Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Kamar Pengantin


__ADS_3

Pov Vano


"Pernikahan ini! Bisakah di batalkan?" Pintaku untuk terakhir kali.


"Tidak Vano!" jawabnya dengan cepat. Tidak ada keraguan disitu.


Tak pernakah dia berpikir jika suaminya ini juga seorang pria yang bisa tergoda dengan wanita lain.


"Baiklah jika itu keputusanmu, tetapi kau harus tau Sella. Pesona Allin begitu kuat bagi ku. Aku tidak bisa memastikan bahwa aku bisa selamanya setia padamu. Jadi tolong sebelum masalah ini makin rumit dan melukai kita semua, lebih baik sekarang kita hentikan." jawabku jujur tanpa sedikit kebohongan.


Allin sudah masuk terlalu jauh dalam hidupku, entah itu dari dorongan Sella atau pesona Allin menarik ku.


Ya dia tidak pernah menggodaku, dia selalu mampu menjaga batas, saat sudah hampir melewati batas dia dengan sigap mundur, dan itu terulang berkali-kali, aku mencoba menggoda nya tapi kenyataan yang ada, aku yang balik tergoda.


Dia punya sesuatu yang membuatku nyaman, aku selalu berusaha menyangkal jika ada getaran lain menyelinap masuk hatiku, aku selalu menyatakan pada diriku, itu perasaan nyaman sebagai teman atau seperti adik bagiku.


Air mata Sella sudah mengalir membasahi wajahnya.


Dia pasti kecewa dengan ku.


"Aku tidak percaya kau segoyah itu. Mana janji mu padaku Vano? Dulu demi pernikahan kita. Kau bilang, kau menerimaku apa adanya dan kau akan setia selamanya padaku. Aku membuang cintaku demi janji mu itu Vano. Sekarang giliran dirimu membuang rasa mu yang belum pasti itu demi pernikahan kita." tuntutnya dengan mata kecewa.


"Tidak bisa kah, kau mengizinkan aku untuk membiarkan rasaku untuk menjadi lebih? Kita bisa mencoba seperti keluarga yang lain hidup bersama saling menerima" pintaku untuk pengertiannya.


"Kesetiaan mu selama ini dipertanyakan Vano?" sindirnya


"Kesetiaan bukan berarti apa apa, kecuali, pada prinsip intinya mampukah kau mengorbankan dirimu." ucapnya seolah-seolah menantang ku.


Pengorbanan?


"Pengorbanan apalagi yang kau pinta dari ku Sella. Kau berharap agar aku menjaga hatiku untukmu, sedangkan kau selalu memberiku alasan untuk ku mematahkan hatimu"


"Jadi sebelum semuanya jadi rusak, hentikan sekarang Sella. Ayo kita hadapi semua ini! Aku sungguh menerima mu, meski kelak kita tidak di berikan keturunan. Dio sudah cukup untuk kita."


"Tidak. Aku sudah berjanji dengan Bunda dan Ayah. Keluarga mu butuh keturunan, itu tak bisa kau sangkal. Aku pikir Allin bisa berada di antara kita tanpa merusak hubungan kita. Disaat aku menyadari itu, aku sudah terlambat, pesona Allin begitu kuat dan menjerat hati ayah dan bunda, kini aku minta pengertianmu untuk tetap setia menjaga hatimu untukku."


"Maaf Sella aku sendiri tidak bisa memastikan itu" seraya pergi meninggalkannya.


"Aku sudah menyakitimu. Tapi aku tak mampu menolak rasa yang mulai menyusup di relung hatiku" lirihku.


Aku benci dengan penghianatan dan perselingkuhan.


Sebagai seorang pria kesetiaan adalah jiwa.


Karena kesetian cerminan dari jiwa jiwa yang berkelas yang selalu aku tanamkan dalam diriku. Pantang bagiku untuk menyakiti pasangan ku.


Tapi kini tuhan mungkin sedang mempertanyakan, menguji diriku seberapa besar kesetian yang aku punya.


Pelajaran apa yang tuhan ingin tunjukan padaku?


Tapi ternyata aku sudah kalah.


****


Pov Allin


Semua sudah berjalan sesuai keinginan Bu Sella. Akad yang berjalan lancar, dan resepsi yang meriah.


Sekarang mereka sudah kembali ke kota meninggalkan aku bersama Tuan Vano di penginapan.


Sesampai di dalam penginapan, baru beberapa langkah tubuhku masuk di dalam kamar. Tangan seseorang melingkar di perutku, denga refleks siku tanganku menghantam bagian perutnya

__ADS_1


Perut itu keras sekali dengan aroma tubuhnya memabukkan.


*Allin, apa yang kau nikmati itu milik orang lain. Tidak, aku juga berhak sekarang, aku boleh menikmati tiap sentuhannya, aroma tubuhnya, karena sekarang dia juga milikku.


Bagaimana aku tidak tenggelam kedasar, jika sikapnya saja begini. Dia tampak dingin tapi saat di dekatnya dia begitu hangat membuatku meleleh.


Dia sempurna dari luar dan menghanyutkan di dalam, siapa yang mampu menolak arusnya menjeratku dan menenggelamkan ke dasar.


"Auw, Sakit Allin" tanpa melepaskan tangganya yang melingkari di perutku, tangan itu makin mengerat, bagian punggung ku bisa merasakan detak jantung dan kehangatannya.


