
Hidup tak lepas dari rasa, akal, dan kepercayaan.
Tetapi ...,
Inti dalam kehidupan ini adalah kepercayaan.
Semua aspek kehidupan ini takkan berjalan tanpa kepercayaan
Seorang pembeli harus percaya dengan pedagang.
Seorang atasan harus percaya dengan bawahannya
Seorang istri harus percaya dengan suaminya.
Kau bisa merasakan banyak rasa, banyak ilmu, banyak hubungan, tapi itu takkan berarti apa-apa jika tidak adanya kepercayaan.
Rasamu, boleh tak lagi peka!
Akalmu, boleh tak se jenius ilmuan.
Tapi rasa percaya dirimu tak boleh kau ragu.
Kepercayaan?
Kau bisa menggunakan kepercayaan Allin, jika rasa dan akalmu sudah tak mampu menanggapi.
Lihatlah! Berapa banyak orang yang hidup yang tak punya mata, tak punya kaki, atau penyakit lain yang merenggut rasa dan akal mereka, tapi mereka tetap berjuang hidup untuk bahagia, karena mereka yakin dan percaya akan janji tuhannya.
Kepercayaan itu adalah harapan Allin.
Tingkat tinggi hubungan manusia dengan tuhannya adalah kepercayaan, kepercayaan yang membuat orang beribadah untuk melaksanakan pedoman hidupnya sebagai manusia yang lemah.
Ya kita lemah Allin, bukan hanya dirimu, tetapi kodratnya manusia itu memang lemah dan lalai.
Peganglah kuat rasa dan akalmu dengan kepercayaanmu itu.
Kau tak perlu pengakuan dunia untuk menjadi bahagia Allin, kau tak rusak, kau hanya mengalami luka kecil yang menyentil rasamu, akalmu masih mampu mengolah rasa itu untuk menjadi tak sesakit kau bayangkan.
Jika akalmu tak mampu mengobati lukamu, masih ada sebuah harapan tentang janji tuhan kepadamu, yaitu kepercayaan.
Jadi, tetaplah percaya.
Allin hanya diam dengan mata tertutup, pendengarannya ia pasang lebar-lebar menyimak setiap bait kata yang di sugestikan sang dokter ke dalam jiwanya. Kata itu menyusup masuk melalui gelombang dan getaran suara, di tangkap oleh telinga bagian luar, di teruskan oleh telinga tengah, lalu kemudian telinga dalam menyampaikan gelombang dan getaran suara itu ke sistem pusat syarat otak. Lalu otak akan menerjemahkannya dan disampaikanlah pada syaraf-syaraf lain.
__ADS_1
Menyentuh dan menenangkan, yang di tangkap oleh rasa Allin, Ilmu yang bermanfaat yang di tangkap oleh akal Allin.
*""
Sudah hampir dua minggu Allin keluar dari rumah sakit, tetapi suasana rumah tuannya masih terasa asing.
Semua teman kerjanya di dalam rumah ini melihat sosok Alin dengan tatapan berbeda, ada yang merasa canggung padanya, ada yang tak berani menyapanya, ada juga yang mau menyapanya tapi mereka seolah sungkan, ada juga yang menjadi kaku, dia di perlakukan seperti nyonya rumah yang galak.
Tetapi dia bukan nyonya rumah di sini, dia hanya orang pengganti, yang sifatnya sementara. Mereka seharusnya tidak perlu se canggung itu, karena bagi Allin sesungguhnya dia bukan siapa-siapa.
"Hai ...!" tegur Sella pada Allin.
Sella menarik kursi yang berada di depan Allin. Dia menatap perempuan itu dengan rasa tanya. Ingin dia mengajukan pertanyaan padanya. Bola mata Sella memutari setiap sudut, mencari adakah keberadaan sosok lain di antara mereka. Saat dia yakin, tidak ada siapa-siapa. Sella mencondongkan badannya mengarah lebih mendekat ke Allin.
Allin hanya menatap curiga dengan sikap majikannya itu.
"Allin, apakah kau sudah ada tanda-tanda?" tanya Sella sedikit ambigu.
Allin tau arah pertanyaan Sella, tetapi dia mengerutkan keningnya, berpikir bagaimana dia bisa hamil jika dia saja belum di sentuh.
Allin menggeleng.
Lalu tak lama kemudian mulutnya bicara, "Aku belum melakukannya" ucapnya malu.
Sella terdiam mendengar jawaban Allin. Dia mencerna kata-kata Allin dan memperhatikan raut wajah perempuan yang berada di depannya. Tak ada kebohongan di wajahnya.
