
Dia berdiri menatap kepergian wanita yang masih mengisi relung hatinya sejak dulu, perih di pipinya tak sebanding dengan rasa kecewa pada dirinya sendiri.
Semalam pria itu menghubungi tetapi perempuan itu tidak menjawab, dia hanya mengirim pesan singkat dan berjanji akan menemuinya.
Ardio masih menatap kepergian Sella dengan rasa kecewa dan juga malu. Perempuan yang selama ini diharapkannya, mau membalas cintanya, kini perempuan itu jijik dan marah padanya.
Penantian dia bertahun-tahun terbuka begitu saja, saat semalam dia berbicara dengan penjaga rumah perempuan itu tentang bagaimana kondisi rumah tangga Sella. Meski begitu, dia tak pernah sama sekali menginginkan keretakan rumah tangga mantannya itu. Tapi dia tidak bisa mengingkari ada harapan dalam hatinya, untuk mengejar cintanya kembali tapi kini pupus sudah.
Perempuan itu tadi menghampirinya tanpa berbasa-basi dia langsung mengajukan pertanyaan padanya, tentang gadis yang telah dia renggut kehormatannya satu setengah tahun yang lalu.
Ardio terdiam dan tak mampu membela maupun menyangkal, dia hanya mengakui dengan sebuah anggukan.
"Maaf" ucapnya tanpa suara.
Raut kecewa jelas terpatri di wajah perempuan, dia mendengus dan membuang muka dari tatapan Ardio, tetapi hanya sesaat lalu perempuan itu mendekatinya.
Lagi-lagi aku mengecewakanmu
Sella memberikan tamparan pada kedua belah pipinya, "ini tamparan kau sudah mengambil kehormatan anak gadis orang", lalu perempuan itu memberi tamparan lagi, "ini untuk kau yang sudah merusak mentalnya dan membuat dia trauma."
Suara perempuan itu bergetar mengucapkannya membuat mata Ardio berkaca, dia melukainya lagi.
"Tamparlah, aku pantas untuk mendapatkan lebih dari ini" guman Ardio, perempuan itu melirik Ardio sekilas lalu memalingkan wajahnya, seolah muak menatap padanya. Tanpa berkata apa pun, dia pergi meninggalkan Ardio.
Ardio seharusnya ini adalah kesempatan untukmu masuk lagi dalam kehidupannya tetapi kau membuat perempuan itu malah membencimu.
Seorang pelayan pun datang menyajikan satu minuman berwarna orange tetapi pemiliknya sudah pergi tanpa mendudukkan tubuhnya pada bangku yang sudah tersedia. Ardio menatap nanar pada minuman itu, minuman kesukaan perempuannya.
Tanpa Sella minta dia sudah memesankan sebelumnya untuk menyambut kedatangannya. Tadi dia pikir, dia bisa menyudutkan Sella tentang keberadaan babysitter di antara hubungan dirinya dengan suaminya. Akan tetapi dirinyalah yang tak berdaya dan tersudutkan.
Perempuan itu hanya menemuinya untuk memastikan tentang kejahatannya satu setengah tahun yang lalu. Dan pertanyaan Ardio semalam tidak di jawab, tentang mengapa dia membiarkan suaminya menikah dengan perempuan lain.
Apa yang kau lakukan? Kejar!! Dan Jelaskanlah!!
Dia memperingati diri sendiri.
Ardio pun berlari mengejar kepergian Sella menuju tempat parkir, mencari-cari keberadaan Sella. Di hadapannya sebuah mobil melaju dengan pelan, dia mengenali pemilik mobil itu.
Ardio menghadang mobil itu dengan tubuhnya. "Buka pintunya Sella, aku mau berbicara!!" ucapnya tegas tanpa nada memohon.
Perempuan itu mengizinkannya dengan kode gerakan kepalanya menyuruh Ardio masuk.
Ardio pun masuk ke dalam mobil itu dan tak lama kemudian kendaraan itu melaju meninggalkan halalaman cafe.
Ardio menjelaskan renteran kejadian naas itu dan Sella hanya diam menyimak tanpa berkomentar.
***
__ADS_1
Vano tersenyum manis di bangku depan. Mereka sedang dalam perjalanan ke rumah sakit untuk pemeriksaan kandungan Allin.
Sebelum berangkat mereka terlibat perdebatan, Allin tidak ingin Vano menemaninya. Bundanya pun mencoba membujuk, tetapi perempuan itu tetap bersikukuh menolak kehadiran Vano.
"Allin biarkan suamimu ikut" bujuk bunda.
"Maaf Bunda, aku tidak ingin melihat dia di dekatku" tolak Allin tanpa segan sama sekali dengan ibu mertuanya dan suaminya.
Padahal pria itu sedang berdiri tak jauh dari istrinya, tetapi istri seolah menganggap dia tidak berada di tempat yang sama dengan mereka.
"Sayang biarkan aku ikut" bujuk Vano.
"Bunda aku tidak mau!" rengek Allin pada mertuanya itu untuk menyahuti bujukkan Vano, dia jelas sekali tidak ingin berinteraksi dengan suaminya.
Saat Vano bicara padanya, dia akan menjawab kepada bundanya, terus begitu.
Vano mencoba bersikap dewasa dengan sikap penolakan istrinya, meski dia di abaikan dia terus membujuk Allin.
