
Jika cemburu adalah sumber kerisauanmu, biarlah keterbukaanku menenangkanmu.
Alvano Fahrizi
Pandangan Allin tak lepas menatap Dio yang terbaring di sampingnya, senyuman terukir begitu saja di wajah cantik perempuan hamil itu. Dia sungguh bersyukur akan nikmat tuhan yang diberikan padanya, hingga perjalanan hidupnya seindah ini.
Sebelumnya, dalam tiap doa, Allin tak henti-henti mendoakan bayi kecilnya untuk selalu sehat dan tercukupi semua asupan gizi. Meski tak memberi ASI, dia berharap penuh pada susu pengganti dapat memenuhi segala gizi yang di perlukan sang bayi.
Dia kadang bersedih hati, jika membayangkan anak kandungnya hanya meminum susu pengganti yang tak bisa dibandingi dengan setetes ASInya, yang telah dipersiapkan tuhan dengan kandungan gizi yang sungguh lengkap. Tetesan air mata yang dulu keluar diam-diam saat menyusui Dio berganti dengan senyum yang merekah karena yang selama ini dia susui adalah anak kandungnya.
Bukan dia tak ikhlas selama ini menjadi ibu susu, tapi dia hanya merasa tak sempurna menjadi seorang ibu tanpa memberikan yang terbaik buat anak kandungnya sendiri.
Sedangkan Vano yang berada di balik punggung Allin sibuk mencolek pipi gembul Dio. Dia mencoba menarik perhatian istrinya yang tengah bahagia mengetahui status Dio dengan sikap kekanakan.
"Sayang, jangan!" Protes Allin pada tangan jail Vano. "Kau mengganggu tidurnya."
"Dan kau mengabaikan diriku" rajuk Vano sembari mengeratkan dekapannya di tubuh istrinya itu.
"Kau cemburu?" Tanya Allin dengan nada renyah terdengar seperti mencemooh sikap Vano.
"Tidak!" Sangkal Vano dengan cepat, tekanan nada suaranya dia pasang sedatar mungkin, ingin menunjukkan dirinya tampak biasa saja. Tak mungkin dia cemburu dengan seorang anak kecil, mau di kemanakan harga dirinya sebagai pria terhormat.
Setelah lamunan singkatnya Vano diam sejenak, memandangi bayi tampan Dio yang kini begitu kentara menduplikat wajah pria yang tak dia sukai.
Apalagi dengan mata biru milik Dio, mata langkah yang hanya dimiliki delapan persen penduduk dunia menurut artikel yang dia baca melalui internet. Tanpa bisa dia tahan, mulutnya kembali bersuara dan melontarkan kata-kata yang menunjukan kecemburuannya.
"Sepertinya aku harus mencarikan softlens yang cocok untuk bayi," terangnya pada Allin dengan mata masih terpusat pada bayi mungil Dio yang sedang tertidur.
Entah dari mana ide itu berasal yang pasti Vano mulai merasa terganggu dengan mata biru Dio mengingatkan dia pada sang ayah si bayi.
"Buat apa?" Tanya Allin bingung, dia pun menarik ekor matanya agar bisa melihat Vano yang berada di balik punggung.
"Matanya terlalu sama dengan pria itu." Geraman suaranya terdengar sangat jelas tak menyukai ayah kandung Dio.
Allin pun membalikkan badannya menatap lekat pada suaminya dengan sorotan mata tak suka. "Astaga sayang, kau masih saja cemburu dengannya. Kau cemburu karena hubungannya dengan mbak Sella atau karena aku." Gerutu Allin sambil mendudukan dirinya di atas ranjang, tak lupa dia mendelikkan bola matanya untuk mengintimidasi Vano, sekarang dia juga ikut diselimuti rasa cemburu.
Pria itu terkekeh geli melihat sikap istrinya yang lebih amat cemburuan darinya.
"Jawab!" Hardik Allin tidak terima pertanyaannya diabaikan malah di tertawakan oleh Vano.
