Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Mengerikan


__ADS_3

POV


Alvano Fahrizi


Aku lihat jam masih menunjukkan angka delapan. Rasanya ingin kuputar jarum jam itu untuk bergerak lebih cepat, apalagi saat mendengar lentingannya seolah mengejekku dan angka-angkanya menatapku curiga. Mereka tau aku sedang menunggunya, menuju halte penantianku! Waktu tengah malam.


Waktu semua orang terlelap dan terbuai dalam tidurnya, waktu yang tepat untuk mengendap-ngedap tanpa dia tau, untuk melepaskan rindu dengan tetap menjaga egoku yang tinggi ini.


Egoku ...!


Satu jam ... , dua jam ..., tiga jam ... , aku masih tetap menunggu, berharap jarum pendek itu menunjukkan angka dua belas. Mataku tak sedikit pun merasa kantuk atau tubuhku yang lelah seharian juga tak ingin di baringkan, hanya luapan emosi rasa rindu seperti menguap-nguap dalam tubuhku mematikan segala rasa, hanya ingin angka itu menunjukan tengah malam dan aku dapat pergi mengunjunginya.


Rasa yang sudah tak bisa aku tahan, mencoba melangkahkan kaki melintasi sudut kamar mendekati pintu tetapi aku kembali lagi, ada rasa takut yang diam-diam sedari tadi bersembunyi dari gejolak rinduku, takut dia masih terjaga, takut dia menangkap basah diriku yang menghampirinya tengah malam, takut dia sadar bahwa aku tidak bisa lepas dari dia.


Seharusnya aku memasang CCTV, jadi aku bisa tahu apa yang sedang dilakukan gadis nakal itu.


"Kamu kenapa Al?" tanya Sella yang terbangun dari lelapnya, aku tidak tau sejak kapan dia terbangun, tapi dari kalimatnya sudah dapat aku simpulkan bahwa dia sudah dari tadi memperhatikanku.


"Jangan panggil aku begitu Sel" tegurku. Aku tau dia sedang mengejekku, mengingatkanku pada bocah yang di panggil Allin dengan kata "Bi". Aku begitu marah mendengar mereka punya panggilan satu sama lain.


"Hahaha ... , bukannya dulu kamu sendiri yang memintaku untuk memanggilmu begitu Al, kamu bilang itu panggilan romantis dan kamu suka. Kenapa sekarang kamu menjadi tidak suka Al?" tanyanya sedikit menyindir dengan posisinya yang memiringkan badan, memeluk guling di hadapannya untuk melihatku lebih jelas.


"Kenapa kamu seperti menjadi Allin, suka mengejek diriku Sel"


"Aku tidak mengejekmu Al, aku hanya mengingatkan bahwa kamu dengan Bian ternyata sama, pola pikir kalian sama, dan juga wanita yang kalian sukai sama" sembari tersenyum dia menyimpulkan dengan mudahnya.


"Jangan menyamakan aku dengan bocah tengil itu, aku berbeda dan yang jelas aku lebih tampan darinya" ucapku mulai jengah dan sedikit menyombongkan diri.


"Kau terlalu percaya diri Al. Nyatanya istrimu sendiri tidak mencintaimu, tandanya pesonamu tidak sebesar itu Al" sindirnya begitu menusuk.


"Ya kamu betul, kedua istriku tidak satu pun terpesona olehku, itu menyebalkan sekali" geruruku melirik dia dengan sinis.

__ADS_1


"Kamu bukan menyindirku-kan Al" ucapnya sembari tersenyum tanpa rasa bersalah sama sekali.


Dia bangun dari posisi terbaringnya, lalu dia duduk menyilakan kedua kakinya, menatap ke arahku dengan sedikit mencibir.


Bagaimana bisa, aku mencintai wanita-wanita keras kepala, berbuat semaunya menurut pola pikirnya, yang selalu merasa benar. Dan aku mau saja mengikuti permainan mereka.


Akhirnya akulah disini menjadi korbannya.


"Bisa jadi! Kamu merasakan bukan?" sindirku lagi menantangnya.


"Mungkin." jawabnya sembari mengedikan bahu, kemudian salah satu tangannya ia pangkukan ke dagunya. Dia seolah ingin menonton kegundahanku.


"Kalian wanita sama saja, sulit di mengerti, sulit di pahami, tidak jelas maunya! Tetapi selalu berteriak Aku mau ingin di mengerti"


"Itulah wanita Al. Kamu Harus paham walau kamu tidak mengerti" jawabnya terkekeh.


