Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Menunggumu


__ADS_3

Andaikan dia bukan suami orang, andaikan aku tidak menyakiti hati seseorang, andaikan aku punya keberanian.


Sungguh kebahagian ini milikku, wanita mana yang takkan bahagia bila cintanya berbalas, wanita mana yang takkan bahagia jika suaminya memujanya, menerima dia apa adanya.


Tuhan kenapa kau kirim dia sebagai obat sekaligus jadi racun untukku. Bolehkah aku menikmatinya? Untuk melepas dahaga ini, dahaga yang sudah lama kutahan, dahaga yang mencekik urat leherku, dahaga yang menyesakkan dadaku, dahaga membelit isi perutku.


Tuhan demi keyakinanku atas janjimu, bahwa aku akan bahagia dengan jalan yang benar, aku tetap teguh pada pendirianku, tetapi kau memberikan rasa bahagia ini tiba-tiba, yang tak mampu aku elakkan.


Tetapi kenapa Tuhan? Rasa bahagia ini harus menyakitkan bagiku, melilitku dari luar, mencabik-cabikku dari dalam.


Bolehkah aku egois? Menerima semua ini di tangan terbuka, menantang dunia yang akan kelak mencibir, dan membuang rasa maluku.


Tidak, aku tidak bisa, hidupku bukan milikku sendiri. Ada Tegar yang kelak akan terluka. Cukup sudah, luka Tegar dengan kehadirannya yang tak jelas siapa ayahnya, aku tak ingin membuat dia di hujat karena ibunya seorang perebut suami orang.


***


Air mataku mengalir....


Dari mata yang belum mampu aku pejamkan sedari tadi, menyisir semua yang sudah terjadi, memahami keputusan apa yang nanti akan aku ambil.


Dan dia ada berada dibelakangku, memelukku erat seolah aku akan jatuh, jika dia melepas tangannya. Entah berapa lama waktu yang kami habiskan hanya berbaring tanpa mampu memejamkan kedua mata. Hanya memeluk dan diam di dalam kamar, yang cahayanya begitu remang membuat hati menjadi gamang.


Tidak Allin, dia tidak diam, dia sibuk mencicipi apa yang menjadi haknya.


Hanya kau yang diam-diam menikmati, tapi tidak dengan dia, semua rasa ditunjukkan olehnya untukmu.


Dia sudah memuja mu Allin! Kau tidak bisa mengelak lagi perasaan dia untukmu. Dia sudah berani mengambil langkah jauh di luar karakternya Allin.


Dan kau tetap disini, ragu-ragu, pura-pura.


Apalagi yang akan kau gunakan untuk menyangkal semua ini Allin. Kau hanya memikirkan orang-orang dan apa yang orang lain katakan.


Ketahuilah Allin, kau tidak merusak hubungan siapapun dan tidak mengambil apapun. Dia tetap bersikukuh, bahwa kau adalah miliknya yang takkan ia lepaskan.


***


Tidak, aku tidak boleh tergoda, dan hanyut dalam permainan ini. Aku akan menyelesaikan semua ini dengan cepat. Sudah aku putuskan aku akan segera hamil dan pergi jauh dari kehidupan mereka.


"Tuan" panggilku memecahkan kesunyian di antara kami.


"Hmmm" jawabnya senduh.

__ADS_1


Kau tau bagaimana nadanya? Lembut dan menggetarkan, ia hanya berdehem, tapi hatiku luluh lantak olehnya. Bisakah aku tetap menyangkal pesonanya?


"Kenapa kau hanya memelukku?" tanyaku memancingnya.


Seharusnya tidak sepantasnya aku memancingnya.


Sebagai wanita kemana rasa malumu, Allin.


Entahlah! Biarlah dia berpikir apa, akan aku selesaikan permainan ini. Mungkin tadi aku sedikit takut, dengan apa yang ingin dia lakukakan padaku, tetapi jika aku menolak semua sentuhannya, kapan semua ini akan berakhir, ini harus segera di mulai dan akan cepat berakhir pula.


"Kau ingin apalagi Allin, begini sudah romantis" jawabnya terkekeh seraya menciumi leherku berulang-ulang.


Lihatlah dia! Dia sudah mengklaimku sepenuhnya miliknya, dia bukan tuan Vano lagi yang biasanya akan menghindar dari segala bentuk kedekatan fisik yang berhubungan denganku.


Awalnya aku begitu yakin permainan ini akan berjalan dengan lancar, sesuai apa yang di harapkan bu Sella, karena selama ini sepengetahuanku, dia mampu mengendalikan sikapnya padaku, meski tak elak dia pernah menelanjangiku dengan tatapan matanya itu, tapi itu bukan kesengajaan.