"Aku harus pastikan sendiri, kau dan bayi kita baik-baik saja. Aku juga perlu tahu, apa yang boleh dan tidak boleh kau lakukan sepanjang kehamilanmu ini" terang Vano buat meyakinkan Allin.
Allin tidak menyahuti, tetapi dia menggeleng pada bundanya. Dia tetap bersikeras Vano tidak boleh ikut.
Mertuanya itu menghela nafas dalam untuk menenangkan diri, melihat sikap menantunya yang anti pada suaminya.
Akhirnya bundanya mengalah dan memerintahkan Vano untuk tinggal. Dia meminta bantuan Pak Herman menjadi supir mereka.
"Baiklah kita akan pergi berdua. Kau Vano sebaiknya ke kantor atau menjaga Dio di rumah ini."
Lalu mereka berjalan ke depan, Vano mengikuti dari belakang. Setelah kedua perempuan itu masuk dan nyaman dalam posisinya. Tak lama suara mesin mobil menderu, pak Herman menginjak pedal gas saat bersamaan pula Vano mengambil kesempatan itu masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku depan.
"Vano" tegur bundanya dan Allin menatap dengan kesal.
Dia tak mempedulikan tatapan tidak suka istrinya dan teguran bundanya.
Vano tersenyum kemenangan saat kendaraan itu melaju dan tidak ada lagi protesan dari kedua perempuan di belakangnya, untuk mencoba menghentikan kendaraan dan menyuruhnya keluar.
Percuma juga aku menyuruh dia keluar, dia punya hak, ini kendaraannya.
Lakukan semaumu Vano asalkan istrimu tercinta ini tidak protes.
Senyum Vano tak lepas dari wajahnya, seolah tak mampu dia tahan, pria itu sedang membayangkan bayi mungil di dalam perut Allin, membuat senyumnya terus merekah.
Ekor mata pak Herman melirik kegiatan itu, pria tua itu hanya ikut senang dan menahan senyumnya.
"Kenapa dengan bibirmu Vano?" tanya bundanya heran, sedari tadi anaknya itu terlihat sibuk menggerakan bibirnya.
"Apa kau terkena struk ringan?" Vano menoleh ke belakang dan menggeleng menjawab pertanyaan bundanya.
__ADS_1
"Mengapa kau melakukan senam wajah."
"Senam wajah? Apa itu?" pikir Vano.
Seketika pak Herman terkekeh geli, semua mata menatapnya dengan heran, tidak mengerti dengan sikap pria tua itu, "maaf" ucapnya sungkan.
Meski sedari tadi dia tidak menatap langsung kegiatan majikannya itu, tapi dia tahu pria muda itu sedang menahan senyum dengan gerakannya itu.
Vano menatap sekilas pada bunda dan menatap tajam pada pria tua itu, Pak Herman yang di tatap hanya mengulum senyum dan memalingkan wajahnya ke kanan menghindar dari tatapan majikannya, apalagi lampu lalu lintas jalanan seolah menyelamatkan dia dari sorotan tajam tuannya. Setelah dia mampu menormalkan ekspresinya dia kembali menatap lurus fokus ke jalan yang dia lewati.
"Kenapa Pak, ada yang lucu" tegur Vano.
"Tidak" sangkal pak Herman.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaan Bunda, malah balik bertanya pada pak Herman" tanya bundanya mulai kesal karena di abaikan Vano.
Vano melirik Allin lalu pandangan kembali pada bundanya. "Bun, apa bayiku bisa di lahirkan secepatnya" tanya Vano.
"Dasar bodoh!! Apa maksudmu?" bundanya tampak marah.
Pak herman terbatuk-batuk mendengar penuturan majikannya itu.
Allin menatap tajam pada suaminya dan menunggu jawaban suaminya dari pertanyaan bunda.
Alasan apa yang membuat dia berpikir bodoh seperti itu.
"Siapa tau Bun? Dengan memberikan vitamin dan gizi yang lengkap, pertumbuhan anakku akan lebih cepat" jawabnya sedikit ragu tapi matanya menunjukan penuh harap bahwa bundanya akan menjawab bisa.
"Simpan saja kebodohanmu untukmu sendiri, tidak usah memberikan teori tidak masuk akalmu itu, Vano!"
"Tapi Bun--"
"Cukup Vano jangan buat Bunda malu"
Allin menatap mengejek pada suaminya, Vano membalas dengan seringai lebar.
"Sayang, aku izinkan buatmu untuk membenci diriku, agar kelak anak kita setampan diriku" terang Vano sembari mengedipkan salah satu matanya menggoda Allin.
Allin membelalak mendengar penuturan Vano
Vano seolah mengerti kertekejutan istrinya tentang pengetahuannya itu. "Aku baca itu d salah satu artikel" jawab Vano dengan rasa bangga.
"Dan aku akan lebih rajin lagi! Untuk membaca artikel-artikel yang membahas tentang bayi, aku akan mempersiapkan bayi kita lahir ke dunia ini dengan sehat dan sempurna" lanjut Vano antusias.
Pak Herman tak kuat menahan tawanya hingga tubuhnya bergetar, tangannya pun menutup erat mulutnya agar tak keluar suara tawanya.
Bunda ingin marah dan kesal atas kebodohan anaknya itu tak tahan ikut juga tertawa.
__ADS_1
Allin terperangah melihat penuturan konyol dan apalagi tingkah suaminya makin menjadi tidak masuk akal.
Apakah dia mengalami salah satu syndrom?