Sella membenarkan sesuatu dalam hatinya tentang penjelasan Vano tentang keadaan Allin. Perempuan itu melupakan kejadian malam pertamanya, dia membuang ingatannya sebagian tanpa merusak ingatannya yang lain.
Kagum.
Itulah tanggapan Sella pada Allin. Perempuan di depannya memang lemah, tetapi dia punya kemampuan untuk menutupi kelemahannya dengan menghilangkan bayangan traumanya.
"Oo ..., begitu!" tanggapan Sella seolah mempercayai perkataan Allin.
"Maaf" jawabnya tak enak hati.
Andai. Mereka seperti pasangan luar sana, istri tua dan istri muda, mungkin obrolan mereka itu terdengar mengerikan, menyibak aib.
"Aku tak mampu menggodanya" dengan raut kecewa Allin memulai pembicaraan mereka lagi.
"Allin, apa kau yakin tentang hal itu?"
Allin mengangguk.
__ADS_1
"Mungkin dia sudah cukup puas dari dirimu, Bu!" jawab Allin sedikit memuji dan mengakui kalahnya pesona dirinya.
"Kau tau, aku membuat kesepakatan dengan Vano, sebelum kau hamil dia tidak boleh menyentuh" bisik Sella sembari melihat sekelilingnya berharap tak ada yang mendengar pembicaraanya.
Allin membeku, dia tak sanggup untuk berkomentar dengan keputusan majikan perempuannya itu. Dia benar-benar bertindak menurut ego-nya dan mengabaikan perasaan suaminya. Allin hanya mampu membatin, "Apa yang di pikirkan dengan majikanku ini, kenapa dia bertingkah tak masuk akal begini. Dia seolah memberikan kesempatan buat suaminya jatuh hati padaku. Dan apa yang terjadi suaminya mencintaiku sekarang dan diriku juga sudah hanyut dalam genangan cinta itu"
"Mungkin dia tidak ingin menyentuhku, karena dia tidak ingin mengkhianatimu" sangkal Allin untuk dirinya
"Dia sudah mengkhianatiku Allin sebelum kalian menikah" ucap Sella dengan nada lirih.
Mata Allin seketika membola, keterkejutan menghampirinya. Mengetahui bahwa Sella sudah sadar dari awal, bahwa Vano mulai mencintainya.
Sella menangkap reaksi Allin dengan cepat, "Bukan mengkhianati, mungkin mencoba menerimamu" Sella mencoba membenarkan ucapan sebelumnya.
Sella tahu Allin sudah berusaha ketas untuk tidak ingin menjadi pihak ketiga di antara hubungannya dengan Vano.
Raut wajah Allin mulai datar lagi, tetapi kini dia menunduk, memainkan jemarinya, rasa kecewa akan dirinya sangat kental melingkupinya.
"Allin, kita akan membuat rencana agar dia mau menyentuhmu lagi" ucap Sella antusias
"Bagaimana caranya Bu" tanya Allin penuh rasa ingin tahu.
Sella membisikkan sesuatu ke pada Allin. Dengan cepat Allin menggeleng.
"Kenapa?" tanya Sella.
Allin menggigit bibir bawahnya, mempertimbangkan yang ada di pikirannya, bolehkah, untuk dia mengatakan, tetapi dia takut akan melukai perasaan majikannya, atau dia hanya diam tanpa menjawab pertanyaan.
"Ayo, katakan. Percayalah padaku Allin, sekarang kita partner, kau tau dalam dunia perang, keberadaan seseorang dalam situasi yang sama adalah partner, mereka harus tolong menolong. Jadi, kau harus percaya padaku!" Seru Sella meyakinkan Allin.
Allin mengangguk membenarakan kata-kata Sella. Dengan sedikit keberanian dia mulai menjawab pertanyaan Sella tadi.
"Tentang rencanamu tadi. Bunda sudah terlebih dahulu menyiasatinya. Dan hampir seluruh baju tidurku sudah berganti dengan kain tipis itu, lingerie. Tetapi dia tidak tergoda sama sekali"
"Ternyata bunda bergerak cepat juga ya" antusias Sella sembari terkekeh
Allin terkesiap melihat tawa Sella yang lepas, dia pikir Sella akan kecewa, mertuanya terlebih dahulu sudah menyodorkan suaminya untuk wanita lain.
"Aku yakin suamimu itu, pasti menahan sesuatu tiap malam bersamamu" ucap Sella dan tawa Sella makin menjadi membayangkan Vano yang menahan hasratnya, dan Allin bagai tersambar ikut pun tertawa lepas.
"Apa yang kalian tertawakan?" tegur seseorang tiba-tiba.
Mereka berdua dengan kompak membolakan matanya, dan menutup mulutnya meredakan suara tawanya.
__ADS_1
***"