
Selepas kepergian Sella Ardio masih membeku di tempat yang sama, dengan sepasang mata terarah kosong pada pintu yang baru ditutup. Yang telah menlenyapkan siluet Sella dan meninggalkan kehampaan pada pandangannya.
Sella telah benar-benar pergi tetapi suara perempuan itu masih terngiang-ngiang.
Kaulah penyebabnya aku tak bahagia
Ardio mengerang frustasi, berusaha mengenyahkan rontaan nyeri yang terus menyebar di rongga dadanya, tidak pernah membayangkan bila selama ini yang membuat Sella tak bahagia karena dirinya yang masih saja menunggu Sella.
Sementara itu dia berpikir Sella sudah menghianatinya tanpa memikirkan perasaannya, meski begitu hatinya selalu terarah padanya, hanya Sella lah yang menjadi pusat dunianya.
Bams menghampiri Ardio yang masih terduduk di lantai dengan rambutnya telah berapa kali dia acak-cak tak karuan.
"Kau tau, pada kenyataan aku lah yang membuat dia tak bahagia." Adu Ardio melihat Bams yang ikutan duduk dihadapannya.
Bams hanya mengangguk, dia pun tak sanggup berkata, dia dengan jelas mendengar pembicaraan mereka berdua dari ruangan lain.
"Sekarang, apa yang harus kulakukan Bams?" Tanya Ardio dengan nada penuh kekalahan.
"Tenangkan dirimu," jawab Bams begitu singkat sembari menepuk pundak sahabatnya.
***
Allin pagi-pagi sudah berulah. Dia sedang berdebat dengan Vano tentang pakaian yang akan mereka gunakan untuk jalan-jalan yang dijanjikan Vano.
Baju couple berwarna pink dengan emoji tawa, sontak Vano protes dengan keinginan istrinya tersebut.
Gambar tiga buah emoji yang menempel di bagian dada kaos berwarna pink itu serasa mentertawakan dirinya. Membuat Vano geli untuk memakai, apalagi otot-otot tubuhnya akan tercetak dengan jelas, membuat dia seperti mahluk jadi-jadian yang sedang majang di jalan untuk menggoda kaumnya.
Allin tetap memaksa Vano memakai pakaian couple itu dan menggunakan kehamilannya untuk Vano harus menuruti keinginanya.
Dengan kesal, Vano mencoba mengalah dan memakai kaos couple berwarna pink pemberian istrinnya. Saat dia keluar dari kamar semua mata para pelayan mencuri-curi melihat padannya. Mereka menahan senyum melihat Vano yang tampak menggelikan.
Allin mengikuti langkah suaminya di belakang dengan tawanya tanpa suara. Sesekali Vano menoleh pada Allin melihat istrinya dengan kesal, Allin dengan cepat mengubah garis mukanya dengan datar. Tatapan Vano lurus ke depan dia pun kembali tertawa dengan jail.
Sesampai di meja makan, mereka mulai berdebat lagi. Vano ingin membawa bekal makanan untuk mereka di perjalanan. Allin tidak ingin Vano membawa makanan, entah mengapa bau aroma bumbu dapur menyengat tak dia sukai sejak awal kehamilannya. Tapi Allin bersyukur dia tak mengalami namanya ngidam.
Lain halnya dengan suaminya, tiba-tiba saja dia tak suka dengan makanan di luar, dia hanya ingin makanan masakan bi Inah yang menggunakan banyak pencampuran bumbu yang menyengat penciuman.
"Kita batalkan saja acara jalan-jalannya" protes Allin dingin sambil membawa Dio naik ke atas, kembali lagi ke kamarnya.
Kenapa dengan dia? Guman Vano sambil menghela napas dalam.
"Maaf, Tuan. Maklumi saja sikap Allin, bukan dia tidak setuju Anda membawa bekal, tapi dia tidak suka makanan dengan aroma yang menyengat." Bi Inah memberanikan diri untuk bicara agar tuannya tidak ikutan marah dengan sikap menyebalkan Allin.
"Bukankah selama ini dia sangat menyukai makanan seperti ini, Bi." Tanya Vano heran.
"Iya tuan, tapi semenjak Allin hamil dia tak mau memakan makanan yang berbau menyengat, dia lebih suka sayuran bening dengan sedikit garam tanpa penyedap atau bumbu lainnya." Jelas bi Inah menerangkan makanannya yang kini Allin makan sejak dia hamil.
"Terimakasih, Bi. Aku akan meminta maaf dan membujuknya."
Vano pun bergegas ke lantai atas ingin membunjuk istrinya. Ketukan-ketukan pintu dan permohonan maaf Vano tak meluluhkan hati Allin untuk membuka pintu kamarnya.
Vano mulai menyerah dia duduk di ruangan keluarga berharap istrinya sendiri dengan suka rela untuk membuka pintu tersebut.
Tak lama Sella sedang menaiki undakan tangga menuju ke arah Vano.
"Dio mana?" Tanya Sella tanpa berbasa-basi.
Vano menatap Sella dengan sedikit terperangah melihat calon mantan istrinya yang kini berada dalam rumahnya. Proses perceraian mereka belum selesai, mereka masih menunggu putusan hakim.
__ADS_1
"Ada dalam kamar" jawab Vano.
"Hari ini kau terlihat cantik, Al" goda Sella sembari memperhatikan dengan lekat baju yang di pakai Vano.
Pandangan Sella yang tertuju pada pakaiannya membuat Vano mengulum senyum membalas tatapan Sella.
