Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Tau Diri


__ADS_3

"Sialan!! Dimana perempuan itu," umpat Mila. Perempuan itu mencoba lagi untuk menghubungi orang suruhannya, tapi nyatanya panggilan tersebut hanya tersambung sebentar, setelah itu operator bagian seluler yang menyahuti.


Kekesalan karena tak bisa menghubungi orang suruhannya, membuat dia mengumpat pada Allin. Entah apalagi kesalahan adiknya, hingga semuanya di tumpahkan pada nama Allin.


Kesempatan dia hilang, perempuan suruhannya adalah satu-satunya perantara atau jalan yang bisa membantu Mila untuk menemukan anak kandung Allin. Kesepakatan dengan Sella memaksa dia untuk sengaja menemukan anak tersebut.


"Apa yang harus aku lakukan?" Gumannya sambil menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.


Pandangannya kosong menatap langit-langit kamar. Di hati kecilnya dia sadar perbuatannya sudah salah pada Allin, tapi kenangannya, bagaimana dia kesepian dan merindukan seseorang yang seharusnya mendidik dan memberikan kasih sayang padanya, tapi orang itu terus menghindar dan tak mengakuinya sebagai anak.


Hanya pada saat dia berulang tahun dia merasa dispesialkan, dengan sebuah kado beruntaian kata-kata doa dan catatan singkat untuknya. Kenangan kecil itu yang membuat dia berbunga dan sekaligus membenci.


Di luar kamarnya suara tawa ibunya terbengar riang tengah bervideo call dengan Allin. Dan ibunya akan bertanya ini itu, dan Allin akan menjawab tak kalah antusiasnya. Serasa isi dunia hanya ada untuk Allin, membuat Mila makin kepanasan, rasa kebenciannya makin menggunung ingin segera ia ledakkan pada Allin.


Mila pun mengambil keputusan untuk pergi dari rumah karena dia tahu panggilan video call itu takkan selesai dalam waktu berapa menit yang akan membuat kupingnya lebih kepanasan.


Dia mengambil tas dan ponselnya di atas nakas dan melangkah pergi keluar kamar. Langkahnya terhenti sesaat dengan pandangannya tajam, menatap ibunya tidak suka, ibunya terlihat tidak peduli dia tersenyum senang melihat gambar Allin dan Dio di balik layar ponselnya. Dio terlihat disana sedang memukul layar ponsel. Mila melihat dengan lekat wajah anak tampan itu, terasa ada yang sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya, tapi cepat dia singkirkan dari benaknya, karena tak ada kepentingan baginya dengan bocah kecil itu.


Saat melihat wajah Allin dari balik layar ponsel ibunya, dia berdecih tak suka, buru-buru dia sematkan kecupan hangat di pipi Tegar dan pergi tanpa pamit pada ibunya.


Mila yang masih termasuk anggota fans club Ardio meski tak lagi aktif, dia mencoba mengorek informasi dari grub dimana keberadaan Ardio, dia tahu pria itu sedang bekerja sama dengan Sella, sudah dipastikan Sella berada dilokasi sama dengan Ardio.


Sesampai di tempat lokasi, Mila mencoba mencari keberadaan Sella. Wajah Mila tiba-tiba memerah menahan amarah ternyata dia sudah salah mencari kawan, dia mendengar sangat jelas Sella memperingati Ardio untuk berhati-hati padanya.


Mila menghampiri Sella dengan senyuman kebohongan, pura-pura tidak tahu bahwa Sella sudah mencoba menjebaknya dan dia terus mengajak Sella bernegosiasi.


"Seseorang akan mengantarkan anak Allin, tapi aku butuh biaya untuk membayarnya. Jadi temui aku nanti, aku kan mengirimkan alamatnya padamu." Ucap Mila sebelum meninggalkan Sella.


***


Seharian penuh Vano sibuk berkutat dengan pekerjaannya, hingga pulang pun dia harus terlambat.


Wajah cantik istrinya yang sedang menunggu dengan senyuman hangat seolah menggugurkan rasa penatnya. Pergumulan singkat tak Vano sia-sia kan meski persendian terasa ingin lepas seusai itu.


Selesai mereka membersihkan diri, satu pesan dari nomor Sella mengambil perhatian Vano, memintanya dirinya untuk menyusul ke suatu tempat.

__ADS_1


Tumben, pikirnya.


Allin melihat kerutan di dahi suaminya yang sedang menatap ponselnya, tak tahan untuk bertanya. "Pesan dari siapa?" Tanya Allin sambil mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


Vano menatap istrinya yang tengah duduk di pinggir ranjang dengan kimono mandi dan rambut setengah basah, tapi matanya fokus pada mimik wajah Allin yang masih menunggu jawabannya. Vano setengah ragu untuk mengatakan bunyi pesan yang dikirimkan Sella tapi juga tak mungkin mengabaikan pesan Sella.


"Sella" jawab Vano singkat sembari menghampiri.


Allin yang tengah sibuk berkutat menggunakan hardryer terkesiap sejenak, tapi dengan sebuah senyum dia menutupi rasa terkejutnya.


"O ..." Ucapnya sambil dia memindahkan pantatnya untuk duduk didepan meja rias. Vano pun mengikuti gerakan Allin dan berdiri dibelakangnya.


"Dia ingin bertemu denganku malam ini, ada sesuatu yang ingin dia bicarakan" Ucap Vano sambil menatap Allin dari balik cermin.


Allin dapat menangkap nada khawatir saat Vano mengucapkan pesan dari Sella. Ia pun balik memperhatikan Vano dari cermin. Bola mata suaminya terlihat berlari-lari tak fokus dengan kerutan di dahi yang tercetak jelas.


