Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Extra Part 12


__ADS_3

Duar ... duar ....


Bunyi kembang api dari luar membuat orang-orang berhamburan, terlihat Bams sedang memegang kembang api dengan seringai jail menatap ke balkon.


Vano dan Allin yang ikutan keluar melihat arah pandang Bams. Di sana terlihat Sella dan Ardio tengah berpelukan dengan wajah berbinar.


"Jaga pandanganmu sayang," tegur Allin sambil merangkul lengan suaminya. Vano melirik Allin dengan seulas senyum dan kembali melihat pasangan yang berada di atas balkon.


Dari dalam diri Vano, ada sesuatu yang seolah selama ini menghimpit terasa lapang saat melihat wajah berbinar Sella. Meskipun polesan mikeup yang luntur membuat penampilan Sella agak mengerikan, tetapi wajah kebahagian terbingkai jelas.


"Aku bahagia Allin!" haru Vano sambil berkaca-kaca.


"Aku juga," jawab Allin dan menatap suaminya dari samping. Tangan kecil itu mengulur ke wajah Vano, dan Vano pun merubah posisinya agar berhadapan dengan Allin. Lalu dia menunduk membiarkan tangan istrinya mengusap lembut sudut matanya.


"Terima kasih sudah hadir di antara kami," ucap Vano tulus dan merangkum kedua pipi Allin.


"Kenapa?" tanya Allin yang belum bisa mengerti.


"Kau mengobati luka kami, mengajarkan kami tentang cinta dan ketulusan."


"Aku tidak melakukan apa-apa," elak Allin merasa tak pantas mendapatkan sanjungan dari suaminya. Karena baru beberapa menit yang lalu dia bisa melepaskan beban di hatinya.


Bagaimanapun, Allin takkan bisa lupa, dia adalah orang ketiga dalam hubungan dia dengan Sella dan Vano. Dia bersyukur, bisa mengembalikan kebahagiaan mereka dan tidak merusak hubungan siapa pun. Vano tetap berteman dengan Sella dan mertuanya juga tetap menganggap Sella adalah anak mereka.


Dan Allin bisa masuk kelingkup keluarga Sella, dia dengan lantang meminta ayah Sella menjadi ayah angkatnya. Meski pria tua itu tak mengiyakan, tapi cara sikapnya seolah dia sudah menerima Allin masuk ke dalam ruang lingkup keluarganya.


Tak hanya itu, pria tua tersebut membantu Allin saat merebut hak Tegar dari ayah kandungnya.


Itu lah Allin ... yang hadir sebagai lentera bagi mereka di gelapnya jalan hidup.


Setelah kembalinya Tegar, kondisi Mila sedikit demi sedikit membaik dan setelah sembuh Mila dan tante Mia memutuskan memulai hidup baru mereka di sebuah panti asuhan.


Entah alasan apa Mila ingin mengabdikan dirinya untuk lebih dekat dengan anak-anak yang tidak beruntung seperti dirinya. Memberikan kasih sayang dan berbagi ilmu yang dia punya. Dia menjadi seorang pengajar di sana.


"Sebaiknya kita pulang, sepertinya pengantin takkan turun," ajak Vano. Sambil memasangkan jasnya pada tubuh Allin. Memastikan perempuan hamil itu tak kedinginan dengan pakaian yang digunakannya.


Allin mengangguk lalu dengan suara cempreng dia berteriak. "Mbak ... aku pulang dulu." Tangannya melambai pada pasangan pengantin itu. Sella membalas lambaian tangan Allin dengan antusias. Matanya mulai berair lagi menatap haru ke arah Allin yang selalu meyakinkannya akan makna sebuah kebahagiaan.


Saat tatapan Allin bertemu dengan Ardio, seketika dia bersembunyi di balik tubuh Vano. Bunda yang sedaritadi sibuk menggendong Dio, mengeleng-geleng tak percaya bahwa Allin masih merasa takut dengan ayah anaknya itu. Vano hanya tersenyum melihat sikap istrinya dan Sella melototkan matanya pada Ardio.

__ADS_1


"Allin, ayo ikut Bunda."


"Mau kemana Bunda?" tanya Allin bingung tapi tetap mengikuti langkah bunda masuk kembali ke dalam rumah Sella.


***


Di balik pintu bunda dan Allin sedang berdebat.


"Bunda ini tidak baik!" tegur Allin dengan rencana jail bunda.


"Ikuti saja intruksi Bunda," perintah perempuan paruh baya itu.


"Kau benar-benar iseng," cibir Allin tak habis pikir.


Akhirnya perempuan paruh baya itu mengetuk pintu kamar pengantin. Tak butuh waktu lama Sella telah membuka pintu dan diikuti Ardio di balik penggungnya.


'Bunda ...," panggil Sella lirih, air matanya yang sudah dia hapus kini mulai mengalir lagi dan pengantin perempuan itu melemparkan tubuhnya memeluk mantan bunda mertuanya.


