Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Akhiri


__ADS_3

"Akhiri permainan ini, atau putuskan hubungan salah satu dari kalian." suaranya begitu lantang memekik di pendengaran setiap orang berada di ruangan itu.


Semua terdiam. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing, mencerna kata-kata itu, memutar otak mereka untuk bisa bersikap bijak, untuk mendinginkan amarah pria paruh baya itu yang sedang kecewa.


Mata Vano seketika berpaling ke wajah Allin. Hanya dia yang tak terlalu menghiraukan perkataan mertuanya itu. Yang di pikirkannya hanya Allin. Dia tau perempuan itu tak baik-baik saja, dia akan menyalahkan dirinya sendiri. Karena dia adalah orang ke tiga dalam hubungannya.


Allin menunduk, air matanya sudah jatuh bergulir. Dadanya bergemuruh hebat, bibirnya sudah bergetar menahan suara tangisnya, air hidungnya pun tak dapat dia bendung, begitu saja mengalir. Tangannya mencengkram sisi bajunya.


Tiba-tiba tangan seseorang menggenggamnya, memberi kekuatan padanya, untuk bertahan.


Tangan ibu mertuanya.


Biasanya sosok Dio lah yang akan menghangatkan tangannya, tangan kecil itu akan dia genggam untuk mengaliri kekuatannya, menghapus jejak air matanya.


Sayang, Dio sedari tadi sudah di ambil oleh bi Inah untuk di pindahkan ke kamarnya.


Allin menghapus jejak air matanya, menutup lubang hidungnya, dan memberanikan dirinya untuk menatap ibu mertuanya itu. Sosok ibu mertuanya tersenyum hangat dan mengusap lembut kepalanya.


Pria paruh baya itu melihat interaksi mertua dan menantu itu, membuat dia tambah jengah.


"Baiklah Sella, ayo kita bicara" menarik anaknya agar Sella tidak melihat interaksi mertua dan menantu yang saling menghangatkan itu.


Hatinya saja sakit, apalagi hati anaknya jika melihat.


Sella mengangguk, mengikuti langkah ayahnya. Pikirannya masih berkecamuk tentang apa yang di katakan ayahnya. Pilihan yang tak pernah Sella pikirkan, dan dia juga tak pernah terpikir bahwa ayahnya akan mengetahui secepat itu.


Ruangan lain ....


Pria paruh baya itu menyimak dengan seksama, penuturan anaknya.


Kesalahan dan rencana Sella membuat dia kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri yang telah mendorong anaknya berbuat jauh.


Semua yang dilakukan anaknya hanya untuk menghormati dan menjaga hatinya. Hati yang terluka di masa lalu, membekas dalam, menjadikan karakter pada anak-anaknya, untuk mempunyai prinsip tak melakukan hal sama, mempermainkan perasaan orang lain, tetapi Sella salah jalan. Dia hanya ingin menjaga hatinya, hati ayahnya.


Tanpa mempertimbangkan, ada perasaan orang lain yang terluka dari rencana yang telah di buat.

__ADS_1


Sella takkan berbuat sejauh itu, jika dia tidak mencoba memaksakan kehendaknya.


Anaknya itu, sangat menghormati dan menghargainya tetapi dia lupa. Jika anaknya itu punya cara pikir sendiri, dia punya hati yang tak mudah luluh, dia punya cinta yang begitu dalam.


Mungkinkah kisah itu belum berakhir, mungkinkah selama ini Sella menyimpannya untuk menjaga hatinya. Hati seorang ayah yang pernah terhianati.


Dia menatap lekat pada anaknya yang bersimpuh pada kakinya, memohon maaf atas kesalahan yang di buat.


"Maafkan aku Ayah, aku telah berbuat jauh, semua tak se-sederhana rencanaku, aku sudah mengecewakanmu, mengecewakan Ayah Bunda Vano, dan terutama Vano sendiri. Sekarang hukumlah aku Ayah! Aku menerima semua keputusanmu" ucap Sella dengan air mata penyesalan.


Pria paruh baya itu terdiam. Hukuman apa yang harus di berikan untuk anaknya, sedangkan tuhan telah menghukumnya, mengambil kesempatan anaknya untuk menjadi Ibu.


Bagaimana lagi dia akan menghukumnya, karena tak sepenuhnyan itu salah Sella.


Dan dia juga takkan bisa menerima anaknya di madu. Penghianatan istrinya mengajarkan padanya, cinta itu egois, cinta itu buta. Kadang cinta, membuat orang lupa mana yang benar dan salah. Itu bagaikan lingkaran hitam.


Perlu hati seluas samudera untuk menerimanya. Menerima pasangan kita untuk punya cinta yang lain.


