Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Extra part 5


__ADS_3

Tatapan Ardio masih lekat pada Sella, perempuan itu bergeming dari tempatnya. Ardio mulai merasa ada yang salah dengan perkataannya.


"Maaf jika membuat kau tak suka" ucap Ardio dan beranjak ingin pergi meninggalkan kamar tersebut.


"Bukan" sahut Sella. Perempuan itu bicara saat tangan Ardio sedang memutar handle pintu, cukup lama dia merespon ucapan Ardio.


"O...," guman Ardio sembari membalikkan badannya menatap kembali pada Sella. "Tapi kau pasti merasa terganggu dengan ucapanku, kan? Maaf, jika aku tak tau diri masih berharap padamu, seharusnya aku menyerah sejak itu"


Menyerah.


Sella seketika menggeleng, kali ini dadanya begitu terasa sesak, haruskah dia kehilangan kesempatan lagi. Dia sadar, hatinya masih di tempat yang sama, tapi ketidak percayaan dirinya merengut keberaniannya untuk berterus terang pada Ardio. Dia hanya perlu bukti bahwa pria itu menerima dia apa adanya.


Pria sebaik Vano saja bisa berpindah hati ke perempuan lain. Bagaimana kelak Ardio yang dikelilingi perempuan-perempuan cantik dan sehat yang selalu mengikuti bayangan pria itu. Wajar saja jika dia meragu atas kekurangannya.


Dia tahu kecantikannya tak cukup untuk membuat seorang pria bertahan hidup selamanya dengan dirinya. Jika dia tak mampu memberikan sesuatu yang dibutuhkan pasangannya.


Ardio tertegun melihat gelengan kepala Sella dengan mata yang telah berkaca.


"Aku tak mengerti..., jika kau tidak bicara dan menerangkan dengan jelas padaku...."


Ardio merasa frustasi, dia menggusar rambut dengan kedua tangannya ke belakang. Dia ingin berlari ke hadapan perempuan itu dan memeluknya erat, tapi dia tak tau apa yang membuat mata perempuan itu berkaca, apakah karena ucapannya atau yang lain.


"Katakanlah Sella, aku harus bagaimana, aku tak ingin menyakitimu. Janjiku padamu tetap sama, aku akan menunggumu. Jika kau sudah yakin padaku, berlarilah ke arahku, karena aku tetaplah tujuanmu Sella" Ardio mencoba meyakinkan Sella, bahwa dia adalah tempat kembali perempuan itu. Pintu pun akhirnya tertutup meninggalkan Sella dalam kecamuk pikirannya.


Air matanya kini tak bisa dia bendung, mengutuki dirinya sendiri dan jatuh terduduk di lantai.


Dia begitu kecewa dengan dirinya sendiri. Mengikat seseorang tapi tak berani menunjukkan kepemilikannya.


***


"Kau kenapa Ar?" tanya Bams yang telah duduk disampingnya.

__ADS_1


Lamunan Ardio buyar seketika, perasaannya masih terganggu dengan sikap Sella.


Tatapan Sella menghantui pikirannya, dia tau perempuan itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Rasa curiga beberapa bulan yang lalu, saat dia mengikuti Sella ke rumah sakit, kini kembali timbul. Ada banyak pertanyaan berputar-putar dalam pikirannya, rasa penasaran itu makin menjadi saat melihat bagaimana sikap Sella beberapa menit yang lalu.


Apakah ada hubungannya dengan keadaan kesehatan Sella? Pikirnya.


"Hampir enam tahun pernikahan Sella dengan Vano tapi mereka tak juga dikarunia seorang anak dan Sella malah mengadopsi anak. Apakah karena alasan itu dia tak mau menerimaku?" Guman Ardio pada dirinya sendiri tapi Bams mendengar semua itu dengan jelas.


"Ternyata kau menjadi pria tak peka juga. Aku pikir kau sudah memperkirakan alasan itu!" sahut Bams menepuk bahu Ardio.


Raut muka Ardio yang datar tiba-tiba sendu menatap Bams, menyadari ucapannya pada Sella yang mengarah tentang anak-anak membuat perempuan itu bersedih.


"Kau punya nomor pengacara itu?" tanya Ardio tak ingin menyebut nama ayahnya Sella.


Bams memicingkan matanya membalas tatapan Ardio. Dia ingin tahu apa yang ingin dilakukan Ardio, tapi dia hanya memendam semua pertanyaan saat melihat raut muka Ardio. Sekarang waktu yang tak tepat untuk dia mengajukan pertanyaan.


