
Untuk menghilangkan rasa penat, mereka berhenti di sebuah restoran.
Restoran yang bergaya klasik dan elegan. Unsur tradisional dan modern digabungkan dengan apik, suasana sejuk sangat kental terasa. Udara dari luar bebas masuk di tiap lorong-lorong yang membatasi ruang makan.
Allin dan Vano berada di ruangan makan khusus hanya ada berapa pengunjung saja, mungkin pengunjung lain lebih suka berada di bagian ruang terbuka di dalam restoran ini.
"Restoran ini terlihat mahal," batin Allin.
"Ayo!" ajak Vano melihat Allin hanya berdiri di ambang pintu. Vano merengkuh tubuh istrinya, memasukin ruangan restoran mewah itu.
Allin mencoba menepis tangan suaminya tetapi Allin selalu kalah bertindak.
Vano menggeser kursi untuk Alin duduk. Allin mencoba lagi untuk menghindar, tetapi Vano dengan cepat memposisikan tubuh istrinya untuk duduk di kursi yang telah dia siapkan.
"Kau terlalu berlebihan Tuan" bisik Allin
"Tidak ada yang berlebihan, ketika suami memanjakan istrinya" balas Vano
"Mulutmu manis sekali" cibir Allin sembari mengerucutkan bibirnya.
"Kau pasti tau itu sayang" goda Vano sembari membantu Allin melepaskan tali gendong yang ada bahu Allin, dan dia mengambil Dio dari rengkuhan istrinya itu. Lalu meletakkan bayi kecil itu di samping kursi Allin. Vano memasangkan pengaman di tubuh Dio agar bayi kecil itu tidak terjatuh.
Allin tersenyum malu melihat sikap perhatian Vano.
Di sana ada sepasang mata tak suka melihat tindak-tanduk vano, senyum sinis dan jijik meliputi auranya. Sambil menyantap hidangan, pria itu tetap memperhatikan Alin dan vano.
Alin terlalu sibuk menyuapi Dio mengabaikan hidangan yang tersaji di depannya.
Vano melihat itu mulai mengambil inisiatif, menyodorkan sendok makanan ke mulut Allin, seketika Alin terhenyak, lagi-lagi tuannya tidak tahu situasi dan kondisi mereka sedang berada dimana.
Meski topi dan kacamata hitam bertengger di kepala suaminya itu, tetapi tak ada kemungkinan orang lain tak akan mengenalinya.
__ADS_1
Alin dengan cepat menerima suapan dari suaminya itu, dengan maksud menghindar dari tatapan orang yang akan menangkap interaksi mereka.
Lalu dia menegur tuannya, "Jaga sikapmu Tuan, kita sedang berada di ruang terbuka, banyak yang melihat" tegur Allin dengan pelan.
"Tidak ada siapa-siapa di sini Alin" jawab Vano begitu santainya.
Allin menyisir ruang makan itu, dengan kedua matanya, memang hanya ada satu meja yang masih terisi selain dari meja mereka. Ada dua meja yang masih penuh dengan peralatan makan, tapi sudah ditinggal pergi oleh pengunjungnya.
"Meskipun begitu kau harus tetap menjaga sikapmu Tuan" tegur Allin sambil cemberut.
"Aku tidak peduli Allin! Cepat makan!" Vano tetap bersikeras menyuapi istrinya itu.
Alin tetap menerima suapan suaminya, setelah makanan itu cukup di kunyah, dia membuka suaranya lagi.
"Cukup Tuan, aku akan makan sendiri" Allin merasa percuma menegur Vano. Toh, Vano takkan menanggapi kerisauan hati Allin.
Seseorang menghampiri mereka dan berdiri di samping meja yang mereka tempati.
Vano menengadah menatap sosok Jangkung yang dia tidak kenali, pria itu juga memakai topi dan kacamata hitam sepertinya.
"Perkenalkan, saya Ardio Pamungkas, partner dan klien istri Anda," ucap ardio sangat lantang dengan nada menyindir.
Vano menatap sekilas tak menyambut uluran tangan itu. "Maaf saya tidak ingin berkenalan dengan siapa pun, sebaiknya anda tidak mengganggu kami" jawab Vano begitu dingin.
