
POV
Author
Vano masih terdiam duduk diatas sofa dengan pikirannya entah melayang kemana. Dia melihat Alin masih terbaring di tempat tidur, dengan selang infus di tangannya, ada rasa lega dan syukur saat Vano melihat sosok istrinya itu, wajahnya tak sepucat saat semalam.
Kini bukan hanya Allin saja yang merasa trauma, tetapi Vano juga merasakan hal itu.
Malam pertama yang seharusnya menjadi kenangan indah bagi mereka berdua, kini menjadi sesuatu yang menakutkan bagi dirinya dan Allin.
Vano tidak pernah berpikir bahwa Allin punya beban trauma yang dalam tentang hubungan suami istri. Dia menikmati dan melahap habis istrinya tanpa dia ketahui istrinya sedang berjuang dan menahan rasa takut akan trauma masa lalunya.
Allin yang selalu tampak kuat, ceria dan sedikit liar, dia juga berani meminta haknya pada Vano, padahal dia punya trauma yang mengerikan membuat Vano merasa sangat bersalah untuk itu.
Dia sudah menjadi suami yang tidak peka, atau menjadi suami yang brengsek, yang telah menyakiti istrinya meski itu tanpa ia sadari.
Flashback
POV Vano
"Kita akan membuatnya satu-satu dan berulang-ulang" bisik Vano menggoda.
"Tuaannnn..., kau begitu mesum!"
Seketika Allin membalikan badannya, sedangkan Vano terkekeh melihat Allin yang wajahnya sudah memerah karena rasa malu.
Vano diam sejenak dalam keheningan ruang kamarnya yang sudah mulai terasa lebih dingin, karena pendingin ruangan dan udara dari luar yang masuk. Malam kini sudah tinggal sepertiga dan sebentar lagi pagi akan menyambut dengan sinar mentarinya. Matanya belum mampu untuk dia pejamkan, kehangatan lain terus mengalir dalam aliran darahnya membuat gejolak lain yang tiba-tiba muncul. Allin yang berada dalam dekapannya, yang membelakangi dirinya tampak mulai diam, dengan helaan napas yang sudah teratur.
Vano diam sedang berpikir keras, akan tawaran Allin padanya. Dia sudah punya keteguhan sendiri untuk membuat Alin jatuh cinta terlebih dahulu kepadanya, tetapi rasa dan hasratnya sebagai pria memanggil-manggilnya dan menggodanya untuk menikmati hidangannya sudah tersedia.
"Allin ..., apa kau sudah tidur?" tanya Vano sembari mendusel-ndusel wajahnya pada ceruk leher istrinya.
"Jangan menggoda aku lagi Tuan. Kau membuat aku malu" ucapnya Allin dengan nada rendah.
Ternyata wanita itu masih terjaga.
__ADS_1
"Aku tidak menggodamu, wajar saja aku bilang begitu, kau milikku dan hal biasa jika kita membuatnya berulang-ulang" ucap Vano yang begitu frontal bagi pendengaran Allin.
"Astaga! Kau mudah sekali bicara begitu tapi nyatanya kau tidak mau melakukannya denganku" ucap Allin dengan nada meninggi, ada rasa kesal dan di permainkan.
"Kata siapa?" sangkal Vano berbisik di telinga Allin dan menghembuskan hawa panas nan menggoda.
"Jadi kau akan melakukannya padaku" ucap Allin begitu antusias dan membalikan badannya dengan cepat.
Vano mengangguk
"Astaga gadis nakal, bagaimana kau bisa begitu antusias meminta hal ini" Vano menepuk pelipis Allin dengan pelan.
Allin hanya membalas tersenyum mengembang, merasa dia sudah menang menaklukan si tuannya yang sok jual mahal.
"Kenapa? Kan itu hakku" ucapnya dengan rasa bangga.
"Sepertinya kau benar-benar berpengalaman ya!" ucap Vano yang memposisi-kan tubuhnya agak memiring menghadapi Allin sembari menompang satu tangannya ke pelipisnya.
"Bolehkah kau memulainya" tantang Vano menggoda Allin.
Allin terdiam, mulutnya yang biasa dengan cepat membalas ucapan tuannya kini terdiam. Dia memikirkan apa yang di katakan Vano.