Bunda menyabutnya dengan senang hati.


"Hey ... kau apakan putriku sampai membuat dia menangis begini," gerutu bunda dengan membelalakkan mata, menatap Ardio. Tapi ujung bibirnya ia tahan agar tak tertarik.


"Allin! Cepat maju!" bunda menarik tangan Allin dengan satu tangannya dan tangan lain mengusap punggung Sella yang tengah menangis di pelukannya.


Allin maju dengan langkah berat bukan karena keberatan menggendong Dio, tapi dia takut mendekati ayah anaknya itu.


"Allin, cepat buat perhitungan dengan dia. Kau tak lihat Mbak Sella-mu di buat menangis karena dia." Bunda sengaja menekan kata 'Sella-mu' untuk memprovikasi menantunya tersebut.


Sontak Sella tertawa dalam tangis harunya, tapi air matanya makin menjadi. Saat ini dia benar-benar merasa mempunyai keluarga yang benar-benar adanya untuknya. Sandiwara Allin dan bundanya membuat bibirnya dia tertarik begitu saja dalam tangisnya.


Akhirnya Allin berani maju ke depan Ardio dengan bersungut-sungut marah, tapi sesampai depan Ardio dia hanya mengulurkan Dio setelah Ardio menyambuat anaknya dengan baik, Allin lansung berlari kabur.


Ardio terkekeh tanpa suara melihat sikap Allin, Bunda menatap tak suka pada Allin karena Allin tidak mengikuti instruksinya. Dia menghela napas kalah, rencananya gagal.


Cara bunda menatap kepergian Allin.



"Bunda selesaikan urusanmu aku tak mau ikut campur ...," pekik Allin saat telah jauh dari mereka.

__ADS_1


"Dasar kau penakut Allin!" cibir bunda dengan menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas.


***


Hari ini benar-benar luar biasa dirasakan Ardio. Mulai dag dig dug menghadapi pernikahannya, lalu tendangan Sella yang membuat dia harus meringis kesakitan dan sekarang malam pengantinnya harus dia habiskan untuk mengurusi Dio. Dan Sella hanya duduk manis di atas ranjang dan sesekali memberikan intruksi. Tapi pria itu tak tampak sama sekali kelelahan, dia begitu telaten mengurusi Dio.


Saat dering ponsel Allin berbunyi angka jam sudah menunjukkan tengah malam. Dengan kesal Vano mengangkat karena baru beberapa menit yang lalu dia memejamkan matanya untuk memulihkan tenaganya yang habis terkuras, tiba-tiba bunyi ponsel tetus saja mengganggu tidurnya.


"Allin kenapa Dio berulang-ulang buang air," sambar Sella tak memberi kesempatan Vano untuk mengatakan hallo.


"Kau menganggu tidurku saja Sella!" protes Vano tak kalah menggebu dari Sella.


"Kalian yang mengganggu kami, istrimu sengaja meninggalkan Dio disini membuat kami kelelahan," gerutu Sella tak mau kalah.


Ardio hanya tersenyum mendengarnya, dia tau Sella sekarang sedang gugup. Pria itu dengan sabar mengurus Dio meski harus mondar mandir ke kamar mandi, sedangkan Sella hanya panik dari atas ranjang.


Saat Dio telah terlelap Sella mulai bertingkah aneh dengan menawari Ardio untuk makan atau meminum susu. Ia sudah menolak tak perlu apa-apa, tapi Sella bersikeras juga akan membuatkan sesuatu untuknya.


Cukup lama Ardio menanti, dan perempuan itu entah melakukan apa di dapur. Saat kembali ke kamar dia tidak membawakan apa-apa untuk Ardio. Sella malah mengambil ponselnya menghubungi seseorang, siapa lagi jika bukan Allin.


Ardio memeluk perempuan itu dari belakang, tubuh Sella lansung gemetar meresponnya. Dan dia mulai tak fokus mendengar gerutuan Vano dari seberang sana. Ardio mengambil ponsel itu lalu memutuskan sambungan tersebut.


Pria itu membalikkan tubuh Sella, menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Sella.


"Kau gugup?" tebak Ardio membuat Sella seketika menunduk malu, tapi tangan kekar Ardio mengangkat kembali kepala Sella yang menunduk.


"Aku takut ini bukan nyata." Wajah Sella seketika berubah sendu. Ardio menarik tubuh Sella dan mengeratkan pelukan mereka.


Mata mereka pun beradu. Ardio menatap begitu dalam, seolah ingin menunjukkan pada Sella bahwa di matanya penuh rasa cinta untuk Sella. Beberapa detik kemudian bibirnya menyapu lembut dan ditutup dengan gigitan kecil membuat Sella meringis kesakitan.


"Ini nyata dan kau ada dalam pelukanku," ucapnya sambil tersenyum lebar.


-


-


-


-

__ADS_1


wkkk author up lagi, ngak bisa move on sama cerita sendiri๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜.


__ADS_2