
Pria itu keluar dari kamar mandi dengan tergesa-gesa, busa sabun di tubuhnya masih menempel dan begitu juga busa sampo tampak tak terbilas dengan sempurna. Lilitan handuk yang asal-asalan dan belum lagi tetesan air jatuh dari rambut membasahi bagian pundaknya, tampak sama sekali belum sempat ia seka dengan handuknya.
Matanya terpaku menatap istrinya dengan seksama, perempuan itu hanya menunduk malu di meja rias, selebihnya dia tampak sangat sehat dan tak terlihat terjadi sesuatu padanya.
Hanya bibirnya saja yang tampak berbeda dengan polesan lipstik merah menyala, warna yang tak Vano sukai.
Warna yang hampir tiap malam menghantui tidurnya, dengan bayangan wajah ibunya yang kesakitan di tiap malam, melawan penyakit yang telah menggerogoti tubuh kurus sang ibu. Vano sengaja bangun di tengah malam dan menjelang pagi sebelum ibunya bangun, dia dengan sembunyi-sembunyi menghapus jejak darah yang mengalir dari lubang hidung bangir ibunya, kadang air matanya ikut mengalir melihat kondisi sang ibu.
Saat hari terakhir, dia menghapus jejak darah dari hidung ibunya, bibir pucat ibunya telah dipenuhi dengan darah kental yang masih segar. Tangan mungilnya yang sedikit bergetar mencoba membersihkan, meski yang terjadi darah itu makin bergelimang di wajah pucat ibunya. Suara paraunya yang bercampur dengan deru tangisnya berteriak minta tolong.
Sepuluh tahun saat itu usianya, anak seumurannya tak seharusnya menanggung beban dan menghadapi sendirian. Ibunya selalu berusaha tampak tegar dihadapannya dan menyembunyikan penyakitnya dari diri Vano.
Bocah sepuluh tahun itu pun berusaha berpura-pura tidak tahu. Kebencian pada ayahnya makin menggunung ketika itu, pria yang seharusnya ada disamping ibunya malah sibuk berkelana mencari wadah untuk dia tanamkan benihnya.
Kehadiran bunda dalam hidup ayahnya merubah pria tua tersebut, bunda adalah adik ibunya. Dia sebelumnya tinggal di kota berbeda dengannya. Sebagai satu-satunya keluarga ibunya, perempuan itu merasa berkewajiban untuk merawat Vano. Statusnya yang single yang tak di karunia anak makin meyakinkan dirinya untuk menjaga keponakan satu-satunya. Tapi takdir tuhan menjadikan dia ibu sambung untuk Vano.
Sampai saat ini bundanya hanya tau, alasan Vano membenci lipstik berwarna merah darah karena merasa jijik, tapi jauh dari itu ada ketakutan masa lalunya yang membuat bayangan ibunya hadir dengan rintihan kesakitan, karena itu Vano selalu protes saat bunda memoleskan warna merah darah itu pada bibirnya.
Vano pun menyadari keusilan bundanya dan melangkah kaki ke arah pintu kamar. Dia berdiri diambang pintu dan berteriak kencang, memprotes dengan apa yang di lakukan bundanya pada Allin. Hal yang selama ini, tak pernah dia lakukan berteriak kencang dalam rumah melampiaskan rasa kesalnya. Dia tidak peduli seluruh pelayannya yang berada di dalam rumah akan turut mendengar kekesalannya pada bunda.
Bagi mereka yang tak tahu ini hanyalah lelucon, tapi tidak dengan diri Vano, ada sayatan tak kasat mata menggores lukanya. Dia tidak akan seserius ini menanggapi jika orang lain yang menggunakan, tapi ini Allin, istrinya. Bayangan ibunya terasa bergantian mampir di wajah istrinya. Membayangkannya saja membuat lututnya terasa lemas, ia tak ingin lagi merasa kehilangan.
Setelah itu Vano bergegas melangkahkan kakinya menuju Allin, perempuan itu termangu tak paham, melihat reaksi suaminya menatap dirinya dengan tajam.
Sesampai di dekat Allin Vano bergerak mengambil tisu basah di atas meja rias.
