Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Berbisik


__ADS_3

"Selamat pagi, Bun" Vano menyapa bundanya sembari mencium pipi Dio.


"Hari ini papimu tidak punya kesempatan untuk mencium mamamu karena kau tidak di dalam pangkuannya" bisik Vano pada Dio.


Bunda tersenyum mendengar bisikan Vano ke Dio, sedangkan bayi tampan itu terlihat senang di pangkuan oma-nya.


"Lalu kenapa kau tak menghampirinya untuk memberi ciuman selamat pagimu itu, seharusnya kau tak perlu bantuan Dio, kan" tegur bunda


"Dia pasti akan menghindar dariku Bunda" jawab Vano dengan nada suara yang kental dengan ketidak percayaan diri.


Bundanya mencibir melihat sikap Vano, pria itu hanya tersenyum tipis membalas sikap bundanya.


Mata Vano beralih pada Allin yang sibuk mengaduk makanan. Dia memperhatikan istrinya itu, dengan penuh rasa rindu.


Lalu dia sengaja menarik kursi dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang nyaring, seretan itu sungguh mengganggu pendengaran menarik beberapa pasang mata untuk melihat.


Bundanya hanya menggeleng melihat sikap Vano yang sedang mencoba mencari perhatian yang ada dihadapannya.


Beberapa pelayan yang berada di sekitar itu pun menoleh memperhatikan sikap tuannya.


Sedangkan istrinya itu terlihat acuh dia hanya melirik Vano sekilas lalu kembali fokus pada makanannya.


Kenapa dengan dia hari ini? Batin Allin


"Ayah dan Sella kemana, Bun?" tanya Vano saat menyadari mereka berdua tak ada di ruang makan ini.


"Karena kamu izin ke kantor ayahmu berinisiatif menggantikan kamu untuk sementara. Sella pagi-pagi sudah berangkat ada pekerjaan yang sedang menunggunya" Vano mengangguk mengerti tapi tatapannya tak lepas pada Allin yang hanya membisu.

__ADS_1


Vano melihat pada piring makanan Allin, makanan itu lebih banyak di aduk dari pada di suapkan ke mulutnya. Melihat daun bawang mentah sontak Vano mengambil makanan lain buat Allin.


"Biarkan makananmu untukku" Vano menukar piring Allin dengan makanan baru. Perempuan itu ingin protes tapi mulut itu terkatup lagi mengingat dia kini sedang tak ingin berbicara dengan suaminya itu. Dia diam dan menuruti kemauan Vano. Toh, dia memang tidak suka makanan yang ada di dalam piringnya. Demi rasa hormat pada mertuanya yang sudah menyajikan makanan untuknya, Allin memaksakan menyuapi dikit demi sedikit ke mulutnya sembari menahan mual.


"Kenapa di tukar Van?" Tanya bunda seketika melihat sikap Vano. "Kenapa kau hanya memberi daging pada piring Allin, dia butuh sayuran buat dia dan bayinya" tegurnya lagi melihat sikap Vano.


"Dia tidak menyukai daun bawang mentah Bunda" jawab Vano sembari menyuapi makanan bekas istrinya itu ke dalam mulutnya. Vano bisa saja membuang makanan itu tetapi istrinya akan lebih tidak suka lagi dengan sikapnya, dia tau Allin tidak menyukai sikap orang yang suka membuang makanan.


Allin menatap Vano sebentar lalu kembali pada makanannya.


Dari mana dia tahu, selama ini aku tidak pernah protes dan mengeluh soal ini. Dan kenapa dia harus memakan makanan bekasku itu, jangan pikir karena sikapnya itu, aku akan memaafkannya.


Allin berusaha agar tidak tergoda dengan sikap perhatian Vano, dia menyadari hatinya mulai tersentil dengan sikap manis suaminya itu. Tetapi dia mengingat kembali momen menyakitkan itu yang merenggut kepercayaannya terhadap suaminya.


Bunda mengangguk mengerti.


"Seharusnya kamu bilang Allin, kalau tau begitu bunda takkan memasukan daun bawang mentah ini ke dalam sayuranmu." bunda menghampiri menantunya itu untuk mengganti sayuran yang terhidang di atas meja.


