Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Besok adalah hari pernikahan kami. Tidak ada yang spesial, aku masih disini menemani Dio. Rasanya aku ingin menjauh untuk sesaat. Aku butuh memulihkan kekuatanku, aku merasa terkuras, lemas tak berdaya.


Dio, bayi tampan ini seolah mengerti. Dia begitu tenang mendampingiku, bermain dan sesekali membelai wajahku, dia suka melakukan itu. Awalnya akulah yang mengajari tangan mungil itu untuk menghapus air mataku, untuk menguatkan diriku, tetapi sekarang menjadi kebiasaan Dio.


Sayang, aku tak punya pilihan. Jika ada, pasti aku akan menunggumu Dio. Kau begitu manis dan mempesona.😄


Gila, anak kecil saja kau mau, Allin. Papinya yang akan menikahimu. Ya, si pria tua mesum itu, dia juga akan membelaimu dengan belalainya. 🤭


***


Andai Tegar adalah Dio mungkin rasanya aku akan merasa lebih bahagia lagi, selalu bersama.


Seharusnya aku sekarang berada diantara keluargaku, menikmati kebersamaan kami, dan bersilaturahmi dengan keluarga jauh.


Pernikahan ini bukan hari spesial mu Allin. Tidak ada di antara orang sekitarmu yang merasa besok adalah hari spesial, itu adalah hari menegangkan yang penuh sandiwara. Jangan terbuai Allin, fokus pada tujuanmu. Menikah, hamil, lalu pergi meninggalkan mereka.


Dan tanteku lebih aneh lagi. Dia justru meminta aku tetap berada disini, di rumah majikanku. Katanya, besok aku akan banyak waktu untuk bisa bertemu Tegar, dia sedikit memaksa.


Beberapa jam cukup untukku melepaskan kerinduanku bersama Tegar.


Tante juga selalu beralasan yang aneh saat jika aku menghubungi dia via video call, dia selalu menolak. Tante suka tidak percaya dirilah, malulah, atau hal lainnya.


Seperti menghindar.


Aku tidak pernah diberi kesempatan, untuk bisa melihat video Tegar secara lansung.


"Allin, kamu tidak ingin pulang ke rumahmu" tegur Bu sella.


"Apakah saya di izinkan pulang Bu?" tanyaku sedikit takut.


Sekarang statusku masih pekerjanya, mungkin besok statusku patnernya atau mungkin rivalnya.


Entahlah, yang penting diriku harus tau diri dan jangan besar kepala.


"Tentu Allin, tetapi Pak Herman dan supir lain sedang sibuk, mereka tidak ada disini. Apakah kamu tak apa-apa, jika kamu naik taksi" tanya Bu Sella tak enak hati.


"Wah, si Ibu, taksi sudah tergolong barang mewah bagi diriku untuk dinaiki." jawabku polos.


Dia sedikit merasa heran dengan jawabanku. Makan dan tidur yang cukup saja, kami sudah senang. Tidak mesti harus menikmati kehidupan mewah untuk bahagia.


"Anda tak perlu tak enak hati daripada saya naik bus berdesak-desakan" tambahku sembari tersenyum meyakinkan.


"Baiklah kalau begitu kau siap-siap. Dan ASI buat Dio pastikan stoknya cukup sampai besok ya" pintanya

__ADS_1


aku hanya mengangguk


Sedangkan dia ada disana diam menyendiri, entah mendengarkan pembicaraan kami apa tidak? Yang jelas sejak kejadian beberapa hari yang lalu, dia menjauh dan tidak bicara denganku.


Ya wajar saja, dia kecewa marah padaku. Aku telah masuk dan merusak hubungan suci pernikahan mereka, pernikahan itu takkan lagi sempurna, akan cacat.


Saat pandangan mata kami bertemu dengan cepat ia palingkan dari wajahnya dan ia pergi menjauh.


***


Setelah menyelesaikan semuanya, aku berpamitan dengan bu Sella dan bi Ina.


"Hati-hati di jalan, Allin. Bibi suka parno sama pengantin yang berpegiaan saat mendekati hari H" ucapnya tampak khawatir.


Sedangkan aku dan Bu Sella tersenyum mendengarnya.


Ya, semua pekerja di rumah ini, sudah tahu, besok adalah hari pernikahanku dengan majikan kami.


Apa mereka diam begitu saja menerima. Tidak, naluri manusia yang suka bergosip tidak bisa begitu saja untuk menahan mulut mereka untuk diam. Mungkin dihadapanku mereka tersenyum dan mendukung. Tetapi siapa yang tau, apa hati mereka juga akan sama, semoga saja tidak ada sumpah serapa untuk mengutuk perbuatanku ini.


Biarlah, cukup tuhan saja yang mengerti, dan membawa alur cerita hidupku kemana kelak.


