Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Tertangkap


__ADS_3

****


Dekapannya terasa hangat, membuai diriku untuk jauh lebih terlelap, tetapi itu hanya mimpi yang aku harapkan.


Mimpi begitu nyata, membelaiku dalam dekapannya, suara sendunya juga mengalunkan janji-janji indah untuk kami menata masa depan.


Nyatanya saat mataku terbuka, tidak ada dia disisiku, rasa kecewa begitu saja menghampiri pagiku yang seharusnya mengantarkan suasana cerah dan ceria.


Beberapa saat aku baru menyadari Dio tak berada disisiku, semalam Dio berada dalam pelukanku di atas ranjang ini menemaniku.


Seketika rasa panik menyeruak masuk, membuat aku begetar ketakutan, takut jika bayi itu jatuh dari ranjang, dengan cepat aku bergerak ke pinggir ranjang, memutar dan mencari sosok Dio, tak lama kemudian baru aku sadari saat melihat sosok Dio berada di boxnya, bayi tampan itu sedang terlelap disitu.


Apa sebegitu kacaunya diriku, sehingga tak mampu mengingat kejadian semalam, bahwa aku sudah meletakkan Dio ke box tidurnya.


Selepas Dio bangun dan membersihkan dirinya, saatnya bayi tampan ini menyantap sarapannya, dengan langkah gontai aku berjalan ke ruang makan, bagiku ruangan itu sekarang menjadi tempat mengerikan untuk aku kunjungi.


Suasana sudah ramai di sana, mereka sudah mulai menyantap sarapan mereka, padahal aku sangat senang melihat Dio bangun sedikit terlambat, aku bisa menghindari bertatapan dengan mereka.


Saat langkahku masuk, mereka kompak menengadah melihat ke arahku, seketika aku tersenyum canggung, dan dia menatapku malas, wajahnya dengan cepat ia palingkan lagi ke hidangannya.


"Dio baru bangun Allin?" tanya bu Sella.


"Ya Bu" jawabku pelan.


"Kamu sarapan dulu, biar Dio sama saya" Bu Sella merapikan sendoknya di atas piringnya, kemudian dia menghampiriku untuk mengambil Dio dari gendongan.


Bi Inah tersenyum hangat menatapku, dengan sigap dia meletakkan minuman hangat, yang harus segera aku minum sebelum memakan sarapanku.


Bu Sella sudah membawa Dio ke taman belakang, dia meninggalkan diriku bersama tuan Vano. Dan bi Inah mulai sibuk lagi dengan pekerjaannya.


Dan dia hanya diam, tanpa menatap, tanpa bersuara.


Aku memakan makananku dengan rasa kesal melihat sikapnya begitu dingin apalagi melihat cara makannya terlalu elegan sebagai seorang pria, mungkin dia mengunyah makanan itu berpuluh kali hingga halus, kemudian baru ia telan ke dalam mulutnya.


Cih, dia mengabaikan diriku. Batinku


" Tuan"


"Hmm"


"Tuan"

__ADS_1


"Hmm"


"Tidak bisakah Anda menengadah sebentar untuk melihat saya"


"Hmm" jawabnya seraya menengadah sebentar tanpa senyum dengan wajah dingin.


"Menyebalkan!!" gumanku melihat dia yang hanya menjawab pertanyaanku hanya dengan berdehem, dengan cepat aku menandaskan sarapan lalu berlalu pergi menuju taman belakang.


Sebelum aku melangkah lebih jauh darinya, aku membalikkan badan mengeluarkan unek-unek yang tidak bisa di bendung lagi.


"Kau begitu menyebalkan, kau mendiamkan diriku hanya karena...," aku diam tak melanjutkan perkataanku, dia membalas menatap dengan wajah datar, "Pokoknya kau menyebalkan dan begitu kekanak-kanakan, aku tidak peduli, kau mau mendiamkan diriku atau..., entahlah" ucapku mengerutu kesal.


"Sudah?"


Mulutku terperangah dia hanya membalas gerutuan panjangku dengan hanya satu kata 'sudah'. Aku makin geram, dia mengabaikan diriku.


"Dasar pria tua mesum, menyebalkan" pekikku dengan nada suara rendah, kedua tanganku menggepal di depan dada, kakiku aku hentak-hentakan, dan dia hanya, hanya melirik sebentar padaku lalu kembali fokus pada sarapannya.


Aaaaaaaa..., aku diabaikan lagi.


Aku meninggalkan dia dengan hati gondok.


