
POV
Allin
Kami melangkah membawa perasaan masing-masing menuju jembatan penyeberangan atau disebut juga Avio Bridge.
Pertama bagiku dan Dio, perasaan takut dan sedikit canggung adalah hal yang wajar jika aku merasakan semua itu.
Ini pertama kalinya dalam hidup ku menaiki pesawat, biasanya hanya dapat kunikmati di tengah lapang, memandanginya dari kejahuan.
Ketika aku kecil aku malah bersorak-sorak dan berlari mengejar, semakin bertambah usia aku menyatakan ini adalah hal yang bodoh aku lakukan, mengejar yang mustahil untuk digapai.
Saat ini aku sadari adanya kekeliruan dari pernyataanku itu.
Anak-anak selalu berpikir polos, mudah merasa bahagia, mudah merasa percaya, mudah memaafkan, selalu bepikir positif, bagi mereka tidak ada hal yang mustahil, semuanya bisa menjadi nyata.
Ternyata semakin dewasa, rasa itu semakin terkikis dan hilang satu-persatu, mungkin karena jiwa orang dewasalah yang mulai terkotori dengan hal-hal negatif, mereka merasa lemah tanpa mencoba, merasa takut pada yang belum pasti, merasa rendah dihadapan sesamanya.
Tanpa orang dewasa sadari dialah yang semakin bodoh terkikis oleh usia, tidak berani melakukan apa-apa, hanya diam dan menduga-menduga tanpa mencoba, karena HARAPAN itu ada, percayalah!.
Aku pernah merasakan. Bagaimana hidup ini kehilangan harapan? Seperti raga tanpa jiwa, kosong! Hidupku hanya berputar makan tidur melamun menangis, anggota tubuhku berfungsi dengan baik tetapi otakku memaksa mematikannya dengan satu kalimat "Aku hancur, sudah tidak ada harapan dalam hidupku".
Jiwa adalah benih kehidupan yang mencakup pikiran dan kepribadian. Jiwa membutuhkan harapan untuk menompangnya, tanpa itu ia akan kosong. Stress, gila, bunuh diri adalah beberapa contoh orang yang hilang harapan.
Tuhan menghadirkan anak-anak dalam kehidupan, agar kita bercemin dan belajar kepada mereka bagaimana asal mula jadinya kehidupan ini, mengingatkan kita bahwa HARAPAN itu ada.
"Tegar" bayi mungil yang hadir ke dunia melalui ragaku menyadarkan ku tentang HARAPAN itu ada.
Hidupku harus tetap berjalan. Luka ku tidak boleh melebar lagi, cukup sudah tangisannku atau mengingat bayangan-bayangan kejadian masa lalu yang hanya menambah sakit, aku sendirilah yang membuat luka itu makin dalam membiarkan jiwaku kosong tanpa harapan.
"Allin, apa yang kau lakukan disitu?" tanya Tuan Vano kepadaku.
"Ayo, cepat masuk!" perintahnya menungguku di pintu pesawat (gate), sedangkan sosok Bu Sella sudah tak terlihat, mungkin dia sudah masuk terlebih dahulu.
Aku diam tidak menyauti, hanya langkah kakiku yang menghampirinya.
"Ayo masuk" ulangnya. Kali ini suaranya terdengar sendu ditelingaku, sedikit membuatku terhenyak.
"Ya" jawabku tersipu.
Ternyata dia tidak seburuk yang ku kira, seraya aku menganggukkan kepalaku sambil berguman dalam hati "Tak Kenal Maka Tak Sayang"
**
Bu Sella sudah duduk dikursinya, dan mulai sibuk dengan ponselnya.
Aku baru tau kalo Bu Sella adalah seorang Selebgram, hobby-nya yang menjadikan ia sebagai artis media sosial Instragram. Karena itu dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponselnya.
"Kamu duduk disana!" tunjuk tuan Vano ke arah bangku kosong yang berada di seberang Bu Sella.
Aku mengangguk mengerti, melangkah mendekati bangku. Belum sempat aku mendudukkan bagian tubuh belakangku, seseorang sudah mengalihkan perhatianku.
"Dek, bisa kita bertukar tempat?" tanyanya sedikit memohon.
"Saya sedikit phobia duduk di pinggir jendela" raut mukanya menampakkan ketakutan.
__ADS_1
Aku tak mampu lagi untuk menolak, sejujurnya aku juga tidak yakin apa aku akan baik-baik saja berada dekat Window Seat, sedangkan dalam hidupku ini baru pertama bagiku, membuatku sedikit ragu.
"Allin, mengapa kamu duduk disitu?" tegur tuan Vano sambil berdiri, aku hanya menoleh sekilas, mencari posisi yang nyaman untuk Dio dan memasang alat Safety Belt khusus bagi Infant (bayi berusia 0-24 bulan) yang diberikan oleh penjaga kabin (Cabin Attendant).
"Maaf Mas, saya yang meminta kepada adek ini untuk berganti tempat, saya sedikit takut untuk duduk dekat Window Seat" jelas si Ibu yang berada disampingku.
Tuan Vano hanya membalas dengan anggukkan.
Sedangkan aku masih sibuk dengan Safety Belt.
"Kau ini! Jika orang bertanya itu, seharusnya kau jawab, jangan hanya diam saja" kesal tuan Vano seraya membantu aku untuk memasangkan Safety Belt ditubuh Dio.
