
Rasanya ingin egois untuk meneguk semua kenikmatan ini.
Sosoknya terbaring disampingku, dengan rambut sedikit acak-acakan, aroma khas tubuhnya yang selalu memabukkan, apalagi melihat wajah yang tampak begitu polos saat dirinya terlelap.
Tangan dan kakinya yang masih terlilit melingkari tubuh, dan salah satu tangannya ia biarkan menjadi bantal untuk kepalaku.
Apalagi yang kurang saat ini, dia mencintaiku, dia menginkanku, dan dia ada di sampingku semua itu nyata, rasanya begitu sempurna.
Tapi saat aku keluar dari kamar ini, mata dunia akan menyalahkanku, akan mencemoohkan diriku, yang tak tau diri ini.
Siapa kau Allin? Kau hanya Babysitter? Kau hanya istri kontrak? Atau kau hanya mesin untuk memproduksi anaknya. Sudahlah! Jangan terlalu berharap. Kau dan dia akan terluka kelak.
Kau tau siapa dia? Dia pewaris satu-satunya keluarga Fahrizi, walau pun kau bukan istri keduanya, kau tetap saja tak pantas bersanding dengannya.
Kau sendiri yang mendengar lansung dari mulutnya. Bahwa pada dasarnya orang-orang status seperti mereka, butuh pendamping yang bisa mendapingi mereka untuk berbaur dengan orang-orang sekelas mereka. Mereka punya dunia sendiri yang mungkin tak paham kau masuki, dunia orang-orang yang dikelilingi harta, popularitas, dan gaya hidup yang mungkin kau tak tau sama sekali. Jadi berhentilah berharap.
***
"Cup" satu kecupan sudah mendarat dibibirku tanpa bisa aku tepis, aromanya makin menusuk penciuman.
Dia sudah terbangun dengan senyum merekah, tangan dan kakinya makin membelit.
"Tuan lepaskan" pintaku malu.
"Kenapa? Bukannya sedari tadi kau menikmati wajahku dengan mata memuja. Sekarang kau pura-pura menyangkal." Cibirnya padaku.
"Tidak. A-aku hanya memperhatikan wajahmu kenapa semakin tua. Jangan-jangan beban pikiranmu terlalu berat akhir-akhir ini" sangkalku seraya mengejeknya.
"Sepertinya bukan itu yang kulihat dari tatapan mu" ucapnya begitu gemas.
"Kau pintar sekali menyangkal Allin. Dan aku belum tua, hidupku masih panjang untuk menemanimu." seraya menyentil hidungku.
Kali ini dia tidak terpancing dengan ucapanku, dia malah membuatku merona dengan pernyataan itu, seolah kami akan hidup selamanya bersama.
Sungguh nikmat mana yang dapat kau dustakan, Allin.
"Kau tidur bagaimana kau tau?" tanyaku dengan wajah merah padam.
"Aku sudah dari tadi bangun sebelum dirimu membuka mata." ucapnya dengan menahan senyum.
"Cih, kenapa kau pura pura tidur! Dan kenapa kau tersenyum, tidak ada yang lucu" ketusku untuk menutupi rasa maluku.
"Wajahmu memerah Allin, aku suka melihatnya. Dan aku lebih suka melihatmu terlelap dengan sedikit mulut terbuka. Kau begitu..."
__ADS_1
"Stop!!" potongku, sebelum dia meneruskan kalimatnya. Dengan cepat kuusap sekitar bibir dan daguku, aku tidak ingin air liurku membuat tanda peta disekitar itu.
Hahahaha...Tawanya menggema di memenuhi ruang kamar ini.
"Tak ada yang lucu!" aku memukulnya berulang-ulang.
"Allin ada yang berdenyut, sakit, dan kebas" ucapnya meringis.
"Apa?" tanyaku kebingungan. Seketika aku melihat ke arah bawah.
Bodoh kau Allin, yang kau pukul dada dan tangannya, kenapa lirikan matamu kemana-mana.
"Bukan itu. Tapi ini!" tunjuknya pada lengannya yang sedari malam aku tindih. Dibalik ringisan dia menahan tawanya melihat arah pandangan mataku.
Oh, astaga Allin. Otakmu benar-benar kotor kenapa bisa-bisanya matamu beralih ke sana.
Lihatlah dia mengejekmu dengan senyumannya.
