
Sinar mentari menyusup masuk di antara sela-sela ventilasi, menguarkan rasa hangat, membangunkan mata yang tadi terlelap tuk terjaga.
Bayi kecil Tegar mengeliat, matanya menjelajah sekelilingnya saat mata mungil itu menatapku, dia merasa asing tapi tak lama kemudian dia menyadari siapa diriku, lalu dia tersenyum.
Aku membawanya ke pangkuanku, mencium gemas pipi tirusnya, dia terkekeh geli.
"Ayo tampan, kita mandi" ujarku begitu antusias
"Capcus...." Aku beranjak dari ranjang menggendong Tegar.
Capcus? Apa itu? Entahlah!
Perlu waktu puluhan menit kami habiskan di kamar mandi untuk membersihkan diri, dan menikmati kebersamaan yang sebentar lagi akan terampas lagi oleh keadaan.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita akan selalu bersama" gumanku.
Selepas itu aku mencoba lagi untuk memberi ASI pada Tegar yang dari semalam Tegar selalu menolak.
"Sayang, ayo minum" bujukku
"Tegar" seraya membelai rambutnya
"Ayo anak mama pintar" tapi dia hanya menatap kebingungan, aku lebih menekan lebih dalam lagi ke mulut mungilnya.
"Dasar bodoh kau Allin! Mungkin dia belum mengerti caranya Allin. Dan jangan memaksa dia." Aku mengumpat pada diriku sendiri
"Enak ini sayang ...," ucapku mencoba lagi merayu.
"Pintar" ucapku saat dia mulai mau membuka mulutnya tetapi dia hanya membiarkan begitu saja tanpa menyedot.
"Sebelum kamu di dahului oleh pria tua mesum itu." Secara refleks aku lansung menepuk mulutku sendiri.
"Ups ...," pikiranmu terlalu liar Allin.
Tegar seketika memalingkan wajahnya lebih jauh.
Stop Allin! Apa yang kamu sudah bicarakan sama anakmu yang masih bayi, dia takkan mengerti. Lihatlah dia lansung menolak. Lagi-lagi aku bermonolog menggurui diri sendiri.
***
Tak lama kemudian tante Mia, bu Sella, dan bi Inah masuk ke kamarku bersama Dio yang berada di dalam gendongan bi Inah.
Dengan cepat aku merapikan pakaianku, lalu dengan ramah aku menyapa mereka, seraya memberi ruang di atas ranjangku untuk bu Sella duduk dan menanyakan jam berapa mereka sampai dan lainnya.
__ADS_1
"Kami sampai satu jam yang lalu. Bunda, Ayah, dan Vano ada di penginapan" jawab bu Sella menanggapi pertanyaanku.
Mata majikanku itu terlihat sembab, walau polesan mikeup sudah menutupi wajahnya. Aku tau, jejak itu yang masih tertinggal, karena aku lebih berpengalaman darinya. Entah ratusan kali aku menutupi sisa bekas tangisanku saat rasa sakit mendera.
Dio yang dari tadi merasa diabaikan, mulai meronta dalam gendongan bi Inah.
Saat pandanganku beralih padanya bocah tampan itu seketika tersenyum. Tangannya terulur, menggapai ke arahku, menandakan dia ingin di angkat dan dibawa ke dalam gendonganku.
Tentu saja aku menampik dengan lembut karena aku sekarang sedang memangku Tegar.
Dio terlihat marah, bayi kecil itu makin menjadi meronta-ronta, dia tetap bersikeras ingin aku menggendongnya.
Kami semua yang berada di kamar menggeleng dengan sikap Dio, dengan cepat tante Mia meraih Tegar dari pangkuanku.
Saat aku mensejajarkan tubuhku di hadapan ni Inah, Dio seketika melemparkan dirinya ke tubuhku. Diriku yang tak terlalu siap hampir terjengkang ke belakang dengan dorongan tubuh gempal Dio.
Tapi dengan cepat aku dapat menompang tubuhku dengan membuat kuda kuda pada kakiku agar tak terjatuh, yang berada dalam kamar itu hanya tertawa geli melihat sikap Dio, kecemburuanya terpampang jelas.
Dio menengadahkan wajahnya menantang bayi Tegar yang berada di hadapannya, menunjukan sikap dominannya untuk menunjukan aku adalah miliknya. Tanganya ia lingkari dileher dan pipinya ia tempelkan pada pipiku.
Tegar digendongan tanteku tersenyum riang membalas, bagi Tegar melihat Dio seperti melihat teman baru, tetapi bagi Dio Tegar adalah saingan yang harus disingkirkan. Tak tahan melihat sikap Dio aku mencium Dio dengan gemas, sedikit aku gesekan hidungku di pipinya. Dio akhirnya terkekeh juga menahan geli dan mencoba menjauhkan wajahnya dariku tanpa melepaskan rangkulan tangannya di leher.
