Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Rencana licik


__ADS_3

Sepanjang hari Allin tampak gelisa, firasat buruk menghantui benaknya. Apalagi melihat tatapan iba para pelayan di rumahnya, membuat dia heran.


Ada apa dengan mereka.


Belum lagi ponselnya yang di tahan oleh Vano membuat dirinya makin curiga.


Ada yang salah, sesuatu pasti telah terjadi, pikirnya.


Hingga, dia pun keluar rumah untuk mencari udara segar, menjernihkan keruwetan hati dan pikirannya. Dan suasa sore hari yang cerah, membuat dia memilih untuk berjalan kaki menuju sebuah kafe terdekat di area sekitar rumah. Banyak pasang mata yang meliriknya, ia mencoba tersenyum dan menyapa, tapi tak satu pun menanggapi. Allin mencoba untuk berpikir positif dan tak mengambil hati dengan sikap cuek mereka.


"Dasar Pelakor" tiba-tiba seorang ibu paruh baya memukulnya dengan tas jinjingnya. Matanya begitu tajam menatap Allin, rasa muak dan jijik menyelimuti aura di wajahnya. Perempuan paruh baya itu terus saja memukuli dengan mulutnya juga ikut mengumpat pada Allin.


"Ada apa ini, Bu?" tanya Allin bingung sembari menangkis pukulan si ibu paruh baya itu, dan beberapa orang mulai menghampiri mereka dan mencoba menjauhkan Allin dari si ibu paruh baya.


Dan dua orang suruhan Vano yang sedari tadi mengikuti Allin, mereka kecolongan. Seharusnya mereka bisa menjaga Allin dan mengantisipasi kejadian yang menimpa Allin, tetapi kejadian itu begitu tak terduga, jarak mereka dengan Allin terlalu jauh.


Mereka pun ikut menjauhkan nyonya rumahnya dari jangkauan si ibu.


"Kau tidak tau malu, ternyata kau masih remaja dan kecil-kecil begini kau sudah menjadi perebut suami orang" hardiknya.


"O ..., ternyata ini perempuan yang sedang Viral itu"


"Apa bagusnya perempuan ini"


"Sella lebih cantik darinya"


"Dasar gadis murahan!"


Mereka yang hadir di sana, yang awalnya tidak tau, kini mulai ikutan menghardik Allin. Mereka menghina dan menghujatnya, ada yang mencoba melemparinya dengan sandalnya, dan ada juga yang tetap maju ingin menerobos penjagaan dua pengawal itu, tetapi ke dua anak buah Vano dengan sigap melindungi dan membawa Allin menjauh dari mereka.


Vano yang mendapatkan laporan dari kedua pengawal Allin, seketika murka, dan dia segera pulang dengan tergesa-gesa untuk menemui istrinya.


Setelah melepaskan kemarahannya pada dua pengawal itu, dia segera menghampiri Allin di kamarnya.


Pintu kamar terbuka, Allin dengan segera membenamkan dirinya di balik selimut. Mengintip dari balik selimut, melihat siapa yang masuk. Vano yang awalnya merasa khawatir, malah tersenyum melihat sikap istrinya.


"Kau tidak ingin menyambutku" bujuk Vano. Pria itu menghampiri istrinya di ranjang, dia duduk di sana.


"Tidak" jawab Allin makin menenggelamkan kepalanya hingga tak terlihat oleh Vano.


"Kenapa" tanya Vano menepuk lembut bahu Allin dari balik selimut.


"Aku malu"


Malu? Vano merasa heran dengan jawaban istrinya, seharusnya perempuan itu bersedih bukan merasakan malu.


"Aku mengkhawatikamu, apa mereka menyakitimu"


Allin diam tak menanggapi.

__ADS_1


"Buka selimutmu sayang" bujuk Vano mencoba menarik selimut dari atas tubuh Allin.


Meski Vano berhasil menyikap selimut dari tubuh istrinya. Malah Allin seketika membalikan badannya, memunggungi suaminya dan menjauh ke sisi ranjang.


"Apa mereka melukaimu?" tanya Vano dengan nada suara menenangkan.


Allin menggeleng


"Apa kau merasa tersakiti?"


Allin menggeleng lagi


"Allin berbaliklah, aku ingin memastikan dirimu baik-baik saja" suara Vano mulai gusar.


Vano tahu Allin tak baik-baik saja, istrinya hanya mencoba untuk tegar di hadapannya.


Allin tak menanggapi, dia hanya terbaring lemah di atas ranjang. Dia mungkin terlihat kuat di hadapan orang lain tetapi dia tak mampu pungkiri, gosip dan hinaan yang dia terima membuat mentalnya terguncang.


Vano berjalan memutari ranjang, sesampai di hadapan Allin dia berlutut di bawah ranjang mencoba membujuk istrinya dan menyikapi tangan Allin yang menutupi wajahnya.