"Cepat lepaskan pelukanmu! Bagaimana tanganmun tidak kebas, kau tidak membiarkan kepalaku beranjak dari lenganmu. Jangan salahkan diriku, ini salahmu" ucapku membela diri sebelum dia menyalahkan diriku.
Tangannya mulai ia longgarkan, aku menjauhkan tangan itu, dan beranjak duduk. Aku melihat jejak-jejak rambutku terpampang jelas di lengan putihnya. Menandakan begitu lamanya tangannnya tertindih kepalaku.
"Aku tidak menyalahkan mu Allin" lagi-lagi dia menanggapi tingkahku dengan gemas.
"Aku yang menginginkan dirimu dalam dekapanku, aku suka, dan aku rela jika setiap pagi kelak begini, asal kau selalu dalam dekapanku"
Deg.deg...
Kenapa mulutnya begitu manis, aku jadi rindu si tuan Vano yang bermulut pedas. Aku bisa membalas setiap kalimat pedasnya, jika mulutnya semanis ini, bagaimana aku membalasnya. Semua kata-kata di mulutku seperti terkunci karena terbuai olehnya.
Dan tuan kenapa kau bicara seolah kita hanya berdua saja kelak menjalani kehidupan ini. Sadarkah kau tuan? Kau terlalu besar memberi harapan padaku, melambungkan anganku terlalu tinggi dan akan jatuh dengan kesakitan yang tak terelakkan.
"Kau berlebihan Tuan" sangkalku.
Ya hanya menyangkal yang mampu aku lakukan untuk membalas kata manisnya.
"Aku jujur Allin" kini suaranya terdengar begitu tegas. Dirinya juga sudah duduk berhadapan dengan diriku menatapku dengan lekat.
Aku hanya mampu memalingkan wajahku dari pandangan kami yang bertemu, aku sungguh tak kuat menatap mata yang penuh cinta untukku.
Tetapi dia dengan sigap mensejajarkan pandangan kami dengan kedua tangannya, ia merangkum pipiku dan mengarahkan kembali wajahku menghadap lurus untuk menatap dua bola matanya.
"Masihkah kau ragu?" tanyanya lembut.
__ADS_1
Mataku berkedip.
Lagi-lagi tidak percaya, dia selalu mampu menghinoptisku dengan sorot matanya. Aku sadar kini bukan mulutnya saja yang manis, tingkah lakunya semuanya terasa manis bagiku.
Mungkin sekarang dia sudah menjadi canduku.
"Lelaki selalu mudah bilang cinta dan kata manis, tetapi dia juga mudah menaburkan ke semua wanita yang dikenalnya." jawabku menggerutu.
"Kau cemburu ya?" tanyanya seraya mencuri ciumanku lagi.
"Tidak" jawabku cepat dengan mata membola.
"Mulutmu bisa menyangkal tapi raut wajahmu jelas sekali menampakkan. Tapi kalo aku boleh jujur, aku hanya baru kali ini tidur memeluk wanita sedekat ini. Sella tidak suka di peluk saat dia tidur."
Teng. Kenapa rasanya sakit saat dia menyebut wanita lain saat kami bersama.
Dia bukan wanita lain Allin. Dia pemilik sesungguhnya, suamimu.
"Tidak. Aku tidak cemburu, aku menyatakan fakta yang ada, itu yang sering aku lihat di televisi"
"Televisi? Bukannya kau tidak menyukai televisi?" tanyanya.
"Iya, tapi dari mana kau tau aku tidak menyukai televisi. Dari semalam aku begitu penasaran. Cepat katakan Tuan." Cecarku padanya.
"Entahlah. Aku melihatmu, setiap televisi menyala kau pergi menghindar atau kau memasang headset di telingamu. Aku tau kau selalu membawa headset kemana-mana."
Aku terdiam. Lagi-lagi dia membuat aku merasa spesial dimatanya.
"Kenapa Allin?" tanyanya begitu hati-hati.
"Apa?" tanyaku balik pura-pura tidak tau
"Apakah ada seseorang yang sering tampil di televisi yang kau hindari?" tanyanya lagi, yang membuat aku membeku seketika.
Tenangkan dirimu Allin. Semua sudah berlalu, kau harus bisa membuka dan menerima sedikit demi sedikit, tak selamanya kau bisa menghindar. Cobalah, kau pasti bisa Allin.
Aku tetap diam, sorot matanya tetap menunggu jawabanku.
"Katakan itu benar Allin"
Aku hanya mengangguk
***
__ADS_1