
Malam yang panjang telah mereka lewati ....
Mereka berbincang sejenak, setelah pergumulan hebat yang mereka lakukan. Alin akhirnya mengeluarkan uneg-uneg dari hatinya karena seharian Vano Pergi dan tak memberi kabar padanya.
"Kau pergi ke mana tadi Tuan?"
"Aku berada di kantor"
"Aku tak percaya, ini kan hari libur" Allin menengadahkan wajahnya dari dada Vano untuk menatap lekat pada mata suaminya itu.
"Percayalah Alin, aku sungguh berada di kantor lalu menurutmu aku ke mana?" Vano tersenyum melihat sikap Allin. Dia sadar perempuannya ini terlalu posesif tetapi tidak ingin mengakuinya.
"Siapa tahu kau mencari hiburan diluar sana" Allin membenamkan lagi kepalanya di dada suaminya.
Vano memicingkan matanya dan menarik wajah Allin untuk menatap balik matanya.
"Hiburan seperti apa yang kau maksud"
"Ya, aku tidak tahu!" sahut Allin.
"Kau pecemburu sekali Allin" Vano makin mendekap Allin lagi lebih erat.
"Tidak!" sangkalnya dengan antusias, lalu Allin menggeleng lemah. "Aku hanya bertanya, dan kenapa ponselmu mati seharian ini. Aku pikir, kau sedang bersenang-senang tidak ingin diganggu" sangkalnya lagi tapi raut sedih nampak jelas di wajah Allin.
"Aku memang tidak ingin diganggu" jawab Vano jujur, "tetapi aku sungguh menyibukkan diri dengan pekerjaan, karena itu ponselku sengaja aku matikan." Jelas Vano meyakinkan Allin.
"Kenapa ponselmu kau matikan" Allin tetap merasa ragu dengan ucapan Vano, nada kecemburuan tetap lebih dominan dalam pertanyaannya.
"Aku kesal padamu dan aku sengaja mematikan ponsel, agar jemariku dapat aku tahan untuk tidak menelponmu. Apakah kau puas!" Akui Vano, dia merasa kalah dengan sikap posesif Allin, yang membuatnya dia harus jujur, dan menunjukkan kelemahannya, bahwa dia tak bisa jauh dari Allin.
"Kau seperti anak-anak saja Tuan, mudah sekali kesal" cibir Allin tetapi senyumnya sudah merekah di wajahnya.
"Iya, aku juga heran! Kenapa aku mudah sekali kesal padamu," gemas Vano sembari mencubit pipi Allin.
"Ya, mana aku tahu"
Karena aku mengharapkan dirimu, tetapi kau menolakku. Bagaimana aku tidak kesal Allin.
"Kenapa saat Bu Sella menghubungimu, ponselmu dalam keadaan menyala" Allin masih saja belum puas untuk mengorek informasi dari Vano.
"Kau menguping pembicaraan kami Allin!" tegur Vano.
"Tidak, aku hanya tak sengaja saja mendengar" belanya dengan antusias.
"Lalu dari mana kau tahu, itu panggilan dari Sella"
"Ya dari jawabanmu lah saat kau menerima panggilan itu"
"Mana ponselmu!" pintanya.
"Untuk apa Allin?" tanya Vano tetapi tetap memberikan ponselnya pada Allin.
Perempuan itu menggeser layar dan membuka kode kunci berupa pola garis yang sama dengan ponselnya.
"Kau peniru Tuan!"
"Aku tidak meniru Allin, aku hanya menyamakan dengan kode kuncimu" sangkal Vano.
__ADS_1
Allin mencibir membalas ucapan Vano.
***
Bi Ina sedang menjaga Dio saat Allin menghampirinya.
Saat mata Allin terbuka, hari mulai terang. Dio sudah tak berada di dalam box bayinya, begitu pun suaminya.
"Bi, Bu Sella ada dimana?"
"Oh, Non Sella sudah berangkat Lin" sahut bibi sambil menatap kedatangan Allin.
Ali mengangguk mengerti
Mata perempuan itu memperhatikan Allin begitu lekat. "Lin, apakah kamu baik-baik saja" tanyanya yang serat rasa khawatir.
"Aku baik-baik saja, Bi" Allin merasakan tubuhnya baik-baik saja hanya sedikit rasa lemas karena kurang waktu tidurnya.
"Tetapi wajahmu begitu pucat Alin"
"Tidak apa-apa Bi, mungkin aku sedikit masuk angin. Semalam aku mandi air hangat dan aku baru bisa tidur ketika hampir subuh" jelas Alin panjang lebar untuk meyakinkan bi Inah.
Penciuman Allin merasa terganggu, aroma menyengat yang tidak enak masuk ke dalam indra penciumannya.
"Bibi barusan masak apa?"
"Bibi masak sop buat Dio."
"Apakah Bibi menggunakan racikan baru"
"Tidak Allin, Bibi masak dengan racikan seperti biasanya."