"Ya, kalian wanita selalu benar." ucapku merasa kalah.


"Awalnya begitu, aku sakit hati dan menangis seharian. Entah kenapa, aku rasa itu bukan perasaan terluka atau di khianati tetapi rasa kehilangan sosok yang selama ini berada dekatku, mungkin itu rasa iri semata" jawabnya sedikit ragu.


"Kamu yakin Sel? Tak adakah sedikit kecemburuan karena rasa cintamu untukku."


"Aku tidak mau berbohong Al" jawabnya dengan santai.


Entahlah, apa maksudnya, aku tidak mengerti, apa maunya, kadang kala dia menahan diriku untuk jauh lebih dekat dengan Allin, dan kadang kala dia sendiri seperti mendorong untuk aku lebih dekat pada Allin. Dia terlihat baik-baik saja tetapi itulah yang membuat aku lebih berhati-hati padanya.


"Berhenti memanggilku begitu. Rasa kesalku makin menjadi mengingat bocah itu memanggil Allin dengan "Al". Mulutnya rasa ingin kucabik-cabik" tegurku padanya sekaligus memancing bagaimana tanggapannya melihat sikapku.


"Hahahaa ... , Al, kamu sedang cemburu ternyata menakutkan." suaranya makin mengejekku.


Membingungkan ... , dia terlihat begitu senang melihat sikapku.

__ADS_1


"Dan kamu lebih aneh lagi, dengan senang hati kamu mendengarkan kecemburuan suamimu untuk wanita lain. Apakah semua itu mengartikan sampai saat ini kamu belum mencintaiku" tanyaku sedikit memojokkannya.


"Entahlah, aku tidak bisa berbohong padamu Al, tetapi rasa aku ke kamu sudah lebih dibandingkan dulu." jawabnya dengan jujur meski ada sedikit rasa bersalah dari getar suaranya.


"Astaga ... ! Kenapa aku dikarunia istri yang aneh seperti kalian. Jadi bagaimana? Apa kau menerima Alin untuk selamanya di sampingku" mataku dengan tajam menatapnya melihat gerak dan mimiknya wajahnya, untuk menemukan kebohongan atau sikap ke pura-puraan.


"Belum Al, kecuali kamu mampu menaklukkan hati Allin agar dia mencintaimu. Cinta yang mampu membuat dia menantang dunia ini, tidak seperti diriku yang pada akhirnya di hantui rasa bersalah"


Tek. Dia benar-benar tulus mengatakan itu.


Sungguh aku tidak mengerti dengan dirinya. Mungkin dia masih mencintai orang di masa lalunya. Tapi tidak mungkin, ini sudah terlalu lama! Hampir enam tahun kami berumah tangga, apakah sosok masa lalunya tidak mampu dia lupakan.


Ini kesalahanku, menerima dia dengan hatinya bukan untukku. Ya, aku terlalu percaya diri, dan yakin waktu akan berjalan menggantikan sosok masa lalunya dengan diriku, akulah yang egois dan terlalu percaya diri.


"Apakah kamu masih mencintainya?" tanyaku penuh selidik.


"Pertanyaan macam apa itu Al! Kamu bertanya pada istrimu sendiri tentang cintanya yang lain." raut wajahnya berubah tidak suka.


"Entahlah, ini begitu menggelikan dan juga mengerikan jika terdengar orang lain Sel. Mereka akan menganggap kita keluarga yang kacau"


"Apakah kamu masih mempedulikan kata dunia Al, kupikir kamu tidak mempedulikan lagi, sejak kamu jatuh cinta pada allin"


"Kapan aku bilang, aku jatuh cinta pada Allin, Sel"


"Kamu memang tidak bilang, tetapi tingakahmu sangat jelas menunjukkan rasa itu sudah lebih"


"Lalu kamu menanggapi ini dengan mengejekku, aku ini suamimu Sel, seharusnya kamu cemburu"


"Ya, rasa cemburu itu pasti. Jadi pastiin aku tetap menjadi perioritasmu Al. Bagaimana pun aku istri pertamamu, jadi jangan membuat aku cemburu dan mencabik-cabik istri mudamu" ejeknya dengan seulas senyum.


Sikapnya tak dapat aku prediksi, mengerikan.

__ADS_1


***********


__ADS_2