"Bolehkah, aku saja yang menggantinya?" tanya Allin dengan sopan. Allin benar tak enak hati melihat sikap mertuanya, dari pagi buta dia sudah memasak makanan untuk sarapan mereka. Padahal di rumah ini pelayan begitu banyak dan tak seharusnya seorang nyonya besar melayaninya. Sedangkan dia hanya seorang pekerja di rumah ini dan hanya kebetulan akan menjadi calon ibu buat cucunya.


Bunda mengangguk. Allin berjalan menuju pantri menuangkan sayuran baru ke dalam mangkoknya. Lalu dia meletakkan kembali ke atas meja makan. Meski dia tidak melihat lansung pada suaminya itu, ekor matanya melirik sekilas baru dia sadari bahwa suami itu terlihat begitu berantakan, dia seperti bukan tuan Vano yang dia kenal.


Dia menggunakan kaos dan celana training panjang yang tidak serasi, Allin tau ini bukan gaya busana tuannya yang selalu mementingkan penampilan baik di dalam rumah atau pun di luar rumah. Dan bagian tangan kaosnya dia gulung ke atas secara asal, belum lagi surai rambutnya yang dia biarkan berantakan menutupi pelipisnya.


Vano menyadari tatapan Allin, dia sengaja mengacak rambutnya itu dan mengulum senyumnya sembari menatap makanan di piringnya.


"Kau terlihat tampan begini" Vano mengingat kalimat yang pernah di ucapkan Allin saat dia baru terjaga dari tidurnya. Perempuan itu akan sedikit mengacak dan membiarkan rambut itu jatuh secara alami. "Dengan potongan rambut ini kau seperti opa-opa korea" kali ini Vano tak bisa menahan senyumnya lagi, dia menyeringai lebar sembari menunduk kepalanya lebih ke bawah. Padahal dia hanya mengingat momen kecil itu tetapi hatinya sudah berbunga-bunga.

__ADS_1


Kenapa kau Vano! Bukannya kau tidak suka dengan opa-opa korea pujaan istrimu itu, sekarang mengingat hal remeh temeh itu senyummu melebar.


Allin kembali fokus pada makanannya saat suaminya menyadari ekor matanya melirik ke arahnya.


Bundanya seolah menjadi penonton di ruangan itu, dia hanya mengamati dan tiba-tiba dia sengaja memberikan percikan sedikit dengan pertanyaan-nya agar membuat salah satu dari mereka terpojok.


"Apa semalam tidurmu nyenyak" sindir bundanya sembari mencibir melihat kantung mata Vano yang menggelap yang sangat kontras pada kulit putih Vano.


Lalu perempuan paruh baya itu menatap menantunya yang sedari hanya diam dan pura-pura tidak peduli.


"Kau tidak lihat Allin suamimu begitu kacau karena kau mengabaikannya jadi maafkanlah dia" bisik perempuan paruh baya itu pada menantunya.


"Dia seekor bunglon, Bunda! Wajahnya bisa berubah kapanpun!" balas Allin membisik bundanya.


"Kau yakin? Tapi Bunda rasa tidak, apalagi melihat dia semalam tidur di depan pintumu, Bunda rasa dia sudah menyesal dengan sikapnya Allin" bundanya mencoba membela Vano dalam bisikannya.


Allin terkesiap mendengar keterangan bundanya itu.


Apakah dia benar-benar menyesal, hingga dia tidur di depan pintu kamarku.


Mereka berbisik di depan Vano dan menganggap pria itu tidak ada.


"Tentu saja tidurku nyenyak!" jawab Vano antusias memotong kegiatan bisik-berbisik kedua perempuan di hadapannya. Padahal dia sudah berusaha memasang pendengarannya dengan baik berharap dapat mendengar bisikan mereka berdua.


Bunda menatap meremehkan, tidak yakin dengan ucapan Vano.


Vano menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan bunda. Dia melirik Allin untuk melihat tanggapan istrinya itu, tetapi istrinya seolah tidak peduli dengan apa yang dia katakan pada bunda. Lalu dengan nada keras dia bersuara lagi. "Tidurku semalam sangat nyenyak apalagi bantal gulingku sangat empuk dan wangi"

__ADS_1


Bunda di hadapan Vano menahan senyum mendengar semua itu sambil terkekeh dalam hati, bahwa dia sudah berhasil membuat anaknya itu menerima hukuman nya dengan baik.


"Berpura-puralah dan tunjukkan kebodohanmu itu dihadapan istrimu" batin bunda.


__ADS_2