Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Aku tak apa


__ADS_3

Allin tampak ceria bermain dengan Dio di ruang tamu, tempat ini sengaja ia pilih, untuk menunggu kehadiran Vano yang belum juga pulang.


Semalam dia terlalu banyak menangis, saatnya sekarang dia harus seceria mungkin, dia tak ingin terlihat menyedihkan hingga membuat orang berada disekitarnya mengasihani.


Tadi pagi hanya bi Inah yang berani bertanya pada Allin, kemana pergi tuannya tadi malam. Allin pun menjawab dengan kalimat tenang, meyakinkan bi Inah bahwa Vano harus melakukan pekerjaan penting.


Pekerjaan penting apakah yang tengah dilakukan tuan Vano pada waktu malam hari, bersama dengan calon mantan istrikah atau istri pertamanya. Sindir Allin pada dirinya sendiri.


Dia ingin mematikan rasa yang ada dalam hatinya, dia terus berpikir hal-hal yang negatif tentang suaminya bersama Sella. Bukan dia tidak mempercayai Vano.Tapi dia sedang menguji ketahanan mentalnya jika itu benar-benar terjadi, dia sudah mempersiapkan hatinya untuk tak tersakiti dan melangkah dengan mudah untuk pergi.


Tapi nyatanya bulir bening itu sekali-kali jatuh tanpa dia sadari, gemuruh itu terlalu kuat menggoyahkan hatinya, meremuk segala rasa yang dia punya.


Dia belum terlalu berpengalaman seperti Sella yang tahan dan kuat saat suaminya berada dalam pelukan perempuan lain. Atau dia yang terlalu egois untuk memiliki Vano keseluruhan, dia tidak ingin berbagi dengan siapa pun termasuk pada pemilik yang sebenarnya.


Vano hanya titipan sementara untuknya tapi dia sungguh tak rela jika kebersamannya yang sementara ini harus di bagi bersama Sella. Mungkinkah usianya yang terlalu muda untuk memahami kata berbagi, banyak perempuan kuat di luar sana yang mampu berbagi suaminya, tapi dia tidak pernah terpikirkan kesitu.


Vano pulang dengan gurat khawatir yang tak lepas dari wajahnya. Kakinya dia hela ke arah Allin, istrinya itu pun belum menyadari kehadirannya. Dia bersyukur melihat ponselnya hanya ada dua pesan dari Allin, yang isinya tak ada kata-kata yang mengarah suasana hati Allin sedang buruk atau pun marah.


Pukul 01.10


Allin: Sayang, hari sudah terlalu malam dan hujan deras, kau hati-hati di jalan. Jika kau merasa tak kuat mengemudikan kendaraanmu sebaiknya kau istirahat.


Pukul 07.00


Allin: Kau sudah bangunkah. Jangan lupa sarapan, perlukah pak herman mengantarkan pakaianmu ke kantor.


Setelah membaca pesan itu, Vano berpikir istrinya tidur dengan nyenyak tanpa terganggu atau merasa khawatir padanya saat semalam dia belum kembali.


"Aku merindukanmu" Peluk Vano dari belakang sembari memberikan kecupan beruntun di kepala istrinya.


Air mata Allin menetes begitu saja, dengan segera dia hapus.


Perlakuan Vano terlalu manis untuknya, tak mungkin dapat dia sangkal hatinya selalu berbunga dengan perlakuan suaminya itu.


Tapi rasa cemburu menariknya hingga timbullah rasa sesak didadanya yang menjad-jadi, Allin berusaha melawan.


Dia pun membalikkan badannya, mengukir sebuah senyum dan berbalik memeluk erat tubuh Vano.

__ADS_1


"Aku juga merindukanmu" dengan suara paraunya menahan air mata.


Dibalik punggung Allin, Vano tersenyum senang dan lega, rasa khawatirnya telah gugur bersamaan dengan balasan pelukan Allin.


Tidak dengan Allin, dia makin merasa takut, bahwa ini semua hanya sebuah topeng yang dilakukan Vano untuk menjaga ketenangan batinnya demi calon anak mereka yang berada dalam perutnya.


Pikiran negatif kadang mematikan akal sehat, menduga-duga berdasarkan asumsi semata. Membuat tidak percaya diri pada diri sendiri dan orang lain.


"Maafkan aku, tak mengabarimu dan tak pulang semalam." Jawab Vano singkat. Rasanya ingin jujur dan menjelaskan semua, tapi dia tak ingin menambah beban Allin.


Allin hanya mengangguk dalam dekapan Vano, dia tak ingin tau lebih dalam dan bertanya lebih. Karena Vano sudah meminta maaf saja sudah cukup. Ia tidak ingin serakah menginginkan apa pun lagi, apalagi untuk melarang mereka yang masih berstatus suami-istri.


Pernyataan Sella beberapa hari yang lalu sudah cukup membuat hatinya ngilu. Kini biarlah dia pura-pura tidak peduli, dia butuh Vano saat ini demi anaknya.


