
Sella tampak membeku setelah mendengar keinginan ayahnya. Tapi kali ini ayahnya tidak memaksa dengan terang-terangan, dia hanya menggunakan harapannya untuk Sella hidup bahagia dengan seorang pendamping yang menerima diri Sella apa adanya.
Laki-laki tua itu mengerti, jika anaknya tidak setuju dengan keputusaannya untuk menikahkannya minggu depan. Keputusannya memang mendadak, tapi dia tak ingin menyiaka-nyiakan waktu lagi, dia ingin Sella bahagia. "Kau tak perlu khawatir tentang seorang anak. Dia sudah memiliki seorang anak, dia sendiri menerimamu apa adanya Sella."
"Bagaimana dengan keluarganya?" tanya Sella mengangkat kepalanya menatap sang ayah penuh tanya. Sejak ayah mengutarakan keinginan Sella hanya mampu menunduk.
"Apalagi keluarganya, mereka takkan menuntut apa-apa padamu," sahut pria tua itu meyakinkan Sella. Mata tajamnya menunjukan tidak ada keraguan untuk pilihannya kali ini, meski awalnya dia berat menerima tapi dia mencoba membuka hatinya.
"Ayah, bolehkah aku menolak?" Sella mencoba memberanikan diri. Ini hidupnya, dia punya pilihan siapa yang akan dia nikahi.
Ardio, bayangan lelaki itu yang menghantui Sella saat ayahnya meminta dia menikah dengan pilihannya. Apakah dia akan mengulangi lagi kesalahannya, meninggalkan Ardio begitu saja. Padahal dia tahu, lelaki itu sedang menunggunya.
Akan aku nikahkan dirimu dengan Gea. Adik cantikku pasti sangat senang menerima dirimu.
Tapi ucapan Bams membuat dia meragu, dia pun mulai mempertimbangkan keinginan merajuk kembali hubungannya dengan Ardio. Pria itu pantas untuk mendapatkan gadis baik, cantik, dan tentunya sehat yang akan mudah memberikan keturunan untuknya. Lagi-lagi kepercayaan dirinya membuat dia meragu.
"Mengapa kau harus menolak, jika keputusan ini akan membuat kau bahagia."
"Bahagia?" Sella tersenyum getir. "Aku bahagia dengan kesendirianku. Jadi biarkan aku begini, berada di sampingmu. Aku tak perlu seseorang lagi, cukup dirimu Ayah"
"Tidak Sella, jika kau benar-benar sayang dengan Ayahmu ini, tolong terima lamaran ini. Ayah tidak ingin kau sepertiku yang hidup kesepian."
Perdebatan itu berakhir di situ, Sella tak mengiyakan dan tak bersikeras menolak.
***
Satu minggu telah berlalu, hari ini adalah waktu pernikahan Sella.
Di kediaman Fahrizi Allin dan Vano tengah sibuk mempersiapkan diri.
Perut perempuan hamil itu telah membusung besar membuat dia tidak percaya diri. Sejak dari pagi dia hanya mencoba memilah-milih pakaian yang akan ia pakai di acara Sella nanti malam.
"Kenapa sayang?" tanya Vano melihat wajah istrinya tak lepas dari kerutan di dahinya.
"Aku jelek ya!" sahut Allin sambil memutar-mutar badannya di balik cermin.
Vano memicingkan matanya menatap Allin begitu lekat, dia memperhatikan istrinya dari ujung kaki hingga kepala.
Gaun putih tanpa lengan itu membalut sempurna di tubuh mungil Allin. Modelnya yang simple tanpa banyak aksen menunjukkan kesan menawan dan manis.
Vano sangat menyukai penampilan Allin yang sederhana, tapi ia sengaja menggoda istrinya dengan mengangkat tangannya. Lalu ia topangkan di dagu, mencebikkan bibirnya seolah meragukan penampilan Allin.
__ADS_1
Melihat sikap suaminya itu Allin seketika mehentakkan kakinya tidak terima. "Kau menyebalkan!!"
"Sayang, aku belum berkomentar!" seringai Vano melihat tampang istrinya makin cemberut.
"Tatapanmu sudah menunjukkan semuanya " tuduh Allin sambil mengerucutkan bibir.
"Bahwa aku mencintaimu," tebak Vano.
Allin hanya melototkan bola matanya mendengar kepercayaan diri suaminya.
Vano menghampiri Allin. "Kau cantik dari ujung kaki hingga kepala. Rasanya aku tak rela, jika semua mata memandangmu hari ini." Pria itu merangkul Allin dari belakang, meletakkan dagunya di pundak istrinya.
Dari balik cermin Allin bisa menatap sorot mata memuja suaminya dengan gurat kecemburuan di wajah tampan Vano.
Sebelum suaminya berubah pikirannya dan menyuruh dirinya mengganti pakaian yang lebih sopan.
Allin segera mengusap tengkuk suaminya dan memperlihatkan senyum manisnya dari balik cermin
***
Di kediaman keluarga Sella, para keluarga dan tamu mulai ramai berdatangan. Sepasang mata bulat sedang mencari sosok penggantin, rasa penasaran saat tahu Sella menikah tiba-tiba membuat dia terkejut setengah mati. Apalagi dengan nama calon pria itu yang unik membuat dia penasaran, siapa yang bisa membuat Sella luluh.
