
"Apa yang kalian tertawakan?" tegur seseorang tiba-tiba.
Mereka berdua dengan kompak membolakan matanya, dan menutup mulutnya meredakan suara tawanya.
"Tidak kami hanya membayangkan si Miaw yang selalu mengejar pasangannya tetapi selalu di tolak" jawab Sella yang membingungkan Vano dan Allin.
"Siapa si Miaw?" tanya Vano.
Allin ikut penasaran siapa si Miaw dan ikut antusias menunggu apa yang akan di katakan Sella.
"Oh, dia kucing tetangga. Sepertinya dia kebelet kawin, jadi hampir setiap hari dia meong-meong di depan rumah Pak RT. Kan kasian, lagi pengen di tahan" Sindir Sella sembari terkekeh, Allin yang mengerti maksud Sella tak tahan ikut tertawa.
Vano mendelikkan bola matanya curiga melihat tingkah kedua istrinya.
"Sepertinya, kamu sekarang pintar menyindir ku Sel" tegur Vano.
"Iya, aku bosan hanya menjadi patung selama ini di dekatmu. Lihatlah jika kau bicara padaku selalu sopan" akui Sella dengan nada suara di tekan.
"Jika kau berbicara dengan Allin, kalian bicara dengan santai, dengan bahasa sesuka kalian 'kau', 'Anda', 'saya', 'aku' tiap menit panggilan kalian berubah. Jangan bilang di belakangku kalian punya panggilan lain" sindir Sella tepat mengena sasarannya.
Vano seketika menelan salivanya, butiran keringat muncul di atas pelipisnya, dan Allin hanya diam menunduk, tak berani menatap bola mata majikan perempuannya.
"Melihat dari sikap kalian berdua, sepertinya begitu" tebak Sella dengan tepat, matanya menyisir kedua orang yang di hadapannya secara bergantian. Sella hanya tersenyum tipis, mencemooh.
Vano Alin hanya diam
"Cih, kalian seperti maling ke tangkap basah" sindir Sella mulai merasa jengah.
"Maaf" jawab Allin.
"Untuk apa? Kau tidak perlu meminta maaf Allin, seharusnya memang di sini tidak ada yang bisa disalahkan, tetapi permainan ini akan sulit dihentikan, jika kalian bersikap seperti ini" ucap Sella sambil mendorong kursinya dan berlalu pergi meninggalkan Vano dan Allin
Allin menatap sendu melihat kepergian Sella, Vano terlihat santai dan menghampiri Allin.
"Apa yang dikatakan Sella, abaikan saja. Dia memang aneh dan tidak jelas maunya. Jangan dipikirkan sayang!" bisik Vano menggoda di telinga Allin.
Alin mendelik ia membalikkan badannya untuk menatap lawan bicaranya, si tua pria mesum.
"Apakah Anda tidak bisa melihat situasi, Tuan. Istrimu sedang marah dan cemburu, kau masih saja menggodaku" gerutu Allin tak tahan melihat sikap tuannya yang tidak tahu malu itu.
"Kau juga istriku Allin, ini nikmatnya punya dua istri, yang satunya marah, kan ada yang satunya lagi." Goda Vano makin menjadi.
__ADS_1
"Dasar kau tak punya hati" pukul Alin pada dada Vano.
Vano hanya menatap sikap Alin dengan gemas, semua yang dilakukan perempuan itu menurutnya lucu dan menyenangkan.
Bibir Allin akan mengerucut, matanya akan membola, kadang saking kesalnya dia akan menghentakkan kakinya.
"Alin sakit ..., aku berdarah" rengek Vano memegang dadanya yang sedari tadi di pukul Allin.
"Berdarah, yang mana?" tanya Alin mengejek sembari mendelikan matanya dengan jengah.
"Di dalamnya berdarah Allin" tunjuk Vano ke arah dadanya sembari menekan telunjuknya.
"Pintar sekali kau berbohong Tuan, seni berbohongmu membuat kau tampak bodoh bukannya lucu" tanggap Allin melihat sikap kekanakan Vano.
"Apa itu seni berbohong?" tanya Vano yang merasa aneh dengan kata-kata Allin.
"Seni berbohong, mengelabui orang dengan menyatakan hal yang benar, tetapi bukan jawaban yang sebenarnya yang di berikan, mengelak secara halus" tutur Allin menjabarkan.