"Seharusnya kau sebagai pria yang memulai" lanjut Allin mulai kembali antusias.
"Aku tidak tau seperti apa yang kau inginkan, karena aku tidak pernah membaca novel yang sering kau baca itu" goda Vano makin menjadi.
"A-aku tidak pernah membaca novel seperti itu" sangkal Allin terbata-bata.
"Kau yakin? Bukannya kau sendiri yang mengatakan bahwa kau sudah berpengalaman seribu kali dariku" ucap Vano tersenyum kemenangan.
"Ya ..., aku pernah membaca ta-tapi hanya sekilas dan i-itu juga aku coba aku melewatinya. Aku benar-benar tidak tahu Tuan" ucap Allin bersikukuh membela diri.
"Aku tidak percaya!" goda Vano makin menjadi.
"Terserah dirimu, aku tidak tahu harus apa. Dan aku tidak bisa memulainya" ucap Allin sudah mulai merasa kalah.
__ADS_1
"Baiklah kita lakukan" ucap Vano menyeringai.
***
Aku menikmatinya..., melahap habis hidanganku dengan rasa menggebu-gebu, mencari titik kepuasaanku yang tak cukup hanya dengan hitungan menit, aku bagaikan api yang berkobar melahapnya hingga habis sisa tenagaku.
Saat aku mengucapkan terimakasih padanya, wajahnya telah memutih, menahan sesuatu yang tidak aku mengerti.
Deg ..., deg ..., deg ....
Aku mulai merasa ada yang salah.
"Sayang ... " tepukku lembut pada pipinya, dia masih diam membeku, saat aku mulai mengguncangkan tubuhnya, dia tersadar dengan mata membola, rasa ketakutan menguar jelas di seluruh tubuhnya.
Bibirnya bergetar, tangannya menepis setiap sentuhanku, lalu dia mulai berteriak.
"Tolong ..., jangan ..., lepaskan aku ..., kau brengsek ..., dll." ucapannya berulang tidak teratur.
"Tenang sayang, ini aku" ucapku mencoba mendekatinya.
Tetapi dia tetap histeris dan mencoba menjauh dariku dengan tubuh polosnya dia meronta-ronta ketakutan, aku dengan cepat menariknya untuk menenangkannya, takut dia berbuat jauh lebih buruk dari ini, dengan sisa tenaganya dia mencoba lepas dariku, dan tiba-tiba serangan paniknya mulai lagi kambuh, tubuhnya bergetar hebat, berkeringat, dan dia mulai sulit bernapas.
Ketakutan mulai mengahantuiku saat aku tak mampu menenangkannya, dia makin lemah dengan napas berat.
Aku merasa makin ada yang salah dengan sigap aku memakai seluruh pakaianku, menyelimuti Allin dan membopong dia keluar dari kamar.
Aku berteriak panik dari lantai atas menggema ke seluruh penjuru ruangan, semua pelayan berhamburan keluar. Aku tidak mempedulikan tatapan mereka melihat aku begitu kacau dah pakaianku yang tidak terpasang dengan rapih.
"Pak Herman siapkan mobil" pekikku di atas undakan tangga, mereka masih terpaku karena keterjutan suara teriakanku, mungkin rasa kantuk yang masih menyelimuti mereka membuat mereka tidak bergerak dengan sigap.
"Ba-baik Pak" jawab pak Herman terbata-bata sembari berlalu ke garasi mobil.
"Allin kenapa" tanya Sella dari lantai atas, aku mendongakkan wajahku melihat ke arah Sella tanpa mampu berkata apa-apa.
Apa yang harus aku jelaskan. Dan bagaimana aku menjelaskannya, sedangkan banyak pasang mata dari pegawaiku sedang menatapku dan Allin penuh penasaran dan rasa tanya.
__ADS_1
Mataku sudah memerah ketakutan, wajahku mulai terasa dingin, aku mendekap Allin dengan kuat, merasakan detak jantungnya mulai melemah.
Aku bergerak lebih cepat lagi, melangkahkan kakiku menyusul pak Herman, yang sedang mempersiapkan mobil untuk kami dan mengabaikan begitu saja rasa penasaran Sella dan pegawaiku, meninggalkan mereka dengan penuh rasa tanya.