*****


"Sayang" tegur tuan Vano.


"Ya" jawabku bersamaan dengan bu Sella, mataku membola menyadari kesalahanku, "Maaf" ucapku seraya menepuk lembut bibirku, mereka berdua menatapku dengan tatapan berbeda, tidak terbaca olehku.


"Aku berangkat dulu" ucap tuan Vano seraya menghampiri bu Sella, dia mengecup pelipis bu Sella denga lembut, itu memang kebiasaannya sebelum berangkat ke kantor.


Aku menahan napas melihatnya, dadaku terasa ada yang meremas, aku mencoba menstabilkan dengan melihat tingkah Dio yang berada di pangkuanku, lalu dia menuju ke arah kami. Lagi-lagi aku menahan napas dan memalingkan wajahku saat dia memberi kecupan kepada Dio. Aku tak mau dia berpikir kalau aku akan mengharapkan diperlakukan sama, apalagi semenjak kejadian yang lalu membuat aku jijik dengan diriku sendiri.


Cup..., bibir hangatnya menempel dengan cepat di bibirku.


"Astaga apa yang dia lakukakan dia menciumku di hadapan istrinya" gumanku masih mematung.


Lalu dia beranjak pergi meninggalkan diriku yang masih terpaku. Rasa haru dan takut bersamaan datang.


Entahlah, apakah bu Sella melihat apa yang di lakukan tuan Vano, dia berada tak jauh di depanku yang sedang sibuk berselancar pada ponselnya, semoga dia tidak melihat tingkah suaminya itu.


Allin kau jangan besar kepala, dia melakukan itu semua hanya membuat Sella cemburu, dia sudah tidak peduli padamu.

__ADS_1


Pemikiranku membuat rasa bahagia itu hilang lenyap terhapus oleh angin.


Sosoknya dan bu Sella sudah menghilang kedalam rumah, diriku masih saja setengah terpaku, menikmati sisa kehangatan yang dia tinggalkan di bibirku.


Tanganku mengusap lembut bibirku, memejamkan mata, mengulang-ngulang kembali memoriku pada adegan tadi.


"Hmm"


Aku mengenal sekali suara itu, suara yang selalu menghanyutkan diriku beberapa hari ini hingga ke dalam mimpiku.


Mataku melebar melihat sosok sudah berdiri di hadapanku.


Dia menyeringai menatapku seolah mengejek, "Kau sedang membayangkan yang tadi ya?" tanyanya lansung tepat sasaran, "Atau kau merasa kurang sampai membayanginya" ejeknya seraya menyentuh bibirnya.


"Ti-tidak, a-aku bukan membayangi ciuman itu" jawabku begitu gagap.


Oh tuhan, aku begitu malu, mengapa harus dia memergoki diriku sedang membayangi momen yang sekilas itu. Lihatlah dia menyerangku pada saat yang tidak tepat, rasanya aku ingin lari sekencangnya dan menceburkan diriku ke kolam renang dan bersembunyi di tempat yang dalam.


Maluuuuu Allin.....


"Oo...." jawabnya seraya mendekati bangku tempat bu Sella tadi duduki, dia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.


"Kapan dia meletakkan ponselnya disitu?" gumanku seraya bertanya.


Setelah ponselnya berpindah ke tangannya dia menghampiri kami, seketika aku memalingkan muka.


"Dio wajah mamamu memerah" ucapnya seraya mengacak-acak rambut Dio.


Dia kembali membalikkan badannya menuju masuk ke dalam.


Aku lansung melepaskan rasa maluku bertingkah konyol, aku menjambak rambutku sendiri, dan menendang-nedang kakiku ke udara sampai Dio terguncang, sembari mengingat momen memalukan saat dia menangkap basah diriku sedang mengusap lembut bibirku.


Oh Allin, apa yang akan dia pikirkan pada dirimu. Kau di anggap wanita munafik yang selalu menolak tapi diam-diam menikmati sentuhannya.


Aku makin menjadi menghukum diriku sendiri dengan menjambak rambut, memukul paha, menendang-nendang kakiku ke udara.


"Hati-hati Dio mamamu mulai gila"


Astaga apalagi ini, kenapa dia masih menyempatkan diri membalikan badannya melihat ke arahku.


Lagi-lagi dia menangkap basah tingkah memalukanku.

__ADS_1


"Aaaaaaaaaa......" jeritku dalam hati


Aku kini tak mampu membalas perkataannya, hanya mampu menangkup salah satu tanganku menutupi wajahku sudah merah padam.


__ADS_2