Dengan kepolosan Allin dia menghampiri ayah Sella menanyakan keberadaan Sella.
Pria tua itu tersenyum melihat antusias Allin menghampiri Sella dengan perut buncitnya ikut bergoyang saat langkah ia lajukan dengan cepat. Vano dengan ayahnya juga mengikuti arah pandang mantan keluarganya itu. Kehadiran Allin di sekitar mereka telah merubah semuanya, bagi Allin semua orang yang dia kenal adalah keluarga. Tak tahan melihat tingkah perempuan hamil tersebut, Vano dan ayahnya pun turut tersenyum.
Allin menghela napas frustasi.
"Mbak," panggil Allin dengan mata berkaca. Sella malah tertawa melihat sikap Allin, seharusnya yang menangis saat ini adalah dia, tapi lihatlah orang asing yang hanya beberapa bulan mengenal dirinya kini tengah menangisi nasipnya.
Ini benar-benar lucu, batin Sella.
"Kau lucu Allin, tak seharusnya kau menangis saat menghadiri pernikahan seseorang, aku bukan menikahi suamimu!"
Sontak Allin menghapus air mata yang telah mengalir di sudut matanya. Dia sudah duduk berhadapan dengan Sella.
"Kau mengungkit dosaku Mbak yang sudah menikahi suamimu."
Kali ini Sella terkekeh.
"Kau salah, semua ini mengingatkanku, bagaimana perasaanmu dulu? Aku telah memaksamu menikah dengan Vano. Mungkin ini balasan bagiku," akui Sella, akan dosanya dulu pada Allin.
Allin hanya tersenyum malu dan menunduk, membuat Sella mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Jangan bilang, waktu itu kau tidak terpaksa menikahinnya?" tuduh Sella dengan tatapan mengejek.
"Bu-bukan begitu, a-aku memang terpaksa menikah ta-tapi ...." Allin menyangkal dengan mengeleng-geleng cepat dan lambaian tangannya pun ikut meyakinkan Sella bahwa dugaannya salah.
"Kau juga menyukainya!" tebak Sella.
"Ti-tidak Mbak. Bukan seperti yang kau duga, aku hanya takut jatuh cinta dan tak bisa melepaskannya," jawab Allin dengan wajah memerah. Dia tau ucapannya ini seperti pengakuan atau pembelaan dirinya, saat itu perasaan bercampur aduk, sesuatu sudah menyelinap dalam hatinya, tapi Allin sadar itu salah, dia mencoba menyangkalnya.
Mencintai suami orang haram baginya, lebih baik dia mengutuk dirinya sendiri dan meremukkan hatinya.
"Iss..., ternyata kau Allin." Sella sengaja memojokkan Allin, dia tahu perempuan hamil itu sedang kikuk membuat dia salah tingkah.
Menyenangkan bagi Sella melihat Allin dalam situasi seperti ini.
"Kau jangan salah paham, aku benar-banar tidak punya perasaan padanya saat itu." Allin membela dirinya membuat Sella terkekeh geli.
"Kau masih saja sempat tertawa," protes Allin. Dia tahu semua yang ditampilkan Sella semua terasa palsu. Perempuan bergaun pengantin itu terdiam, lagi-lagi perempuan dihadapannya bisa menebak dirinya.
"Aku akan bahagia 'kan Allin?" ucap Sella. Entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan, Allin dengan segera mengaminkan sambil menganggukan kepalanya.
Kedua perempuan berbeda usia itu berpelukan saling menghantarkan kehangatan. Allin menguatkan Sella dengan usapan-usapan di punggung Sella, mata kedua perempuan itu telah berkaca.
"Kau akan bahagia seperti kami," ucap Allin.
"Tak mau, kalian berdua menjengkelkan dan sangat berisik," tolak Sella dengan suara parau, dia berusaha menahan desakan air mata dengan mengerjapkan mata. Tapi dalam lubuk hatinya dia mengaminkan, meski Vano dan Allin selalu tampak selalu ribut, yang jelas mereka bahagia dan saling mencintai.
"Akad sebentar lagi akan di mulai," ucap seseorang dengan senyum sumringan di depan pintu kamar Sella membuat pelukan keduanya terurai.
Allin mencoba berdiri dari ranjang tapi tangan Sella menahannya. "Temani aku di sini," pinta Sella.
"Kita tidak ke bawah?" tanya Allin bingung, karena seorang sudah memberitahu mereka akad akan di mulai.
"Sella mengeleng, aku sudah minta izin pada ayah dan calon suamiku agar aku tak perlu mengikuti akad."
Allin mengangguk mengerti.
Suara keramaian di bawah mulai hening, menandakan acara sakral itu akan di mulai. Wajah Sella tampak datar, meski gurat kesedihan terlihat samar, Allin yakin Sella sedang merasa sedih, dia pun mengenggam tangan berhias henna itu.
"Saya nikahkan engkau Suparman bin Toyib dengan Ananda Sella Purnama Ningsih binti Abraham dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Sella Purnama Ningsih binti Abraham dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
"Sah, sah, sah, sah ...," sahutan para saksi dan yang hadir menggema sampai lantai atas.
__ADS_1
Allin tercengang mendengar suara pria itu, dia menatap Sella dengan haru tapi perempuan di sampingnya hanya sibuk melamun saat akad mulai berlangsung.
"Mbak, selamat ya!!" seru Allin penuh haru sambil memeluk Sella.