Allin hanya diam, menatupkan bibirnya, tatapan Vano yang tak biasa, membuat ia bungkam tak berani untuk bertanya. Ekor matanya mengikuti setiap gerakan Vano dengan rasa heran.
__ADS_1
Ada apa dengannya.
Vano mengulurkan tangannya pada bibir Allin untuk menghapus lipstik yang menempel di bibir mungil Allin, tapi belum sempat Vano menghapus lipstik di bibir istrinya, perempuan itu menepis tangan suaminya.
"Jangan ...," tolak Allin dengan nada suara lembut.
"Sayang, warna ini terlalu mengerikan untukmu." Protes Vano dengan nada tinggi. Sontak Allin merasa sedih dan kecewa.
"Kenapa kau memarahiku?" Rengek Allin dengan tetesan air mata yang jatuh pada pipinya.
Allin setuju dengan yang diucapkan suaminya tapi dia tak ingin warna pucat bibirnya membuat Vano ikutan berpikir seperti mertuanya. Membayangkan saja sudah membuat nyeri dihatinya.
Bibirmu seperti pantat ayam
Jika bunda yang mengatakan mungkin dia bisa saja mengabaikan, tetapi tidak, jika itu keluar dari mulut suaminya.
"Maafkan aku ...!" Mohon Vano sambil berlutup di hadapan Allin, matanya pun turut berkaca telah menyakiti istrinya. Emosi dan ketakutan akan kehilangan sosok yang dicintainya, membuat dia membentak istrinya.
"Jangan membentakku lagi!" Protes Allin dengan wajah yang sudah bergelimang dengan warna lipstik yang menyebar ke sebagian wajahnya.
Vano pun terkekeh.
"Kau mentertawakan aku!" Tangan Allin pun menahan gerakan tangan Vano pada bibirnya, dia tidak akan mengizinkan suaminya menghapus lipstik itu jika apa yang ditakutkannya, tentang Vano juga berpikir sama seperti bundanya, mengenai bibir pucatnya. "Aku pasti terlihat sangat jelek sekali, kan."
Allin ingin membalikkan badannya ke arah cermin di tahan oleh tangan Vano.
"Kau tetap terlihat cantik, baik atau tanpa menggunakan apa pun" rayu Vano mencoba menebak apa yang dipikirkan istrinya.
__ADS_1
"Kau tidak berbohongkan." Tanya perempuan itu dengan tatapan mata yang polos.
Vano mengangguk setuju dengan senyuman meyakinkan.
Allin pun membiarkan tangan suaminya tetap menghapus sisa lipstik di bibir dan wajahnya dengan pelan.
Senyum jailnya pun terukir, saat melihat tubuh Vano dengan kondisi setengah polos, tangannya berselancar atau membuat pola di dada bidang suaminya, atau dia memainkan anak rambut Vano dengan mempelintir rambut itu membuat seperti duri landak. Untuk sesaat Vano membiarkan sikap jail tangan istrinya.
Aroma sabun dan sampo yang wangi terhendus jelas dipenciuman Allin, membuat dia mengendus-ngendus hidungnya pada tubuh Vano.
"Kenapa dengan hidungmu." Protes Vano sambil menyentil hidung istrinya dengan pelan.
Allin yang usil terus mendekatkan hidungnya ke tubuh Vano dengan mengendus lebih dalam. "Kau wangi!" Lirihnya.
Gerakan Allin yang tak mau diam membuat Vano menghentikan gerakan tangannya.
Seringai licik terbesit di wajah Vano, dia pun menggendong Allin ala brydal membawa istrinya ke kamar mandi bersamanya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Membersihkan wajahmu"
Sontak Allin membolakan matanya, apalagi melihat seringai suaminya saat dia menunduk menatap Allin dengan tatapan mencurigakan, perempuan itu menyadari akan di bawa kemana dia.
"Jangan sayang, aku tak ingin mandi. Di luar hujan, udara sudah dingin, aku tak ingin tambah kedinginan lagi." Alasan Allin yang dibuat-buat.
Vano tak menggubris protesan Allin, dia tetap melangkah menuju kamar mandi meski tangan istrinya terus memukul dada dan lengannya.
__ADS_1
Aku tak ingin mandi, aku tak ingin bertemu air, aku ingin tidur.
Kata-kata yang tak lepas dari mulut Allin semenjak dia hamil.