"Iya, istriku yang nakal itu meminta aku dan Dio memakai baju ..." Vano terhenti, dia mencoba mengingat nama julukan baju yang Allin berikan.
"Maksudmu baju couple"
"Iya, tapi bukan itu yang dinamakan sama Allin, katanya ini bukan hanya baju couple tapi baju ... anti Pepasor." Jelas Vano sedikit ragu.
"Apa itu Pepasor?" Tanya Sella bingung dengan julukan yang Vano sebut.
"Pelirik pasangan orang"
"Ha ha ha ha," Sella sontak tertawa mendengarkan lelucon yang di katakan Vano.
Kau terlalu posesif Allin, sampai kau mempersiapkan baju tersebut untuk menunjukkan kepemilikan-mu pada diri Vano. Batin Sella
"Baru kali ini aku melihat tertawamu selepas itu Sel," ucap Vano sedikit takjub melihat bagaimana cara Sella tertawa tak seperti biasanya.
"Ha ha ha, apa iya?" Tanya Sella sampai tak kuat mencegah air mata yang ikut hadir di sudut matanya akibat ledakan tawanya.
"Aku ingin bertemu Dio dan Allin dulu" Ucap Sella masih belum bisa meredakan tawanya.
"Bujuk dia agar segera keluar!" Pinta Vano penuh harap.
"Jadi kau dari tadi disini, karena Allin sedang marah padamu." Tebak Sella memperhatikan Vano dengan lekat.
Vano mengangguk canggung
Sella sontak tertawa lagi, padahal menurut Vano tak ada yang lucu.
Allin dengan sikapnya yang tiba-tiba gampang merajuk dan kini perempuan dingin yang hampir enam tahun dia nikahi, padahal dia sangat tahu Sella orang yang susah mengekspresikan dirinya apalagi untuk tertawa dengan lepas.
Makin Vano pikirkan, makin dia tidak mengerti, dengan hembusan napas yang kasar dia berdecak.
***
Sella mengetuk pintu kamar sambil memanggil Allin di depan pintu kamar, tak perlu waktu lama Allin membuka dengan segera.
Allin menyambut Sella dengan senyuman hangat dengan pandangan mengedar mencari sosok Vano. Sella tau apa yang di cari Allin dia menunjuk ke ruangan keluarga.
"Dia menunggu di sana" bisik Sella.
Allin hanya membalas dengan ber "o" ria.
"Kenapa lagi denganmu Allin" sesampai di kamar Sella lansung mengajukan pertanyaan dan menghampiri Dio di atas ranjang.
"Dia tidak peka"
"Tumben, biasanya kau lansung menunjukkan sikapmu atau kau lansung memprotes dan mendiktenya"
"Aku ingin dia menyadarinya sendiri"
"Lalu apa maumu"
"Tidak tau!"
__ADS_1
"Kau saja tidak tau, bagaimana dia juga tau."
"Aku hanya meminta dia memakai baju yang sudah dipersiapkan sejak lama, dia protes. Dan tadi dia juga bersikeras ingin membawa bekal makanan, padahal aku tak tahan dengan aroma menyengat, dia tak mau mengalah dan menyebalkan," gerutu Allin.
"Lalu?"
"Lalu, apa?" Tanya balik Allin.
"Ya, mau mu sekarang apa, tadi kau berharap sosoknya menunggumu di depan pintu, kan."
"Wow, kau hebat sekali Mbak Sella. Apakah kau bisa membaca pikiranku."
"Bukan, tapi wajah MUPENG-mu sangat jelas Allin berharap dia berada di situ."
"Kau saja mengerti, kenapa dia tidak." Gerutu Allin.
Sella frustasi melihat sikap Allin dia pun mengabaikan Allin yang terus protes dengan sikap Vano. Dia mencium dan mengajak Dio bicara dan tak menanggapi satu pun ajakan obrolan Allin.
Allin menatap Sella dengan kesal.
"Kau habis menangis tapi kau pura-pura dari tadi tersenyum" tebak Allin, membuat Sella terperangah, dia padahal yakin polesan mikeupnya sudah mampu menutupi jejak tangisannya, tapi tidak oleh tatapan Allin.
"Sudah kuduga, Mbak. Kau harus mengeluarkan uneg-unegmu agar perasaanmu lebih plong!" Saran Allin menggebu.
"Kau punya Vano untuk melepaskan uneg-uneg mu, tapi aku tak punya..."
"Kau tau, dia menjadi pelampiasanku" Tanya Allin dengan mata membola.
"Aku tau Allin, mulutmu itu tak sekasar itu dengan orang lain. Kau hanya nyaman dengan Vano dan menjukkan sikap burukmu padanya"
"Kenapa kau tak melakukan juga"
"Entahlah, bertahun-tahun kami berumah tangga kami tetap saja terlihat canggung"
"Bagaimana, jika kau mengeluarkan bebanmu padaku" Saran Allin tak di duga Sella.
"Kau yakin, sanggup menerima umpatan kejamku"
"Ais ..., tatapanmu saja sudah membuatku takut apalagi dengan umpatanmu"
"Kau PHP!"
"Hihihi"
"Allin, bagaimana jika kita terus begini, bersama dalam satu keluarga?"
Deg. Deg.
"Apa maksudmu Mbak?" Tanya Allin dengan wajah mulai memutih.
"Kita bisa menjadi teman yang akrab, mungkin juga kita bisa bersama, menjadi istri Vano yang rukun."
"Tidaaaaakk" jawab Allin lemah sembari menggeleng.
_
-
-
__ADS_1
-
-