Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Extra Part 10


__ADS_3

"Sah!" kata-kata itu saling bersahutan di tengah ruang acara Ijab Kabul.


Pengantin pria tampak lega, dia tersenyum sumringah menatap lantai atas berharap pengantinnya berdiri di sana dengan anggun dan menatap balik padanya dengan seukir senyuman.


Bayangan Sella pun tak nampak di sana, hanya dinding bercat putih berhias renda dan bunga-bunga cantik. Tapi pria itu tetap tersenyum membayangkan Sella berdiri di sana dengan gaun pengantin, dia yakin Sella akan lebih cantik dari bunga-bunga yang menghias di dinding.


Pria tua yang kini telah menjadi ayah mertuanya, mengikuti arah pandang Ardio yang tengah sumringah menatap lantai atas yang tiada siapa pun. Dalam hatinya, dia tak berhenti melantunkan doa berharap untuk selanjutnya hanya kebahagiaan yang mengisi hari-hari Sella.


Menerima pinangan pria dihadapannya memang tidak mudah baginya pada saat itu. Mengalah dan mencoba melunakkan hatinya sendiri demi kebahagian sang anak.


***


Setelah mengucapkan selamat pada Sella, Allin bersigera keluar kamar. Perempuan tersebut hafal sekali dengan suara lelaki yang menjawab sahutan ijab. Dia perlu memastikan, dia berharap dugaannya benar.


Kepergian Allin membuat ruang kamar Sella seketika menjadi hening. Membuat pikiran Sella berlari kemana-mana, rasa gusar dan bersalah menghantuinya. Pandangannya ia lempar ke balik cermin menampilkan bayangan cantik dirinya yang sangat menyedihkan.


Bukankah, ini memang keahliannya untuk tak peduli perasaan orang lain. Kenapa dia harus gusar dan peduli akan perasaan Ardio sekarang.


Tiba-tiba dia terkekeh getir membayangkan kekecewaan Ardio.


"Bencilah! Hingga kau muak dan tak ingin melihat wajahku ini." Dia seolah berdialog dengan Ardio, lalu Sella memaksakan senyum terukir di wajahnya tapi malah membuat matanya itu berkaca.


Sella turun dari ranjang mendekati cermin dan duduk berhadapan dengan bayangannya. Menatap wajah pilunya lalu dia mentertawakan dirinya sendiri.


"Terulang lagi ...," gumannya.


"Kau memang pengecut Sella! Saat kau ragu melangkah ke depan karena takut akan bayangan-bayangan rasa sedih dan kehilangan yang belum pasti. Apa bedanya sekarang? Kau tetap berjalan di tempat yang sama dan merasakan juga rasa kehilangan dan sedih yang selama ini yang kau takutkan," gerutunya pada diri sendiri.


Sella melipat tangannya di atas meja rias dan menenggelamkan kepalanya menatap kosong ke arah balkon. Ia lelah dan pasrah.


Entah berapa lama dia biarkan pikiran hanya melayang tanpa arah. Suara pintu kamar terbuka lalu kembali tertutup dia tak peduli.


Sella pikir orang yang masuk adalah orang yang akan membantu mengiringnya ke bawah untuk menemui pengantinnya. Tapi suara kunci terputar membuat Sella mengangkat kepalanya dan menatap sosok jangkung yang masih berdiri di dekat pintu.


Sella menatap nanar bayangan itu dari balik cermin, berkali-kali dia mengerjapkan mata berharap sosok tersebut menghilang. Namun hasilnya tetap sama, jantung Sella pun berdebar kencang.


Dengan perlahan dia membalikkan badannya menatap sosok jangkung yang tengah berdiri. Ternyata semua nyata dan jelas. Tubuh Sella seketika terasa lemas, bangku yang ia duduki terasa goyang karena gemetar dari tubuhnya.


Kejadian enam tahun yang lalu terulang lagi, Sella tersenyum hambar berusaha menguatkan dirinya. Ardio hadir di penikahannya. Untuk apa?

__ADS_1


"A-apa yang kau lakukan disini?" tanya Sella dengan suara parau. Ardio tak menyahuti dia melangkah mendekat pada Sella dan penggantin perempuan itu bangkit dari duduknya mencoba mundur, menjauh dari jangkauan Ardio.


Tatapan Ardio membuat Sella takut karena senyuman mematikan terukir di wajah pria itu. Senyuman yang Sella tak mengerti.


Dia tak habis pikir bagaimana Ardio bisa masuk ke rumahnya, tak mungkin Ardio turut di undang oleh sang ayah. Pernikahan yang sederhana. Permintaan Sella pada ayahnya sebagai syarat, dan hanya keluarga serta kenalan terdekat yang boleh di undang.


Ardio makin memperpendek jarak antara dirinya dan Sella. Rasanya dia tak tega melihat kerapuhan Sella, perempuan di hadapannya pasti menderita dengan rasa bersalah. Dia pun menarik tubuh Sella ke dalam dekapannya.


Sella tak membiarkan begitu saja tubuhnya didekap, dia meronta dalam pelukan Ardio.


Ini salah, pikirnya. Ardio tak boleh menyentuhnya, dia sekarang telah bersuami.