__ADS_1
"Ya karena dirimulah, sayang. Membayangkan dirimu yang dulu bersorak memanggil namanya dan apalagi kau rela menghabiskan waktumu untuk mengikuti acara konser kemana pun. Belum lagi gambar-gambarnya yang kau pajang di sekeliling dinding kamar dan folder ponselmu berisi tentang dia seorang. Rasanya ingin aku hancurkan wajah pria itu."
"Aku tidak begitu"
Vano menatap lebih dalam lagi pada Allin menunjukan sikap tidak percaya dengan apa yang diucapkan Allin. Karena dia melihat sendiri bagaimana gambar opa-opa terpasang di kamar Allin terdahulu.
"Maksudku, aku tidak hanya menyimpan gambar dia saja, banyak gambar opa-opa dan gambar pemain sepak bola yang T-O-P and keren ... di galeri ponselku" Jawab Allin begitu antusias dengan penekanan beberapa kata dalam kalimatnya yang menunjukkan betapa bangga dirinya mengagumi kaum adam idolanya.
Sontak Vano mendelik tidak suka mendengar pengakuan Allin dengan bangganya menyimpan gambar pria-pria yang dianggapnya keren itu.
"Ops, salah" Allin menepuk lembut pada bibirnya dengan senyum penyesalan karena telah memancing kecemburuan suaminya. Jiwa remajanya masih suka meronta-ronta saat sang idola di pancing untuk di bahas.
"Mulai sekarang berhenti kau menonton acara pertandingan sepak bola dan drama sialanmu itu, kau hanya boleh membaca novel! Tapi ingat jangan sampai kau membayangkan lakon novel dengan pria lain kecuali aku"
Allin hanya tertegun mendengar gerutuan suaminya yang tiba-tiba mengizinkan dia membaca novel. Padahal suaminya itu sering protes pada Allin yang kadang kala lupa waktu keasyikkan membaca novel.
"Kau yakin?" Tanya Allin dengan seringai jail.
"Dan aku boleh ...," dia diam sejenak menghentikan ucapannya, "Eh ..., meluapkan semuanya padamu"
Vano mengangguk dengan cepat. Dia tidak tahu istri sedang memanfaatkan situasi untuk mengerjainya.
"Apa yang kau lakukan sayang?" Vano menangkis pukulan Allin dengan menyilangkan tangan di atas kepala.
"Aku sedang kesal dengan peran tokoh novel kesukaanku dia terlalu jahat membiarkan istrinya difitnah oleh mantannya dan lebih mementingkan perasaan si mantan. Dasar pria bodoh, berotak lunak, dasar brengseeekkk ...." Gerutu Allin dan makin menjadi memukul Vano.
"Astaga Allin, maksudku bukan momen yang begitu, setidaknya kau bisa mempraktekkan saat bagian romantis di novelmu bukan yang seperti ini." Cecar Vano sembari menahan tangan istrinya dan mengigit tangan itu dengan gemas.
"Kau sendiri yang bilang aku boleh meluapkannya"
"Kau bisa mempraktekkan bagian hot yang kau baca." Bisik Vano dengan seringai menggoda. "Atau seperti katamu dulu bahwa kau lebih--" Allin dengan gerakan cepat menutup mulut suaminya, dia tau apa yang ingin disampaikan Vano tak jauh dari otak mesumnya itu.
"Tidak perlu! Karena karakter mereka terlalu di buat-buat adegan yang mereka suguhkan tak seromantis perlakuanmu padaku tiap harinya." Ucap Allin untuk mengalihkan pikiran kotor Vano.
Sontak membuat Vano tersenyum dan menarik tubuh istrinya dan membaringkannya. Sayang, niat di hatinya yang telah menggebu-gebu tak dapat direalisasikan saat suara bayi tampan Dio yang memanggil namanya dengan nada ketus.
"Pi, pas. Pi, pas" Tangan kecilnya juga memukul Vano tak terima perlakuan papinya terhadap mamanya.