Lalu Bams menarik ponselnya dari saku celana jeansnya, dan mengusap layar ponsel beberapa kali dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


"Melihatmu begini, rasanya aku ingin mencuci otakmu Ar. Kau yang bodoh atau aku yang tak mengerti perasaanmu. Di luar sana dengan tampangmu kau bisa mendapatkan perempuan lebih...." Bams merapatkan mulutnya saat tatapan tajam Ardio seolah ingin menghunusnya. Pria itu memalingkan wajah dari Ardio dan ekor matanya masih melihat temannya itu sambil menahan senyum.


"Ya, terserah kau, itu hatimu. Aku hanya mengingatkan Ar" lanjut Bams tanpa melihat lansung pada Ardio.


Tatapan Ardio mulai kosong mengingat kembali pada masa lalunya dan Sella.


"Jika Sella di mata dunia terlihat buruk pun, hatiku tetap akan sama. Kadang aku merasa dirikulah yang bisa mengerti dia, meski tak sepenuhnya aku paham. Melihat sorot matanya, tiba-tiba rasanya aku ingin melindungi, entah dari apa? Dia terlalu tertutup untuk menunjukkan semuanya, dia seperti tak peduli dengan perasaan orang lain, tapi dia diam-diam ingin menolong.


Dia seolah takut menunjukkan kebaikannya. Dia takut dengan kebahagiaan yang berlebih, karena dia percaya sedih bahagia itu akan terus berputar dan mengambil dari dirinya secara tiba-tiba. Dia hanya perlu orang yang mengerti dan mendampinginya untuk menghadapi dunia ini." Kesimpulan Ardio setelah mengingat bagaimana sikap dan ucapan Sella selama delapan tahun dia mengenal perempuan itu.


"Kau yakin, kaulah orang itu?" tanya Bams kini dengan raut serius.


"Aku yakin seperti ... dia yakin padaku" jawab Ardio antusias di awal kata lalu melemah pada kata-kata bagian akhirnya.

__ADS_1


Bams memahami nada suara Ardio, dia tak memprotes, pria itu coba mengerti bahwa Ardio tengah meyakinkan dirinya sendiri.


"Ya, kau memang cocok dengannya, cara pikir kalian begitu rumit tak seperti kebanyakan orang. Aku hanya ingin kau bahagia Ar" ungkap Bams menenangkan Ardio.


"Arrrgh ..., kau membuat aku jadi melow begini." Kesal Bams dengan melemparkan bantal kecil ke wajah Ardio sambil beranjak pergi.


Ardio hanya terkekeh melihat temannya sekaligus manajernya itu.


"Lihat saja, jika perempuan itu mengecewakanmu Ar, akan aku nikahkan kau dengan Gea. Adik cantikku pasti sangat senang menerima dirimu" pekik Bams dari arah pantry.


Air mata Sella makin luruh di balik pintu kamarnya. Dia yang ingin menghampiri Ardio terhenti saat Bams lebih dulu menghampiri Ardio. Dia pun berbalik ke dalam kamarnya mencoba mendengarkan obrolan melalui celah pintunya, tapi jarak terlalu jauh hanya pekikkan terakhir Bams yang mampu dia dengar.


Akan aku nikahkan kau dengan Gea. Adik cantikku pasti sangat senang menerima dirimu.


Menyerahkah Ardio.


Menyerah, kata itu telah menyakitinya selama ini, semua orang pada akhirnya menyerah padanya.


Ibunya menyerah pada ayahnya hingga meninggalkan dirinya dan kakaknya begitu saja dengan pria lain.


Kakaknya juga menyerah, dia lebih memilih memisahkan diri dan meninggalkan dia dan ayahnya hidup bebas diluar sana jauh darinya.


Ayahnya juga menyerah begitu saja, membiarkan ibunya pergi tanpa berjuang untuk mempertahankannya, setidaknya demi dia dan kakaknya.


Dan dia juga pernah menyerah saat dijodohkan dengan Vano, melupakan cintanya sendiri. Dan sekarang Ardio akan menyerah padanya.


Sella tersenyum dalam tangisnya. Dunianya memang begini, sepi dan selalu di tinggal.


Sella semakin yakin, orang tak perlu tahu bagaimana dirinya. Biarlah kesunyian menemani lukanya, cukup dia saja yang menikmati sendiri. Ibu, kakak dan ayahnya saja tak peduli dengan perasaannya, apalagi orang lain.


Jika dia tak percaya bahagia, bagaimana dia bisa merasakan bahagia. Karena itu dia butuh seseorang untuk meyakininya bahwa dia berhak untuk bahagia.

__ADS_1


__ADS_2