"Lespakan aku! Cepat pergi dari sini Ar!" Sella terus meronta-ronta dan memukul dada Ardio. Pikirannya sangat kacau, bagaimana ayahnya tahu dan suaminya juga tahu. Sella bukan mengkhawatirkan dirinya tapi pada sosok yang mendekapnya. Nama baik Ardio akan hancur jika berurusan dengan ayahnya dan akan menghancurkan karir pria itu.


"Aku takkan melepasmu lagi Sella!" Ardio makin mengeratkan pelukkannya sambil mencium pucuk kepala Sella.


"Dia benar-benar lupa," batin Ardio.


Seringai Ardio terbit, merasakan kemenangannya. Dia tak menduga Sella menerima saja lamarannya tanpa ingin mengetahui siapa calon suaminya.


"Ternyata nama itu berguna juga," lirih Ardio sambil terkekeh.


***


"Apa yang membuat kau yakin, hingga berani meminang anakku?" tanyanya datar mencoba mengintimidasi pria di hadapannya.


Ardio cukup gugup mendapat sorot mata calon mertuanya, tapi kehadiran Dio di pangkuannya, meyakinkan dirinya bahwa dia tak perlu takut. Ia akan menjadi contoh untuk anaknya untuk bersikap pantang menyerah meski Dio belum mengerti.


Setelah Sella pergi begitu saja dari Vila tanpa berpamitan padanya. Ardio malah menemui ayah dari perempuan itu bersama Dio.


"Aku tetap merasa tak pantas untuk Sella, tapi aku takkan membiarkan dia sendiri dengan kesunyiannya. Aku akan tetap menjadi bayangannya jika kau tak memberi izin untuk aku menikahinya."


"Maksudmu apa?" tanya pria tua itu dengan geram. Dia mulai berpikir bahwa pria inilah alasan sesungguhnya Sella melepaskan Vano.


"Seharus Anda menyadari Tuan, kau seperti cermin baginya, kau terus berpura-pura tegar begitu juga dia. Sella hanya menunjukkan yang baik-baik saka pada Anda, meski itu hanya kepalsuan. Dia menjaga hatimu selama ini dan melupakan hatinya sendiri, hingga dia tak mampu memilih yang terbaik untuk dirinya sendiri.


"Kau yang menanamkan pada jiwanya bahwa pilihanmu adalah yang terbaik. Dan dia takut menjadi seperti ...," kalimat itu terjeda sejenak, Ardio tau batasnya untuk tak menyebut ibunya Sella yang menjadi sumber luka mereka, pria itu akan terluka dengan ucapannya, "orang yang turut mengecewakanmu"


Pria tua itu memalingkan wajahnya dari Ardio, tatapannya mulai kosong mengingat kembali bagaimana dia mendidik Sella dan kakaknya dengan aturan-aturan yang tak bisa di bantah. Hanya Sella yang bertahan dengannya, istrinya pergi dengan pria lain karena merasa tak di hargai, kakaknya Sella pergi ingin kebebasan di luar sana.

__ADS_1


Rengekan Dio memecahkan lamunannya kembali berpaling menatap Ardio dan Dio. Dia pun menatap lekat ayah dan anak itu bergantian. Sedangkan Ardio tengah sibuk menenangkan Dio di atas pangkuannya tak memperhatikan bagaimana calon mertuanya menatapnya.


"Bagaimana jika Sella tak mampu memberimu keturunan?" tanyanya dengan suara berat dengan kerutan di keningnya makin keriput.


"Aku sudah tau semuanya, dan alasan itulah yang membuat dia selalu menjauh dariku," jawab Ardio hanya menoleh sebentar. Dia bicara sesantai mungkin menganggap itu bukan menjadi masalah baginya.


"Baiklah, aku terima lamaranmu. Kapan kau siap menikahi Sella?"


Jelas Ardio terkejut, segera mengangkat kepalanya yang tengah sibuk menenangkan Dio. "Besok!" jawab Ardio spontan sambil membalas tatapan mata ayah Sella.


Pria tua itu berdecak kesal sambil menatap tajam Ardio.


Ardio menutup mulutnya rapat saat sorot mata tidak suka itu mengintimidasinya.


Tapi hanya sesaat dia kembali bersuara. "Sesuatu yang baik kenapa tidak disegerakan." Ardio meyakinkan calon mertuanya dengan senyuman canggung.


"Kau kira Sella akan menerima lamaranmu begitu saja," ejek ayah Sella menatap kesal pada Ardio.


"Demi kebahagian Anda, Sella selalu melakukan sesuai keinginanmu, kenapa sekarang tidak!"


"Kau ingin aku memaksa Sella?" hardik pria tua itu makin kesal.


Ardio sedikit ketakutan tapi dia mencoba menguasai diri, dia harus memenangkan situasi ini. Ardio mengangguk yakin.


Merayu Sella sulit, melepas menyakitkan, dan bertahan hanya menyia-nyiakan waktu. Hanya dengan cara ini dia bisa mengikat Sella meski terlihat sedikit licik.


Seringainya Ardio terbit membayangkan wajah masam pengantinnya kelak.


***


-


-


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2