Entah apa yang membuat bayi tampan itu terbangun mungkin karena suara pekikan Allin sedari tadi menganggu tidurnya atau guncangan kedua pasangan itu yang terus bergelut mengganngu kenyamanan tidurnya.
__ADS_1
Vano menghela napas kasar, menjauhkan tubuhnya dari Allin dengan wajah merengut kalah. Allin tersenyum kemenangan bisa lepas dari perangkap suaminya.
Sesuatu yang hangat lebih meninggalkan kesan mendalam. Sedikit pertengkaran, tingkah konyol, dan menjadikan itu manis untuk di kenang.
***
Aku tak pernah tau lukamu sedalam apa, hinggga membenciku. Yang aku tau kau adalah kakakku, yang darahnya sama mengalir dalam diriku. Aku menyayangimu, Kak.
Allina Cantika
Allin berjalan disamping Vano dengan langkah berat, mereka memasuki rumah sakit jiwa tempat Mila di rawat. Kabar terakhir dia dapati keadaan Mila mulai membaik. Kakaknya itu, kadang dapat bersikap normal dan beberapa waktu ia kembali lagi berhalusinasi.
Sesampai di depan pintu ruang rawat Mila, Allin tak melanjuti langkahnya. Dia memperhatikan dari balik jendela kecil, perempuan itu tengah memeluk kotak kecil.
Bulir air mata jatuh seketika dari pelupuk mata Allin membasahi pipinya begitu saja. Ada rasa sakit saat dia melihat momen tersebut.
Kotak kecil itu berisi surat-surat yang diberikan ibunya untuk menghibur Mila di setiap ulang tahun kakaknya tersebut. Dia dengan ibunya sengaja merangkai kata-kata indah untuk menunjukkan betapa cintanya sanga ayah pada Mila. Dan ibunya akan membubuhi nama terang dan tanda tangan sang ayah di atasnya.
Bagi Mila itu adalah kado spesial yang dia tunggu tiap tahunnya. Matanya akan berbinar membaca untaian kata itu, laksana air pelepas dahaga di atas gurun pasir.
Allin tak percaya dalam keadaan setengah sadarnya, kakaknya masih menjadikan kotak itu benda kesayangannya. Kenangan kecil yang Mila punya dari sang ayah bahwa dia dicintai.
Allin merasa sakit melihatnya, surat yang tak pernah berasal dari sang ayah. Pernah dia berpikir, bagaimana kak Mila tahu, tapi dia bersyukur kini hanya dia saja yang tahu, rahasia itu akan dia simpan seumur hidupnya untuk menjaga hati kakaknya.
Sebelum ini, dia tak pernah menyalahkan Mila dengan apa yang dilakukan padanya, karena ayah mereka lah yang menuai luka pada Mila membuat perempuan itu membenci Allin.
Saat anak-anak butuh kasih sayang dari orang tuanya, ayahnya malah mengabaikan tak pernah menganggap Mila ada di bumi ini.
Ciuman dari Mila di punggung tangannya saat mereka berjumpa, tak menyentuh sama sekali perasaan pria tua itu. Rengekan manja Mila untuk menunjukkan prestasinya di sekolah, tak juga membuat dia berkomentar menunjukan rasa bangganya.
Ayahnya terlalu dingin untuk Mila, dan dia tetap berharap suatu saat sang ayah mau mengakuinya, setidaknya untuk memanggilnya sebagai anak.
Kasih sayang tante dan pamannya tak menutupi kekecewaan Mila, dia terlalu fokus mencari perhatian ayah kandungnya.
"Sayang, kau kenapa?" Tanya Vano khawatir melihat buliran air mata membanjiri pipi istrinya. Allin ikut merasakan sesak di dadanya, merasakan bagaimana kecewanya Mila di saat itu, dia mengharapkan perhatian ayah kandungnya tapi tak berbalas.
Allin hanya menggeleng sambil menghapus air matanya.
Jika hadirku tak kau inginkan, setidaknya janganlah membuat aku iri. Mila
__ADS_1