Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Penjelasan


__ADS_3

Sella melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, rasa penasaran kian menjadi, dari tadi sore dia telah mengirimkan pesan pada Vano, menanyakan hal yang terjadi semalam. Tapi Vano tak kunjung membalas membuat Sella makin tak tahan ingin menemui calon mantan suaminya itu.


Setelah sampai di gerbang pintu rumah Vano, dia pun menekan klakson mobilnya dengan kasar.


Penjaga hanya menggeleng dengan sikap Sella, entah apa status Sella sekarang ini mereka tetap menghormati meski dengan gerutuan dalam hati.


Sapaan hangat penjaga gerbang pun tak Sella sahutin sama sekali, dia malah menjadi menancapkan gas mobilnya melewati halaman yang tak seberapa jauhnya dari gerbang dan tak lama kemudian terdengar decitan ban mobilnya menahan laju putaran roda.


"Malam, Bi" Sapa Sella saat seorang pelayan membukakan pintu.


"Malam Bu Sella" Balas pelayan itu dengan senyuman yang ramah.


"Vano ada Bi?" Sella tak tertarik dengan sambutan pelayan tersebut dia lebih tertarik mengedarkan matanya ke lantai atas.


"Ada Bu, tuan sedang berada di ruang kerja, kebetulan saya ingin memanggilnya untuk makan malam. Dan bu Allin ada di dapur." Ujar pelayan itu membalas jawaban Sella dengan panjang.


"Tidak perlu, biarkan aku memanggilnya. Dan bilang sama Allin aku menemui Vano sebentar."


"Ibu kok minta izin sama saya, seharusnya ibu minta izin sama bu Allin." Nyinyir pelayan itu dengan rasa takut tapi apalah daya mulutnya tak bisa dia tahan untuk tak protes.


Sella menatap dengan geram, kalau saja dia masih menjadi majikan pelayan dalam rumah ini, mungkin akan dia jahit mulut pelayan itu. Dan sontak pelayan tersebut menciut ketakutan melihat tatapan Sella yang menusuk.


"Kau bilang saja begitu" Jawab Sella dingin sambil berlalu pergi meninggalkan pelayan yang masih diam termangu.


"Huh, dia masih saja menakutkan, tak ada manis-manisnya." Gerutu pelayan tersebut dengan nada suara sepelan mungkin.

__ADS_1


Tanpa menyapa Allin yang berada di dapur, Sella lansung saja menemui Vano d ruang kerjanya.


"Vano, jelaskan apa yang terjadi semalam?" Tanya Sella seketika dia telah menutup ruang kerja Vano.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Mengapa kau memintaku untuk menyusul ke hotel tersebut?" Protes Vano tak suka melihat sikap Sella yang menerobos begitu saja ke dalam ruangan kerjanya.


"Aku ingin menemui Mila" Ucapnya sambil mendaratkan pantatnya di kursi yang berada di depan meja kerja Vano.


"Untuk apa?" Tanya Vano curiga. Dia pun menghentikan pekerjaan menatap Sella penuh tanda tanya.


"Aku tak ingin menjelaskannya, setelah aku pastikan semuanya, aku akan memberitahumu." Ujar Sella dengan nada suara dominan tak ingin di bantah.


Vano menatap tidak suka pada Sella, tapi dia tak ingin memaksa karena itu percuma.


"Lalu jelaskan kenapa kita bisa ...," Sella tak melanjutkan kata-katanya, dia hanya mengedikkan dagunya untuk Vano segera menjawab.


"Sesampai di hotel aku menghubungimu, dan seorang mengangkat panggilan dariku. Dia mengaku sebagai pelayan hotel dan mengatakan kau sedang tergeletak di koridor hotel paling belakang. Segera aku menyusul, tapi yang aku herankan saat aku menemukan kau tergeletak begitu saja di atas lantai tanpa ada yang menemani disisimu. Aku tidak tau, apa yang terjadi padamu saat itu. Aku berniat membawamu ke klinik di dalam hotel dan tiba-tiba kau terjaga dan merintih kepanasan lalu ...." Vano mencoba menguras otaknya, kata apa yang cocok untuk menggambarkan sikap Sella yang hilang kendali dan para pelayan hotel yang melihat Vano kepayahan pun turut membantu untuk menenangkan sikap Sella. Dan yang tak dia duga adalah Sella juga berkelakuan sama pada pelayan hotel yang ada didekatnya, dia terus menggoda dan memepet mereka.