Allin pun menghapus jejak air matanya sebelum dia melepaskan pelukan pada tubuh Vano. Allin tersenyum seceria mungkin, menutupi raut kecewanya agar terlihat baik-baik saja di mata Vano.


Pesan Mila sedikit banyak sangat menggangu ketenangannya, dia harus berpura tidak apa-apa dihadapan Vano. Dia tidak bisa membayangkan jika Vano tahu Mila sudah mengirimkan gambar-gambar kebersamaan mereka. Vano pasti merasa tak enak hati padanya dan kian membenci kakaknya itu.


Bagi Allin aib Mila adalah kewajibannya untuk dia tutupi, tak boleh seorang pun berpikir kakaknya jahat apalagi sampai ingin mempenjarakannya.


"Kau tak pergi ke kantor?" Tanya Allin mengalihkan obrolan mereka.


Sontak Allin mendelikkan bola matanya sembari melihat sekitar. "Aish, sayang apa yang kamu lakukan." Protes Allin sambil mencoba melepaskan rangkulan tangan Vano di pinggangnya.


"Kenapa?"


"Kita sekarang berada dimana, bagaimana pekerja lain melihat kita begini" Protes Allin yang sudah kembali seperti dirinya yang biasanya.


"Aku sungguh merindukanmu" Ucap Vano makin menarik Allin dan meletakkan kepalanya di pundak istrinya.


Kehangatan mereka hanya sesaat, ada makhluk lain yang sedang cemburu yang berada di dekat mereka.


"Pi ..., pas ma!" Dio memukul kaki Vano dari bawah. Vano pun tersadar ada anak tampan yang tadi dia abaikan.


Rasa senang dan haru, untuk sesaat mereka melupakan anak tampan yang sedang bermain di lantai.


"Astaga sayang, maafkan Papi. Kau juga merindukan papi, kan." Tebak Vano percaya diri sembari mengangkat Dio ke dalam gendongannya.

__ADS_1


Dio segera menggeleng dengan cepat, tidak menyetujui apa yang dikatakan papinya. Sontak Allin dan Vano tertawa bersamaan dan menular ke Dio, bayi tampan tersebut turut juga tertawa.


Tuhan biarlah begini, meski semua hanya sementara, aku tak apa-apa. Batin Allin yang tiba-tiba tawa riangnya berubah menjadi tawa getir.


"Anak pintar" Vano pun mendusel-ndusel perut Dio membuat bocah kecil itu makin jadi tawanya.


Allin mundur beberapa langkah, menjauh dari pandangan Vano, menghapus air mata yang sudah dia tahan dari tadi.


Vano pun berbalik saat tak melihat istrinya tak dihadapannya.


"Kau kenapa sayang?" Tanya Vano khawatir melihat Allin tertangkap basah menghapus air matanya.


"Tidak apa-apa, aku terlalu senang saja" Alasan Allin makin buru-buru menghapus air matanya yang bergulir tak bisa di bendung.


"Kau merindukan Tegar ya!" Tebak Vano.


Allin terlalu sering menangis karena merindukan Tegar, jadi Vano hanya terpikirkan kesana tanpa tau istri hatinya sedang hancur karena kepergiannya semalam.


Komunikasi adalah penghubung suatu ikatan, kurangnya terjalin komunikasi membuat kesalahan sepele menjadi besar dan lebih parahnya akan menjadi bom waktu yang bisa merusak ikatan itu.


"Sayang, aku harus segera berangkat ke kantor" Ujar Vano sembari mengulurkan Dio ke sisi Allin.


Allin menerima Dio dan membawa bocah tampan itu ke taman belakang, mengantarkannya ke pengasuhnya. Setelah itu Allin menyusul Vano ke kamar, memilihkan baju dan membantu menyiapkan semua keperluan suaminya.


Dada bidang suaminya tak semulus seperti biasanya, goresan kuku seperti cakar ayam tergambar jelas. Vano terlalu tak pekakah atau cakaran itu memang tak mengganggunya sama sekali untuk merasakan sakit.


Alli tetap menguatkan senyum membantu membalut tubuh kekar suaminya dengan kemeja putih, lalu dia memasang satu persatu kancing baju itu pada kaitannya.


Vano menikmati setiap perlakuan Allin yang selalu memanjakannya dengan hal kecil. Dia terlalu fokus pada kelegaan hatinya karena Allin tak marah mengetahui dia baru pulang.


Matanya pun kurang awas melihat ukiran senyum Allin yang tak tulus, senyuman yang Allin paksakan tampak baik-baik saja bagi Vano.


Setelah Vano pergi ke kantor Allin pun memperhatikan dengan lekat bekas lipstik di kemeja hitam Vano yang terlihat samar dan wangi parfum Sella tersemat jelas.


Aku tak apa tuan, jika kau kembali bersamanya. Aku tak apa tuan, jika kau bergumul panjang dengannya. Tapi hati ini yang tak tau diri dimana posisinya, dia kesakitan, dia kembang kempis di dalam membuat dadaku ikut sesak dan berakhir membuat aku berlinang air mata. Gumannya lirih sembari memeluk erat kemeja hitam suaminya


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2