawab.


"Maaf aku ketiduran lagi ya" ucap Allin penuh penyesalan. Dia memperhatikan pakaian yang dia pakai sudah rapi, kancing bajunya sudah terpasang di tempatnya. Dan dia baru menyadari Dio sudah berpindah ke dalam pangkuan Vano.


"Maaf" dia mengucapkan lagi permohonan maaf, rasa malu menguar dari wajahnya, menyadari bahwa lagi-lagi dia lalai, tertidur sembari menyusui.

__ADS_1


"Rasanya aku ingin memakaikan baju robot untukmu, jika kau terlelap saat menyusui Dio, bajumu menutup dan terpasang dengan sendirinya."


"Aku minta maaf, tapi kan di sini tidak ada siapa pun kecuali ..., kau sendiri yang merasa terganggu" cibir Allin dengan tatapan mengejek.


Tatapan Vano menajam menyisir keseluruhan tubuh Allin. "Ya aku sangat terganggu" sembari mengusap dagunya.


Allin seketika mendekap tubuhnya dan membuang badannya ke samping.


"Dasar kau pria tua mesum" pekiknya pelan.


"Pria tua mesum itu suamimu Allin" tekan Vano memperingati istrinya.


Allin tak membalas, dia hanya mengerucutkan bibirnya dan mengambil Dio dari pangkuan Vano.


Vano menatap Allin dengan senyuman tertahan.


Pintu mobil terbuka, tante Mia lansung menyambut dengan hangat.


"Selamat datang Den Dio" tante Mia menyapa Dio yang berada dalam gendongan Allin.


Dio tak menanggapinya, matanya bertemu sosok Tegar, bayi itu tersenyum menyambut kehadiran Dio, tetapi Dio membalas dengan tatapan tidak suka, seketika dia merangkul leher Allin dengan erat, seolah takut ibu susunya itu akan pergi jika dia tidak merangkul dengan erat.


"Kenapa sayang?" tanya Allin merasakan perubahan sikap Dio yang begitu posesif.


"Ma ... Ma ... lang" ucapnya merengek.


"Ya, nanti kita pulang. Kita akan bermain dulu di sini dengan Tegar." bujuk Allin menenangkan Dio.


Setelah Allin mencium tangan tante, dia ingin mencoba mencium Tegar, tetapi Dio menepisnya, membuat wajah Allin terpaling ke samping. Dan Dio juga sudah memposisikan tubuhnya lebih ke depan di dalam gendongan Allin.


"Sayang tidak boleh, itu tidak sopan namanya" Allin memperingati Dio dengan lembut.


Tante Mia hanya tersenyum melihat tingkah Dio yang begitu dominan, dan apalagi bayi Tegar yang murah tersenyum itu, dia mencoba menggapai Dio, tetapi Dio lagi-lagi menolak.


"Wah Dio pintar sekali ya, sudah pandai bicara" puji tante Mia sembari membelai kepala Dio.


Dio tak menyahut, tetapi tangannya makin mengerat di leher Allin.

__ADS_1


"Mari masuk Tuan" ajak tante Mia saat melihat tuan Vano yang menghampiri mereka dengan tas ransel yang terjinjing.


Tuan Vano mengangguk dan melangkah lebih maju, saat berada bersisian dengan Allin, dia merangkul bahu istrinya. Allin melototkan matanya, memperingati suaminya untuk bersikap se natural mungkin.


"Jangan protes, cepat masuk!" perintah Vano menyela, sebelum mulut Allin yang ingin mengeluarkan protesan dengan sikapnya.


Di dalam seseorang sudah menunggu, dia terlihat cantik dan sexy.


"Hai Kak" sapa Allin mendahului Mila ingin menyapa mereka.


"Baik Allin" jawabnya datar.


"Kakak mau pergi ya? Kakak terlihat sangat cantik sekali" puji Allin tulus.


Mila tak menanggapi pujian Allin, matanya tertuju pada sosok pria yang di samping Allin. Pria itu menarik perhatiannya dari pada membalas basa-basi adik sepupunya.


"Selamat datang Tuan" ucapnya begitu sopan dan manis kepada Vano.


Allin merasa kesal seketika melihat perlakuan kakak sepupunya itu, dia selalu saja tidak suka dengan Allin. Seharusnya dia tidak menunjukkan sikapnya itu, jika ada orang lain di antara mereka.


Vano hanya membalas mengangguk tanpa tersenyum, hanya melihat sekilas dan pandangannya kembali lagi ke wajah Allin yang sedang merengut.


"Silahkan duduk Tuan" ajaknya, Mila sama sekali tidak merasa tersinggung dengan sikap dingin Vano.


Mata Allin begitu pandainya membaca sikap Mila yang mencoba mencari perhatian suaminya.


"Sayang ayo duduk" manja Allin seraya memeluk satu tangan Vano dan berjalan mendekati sofa, di hadapannya kakak sepupunya itu hanya mampu menelan salivanya.


Dia sadar adik sepupunya itu ingin menunjukan dirinya-lah pemilik pria yang dia sapa dengan sopan itu.


Vano menahan senyum melihat tingkah Allin. "Iya sayang" jawab Vano sembari memberi kecupan di pelipis istrinya, menunjukkan pada Mila bahwa dia milik seseorang yang berada di sampingnya.


Vano juga bukan pria bodoh, dia tau mana perempuan ingin menggodanya, atau berbasa-basi padanya.


Apalagi pakaian Mila yang serba ketat dan menonjolkan lekuk tubuhnya, dengan bagian leher berbentuk V, dan gaun itu hanya menutupi sebagian paha atasnya. Pakaian itu bukan menunjukan pakaian rumahan untuk menyambut seorang tamu.


Allin tersenyum kemenangan, melihat Vano tidak menanggapi sikap Mila.

__ADS_1


bersambung ....


__ADS_2