"Diam sebentar" perintahnya, kepalanya ia benamkan di ceruk leherku.


"Tuan Anda kenapa? Apa Anda sakit? Apa perlu saya panggil seorang dokter kesini!" tanya ku begitu khawatir padanya.


Khawatir?


Khawatir dengan perasaan ku. Perasaan yang sudah ku bentengi dengan kokoh sudah mulai retak. Mungkin aku akan rusak lebih parah dari yang dulu.


Kau terlalu sombong Allin untuk masuk dalam permainan ini. Hatimu rindu belaian yang tak dapat kau sangkal terus menerus.


Seharusnya dari awal kau tetap konsisten untuk menolak, sekarang nikmati kesakitan mu dan selesaikan tugas mu Allin.


Sebenarnya ada apa dengan dia, seharian ini dia hanya diam saja, menatapku saja dia terlihat jengah, sekarang dia seperti pohon mau roboh, menompang tubuh besarnya ke tubuhku.


"Maaf Allin" ucapnya lirih.


"Buat apa Tuan?"


Buat kesalahan ku kelak di masa depan kepada mu batin Vano


"Untuk semuanya." suaranya makin sendu.


Aku kalah dan lemah Allin batin Vano


"Sebentar saja" pintanya, lagi-lagi suaranya begitu sendu.


Akhirnya aku merelakan diriku untuk tetap dalam dekapannya menikmati keheningan kami.


Mungkinkah ini termasuk penghianatan pada Bu Sella? Entahlah!


***


Ternyata kamar pengantin ini sungguh indah. Kelopak bunga yang bertebaran di atas ranjang, belum lagi lilin-lilin kecil memberikan cahaya yang lembut menjadikan suasana ini terasa romantis.


Bu Sella apa yang kau pikirkan sebenarnya, sungguh aku tidak mampu membaca sikap mu selama ini. Kau mendorong ku ke suami mu, dan di lain pihak kau menarik ku untuk lebih menjauh.


Permainan ini terlalu indah kau buat untukku, dan juga mengerikan.


Kau tak terbaca.


Tanpa ku sadari air mataku ku menetes membasahi pipi, dengan cepat ku hapus.


Dia yang berdiri dibelakang ku masih tetap diam, membenamkan wajahnya di ceruk leherku, napasnya berasa hangat.


Ops kenapa tiba tiba lembab.


"Tuan kau tidur ya. Liur mu membasahi punggu ku" ucapku sambil meronta.


"Maaf" katanya


"Ayo lepaskan, kau begitu jorok, sudah menompang kepala mu dipunggu ku, kau juga menumpahkan liur mu juga" kesal ku.

__ADS_1


Tapi dia tak menanggapi kemarahan ku.


"Kau cantik Allin" bisiknya di telingaku.


Deg deg


Kenapa lagi si pria tua mesum ini


"Kau baru sadar" ketusku untuk menutupi rasa gugup.


"Tidak" jawabnya


"Tapi kenpa kau baru memuji ku?"


"Karena kau bukan milikku"


Milikku?


Lalu dirimu siapa Tuan, milikku kah?


Allin stop berharap


"Aku tidak suka memuji, cukup orang terdekatku saja yang aku puji" tambahnya seraya melepaskan kedua tangganya.


"Aku mau mandi"


"Terserah"


***


"Bagaimana ini? Kenapa semua baju ini setipis kelambu?"


Aku malu


Seharusnya aku memeriksa terlebih dahulu, tetapi tidak mungkin juga aku berbuat tidak sopan di hadapan Bunda, dia menawarkan dirinya untuk mempersiapkan pakaian ku. Aku mana berani untuk menolak, dan aku juga takkan mungkin curiga dengan sikap baiknya. Tapi lihatlah semua isinya berupa kain tipis yang takkan mampu menghangatkan, apalagi ruang ini begitu dingin.


Apa yang akan di pikirkan si pria tua mesum jika aku memakai pakaian ini.


"Allin. Kenapa kau lama sekali di dalam" pekiknya seraya menggedor pintu.


"Sebentar"


Bersambung.....


Cuap cuap dikit ya.


Sebenarnya 2 hari ini aku ngedown banget buat nulis.


Ini disebabkan karena ulah ku yang promo di mana-mana, membuat beberapa orang memuntahkan kemarahannya.


Maaf ya selama ini aku suka nyampah di komentar kalian😭😭😭


Hahaha ternyata aku mental kerupuk, aku lansung ngedown tapi karena aku udah janji pada salah satu pembaca untuk up tiap hari aku paksakan untuk menulis hari itu, dan hari selanjutnya aku izin liburr wkkakak😅


Sebenarnya aku jadi parno buka riwayat pesanku, siapa tau masih ada lagi yang mau memaki-maki diriku.


Tapi sejujurnya aku tau diri, yang marah dan memuntahkannya padaku hanya beberapa orang, mungkin di luar sana masih banyak lagi, jadi seharusnya aku bersyukur.


Terimakasih buat kalian yang legowo dengan pesan promoku yang bertebaran dimana-mana🤭


Semangat ku sedikit pulih melihat kesetiaan kalian memberi komentar dan vote.😄😄😘

__ADS_1


Jangan lupa like ya😊.


__ADS_2