Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Dia kakakku


__ADS_3

Allin benar-benar mengurung dirinya di kamar, dia tak mau meninggalkan kamarnya sebentar saja. Makan malam pun di bawakan Vano ke dalam kamarnya. Dan beruntungnya kejadian sore tadi, tak mempengaruhi nafsu makan Allin. Dia menandaskan makanannya dengan pelan tapi pasti.


Vano mengulum senyum, melihat Allin yang mencoba bersikap elegan saat makan. Perempuan tersebut dengan malu-malu melahap makanannya sedikit demi sedikit, dia ingin menunjukkan seolah enggan makan, tapi suapannya tak bisa di bohongi. Apalagi pandangan Vano yang tak lepas darinya membuat perempuan tersebut menjaga sikapnya.


"Kenapa dia terus mematapku," batin Allin jengah.


Selesai makan pun Vano lah yang membereskan piring kotor dan membawa keluar kamar. Dan Allin kembali lagi bergelung bagai kempompong di bawah selimut.


"Sayang, kau tidak ingin pergikah? Aku dan Sella sudah mempersiapkan konferensi pers untuk mengkonfimasi semua rumor ini." Ujar Vano sekembalinya dia dari luar dengan tangannya tak kosong. Pria tersebut membawa segelas susu hamil dan dia meletakkan susu tersebut di atas nakas.


Allin yang sedang bergelung dalam selimutnya, memunculkan bagian kepalanya untuk menyahuti ajakan Vano.


"Tidak, aku tidak ingin bertemu siapa pun," tolaknya.


"Ayolah sayang! Kita hanya akan bertemu beberapa orang dan media, mereka akan membantu kita meluruskan rumor yang sudah di sebar Mila" desak Vano sembari mengulurkan segelas susu pada Allin.


"Kak Mila? Apa maksudmu Tuan?" Sontak Allin bangkit, dia duduk bersila menatap penuh selidik pada Vano, saat nama Mila tak sengaja di sebut Vano.


Vano menghela napas kesal, mengingat perempuan licik yang sudah menggodanya dan menyebarkan rumor buruk pada Allin.


"Minumlah dulu susu ini!" Perintah Vano, Allin mengambil susu yang di ulurkan Vano sembari mengucapkan terimakasih. Dengan cepat ia tandaskan tak bersisa, untuk sesat dia lupa untuk menjaga sikapnya seperti saat dia makan. Menyadari tatapan Vano dia mengulum senyum malu.


"Kau masih lapar?" Tanya Vano seraya tangannya membersihkan sisa susu yang Allin teguk di sudut bibirnya.

__ADS_1


Allin menggeleng cepat, dan mengakat kepalanya untuk memberi kode pada Vano melanjutkan pembahasan mengenai Mila.


"Ya, Mila lah yang menyebarkan rumor tentang kita. Dia menyuap salah satu pelayan di rumah ini, untuk mendapatkan informasi. Dan aku juga sudah memecat pelayan itu." Tandasnya.


Allin mencoba tidak terperangah mendengar keterangan Vano, dirinya sebisa mungkin menunjukkan ekspresi yang terlihat biasa saja. Dia mencoba berpura-pura. Rasa kecewa ia pendam, menampakkan kepada Vano akan membuat suaminya akan lebih membenci Mila.


Tapi sesungguhnya, dia juga tak menduga, jika kakaknya lah yang menjadi sumber masalahnya.


Apa salahku kak, aku selalu mencoba menjadi adik terbaik untukmu. Tapi kau selalu membenciku.


"Allin, maaf. Seharusnya aku tak memberitahumu tentang ini. Tapi Mila sudah terlalu jauh berbuat onar. Aku akan membawa urusan ini ke ranah hukum," ujar Vano. Dia merasa perlu menenangkan Allin dan tidak ingin permasalahan ini membuat perasaan Allin tanpa kacau dan menganggu kehamilannya. Meski perempuan itu terlihat biasa saja.


"Tidak!" Sahutnya cepat sembari menggeleng, dia tidak setuju dengan niat Vano untuk memenjarakan Mila.


"Dia kakakku," dia menjeda sebentar. "Aku baik-baik saja, ini hal biasa di antara kami." Lanjut Allin sembari menyikapi selimutnya dan tersenyum seceria mungkin.


Ada apa dengan dia. Seketika suasana hatinya berubah lagi. Apakah dia berpura-pura untuk menyelamatkan Mila.