"Bibi rasa tidak, aromanya sangat lezat. Lihat saja Dio begitu lahap melahap makanannya"
Allin mengangguk mengiyakan tetapi penciumannya sudah tak tahan berada di ruangan makan ini.
"Bi, aku titip Dio ya! Aku ingin makan di teras belakang saja"
Bibi mengangguk sembari memperhatikan Allin dan hati kecilnya bersuara.
Mungkinkah Allin sedang mengandung.
"Semoga saja" guman bi Inah sembari mengaminkan di dalam hati.
***
Vano menyempatkan pulang lebih awal. Saat memasuki rumah, suasana terlihat sepi, hanya ada beberapa pelayan yang sibuk melakukan tugasnya. Suara cempreng Allin dan suara renyah Dio tak terdengar sama sekali.
Vano mencoba bertanya pada pelayanan tentang keberadaan Allin dan Dio. Setelah mengetahui keberadaan sosok yang dia cari dengan langkah lebar dia menghampiri Allin. Perempuan itu terbaring lemah di atas ranjang di temani bayi Dio yang asyik bermain.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Vano sembari menghampiri Allin di atas ranjang.
"Ini karenamu" tuding Allin sembari mengerucutkan bibirnya. Vano dengan spontan menarik bibir itu lebih maju dengan rasa gemas.
"Kenapa?"
"Aku masuk angin, karena semalam kau menyuruh aku untuk mandi" gerutu Allin.
__ADS_1
"Maafkan aku" ucap Vano penuh penyesalan.
Dia makin mendekat, membawa Allin kepelukannya.
"Kita ke dokter ya? Atau aku panggil dokter kemari"
"Jangan Tuan! Kau terlalu berlebihan"
"Wajar Allin, aku suamimu. Dan aku ingin terbaik untukmu"
Allin terdiam, lalu dia memposisikan wajahnya sejajar dengan Vano.
"Tuan, jangan bilang kau memilihku untuk di sampingmu" tembak Allin dengan wajah serius.
"Kalau iya kenapa, aku dan Sella sudah memutuskannya."
"Tidak, Tuan. Kau membuat aku seperti perempuan perebut suami orang"
Vano merangkum kedua pipi Allin. "Tidak Allin, kau dan semua orang di rumah ini tahu, kau tidak merebutku dari Sella." Vano membujuk dan meyakinkan istrinya itu.
"Bolehkah aku egois menerimamu"
Vano mengangguk.
Dengan berurai air mata Allin melemparkan tubuhnya ke dalam dekapan Vano. Suaminya menyambut dengan senang hati.
Tuhan biarkan aku egois, bolehkah? Ini terlalu manis untuk aku elak.
***
Di meja makan semua telah berkumpul, ada Sella dan ayahnya, bunda dan ayahnya Vano, tak tertinggal Allin dan Vano.
Allin tiba-tiba merasa detak jantungnya ingin berhenti. Firasat buruk menghampirinya saat matanya bertemu dengan kedua bola mata yang memerah dan penuh kebencian menatapnya.
Allin rasanya ingin bertanya. Ada apa? Atau menarik sosok itu mendekat padanya, untuk menggenggam tangannya seperti tadi penuh kehangatan.
Tapi tidak mungkin ada orang lain di sekitarnya membuat nyalinya ciut.
Menatap matanya Allin seperti tercabik, ada sayatan yang tak kasat mata merobek ulu hatinya.
"Aku akan menceraikan Allin!!" suaranya begitu lantang dengan kedua bola mata yang penuh keyakinan menatap kedua orang tuanya.
Tek. Sesuatu telah menusuk dengan tepat pada jantung Allin, membuat dia kesakitan yang parah, jemarinya telah mendingin, apalagi otaknya tak mampu berkerja dengan baik.
Dia mencoba menggeser kursinya ke belakang, tetapi malah tubuhnya yang begerser ke lantai.
Sella juga ikut terkejut, tidak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa suaminya berkata begitu, padahal mereka sudah mengambil keputusan.
Bunyi kursi menggeser menarik perhatiannya, Allin terjatuh ke lantai dengan sigap dia membatu.
Dengan susah payah Allin tersenyum pada Sella. "Aku tidak apa-apa" jawab perempuan itu mencoba menepis tangan Sella dan membangunkan dirinya sendiri.
Sosok Vano tak bergeming, ekor matanya pun tak ingin dia lirikan pada perempuan yang berada di sampingnya.
Bunda menatap Allin dengan permohonan maaf. Ayah Sella dan ayah Vano lebih tertarik dengan sikap cuek Vano.
Sesungguhnya apa yang terjadi? Pertanyaan berkeliaran di benak ayah Vano, dia melihat sosok lain dalam diri Vano. Anaknya takkan melukai hati perempuan, apalagi dengan sikap Vano barusan tanpa pembukaan dia mengumumkan dengan rasa emosi.
__ADS_1
Sedangkan ayah Sella meletakkan berkas-berkas surat perceraian Sella di atas meja, yang di pinta anaknya tadi pagi.
***