"Permainan ini harus di hentikan Sella." hanya sepata kata itu yang di ucapkan olehnya dengan nada dingin.


"Bukan ini yang kau inginkan Sella. Kau ingin menjaga perasaan Ayahmu, Ayah dan Ibu mertuamu tetapi kau malah membuat dia kecewa." Sella menggerutui dirinya sendiri sembari membenturkan kepalanya pada ujung kursi.


Semua yang sudah di atur oleh Sella, hancur seketika. Rencana yang di buat olehnya tak berjalan sesuai rencana.


Kemarahan ayahnya meruntuhkan semua. Kini dia tak mampu lagi untuk mengambil keputusan, kepercayaan dirinya hilang.


Salah, salah, salah, selalu berujung dengan pemikiran itu. Apa yang dia lakukan salah, cara pikirnya salah, sikapnya salah, dan cara melindungi dia salah.


Di sisi ruangan lain ....


"Sayang, apa yang kau lakukan" Allin tidak menolehkan wajahnya sama sekali, dia tetap sibuk memasukan pakaiannya.


"Allin, stop! Kau takkan pergi kemana-mana" Vano menarik tas itu, menjauhkan dari Allin.


"Semua sudah berakhir Tuan" sahut Allin begitu dingin. Dia seperti orang asing, tatapannya sudah berbeda, dan nada suaranya juga begitu dingin, Vano mencoba menyentuhnya, tapi dia tepiskan.

__ADS_1


"Berakhir?" Vano mendelik tidak suka, emosinya mulai terpancing. "Sudah aku bilang, ini bukan permainan. Berhenti berpikir begitu" Vano mencoba menahan emosinya.


"Apa pun statusnya, ini sudah berakhir untukku. Dan biarkan aku pergi" Allin bicara dengan santainya tanpa beban sama sekali, hatinya sudah teguh, ekspresi wajahnya tak menunjukkan bahwa tak ada keraguan dengan perkataannya. Air matanya pun sudah kering, kini tinggal raganya yang dingin tanpa ekspresi.


"Tidak Allin! Jangan coba kemana-mana! Kau milikku! Kau istriku" sentaknya pada tangan Allin.


"Aku mohon Tuan. Lepaskan aku! Ini demi kebaikanmu. Semua sudah terbongkar, satu persatu orang tahu, bahwa aku simpanan-mu. Kau punya status, yang harus kau jaga nama baiknya." dia mencoba melepaskan cengkeraman tangan Vano.


Tangan itu malah makin kuat. "Aku tidak peduli itu Allin"


"Tapi aku peduli. Dan kau punya satu pilihan, melepaskan aku"


Vano menarik Allin lebih mendekat lagi. " Aku tidak peduli kata dunia. Kau istriku, kau milikku, dan kita saling mencintai. Aku tidak butuh pengakuan siapapun. Dan aku takkan melepaskanmu"


"Aku tidak mencintaimu Tuan" bantahnya.


Vano menatap lebih tajam. "Kau mencintaiku Allin"


"Tidak" sahutnya cepat sembari menantang mata Vano tanpa keraguan sama sekali. Dia ingin menunjukkan pada pria itu bahwa tak ada kebohongan dari ucapannya.


Mungkin ada, tapi rasa bersalah dan dosanya lebih melingkupinya, untuk dia harus tunjukkan dalam sikapnya, dan menepiskan rasa cintanya yang telah berkembang.


"Kau penghianat Tuan. Bagaimana kau bisa mencintaiku, sedangkan kau punya istri yang cantik, pintar, dan begitu sempurna. Semua mata akan meremehkanmu, semua kredibilitasmu akan di ragukan," tambahnya lagi dengan kalimat tajam.


"Iya aku pengkhianat. Dan aku tidak peduli kata orang lain. Dan aku tidak peduli apa yang orang lain katakan" balas Vano dengan egonya.


"Jika aku tak mampu menahanmu secara baik-baik, aku bisa melakukan segala hal untuk menahanmu Allin. Jangan coba kau berpikir, kau akan lepas dariku Allin." ancamnya tak lagi mengindahkan sopan santunnya.


Vano sudah muak, dan begitu kesal dengan semua yang terjadi. Dia merasa, dialah korban dan sekaligus penjahat dalam permainan ini.


Allin senyum sinis, meremehkan ucapan Vano.


Cara apa lagi yang harus dia lakukan untuk melepas diri dari pria yang di hadapannya ini.


Cinta sudah membutakannya, dia tidak mampu berpikir yang jernih. Penyesalan akan menjadi ujung yang menyakitkan buat dia kelak, pikir Allin.

__ADS_1


__ADS_2