"Tidak Allin. Aku akan tetap memprosesnya, meskipun kau tak setuju" Vano dengan tegas menyatakan tentang niatnya.


Allin menghampiri Vano dan duduk tepat di sampingnya. Dia mencoba menyenderkan kepalanya di bahu Vano dan mulai lagi membujuk suaminya. "Tak bisakah kau mengurungkan niatmu? Aku tahu dia tak hanya menjelekkan diriku tetapi juga keluargamu. Tapi biarkan aku mencoba bicara padanya"


Seketika Vano menunjukkan rasa tidak sukanya, dia khawatir dengan istrinya tetapi Allin tetap saja membela Mila. "Tidak Allin! Aku tidak mempercaiyanya! Bertemu dengan-nya sangat bahaya untuk keselamatanmu! Kau harus menjahuinya." ucapnya tegas tak ingin di bantah.

__ADS_1


"Tuan, dia saudara ku! Dia tak sejahat yang kau pikir! Kau lihat, bagaimana dia menyayangi Tegar. Dia sekarang ini hanya ingin mencuri perhatianku" sangkalnya. Allin tetap mencoba membela kakaknya, meski yang perempuan lakukan itu terhadapnya sudah di luar batas akal sehat.


Karena Tegar bukan anakmu Allin. Tegar anak perempuan licik itu! Batin Vano


"Kau tak boleh kemana-mana. Dengarkan aku Allin!" Vano menjeda kalimatnya, tatapannya mulai kosong ke depan, ada hal lain yang akan dia katakan, tetapi lelaki itu masih menimang perasaan Allin jika dia mengatakan sebenarnya.


"Allin kau tau kan? Gambar-gambar kejadian saat musibah menimpamu, Mila lah yang mengirimkan pesan itu." Ucap Vano pelan, tetapi Allin tidak menunjukkan reaksi apa pun. Vano melirik istrinya yang sedang bersandar di bahunya, memperhatikan reaksi apa yang di berikan Allin. Setelah yakin istrinya terlihat biasa saja dia melanjutkan kalimatnya. Vano pikir, Allin mungkin sudah menduga sebelumnya, siapa lagi yang begitu membencinya jika bukan Mila.


"Pernahkah kau berpikir, kenapa gambar kejadian itu ada padanya? Jika benar, dia yang memang mengambil gambar kenapa dia tidak menolongmu dari kejadian nahas itu?" Vano bicara penuh tanda tanya tetapi tidak menyudutkan. Menuduh seseorang tanpa bukti yang jelas, bukanlah tabiat Vano. Dia juga tak ingin membuat emosi Allin terganggu.


Allin terdiam dan tak mampu menyangkal. Pikirannya mulai menjelajah, mengingat acara jumpa fans yang dia ikuti dulu, itu pun karena permintaan Mila. Dia tahu Mila masih berada di tempat yang sama dengannya ketika kejadian nahas menimpanya. Tetapi dia tak pernah menyalahkan siapa pun kecuali pada dirinya sendiri, karena semua berawal dari kebohongan kecilnya pada sang ibu agar bisa menghadiri jumpa fans tersebut.


Meski dia merasa hancur, dia tetap


mencoba untuk berpikir positif, bahwa itu hanya musibah yang tak ada sangkut pautnya dengan orang lain.


Ketika itu, dia sedang menunggu Mila yang tak kunjung datang, manajer Ardio menghampiri dan meminta bantuannya untuk mengantarkan obat untuk Ardio.


"Ardio tiba-tiba mengalami sakit kepala hebat. Bisakah kau mengantarkan obat ini untuknya," ujar manajer Ardio. Allin pun dengan senang hati menerima tawaran mananajer Ardio. Kesempatan yang langkah tak mungkin dia lepas untuk bisa lebih dekat lagi dengan idolanya.


Sialnya, Ardio dalam posisi setengah sadar, pria itu seperti pria mabuk tetapi tak ada sama sekali aroma alkohol dari tubuhnya dan ia mengira Allin adalah orang yang dia kenal. Nama itu masih sangat Allin ingat dengan jelas, nama yang sama dengan mantan majikannya, Sella. Allin mencoba meronta tapi tenaganya kalah kuat saat Ardio menarik Allin ke dalam kamar, hingga kejadian nahas menimpanya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2