Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Extra part 6


__ADS_3

Vano tak ingin ketinggalan dengan jadwal rutin pemeriksaan Allin ke dokter.


Dia sengaja mencatat jadwal Allin atau menanyakan lansung pada sang dokter jika tiba-tiba istrinya mengubah jadwal pemeriksaanya. Sang dokter kadang dengan suka rela mengabari pada Vano, baginya melihat antusias Vano terhadap calon bayinya menjadi kesenangan sendiri bagi dokter.


Vano tahu dua perempuan tercintanya tak ingin dia ikut menemani mereka untuk memeriksakan kondisi kehamilan Allin.


Dan sekarang Vano sudah berada di ruangan pemeriksaan Allin, dia sedang protes pada dokter yang tiba-tiba menjelaskan bahwa jenis kelamin anaknya berubah.


"Dok, aku meminta anak perempuan bukan berarti kau membuang anak lelakiku yang satunya," gerutu Vano tidak terima.


Bunda dan Allin hanya memijit kepala mereka masing-masing. Dokter telah berulang kali meminta maaf karena kesalahannya memperkirakan jenis kelamin bayi kembar Allin. Dan lebih gila lagi Vano akan menuntut dokter dan rumah sakit jika tak mengembalikan calon bayi laki-lakinya satu lagi.


Bunda makin frustasi dia pun membenturkan kepalanya ke dinding, tak tau harus dengan kalimat apa menjelaskan pada Vano.


"Cukup Vano, sebaiknya kita pulang." Jewer bunda pada telinga Vano dan menariknya keluar. Allin tersenyum untuk itu tapi beda hal dengan dokter dan perawat, kali ini mereka tak tersenyum seperti biasa setelah mendengar ancaman Vano.


Wajah dokter dan perawat tetap gusar dan Allin memahami hal tersebut. Atas nama suaminya dia pun meminta maaf dengan semua ucapan Vano dan Allin pun menjamin apa yang dikatakan Vano takkan terjadi. Kedua perempuan itu tampak sedikit lega tapi perasaan khawatir masih tetap menyelimuti mereka.


"Kenapa kau berada disini," protes bunda, melihat Vano telah duduk di jok depan di samping pak Herman.


"Bunda sendiri yang menyuruhku pulang," balas Vano dengan nada kesal.


Bunda terdiam saat yang dikatakan Vano itu benar.


Vano seketika hilang semangat untuk melanjutkan pekerjaannya setelah mendengar penjelasan dokter, karena itu dia tak ingin kembali ke kantornya. Baginya keterangan dokter tak masuk akal, bagaimana tiba-tiba jenis kelamin anaknya berubah.


"Dia pikir anakku Ikan Nemo apa, bisa menggantikan wujud benda kramatnya sesuai situasi," guman Vano pada dirinya sendiri. Tapi bundanya yang berada di belakang sopir tetap bisa mendengar dengan samar. Perempuan itu menoyor kepala Vano dengan telunjuknya.


"Vano jaga ucapanmu! Kau sedang membicarakan tentang anakmu, segala ucapan orang tua adalah doa untuk anaknya, kau harus berhati-hati, katakanlah yang baik," tegur bunda.

__ADS_1


Vano terdiam walau dia tak bermaksud, tapi kata-katanya mengarah pada hal yang jelek pada anaknya, dengan cepat dia memohon ampun pada tuhan dan mendoakan calon anak-anaknya agar terlindungi dari ucapan buruknya.


"Kau tak perlu protes Vano, mereka takkan membohongimu, tapi mereka juga bisa saja salah. Sekarang terima atau kau ingin aku memberikan anak perempuanmu kelak pada orang lain."


"Berhenti!!" perintah Vano, refleks setelah mendengar teguran bunda. Pak Herman terpaksa melambatkan laju kendaraannya hingga berhenti. Vano segera melepaskan seltbelt-nya keluar dari mobil dan kembali masuk melalui pintu belakang menggeser Allin dan duduk di samping istrinya.


Semua yang berada dalam mobil itu tercengang dengan sikap Vano. Apalagi Allin hanya menatap heran pada suaminya.


"Sayang maafkan papi ya," ucap Vano sembari mengusap perut Allin, dia pun mencium perut besar Allin berkali-kali.


Bunda dan pak Herman menghela napas lega. Mereka pikir Vano akan melakukan hal gila lagi, tapi bocah tua itu ternyata merasa ketakutan dan meminta maaf pada calon bayinya.


