
Semua yang Sella harapkan tak berjalan dengab lancar, hanya beberapa kali jepreran Dio mulai rewel.
Akhirnya mereka terpaksa pulang. Saat langkah mereka memasuki Vila yang mereka tempati, Gea menyambut kedatangan mereka dengan begitu antusias. Dia menghampiri Ardio dan menyapa Dio yang sedang rewel di dalam gendongan ayahnya.
Sedangkan Bams hanya menoleh sebentar lalu kembali sibuk dengan gitar yang berada dalam pelukan tangannya.
"Sini sayang, sama tacan!" bujuk Gea mengambil Dio dari rangkulan tangan Ardio.
Sella memperhatikan dengan heran melihat Dio dengan mudahnya mau menerima ajakan perempuan berambut pendek itu. Sedikit ada rasa cemburu. Lalu dia kembali lagi pada niatnya untuk segera membuatku susu untuk Dio, dia berlalu menuju pantri yang masih berada di ruang sama bersampingan dengan ruang tengah yang tanpa sekat.
Ardio memperhatikan langkah Sella hingga perempuan itu membuat susu botol untuk Dio. Laki- laki itu tersenyum tak percaya melihat Sella menyuguhkan air panas lebih dari setengah botol, dia pun menghampiri.
"Kau akan membuat lidah Dio terbakar jika air panas sebanyak ini" Ardio mengambil botol susu lalu dia menempelkan pada pipi Sella.
"Ah panas!" pekik Sella terkejut sambil mengusap pipinya. Senyum Ardio makin melebar mendengar rintihan Sella.
"Bagaimana?" tanya Ardio.
"Kau sengaja ya!" Sella melototkan bola matanya selebar mungkin. Ardio tak membalas dia malah ingin membantu mengusap pipi Sella, tapi itu hanyalah sebuah rencana suara Bams memberhentikan gerakan tangannya membuat tangan itu hanya mengambang di udara hanya beberapa centi lagi dari wajah Sella. Sedangkan perempuan itu menatap penuh harap tangan Ardio yang hampir sampai membelai pipinya hingga tangan itu pelan-pelan menjauh.
Sungguh tak tau malu kau Sella berharap tangannya akan mengusap pipimu, gerutu Sella dalam hatinya.
"Huu! Bagaimana selama ini kau merawat anakmu Sella, membuatku susu saja kau tak bisa!" sindir Bams ternyata pria itu sedari tadi memperhatikan tingkah keduanya. Gea pun turut mengalihkan pandangannya dari Dio ke arah keduanya.
Ardio membungkukkan badannya lebih mendekat pada Sella dan menggoda perempuan itu dengan bisikannya. "Jangan pedulikan, aku akan mengurus anak kita."
Anak kita?? Ya benar, Dio anak angkatku dan anak kandungnya, pikir Sella mengingatkan dirinya untuk tak terlalu senang mendengar ucapan Ardio.
Sella berpaling menghindari Ardio, perkataan Bams tidak mempengaruhinya, tapi ucapan Ardio lah yang membuat dia ingin tersenyum tapi demi gengsinya dia menahan sekuat mungkin.
Ardio beranjak mengitari meja pantri itu dan berdiri di samping Sella, setelah memindahkan susu Dio ke gelas dan membuat susu baru untuk Dio.
Sella mulai memperhatikan cara Ardio membuat susu buat anaknya, kali ini sebagai perempuan dia mulai tersentil karena minimnya pengetahuannya. Ardio sesekali melirik Sella kadang bibirnya tertarik melihat bahwa Sella cukup antusias untuk belajar.
Gea yang duduk di ruang tengah sedang memangku Dio mengerucutkan bibir menunjukkan rasa tidak suka melihat kedua mahkluk berbeda jenis itu. Apalagi pada Ardio mengetahui pria yang dia sukai malah terlihat senang padahal tak ada yang bisa dibanggakan dari perempuan cantik yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Seharusnya dia sadar perempuan itu tak cocok untuk dirinya dan anaknya, membuat susu saja tidak bisa," gerutu Gea dalam hati.
Kedua insan itu sibuk dengan dunianya tak memperhatikan dua pasang mata menatapnya begitu kesal. Setelah Ardio membuat susu untuk Dio, dia pun meminum susu yang tadi dia pindahkan gelas.
"Ar, itu susu untuk anak balita" protes Sella.
"Aku tahu, aku takkan menjadi anak-anakan setelah meminum ini" kekeh Ardio melihat raut Sella yang mengernyitkan dahi.
"Kenapa kau minum?" tanya Sella heran.
"Ini kau yang buat, aku takkan menyia-nyiakannya" goda Ardio kini mulai berani, rasa gugupnya beberapa jam lalu entah hilang kemana. Sella tampak lebih santai di hadapannya perempuan itu tak protes saat Ardio mengatakan bahwa mereka akan menginap di Vila kecil milikya ini.