"Oh, berat sekali penjelasanmu Allin"
"Ya! Jadi kau harus belajar lagi yang banyak Tuan." Allin mencibirkan bibir bawahnya mengejek Vano.
Allin ingin membalas ucapan tuannya, dering telepon menahan Allin untuk bersuara lagi, ada pesan masuk ke ponselnya. Dengan sigap ia menutup layar ponselnya, ada nama Bian disana.
Allin ingin mencoba menutupinya tetapi malah membuat Vano curiga, dengan gerakan tak terbaca Vano mengambil ponsel itu dari tangan Allin
"Tuan kembalikan!" pekik Allin
Vano menatap dengan mata tajam, menghentikan gerakan Allin yang ingin mengambil kembali ponselnya
"Biarkan saja dia tidak tau juga passwordnya," batin Allin mengingatkan dirinya sendiri.
Tapi Alin salah, si tuannya itu dengan mudah membuka layar ponselnya.
"Alin! Kau ke mana saja? Aku tunggu ya! Segeralah kemari, aku dan anak-anak ada latihan hari ini"
Vano membaca pesan itu dengan suara jengkel setiap kata dia tekan untuk mengolok-olok.
Allin hanya mampu menelan salivanya, untuk meredakan kecanggungan melihat sikap tuannya.
"Kamu memberi nomormu pada bocah itu Alin?" sentak Vano dengan nada marah.
__ADS_1
Allin mengangguk dan menjawab iya dengan rasa takut
"Kau tidak sadar apa! Jika kau sudah menikah? Seharusnya kau menghindar dari pria lain selain suamimu" cecar Vano dengan nada tinggi.
Allin mencoba meredakan rasa takutnya, ia memberanikan diri membalas, "Anda berlebihan Tuan, aku hanya berteman dengannya dan aku juga sama sekali tidak pernah membalas pesannya, coba saja Anda lihat sendiri di ponselku'' terang Allin membela dirinya.
Vano kembali lagi menatap layar ponsel, membuka layar itu dengan kode garis.
"Cih, darimana dia tau kode ponselku, jangan-jangan dia suka mengintip diam-diam saat aku membuka layar ponsel" batin Allin.
Allin memperhatikan Vano dengan lekat, jari-jari Vano menekan-nekan pada layar ponsel. Vano memblokir nomor teman Allin.
Perempuan itu hanya berdecak kesal tetapi juga tak menahan suaminya itu untuk tidak memblokir nomor temannya itu.
Kau berlebihan Tuan
"Kau tak perlu lagi membawa Dio ke taman komplek, taman belakang cukup luas untuk kalian bermain" perintah Vano dengan dominan tidak ingin di bantah.
Allin mengerecutkan bibirnya tidak terima tetapi dia tidak bisa membantah, dia majikan sekaligus suaminya, haknya mutlak terhadap Allin.
"Tetapi, biarkan aku berteman dengannya" pinta Allin setengah takut.
"Tidak! Tak ada namanya pertemanan di antara pria lajang dengan seorang yang sudah berstatus. Kau sekarang istriku Allin"
"Aku tahu! Kau tidak perlu mengingatkannya."
Allin menjawab tanpa melihat ke arah suaminya itu, dia kecewa tetapi tak mampu membantah. Padahal dia sangat senang berteman dengan Bian, bocah itu ramah dan ramai jika bersamanya, Allin sering terkekeh geli, mendengar bocah itu jika berbicara.
"Tetapi kau sering sekali melupakan itu Allin"
"Kapan?" tanya Allin
"Saat ini! Aku tau, kau sedang memikirkan bocah tengil itu kan? Dan berhenti memanggilnya dengan sapaanmu yang menjijikan itu" ucap Vano emosi dengan kedua tangannya di pinggang dan bola mata yang tajam menusuk.
"Astaga, kenapa dia tau. Apa dia cenayang, yang bisa membaca pikiranku, sepertinya tidak, dia tidak tau, jika aku hampir setiap hari mengumpatnya si pria tua mesum" batin Allin menggerutu
"Jangan mengumpatku Allin" tebak Vano tepat.
Ternyata benar dia bisa membaca pikiranku
Allin menahan napas mengaku dia salah.
__ADS_1