Alin segera mendorong tangan Vano dengan pelan-pelan dan tak membiarkan pria itu melihat wajahnya yang masih menyisakan jejak tangisan, kepalanya la benamkan lagi ke dalam selimut untuk menutupi seluruh wajahnya, menghindari dari tatapan suaminya.


"Aku tau kau habis menangis. Karena itu kau merasa malu, kan." goda Vano.


Vano berusaha membuat hati perempuan itu nyaman akan kehadiran, mungkin sekarang Allin enggan bertemu dengan siapa pun. Menenggelamkan diri dalam kesunyian, menikmati kesakitan sendiri itu terasa lebih baik, pikir Allin.


"Aku tidak ingin menangis" elak Allin.


"Tak apa, aku akan diam disini dan menemanimu"


Keheningan hanya sesaat di antara mereka, Allin pun mulai mengeluarkan suaranya.


"Tuan"


"Iya, apa kau mau cerita"


"Kata mereka aku PELAKOR, dan aku tau yang mereka katakan benar, tapi aku tak seburuk itu kan?"


"Kau tak seburuk itu, hanya ..." Vano mencoba mengalihkan perhatian Allin dengan memprovokasinya.


Kadang pengalihan terhadap masalah, perlu seseorang coba ketika masalah itu tak bisa mereka hadapi. Dengan mengisi pikiran dengan hal lain, akan membuat seorang lebih rileks.


"Hanya apa?" Allin membalikkan badannya menatap tajam pada suaminya.


Vano mengulum senyum melihat sikap Allin yang masih labil, yang emosi mudah meledak saat dia menggoda.


"Hanya sedikit liar" bisik Vano frontal sembari mengedipkan salah satu matanya.


"Apa? Benarkah itu?" tanyanya tiba-tiba malu. Allin seketika mengigit bibir bawahnya menunjukan rasa canggungnya.

__ADS_1


Benarkan, emosinya sangat labil, dia sangat cepat sekali berubah suasana hatinya. Batin Vano


"Iya, tapi aku suka" bisik Vano makin menggoda.


"Kau membuat aku malu dan jangan harap kau mendapatkan lebih" ancamnya kembali membalikkan badannya, memunggumi Vano.


Allin tersenyum, dan melupakan perasaan yang mencekiknya sedari tadi.


"Aku pasti mengharapkan lebih!" goda Vano makin menjadi sembari mengeratkan pelukannya. Allin menangapi dengan memukul tangan Vano yang sedang mengusap perut ratanya.


"Apa suasana hatimu mulai terasa lega" Vano bertanya lagi, tapi suara mulai terasa serius.


Allin diam dan mengangguk.


"Kau mau cerita lagi" tanya Vano hati-hati.


"Mereka tidak menyukaiku dan membenciku"


"Lalu kenapa, jika mereka membencimu? Kau tetap akan bahagia Allin! Kebahagian itu datang dari dirimu sendiri, bukan dari pandangan mereka padamu."


"Sebaik apa pun kita, pasti akan ada yang akan membenci. Dan seburuk apa dirimu, pasti akan ada juga yang menyukaimu."


***


Di tempat lain Mila tampak emosi.


"Apa maksudmu? Cepat katakan!"


"Aku tidak membuang anak itu!"


"Lalu, kau kemanakan anak itu."


"Atau, kau memang menitipkan bayi itu ke panti asuhan?" tanya Mila penuh selidik. Perempuan itu tampak ketakutan, awalnya kesepakatan dia dengan Mila, dia akan berpura-pura mengadopsi anak Allin dan setelah bayi Allin di dalam genggamanya, bayi itu harus di buang.


"Maaf" ucap perempuan itu sembari menunduk dengan rasa takut.


"Untuk kali ini aku maafkan kau, karena aku perlu bayi itu, tapi kau tak berbohong lagi padaku, kan" Mila meragukan ucapannya, membuat perempuan itu merasa tersudutkan, dia mencoba untuk sedikit mengelak.


"Tidak, bukan begitu, aku memang tidak menitipkannya tapi aku meletakkan di depan pintu panti"


"Kenapa pihak panti bilang pada ibuku, mereka tak memungut atau menerima anak pada hari itu"


"Aku juga tak tau, mungkin hanya alasan mereka untuk melindungi anak itu, agar dia tidak di ambil lagi oleh orang tuanya!" elak perempuan itu.


"Lalu, bagaimana tentang Allin. Apakah kau sudah melakukan sesuai perintahku."


Perempuan itu menggeleng dan menceritakan bagaimana kondisi ketika kejadian itu berlangsung dan adanya dua pengawal yang melindungi Allin yang dia tak duga sebelumnya.


"Sialan! Seharusnya itu waktu yang tepat untuk dirimu menendang perutnya, saat orang sedang berkerumunan menghujatnya. Bukan hanya menjadi penonton disitu" hardik Mila penuh kekecewaan.

__ADS_1


__ADS_2