Bams terbatuk-batuk mendengarnya, Gea makin bersungut-sungut tidak suka.
"Kau menyuruh kami hanya untuk menonton kelakuanmu Ar" protes Bams yang mulai jengah melihat sikap temannya yang terlalu bucin.
"Anggap aja begitu" jawab Ardio singkat tanpa menoleh pada Bams, dia lebih memperhatikan tingkah Sella yang tampak kikuk, kali ini dia merasa menang.
Sella melihat sorotan berbeda pada orang-orang di dalam ruangan ini, dia pun bergegas membawa susu dan mengambil Dio masuk ke kamar mereka. Tapi hanya beberapa menit Sella sudah keluar kembali menarik Ardio ke kamarnya.
Ardio hanya mengangkat bahunya menandakan dia juga tak tahu maksud Sella menarik tangannya dia hanya mengikuti langkah Sella tanpa bertanya.
Hanya ke sebuah kamar, ke hutan belantara berdua saja dengan Sella aku takkan menolak Batinnya sambil tersenyum.
"Gila ... mainnya lansung ke kamar" Bams menggeleng-geleng, Ardio makin tersenyum mendengar celotehan Bams dan Sella melirik Bams dengan sorot mengintimidasi. Dia tak peduli apa yang dipikirkan pria itu, yang jelas dia butuh bantuan Ardio.
"Ar" tunjuk Sella pada Dio saat mereka sampai di ruangan kamarnya.
"Kenapa?" tanya Ardio heran melihat Dio tampak terlelap di tempat tidurnya.
"Dio buang air" ucap Sella pelan dan sedikit malu, "aku tidak kuat membersihkannya", terang Sella dengan rasa tak enak hati.
Ardio membolakan bola matanya sesaat lalu dia menggeleng-geleng mengetahui sikap Sella yang benar-benar tidak tahu sama sekali mengurus seorang balita.
"Hanya karena itu, bukan yang lainnya?" tanya Ardio sengaja menyindir Sella.
__ADS_1
"Maksudmu?" tanya Sella heran.
"Tidak" jawab Ardio sambil menghampiri Dio.
"Kau pikir apa, haa?" sentak Sella tidak terima, dia menduga Ardio juga berpikir kotor seperti Bams juga.
"Tak penting" Ardio tak menoleh tetap berjalan dengan mengulum senyum mendekati ranjang Dio.
Dengan perlahan dia menggendong anaknya ke dalam kamar mandi. Sella duduk dengan diam di atas ranjang menggerutu dalam hati tak terima.
"Sel, cepat kemari" pinta Ardio dari balik pintu kamar mandi.
"Aku tak mau" jawab Sella.
"Sella" ucap Ardio lagi dengan dominan, suaranya menunjukkan sekali bahwa Sella harus mengikutinya. Dengan langkah malas Sella masuk ke kamar mandi.
"Ada apa Ar?"
"Buka dan bersihkan!" ucap Ardio yang berdiri di depan closet dan menegakkan tubuh Ardio di pinggirnya. Suka dan tidak suka Sella akhirnya untuk pertama kali dia membersihkannya kotoran anak angkatnya itu.
Keluar kamar mandi Sella berdecak kesal melihat Ardio masih berada di ranjang Dio.
"Puas??" tanya Sella singkat dengan wajah mengkerut.
"Aku menarikmu masuk ke kamar ini agar kau yang menolongku membersihkan Dio, tapi apa, tetap aku yang mengerjakannya. Jangan harap aku akan membantumu lagi membawa Dio keluar dari rumah keluarga Farizi" gerutu Sella masih dalam keadaan kesal.
"Aku takkan membiarkanmu tidak bisa melakukan apa-apa Sel, kau perempuan, setidaknya saat aku tidak berada di rumah, kau bisa mengurus anak-anak kita" goda Ardio begitu jelas.
Sella terpaku sebentar mendengar perkataan Ardio, sesaat tak ada raut merona terukir di wajahnya. Perempuan itu terlalu fokus dengan kata anak-anak, mematikan segala rasa hanya kegusaran yang dapat di respon oleh tubuhnya.
Apakah kesempatan untuk mempunyai anak itu benar-benar ada untuk diriku, meski dokter sudah mengatakan bahwa aku memiliki kemungkinan yang sama dengan perempuan lain di luar sana.
Tapi rasa takut tetap ada, bagaimana jika kisahnya kembali terulang, keluarga suaminya menuntut tapi tuhan tak menghadirkan juga. Pikiran itu menghantuinya.
Ardio sedikit kecewa guyonannya tak membuat Sella terpengaruh sama sekali, perempuan itu malah tampak dingin dengan pandangan kosong menatapnya.
__ADS_1