"Lalu apa?" Sella menuntut Vano agar segera berbicara sambil dia memperbaiki cara duduknya.


"Ya begitu," jawab Vano serasa enggan menyahuti.


"Jeslakan Vano?" Tuntut Sella penuh penekanan, dia mulai kesal dengan jawaban Vano yang terlalu bertele-tele.


"Kau terus menggodaku dan aku tak kuat melihat sikapmu dan aku membawamu ke kamar hotel" Ujar Vano sengaja tak ingin terlalu jujur agar perempuan dihadapannya ini tak bertanya lagi.

__ADS_1


Menggoda? Sella pun mengernyitkan dahinya.


"Karena kau seperti cacing kepanasan," lanjut Vano dalam hatinya.


Vano sungguh tak ingin melanjutkan kata-katanya dia tau Sella takkan terima, perilakunya berkebalikan 180 derajat dengan sikap aslinya.


Di balik pintu ruangan kerja Vano, gerak tangan Allin tiba-tiba terhenti, handle pintu yang telah dia dorong perlahan agar terbuka dia tarik kembali.


Padahal sengaja dia bergegas ingin menyusul masuk ke ruang kerja suaminya saat pelayan yang dia minta tolong memanggil Vano mengatakan kedatangan Sella dan juga menjelaskan Sella izin ingin bertemu Vano.


Untuk sesaat Allin tidak percaya dengan gambar-gambar yang dikirimkan Mila. Dia yakin dengan dua orang yang dia kagumi itu takkan mengkhianatinya dari belakang. Jika mereka ingin, mereka akan jujur padanya dan takkan bersembunyi-bunyi untuk melakukan hal itu.


Toh, dialah orang ketiga di antara hubungan ini, yang muda mereka singkirkan dan tak perlu berbuat hal aneh-aneh dan mencari perhatian publik dengan pergi ke hotel dan membiarkan tangkapan kamera memergoki mereka.


Tapi nyatanya Mila hanya mengirimkan gambar itu pada dirinya, Allin bersyukur untuk itu. Dia takkan mampu bicara lagi dihadapan Vano, jika Mila turut menyebarkan ke media sosial.


Keberanian Allin seolah luntur mendengar penuturan suaminya yang hanya beberapa kata telah membuat hatinya ngilu. "Kau terus menggodaku ...." Apalagi suara renyah suaminya terdengar seperti sangat senang tak elak membuat rasa cemburunya menguar.


Belum sempat dia menutupkan pintu itu dengan rapat, suara kekehan Vano terdengar nyaring dari dalam melunturkan rasa percaya dirinya selama ini. Dia pikir selama ini suara tawa suaminya yang begitu langka hanya terdengar saat-saat mereka bersama. Vano sekarang terlihat berbeda dari awal Allin berjumpa dengan suaminya itu, sikap dinginnya mulai menghilang semenjak kejadian Vano ingin memutuskan untuk rujuk kembali padanya, dia pikir Vano sudah merasa nyaman dengannya.


Atau Vano tak jauh beda dengan dirinya yang suka berpura-pura menunjukkan sesuatu kadang berkebalikan dengan suasana hatinya.


Allin tau pembicaraan itu membahas tentang mereka semalam. Dia menarik diri dan menutup telinganya rapat-rapat untuk tidak tau lebih banyak lagi, sudah cukup fakta yang dia ketahui yang membuat hatinya remuk redam dan itu akan bertambah ngilu lagi jika dia tetap berdiam mendengar pembicaraan mereka.


Langkah cepatnya ia ambil menjauh dari pintu dan bergegas masuk ke dalam kamarnya. Dia terperosot di balik pintu menjatuhkan bulir air matanya, dia menggerutui diri sendiri karena begitu lemah hatinya. Momen-momen ini sudah dia perkirakan sebelumnya, tapi hatinya tetap saja belum siap untuk menghadapinya.

__ADS_1


Nyatanya, Allin terlalu hanyut dalam kecemburuannya, dia menjadi sensitive, menduga yang tak seharusnya, mengartikan hanya berapa kata dengan asumsinya. Akalnya telah tertutup dengan rasa cemburu menumbuhkan ketakutan dalam dirinya pada kenyataan yang dia duga itu adalah salah. Air mata yang seharusnya tak perlu mengalir, bergulir jatuh sia-sia.


__ADS_2