Tak tahan dengan perubahan mimik wajah Vano, Allin pun mendongak menatap lansung pada suaminya dan membiarkan haidryer yang menyala menghembus ke leher.


Vano dengan gerakan cepat meraih hairdryer tersebut, tak butuh waktu lama, mesin pengering rambut sudah berada di tangan Vano. Lalu dia membantu istrinya yang ceroboh itu untuk mengeringkan rambut dengan cara yang benar.


"Tapi ini sudah malam sayang dan di luar gerimis." Allin mencoba membujuk Vano untuk tak pergi.


"Baiklah, tapi kau janji ya takkan lama," pinta Allin, mencoba mengerti rasa khawatir Vano. Dia pun mengukir sebuah senyum di wajahnya, yang dia coba perlihatkan setulus mungkin.


"Kau istirahat, aku janji takkan lama dan tak usah cemburu." Tegur Vano melihat cara senyumnya istrinya tampak berbeda. Dia pun menduga istrinya sedang dalam mode cemburu, dia menyematkan sebuah kecupan dalam di kening Allin. Rasanya berat untuk ia meninggalkan tapi ia punya kewajiban lain yang harus dia tangani.


Allin mengikuti Vano dari belakang, ingin menghantarkan suaminya sampai ambang pintu depan rumah tapi Vano memintanya untuk beristirahat.


"Apa salah jika aku cemburu?" Guman Allin melihat kepergian suaminya menuruni anak tangga.


Ia pun bergegas masuk kedalam selimutnya, mencoba memejamkan matanya yang tak mengantuk. Apalah daya otaknya sedang berkerja keras memikirkan apa yang dilakukan suaminya dengan Sella, membuat bola mata itu terbuka tak mau terpejam.


"Apa yang diinginkan mbak Sella menemui tuan Vano jam segini. Apakah dia ingin membatalkan perceraian mereka." Guman Allin lemah di balik selimut hangatnya. Pikirannya tak tenang membayangkan Sella tak jadi memutuskan hubungannya dengan Vano.


Apalagi dia begitu cemburu, bagaimna Vano sangat khawatir setelah membaca pesan dari Sella. Meski dia tak tau jelas apa isi pesan itu, dia hanya mendengar penuturan suaminya, bahwa Sella ingin bertemu.

__ADS_1


Rasanya dia ingin menampik dugaan-dugaan yang berkeliaran di kepalanya tapi dia tak mampu, dia makin jadi berpikir yang tidak-tidak tentang yang akan Sella lakukan.


Gaungan kalimat Sella tentang ingin merajut lagi ikatan pernikahannya, membuat dia tambah gelisah di dalam selimut berbulunya.


Satu jam kepergian Vano tak ada satu pun pesan atau panggilan dari suaminya makin memperburuk kegusaran hatinya.


Vano memintanya untuk istirahat dengan tenang tapi dia sendiri merenggut semua fokusnya untuk berpikir keras kenapa Vano belum juga mengabari.


Dia terlalu hanyut dengan dugaan yang tak pasti hingga air matanya nyaris lolos dari sudut mata yang tak mau terpejam.


Ting, ting, ting ....


Suara pesan tak henti-henti saling bersahutan membuat Allin semangat bangkit dari posisi tidurnya. Iya dengan cepat mengambil ponselnya hanya baru beberapa menit ia letakkan, sedaritadi benda kecil itu tak lepas dari genggamannya menunggu pesan atau panggilan dari Vano.


Deg, deg, deg.


Nama Mila yang tertera di layar ponselnya, ada sepuluh pesan gambar menanti untuk buka. Allin sedikit ragu, ada firasat buruk menggangu ketenangan, tapi dia mencoba untuk mengeyahkan dari benaknya. Dengan pelan ia menggeser layar ponselnya.


Mila: Kau selalu saja tertipu, ingat kau hanya pengganti, kau bukanlah putri dalam dongeng.


Wajahnya membeku dengan mata telah berkaca, tak butuh lama setelah selesai dia membaca, ponsel tersebut dia kembalikan lagi ke meja nakas.


Allin segera merebahkan dirinya, sesudah itu, dia menangis dalam senyum getirnya menatap kosong pada bingkai besar foto pernikahan mereka.


Dia sadar, akan ada waktunya untuk ia kembali, untuk ia tau diri, siapa dia. Tangannya pun mengusap lembut perutnya yang masih rata, menguatkan dirinya bahwa ada yang harus dia lindungi.


Kadang dia ber-andai, jika tak ada bagian lain dari keluarga Fahrizi di dalam perutnya dia akan pergi menjauh. Hatinya terlalu lemah untuk berharap tinggi, dia tahu, dia hanyalah upik abu yang tak sengaja terperangkap di kastil sang putri.


Allin pun menghapus air matanya dan mengambil ponselnya kembali, dia membalas pesan Mila dengan singkat.


Allin: Aku tidak peduli.


Allin: Kau benar-benar kurang kerjaan Kak, mengikuti orang hingga sampai masuk ke kamar hotel. Mereka bukan pelaku zina, mereka masih sah sebagai suami-istri.


Jawaban itu cukup membuat Mila merasa marah, karena serangannya untuk memancing emosi Allin tak berbalas sesuai keinginannya.

__ADS_1


Dan Allin tersenyum getir dalam tangisnya melihat layar ponsel, status Mila yang hilang timbul dalam mode mengetik seolah kesulitan membalas pesan Allin. Hingga pada akhirnya pesan itu tak mampu dibalas Mila.


"Jika kepura-puraan dapat melindungi cangkangku yang rapuh, biarlah aku akan selalu tampak kuat dihadapan semua orang." Gumannya dengan bulir air mata yang tak berhenti mengalir sembari memperhatikan lagi gambar-gambar yang dikirim Mila.


__ADS_2