"Ma ma ma ma top" suaranya mulai terdengar untuk menghentikan kegiatanku meski kata yang Dio ucapkan tidak jelas aku mengerti maksudnya, mama stop, maksudnya.
Hahaha aku babysitter yang tak tau diri.
"Mi, Pi, Ma, Mam, Num, Bi, nan, top" kata yang baru mampu ia ucapakan.
Tegar usianya yang lebih tua dari pada Dio tetapi bayi tampamku itu hanya baru mampu membolak balikan tubuhnya,
pertumbuhannya agak sedikit terlambat, tetapi dia bocah yang murah senyum dan tidak rewel dibandingkan Dio.
***
Pukul 16.00 WIB.
Akad nikah akan dilaksanakan, ini adalah detik-detik meneganggangkan bagi mempelai yang saling mencintai.
Aku juga merasakan hal itu! Gejolak aneh dengan sedikit rasa takut sekaligus mendebarkan.
Seharusnya aku tak perlu berdebar seperti ini.
Ini hanya pernikahan sementaraku. Tak ada cinta dalam pernikahan ini dan harapan masa depanku untuk di sini. Sebuah perjanjian telah mengikatku.
__ADS_1
Seseorang di sampingku terlihat begitu dingin, auranya begitu berbeda, matanya selalu menghindar, dia seperti sosok Tuan Vano yang awal aku jumpa.
Ada apa dengan dia? Seingatku semalam kami baik-baik saja dan panggilan kami berakhir tanpa masalah. Aku malah berpikir dia telah menerima pernikahan ini dengan tangan terbuka.
Apa ini ada hubungannya dengan mata sembab Bu Sella.
Ya sedikitnya aku mengerti.
Pernikahan kami hanya dihadiri disini oleh keluarga terdekat dan beberapa tetangga. Semua sudah di atur dengan baik oleh bu Sella, baik dari jam akad nikah, resepsi, dan para tamu yang hadir.
Intinya mereka tidak ingin pernikahan ini sampai ke media dan mereka tetap juga menghormati keinginan tanteku untuk diadakan resepsi.
Bu Sella dan bunda Vano ada di belakang kami saat akad berlangsung. Sesekali mereka bergantian mengelus lengannku untuk menguatka diriku.
"Bunda" ibunya tuan Vano memintaku untuk memanggilnya begitu. Aku merasa malu dan bahagia sekaligus, aku merasa diriku ini benar-benar diterima dalam keluarganya.
Andaikan Tuan Vano bukan milik orang lain mungkin aku sangat bahagia sekali bisa diterima oleh keluarga suamiku.
Ada apa denganmu Allin? Jangan berandai! Kau bahagia sekarang? Lihatlah orang sekitarmu mereka menangis dalam diam atau mereka sedang menutupi lukanya dalam tawa.
Kau sudah terlalu terbuai Allin. Dan ingat semua ini adalah sandiwara dan sikap Tuanmu selama ini, jangan kau tanggapi dengan rasa berlebih mungkin dia iba denganmu. Kau hanya di anggap korban olehnya.
Setela akad selesai, semua orang tampak lega tetapi bukan perasaan lega karena senang, mereka punya kelegaan sendiri-sendiri yang mengganjal dalam hati.
***
Pukul 19.00 WIB
Resepsi
Pelaminan terlihat begitu megah dihiasi dengan bunga-bunga terangkai indah di atas panggung belum lagi lampu-lampu kecil membelit di sekitar lingkaran bunga memberi warna redup dan lembut. Kain berenda berjuntai-juntai terbentang sepanjang ruangan yang di dominasi berwana putih, sedikit warna kuning emas dan pink pastel yang menyatu satu sama lain menjadikan suasana menjadi romantis.
Dan di depan panggung pelaminan, berdiri cantik kue tart berukuran besar yang menggiurkan lidah untuk dicicipi.
Dekorasi yang indah dan sungguh kontras dengan keadaan gedung sebelumnya yang kusam sekarang terlihat megah.
Semua ini bu Sella yang mempersiapkan, saking terperangah para tamu lebih menikmati memandang dekorasi dari pada kami mempelai pengantin, yang duduk bersanding di atas panggung pelaminan.
Apalagi dengan makanan mewah tersuguh di atas meja, menarik semua mata para tamu.
Sedangkan kedua membelai nampak diam di atas pelaminan, tenggelam dalam pikirannya masing masing.
Kenapa dengan Tuan Vano? batinku
__ADS_1