Vano menahan amarahnya melihat sosok itu, sosok yang dia tidak kenal, tetapi dia mengenali nama itu. Vano sedikit terkejut saat pria itu bilang, dia adalah partner dan klien kerjanya Sela. Istrinya itu selalu terbuka padanya, tetapi dia tidak mengetahui tentang pekerjaan ini. Jika Sella sedang mengerjakan proyek bersama mantan pacarnya itu.
Allin membeku diam, tangannya mulai mendingin. Matanya sempat bertemu dengan pria yang ada di sampingnya, apalagi ketika pria itu mengucapkan namanya, membuat tubuh Allin gemetar ketakutan. Dengan gerakan cepat Allin memalingkan ke wajah Dio, dia mencoba mengendalikan dirinya menatap gerak-gerik Dio, sedangkan Vano terlalu sibuk dengan pikirannya tak memperhatikan sikap Alin.
"Sepertinya nona ini adalah babysitter anak Anda" Ardio tetap berdiri di samping mereka, padahal Vano telah mengusirnya secara halus untuk pria itu beranjak meninggalkan mereka. Mulut tajam Ardio mulai mengusik lagi, dengan kalimat sendirannya dia menatap Allin dengan jengah. Tetapi perempuan itu tak sedikitpun ingin bertatapan lagi denga pria yang ada di sampingnya.
Vano seketika melihat pria tu dengan mata tajam yang berada di hadapannya.
__ADS_1
"Tetapi kalian terlihat seperti selingkuhan yang lagi bermesraan di tempat umum" sindirnya lagi.
Vano mendelikkan bola matanya menantang pria itu. "Jaga mulutmu!" perintah Vano yang sudah tak tahan sedari tadi hanya diam dengan tingkah pria brengsek itu, apalagi dia mencoba menghina dirinya dan Allin.
Sedangkan Alin makin bergetar hebat, pengendalian dirinya sudah hancur, rasa gemuruh yang dia tahan, sudah tidak kuat lagi untuk dia bendung.
Vano baru tersadar saat lentingan sendok jatuh ke meja, dia melihat Allin dengan wajah telah memutih. Vano dengan cepat mendorong Ardio yang menghalanginya untuk menghampiri Allin. "Minggir kau brengsek!" sopan santun Vano telah hilang terhadap pria di hadapannya itu.
"Allin, aku di sini sayang" Vano berlutut di hadapan istrinya dan merangkum kedua pipi Allin. Mengosok-gosok pipi itu untuk memberi kehangatan.
"Tenangkan dirimu ya. Aku di sini" Vano mencoba mengambil tangan Allin dan menggosokan lembut ke pipinya, Allin menatap Vano, kesadaran masih lemah tapi dia tau ada Vano yang sedang mengkhawatirkan kondisinya.
"Pulang" ucapnya lemah.
Ardio terdiam, ada perasaan bersalah atas sikapnya itu. Tetapi dia juga tidak terima Sella di permainkan oleh suaminya. Ardio makin yakin ada hubungan lain di antara mereka. Dia sedikit terhenyak saat Vano memanggil babysitternya itu dengan panggilan sayang, apalagi suara sendu itu kental sekali dengan rasa cinta yang penuh ke khawatiran. Ardio mencoba membantu Vano saat ingin mengangkat Allin, tetapi Vano malah membentaknya.
"Jangan coba sentuh dia brengsek"
Allin mendengar itu, lebih menenggelam kepalanya di ceruk leher suaminya untuk mengendalikan gemetar tubuhnya.
"Pelayan" teriak Vano.
Seseorang pelayang menghampiri mereka, "Tolong gendong anak saya" perintah Vano dengan nada memohon.
Vano sudah berjalan terlebih dahulu.
Pelayan mencoba mengangkat Dio, tetapi Ardio bergerak lebih dulu mengambil Dio dan menggendong bayi tampan itu.
"Biarkan saya saja Mas" pinta Ardio.
Vano membalikan badannya melihat Ardio sudah menggendong Dio. Vano coba menahan emosinya, ada Allin yang lebih harus dia perioritaskan, memulai perdebatan lagi takkan menyelesaikan apa pun, pikirnya saat melihat Ardio melangkah mengikutinya.
__ADS_1
Allin ingin mencoba berdamai dengan masa lalunya, mencoba menerima kenyataan bahwa itu hanya masa lalu. Dengan rasa takut dia mencoba memberanikan diri melihat Ardio yang sedang menggendong Dio di belakangnya.
Ya pria itu tidak mengenalinya sama sekali. Dan Allin bersyukur untuk itu.