Bu Sella sudah menghubungi salah satu taksi online untuk menjemputku, tapi saat di depan pintu seseorang sudah berdiri disitu, menyandarkan tubuhnya pada body mobil.


"Apakah kamu mau mengantarkan Allin?" tanya bu Sella penuh silidik.


Aku pikir bu Sella akan kecewa dengan sikap suaminya yang begitu peduli denganku. Sedikit aku meragukan perasaan bu Sella pada tuan Vano. Tetapi hatiku cepat menepisnya, karena hatiku sedang berbunga-bunga bahwa dia peduli denganku walau dia sedang kecewa denganku.


Tanpa bicara dia hanya mengangguk


"Baiklah kalau begitu" ujar bu sella sambil beralih menatapku. "Allin, biarkan Vano yang akan mengantarmu. Orderan taksi online-nya segera saya batalkan" perintah bu Sella sembari mengiringku untuk maju lebih mendekat ke arah mobil.


***


Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Dia terlihat begitu dingin, aku juga tak ingin mencoba untuk membuka pembicaraan dengannya.


Dia lagi dalam mode buas, jika aku pancing dia akan mencakarku dengan mulut tajamnya itu. Lebih baik begini, tenang.


Hufh, aku menghela napas berat saat jalan yang kami lalui bukan jalan yang benar.


Baru saja aku mensyukuri keadaan kami yang tenang, dia sudah memancing rasa penasaranku.


"Kau ingin bawa aku kemana Tuan?" tanyaku penuh curiga.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kau takut? Aku akan membawamu kabur"


Cih! Dia ini bodoh atau apa? Biasanya pengantin yang di bawa kabur sama orang berbeda, bukan dengan orang yang sama yang akan menikahinya. Atau dia sengaja membawa aku kabur, lalu dia mencoba membunuhku.


Dendam terpendam.


Aku lansung bergedik ngeri.


"Jangan pikir yang aneh. Aku hanya ingin membawamu ke salon" tebaknya seolah dia bisa membaca pikiranku.


"Salon! Buat apa Tuan?" aku pura-pura tidak paham.


Allin, kadar kejeniusan mu harus dipertanyakan. Mengapa kau bertanya sesuatu yang sudah jelas ada jawabannya. Lihatlah dia, raut wajahnya mencibirmu, matanya meremehkanmu. Kau pandai sekali memancing emosinya.


Aku suka lihat wajah itu dan ekspresinya, dari pada wajah datarnya yang menampilkan kepura-puraan bahwa dia baik-baik saja.


Aku suka melihat dia lepas dan bebas.


Kalian taukan? Banyak diluar sana, orang yang selalu menampilkan sisi terbaiknya buat menyenangkan orang lain tapi mereka melupakan dirinya sendiri. Kadang kala kita perlu melepaskan beban itu, menjadi diri sendiri, bebas dan lepas dan tetap terkontrol.


"Buat Makan" jawabnya ketus.


"Memang di salon juga menyediakan makanan tuan?" pancingku lagi.


Pura-pura bodoh.


"Kau ini" geramnya. "Ya buat perawatan dirimulah. Kau ini adalah calon pengantin, tapi lihatlah dirimu, bersikap tidak peduli begitu. Kau wanita bukan? Wanita lain dia akan menghabiskan waktunya untuk facial, spa dan luluran atau apalah namanya."


"Kenapa Anda marah-marah Tuan, aku kan hanya bertanya?" sewotku padanya.


"Dan aku juga tau soal itu, tapi kan pernikahan kita beda. Aku tidak perlu repot untuk semua itu" tambah ku lebih sengit.


"Kau selalu saja membuat aku marah. Dasar wanita ceroboh, kau menganggap semua dengan santai. Dan kau dengan mudahnya memutuskan sesuatu tanpa pikir panjang. Kau mau saja menikah dengan pria tua, dan statusnya suami orang lagi. Apakah kau tak pernah berpikir? Apa pandangan orang padamu kelak?"


"Ya aku tau, dia pria tua mesum. Dan aku tak perlu khawatir apa yang dikatakan orang. Cukup dia bersikap baik denganku, dan jangan sepertimu, yang mulutnya selalu pedas dan meremehkanku" jawabku sambil menahan amarah.


"Kau bicara seolah aku bukan dia, pria tua mesum itu aku" nada suaranya meninggi.


Dia sendiri yang mengumpamakan, kenapa diriku yang disalahkan.


"Ember" jawabku dengan antusias.


"Kau jangan besar kepala ya, bukan aku mau mengaku bahwa aku pria tua mesum. Tapi saat ini aku hanya meniru panggilanmu yang sering kau ucapkan padaku" jawabnya membela diri, aku hanya membalas mencibir.

__ADS_1


__ADS_2