***


"Sayang, kau tadi bicara apa?" bisik Allin pada Vano sambil menyenderkan kepalanya di pundak suaminya. Allin tadi tak mendengar apa yang membuat pertengkaran bunda dan Vano hingga suaminya itu pindah ke belakang. Dia tadi terlalu senang akan mendapatkan seorang anak perempuan dan tak memperhatikan sekitarnya.


"Bukan apa-apa," jawab Vano sambil melirik bundanya. Sorot mata tajam bundanya belum juga lepas darinya, perempuan itu masih kesal pada Vano. Anaknya itu selalu membuat keributan dengan pertanyaan bodoh dan tak masuk akalnya pada dokter, apalagi tentang ancaman Vano.


Vano dengan cepat menggeleng.


"Aku sangat ... senang sayang. Dia ... pasti akan cantik sepertimu," ucap Vano getir.


Perkataan Vano terdengar tidak tulus oleh Allin, membuat perempuan itu menjauhkan diri dari suaminya dan menatap tajam pada Vano.


Sekarang bukan satu pelototan yang Vano dapatkan, kini dua perempuan itu menatapnya tidak suka membuat dia makin tersudutkan. Wajah frustasi Vano tercetak jelas dengan hembusan napasnya terdengar kasar.


"Kenapa kau mengucapkan begitu berat, kau tidak menyukainya, kan?" gerutu Allin tidak terima.


"Tidak sayang. Aku sangat senang. Itu karena tatapan bunda jadi aku merasa terganggu saat mengucapkannya." Lirik Vano pada bundanya.

__ADS_1


"Kenapa bunda kau salahkan!" celutuk bundanya sambil melipat kedua tangannya di atas perut. Sorot mengintimdasi masih saja di hunuskan perempuan paruh baya itu.


"Bunda sedari tadi tak lepas menatapku dengan sinis. Membuat aku sedikit tertekan," akui Vano. Allin memutari badannya untuk melihat tatapan bunda, perempuan paruh baya itu tersenyum jail menatap balik Allin.


"Bunda!" tegur Allin menatap tajam pada bunda mertuanya.


"Suamimu yang terlalu berlebihan Allin!" sindir bunda tidak terima melihat sikap Allin malah membela anaknya.


"Kau membuat suamiku ketakutan Bunda," protes Allin. Vano menyeringai kemenangan sambil memeluk istrinya dari belakang dan memberikan tatapan mengejek pada bundanya.


Bunda mencibir melihat sikap keduanya, lalu dia mulai menyeringai jail menatap balik Vano. "Allin kau tidak dengar tadi bagaimana Vano ...." Bunda tersenyum lebar melihat bola mata Vano melebar dan menggeleng-geleng kepala. Dari belakang punggung Allin Vano berusaha mengintimidasi bundanya agar dia tidak melanjutkan lagi ucapannya. Allin pun berbalik menatap Vano mengikuti arah pandang bunda, karena dia sudah beberapa detik menunggu lanjutan kalimat bunda tapi perempuan paruh baya itu malah fokus menatap Vano di balik punggungnya.


"Kenapa dengan kalian?" tanya Allin heran sambil bergantian menatap Vano dan bunda.


"Tidak kenapa-kenapa sayang," jawab Vano kikuk dan wajahnya mulai sedikit memutih. Dia menarik Allin ke dalam pelukannya dan menenggelamkan wajah istrinya di dadanya. Lalu Vano mencoba bicara pada bunda tanpa suara.


"Bunda aku mohon, jangan bilang pada Allin!" ucap Vano mengeja kata-katanya dengan pelan tanpa suara dan kerutan di dahinya tampak begitu tebal karena terlalu banyak berpikir.


Dia sungguh menyesal telah mengucapkan kata-kata itu.


Dia pikir anakku Ikan Nemo apa, bisa menggantikan wujud benda kramatnya sesuai situasi


Dan syukurnya Allin tidak mendengar, jika istrinya tau, kemarahan perempuan itu akan lebih menyeramkan dari pada bundanya.


Bunda seketika terkekeh geli. Mendengar tawa bunda Allin mencoba melepaskan dekapan Vano untuk melihat bunda mertuanya yang kini tengah terkekeh.


"Kau senang sekali membuat suamiku tersudutkan, Bunda." Cibir Allin mencoba membela Vano.


"Menikmati ketakutan orang itu ternyata sangat menyenangkan, Allin. Biar suamimu merasakan juga, apa yang dirasakan perawat dan dokter tadi atas ancamannya."

__ADS_1


Jbleb. Vano menelan ludah merasa tersindir.


Pak Herman di bangku kemudi menahan senyum mendengar pertengkaran keluarga majikannya.


__ADS_2