Bohong! Jika aku tidak hanyut, rasanya begitu menggiurkan, membuatku menelan ludah berkali-kali.


"Aku tidak mau romantis dengan dirimu" elakku padanya. Tanganku mencoba melepaskan kukungannya dari tubuhku, sedikit mendorongnya tubuhnya agar menjauh, dia terlalu dekat dan erat mengukungku. Tetapi tenagaku kalah jauh darinya, sedikitpun jarak antara kami tak mampu aku buat.


"Kenapa?" lagi-lagi suara sendunya begitu menyentuh dengan tangan dan kakinya makin membelitku dari belakang.


Kau benar-benar sudah luluh Allin, dia hanya mengeluarkan satu kata hatimu sudah bergetar, tubuhmu mematung.


"Terus apa yang kau mau?" kini nada suaranya mulai datar dan kukungan tangannya melonggar.


"Aku ingin kau segera menghamiliku" ucapku begitu lantang.


Kau melupakan rasa malumu lagi Allin


"Dasar bocah! Apa yang ada di pikiranmu? Kau kira membuat kau hamil, cukup aku meludahimu tiba-tiba lansung hamil. Semuanya perlu tahap dan prosesnya dan juga tak boleh sembarangan dan perlu waktu lumayan panjang." ucapnya seraya mencubit hidungku dari belakang dan terkekeh geli.


Kau berlebihan Tuan.


"Aku tidak ingin sekarang!" lanjutnya dengan nada renyah yang masih menyisakan suara tawanya.


"Kenapa? Aku ini istrimu aku berhak untuk kau hamili" ucapku menggebu.


"Astaga Allin, mana ada wanita sepertimu di muka bumi ini, minta dihamili tapi tak boleh bermanja-manja, kau kira aku bisa menyalurkannya lewat selang infus." ucapnya makin erat memelukku dari belakang dan menggigit daun telingaku dengan lembut.


"Ya siapa tau? Yang jelas aku ingin segera hamil!" ucapku tambah antusias dan tak mempedulikan apa yang ia lakukan pada tubuhku.

__ADS_1


"Tidak! Sebelum kau mencintaiku." bisiknya seraya menghembuskan napas hangat di telinga.


"Ke-kenapa begitu Tuan, yang penting kita suami istri Tuan. Cinta atau tidak kita halal untuk buat anak. Dan aku juga bisa me-memaksamu" ucapku terbata-bata, aku menyadari bahwa aku sudah hanyut dengan belaiannya tapi tetap saja aku menyangkalnya.


"Buat anak? Astaga Allin? Kau berbica seperti bocah yang sedang minta dibeliin mainan" suaranya terdengar gemas dari pada kesal.


"Aku harus segera hamil atau aku memaksamu!"


'Kau ingin memperkosaku?" tanya seraya membalikan badanku menghadapnya.


"I-iya" jawabku mulai ragu. "Emang kenapa?" tantangku.


"Ayo! Aku ingin tau?" dia menerima tantanganku dengan senyuman mencibir.


Aku menelan air ludahku, mematung, memikirkan bagaimana caranya.


"Aaaaaaa..., aku tidak tau caranya" pekikku padanya.


"Lalu?" tanya seraya menahan senyum.


"Ya, kaulah yang mengajari" tuntutku padanya.


" Kau tidak akan bisa memperkosa pria Allin, lihat tubuhmu yang kecil itu bagaimana melawanku." cibirnya meremehkanku.


"Tubuhku boleh kecil, tapi akal ku besar Tuan." sangkalku membalas cibirannya.


"O, ya! Tapi takkan berpengaruh dengan ku." jawabnya angkuh.


"Sombong sekali kau Tuan!"


Dia hanya mencibir lagi, "Cintai aku! Kau akan dapat yang kau inginkan!" ucapnya menantang.


"Baiklah Tuan. Aku mencintaimu" aku ucapkan dengan nada manja.


"Aku tidak mendengar ketulusan mu disitu Allin! Meski benar pun kau mencintaiku. Aku ingin melihat cintamu menghancurkan keegoanmu, membuang jauh-jauh kesepakatanmu, dan menghilangkan pemikiranmu untuk bercerai dan meninggalkan diriku." tegasmya dan memperingatiku.


"Permintaan mu terlalu banyak Tuan, sulit sekali harus mencintaimu." ucapku kesal.


"Jika kau benar-benar mencintaiku itu takkan sulit, cintamu sendiri yang akan mengiringimu untuk melakukan semua itu dengan mudah." jelasnya lagi lebih dalam.


"Aku akan menunggumu Allin..." lanjutnya.

__ADS_1


**********


.


__ADS_2