Entah sejak kapan tuan Vano berada disampingku, aku sedikit terkejut dan mengabaikan lagi perkataannya.
"Ibu yang tadi kemana Tuan?" tanyaku sedikit heran.
"Mungkin ke kamar kecil" jawabnya seraya masih sibuk membantuku.
"Jangan sampai Dio bangun Tuan" ucapku mengingatkan.
"Iya, ini juga aku udah pelan-pelan" tegasnya sambil memandang ke arahku.
Jarak kami terlalu dekat, membuat getaran-getaran aneh mendesir di darahku. Wajahku mulai memutih, kulitku merasa dingin, aku palingan wajahku ke arah jendela. Reaksi yang normal pikirku, jika wanita dan pria terlalu dekat akan menimbulkan getaran dan kecanggungan.
Sejenak kemudian, aku memberanikan diri membuka suaraku.
"Safety Belt sudah terpasang dengan benar! Kenapa Anda masih disini Tuan?"
"Kau mengusirku" bentaknya pelan.
"Kenapa Anda marah, aku kan hanya bertanya"
"Terimakasih, Tuan" ucapku sambil senyum menganggukan kepala.
"Jangan pasang muka sok manis, tidak pantas dengan tampang kecutmu itu"
"Anda pikir wajah saya makanan" gumanku yang masih terdengar olehnya.
"Sebaiknya Anda kembali ke kursimu Tuan, jika dari tadi Anda hanya marah-marah disini, yang ada Dio bangun karena suara Tuan"
"Kau tidak lihat apa? Kursiku di tempati sama si Ibu tadi" tunjuknya ke sebelah.
"Aku tidak melihat karena tubuh Anda terlalu besar, menghalangi pandanganku" jawabku berdalih sambil menahan senyum saat melihat matanya yang membola menahan kemarahan.
"Sayang, maaf ya. Kamu disitu dulu temanin Allin dan Dio, Ibu ini adalah salah satu customerku, ada sedikit pekerjaan yang ingin kami bahas." mohon bu Sella kepada tuan Vano sambil melirikku dengan wajah tersenyum.
Si tuan hanya mampu mengangguk atas keinginan istri tercintanya itu.
Begitu juga dengan si ibu itu, dia menggangguk seraya mengucapkan permohonan maaf.
"Maaf merepotkan dan menganggu"
"Tidak masalah Bu" ucap bu Sella yang menjawab, tuan Vano hanya tersenyum mengiyakan.
"Ternyata dia termasuk bucin juga" gumanku pelan.
__ADS_1
"Apa katamu!" sentaknya pelan.
"Bu-bukan apa-apa Tuan" sambil ku menepuk mulutku
"Seharusnya dia tidak dengar" batinku
**
Pesawat mulai take off, beberapa Pramugari mulai memperagakan tata cara penggunaan alat keselamatan dan Safety Belt. Tanganku mulai dingin lagi, bibir bawa sedikit aku gigit untuk menyamarkan rasa berdebar bagi pemula seperti aku ini.
Tuan Vano menyadari kegugupan diriku.
"Kau tampak gugup, sebaiknya alihkan perhatianmu" seraya dia menghidupkan layar monitor yang berada dihadapanku.
"Kau mau mendengarkan lagu atau mau menonton" tanyanya.
"Lagu saja" jawabku
"Kalau kau masih takut, tutup saja matamu"
"Aku tidak takut! Hanya belum terbiasa saja" dalihku dengan congak.
"Kau ini! Percuma saja aku peduli. Lihat dirimu, yang ada kau selalu menanggapi ku dengan angkuh"
"Maaf, aku kira kau ingin meledekku, terimakasih atas kepeduliannya Tuan" senyumku
"Cih, pura-pura sok manis lagi"
"Aku memang manis, Tuan" akui-ku dengan cepat.
"Percaya diri sekali kau"
"Pasti" jawabku dengan sombong.
"Kau ini tidak tau diri, gaya bicaramu bukan mencerminkan sebagai pegawai dengan majikannya, tidak ada rasa hormatnya"
"Anda yang memulainya Tuan, memancing emosiku. Meski aku pelayan Anda, aku takkan mau direndahkan."
"Ya ya, wanita selalu merasa benar" Jawabnya kalah.
"Soal yang tadi, aku minta maaf" lanjutnya.
"Aku tidak bermaksud mengorek luka lamamu" ucapnya tulus.
Kedua bola mata kami bertemu, tidak ada kebohongan yang kulihat, dia benar-benar tulus minta maaf.
Aku hanya balas mengangguk dan tidak mampu lagi bicara jika mendengar kata masa lalu.
Masa yang begitu kelam yang tidak ingin kuingat, menyakitiku. Mengingat saja membuat aku terluka merasa berdarah-darah, ada kebodohan, penyesalan, dan kehilangan yang takkan mampu kembali.
"Ibu" lirihku, mataku mulai lagi berkaca.
"Tegar" lirihku lagi, untuk menguatkan hatiku mengingat bayi mungil tampanku.
Dia menyodorkan tisu ketanganku, aku menatapnya.
__ADS_1
"Terima kasih" ucapku
"Itu hanya masa lalu, sudah tidak penting lagi untuk di bahas" tambahku seraya tersenyum.