
Kadang rasa iri dan dengki membuat dia lupa untuk bersyukur. Menyalahkan orang lain untuk nasib buruknya. Atau dia menginginkan orang itu, tidak boleh lebih baik dari dirinya.
Melakukan segala cara untuk mengintai lawannya. Dan menyerang lawannya pada saat yang tepat. Kesakitan lawan adalah kebahagian baginya.
Dia lupa bahwa kebahagian itu berasal dari diri sendiri bukan karena bisa mengalahkan orang lain.
Dia tersesat dalam hatinya yang kotor.
Jauh di sana, dia tersenyum penuh kemenangan setelah menerima panggilan. Memberi kabar baik untuk hatinya yang penuh rasa iri dan dengki.
***
Sedangkan Allin memaksakan dirinya untuk tetap tersenyum. "Maaf, saya permisi dulu"
Mereka mengangguk bersamaan dengan tatapan iba.
Allin benci seperti ini! Dia benci saat di kasihani, dia benci saat dia terlihat lemah.
Hanya dia yang tak menatapnya dan tak peduli.
Allin membawa hatinya yang telah hancur, menyeret kedua kakinya dengan posisi tegap.
Tak ingin orang lain tahu dan menganggap dia rapuh, dia berjalan bak robot yang kaku.
Tidak. Dihadapan mereka dia tidak ingin mengeluarkan setetes air mata, pandangannya tetap lurus ke depan.
Setelah jarak memisahkan dia dari ruangan itu. Dia mulai merasa kepayahan untuk mengayunkan kakinya. Senyum yang dia pasang makin memudar berganti tatapan kosong tak bertujuan.
Dinding di jadikan pegangan untuk membawa langkah kakinya lebih jauh. Menyusuri jalan dengan remangnya penerangan, untuk melewati lorong yang menghubungi halaman belakang ke halaman depan.
Tak ada satu pun yang menyadari, bahwa dia mencoba pergi, lari dari kesakitan.
Dia mulai bermonolog sendiri, memojokkan dirinya untuk menambah lukanya lebih dalam.
*Tak seharusnya aku percaya, hingga rasa sakit ini takkan bisa menusuk hatiku.
Tak seharusnya aku terbuai, hingga menenggelamku pada pahitnya kebohongan.
Semua hanyalah sandiwara.
Semua adalah permainan.
__ADS_1
Ya, dia menang dalan permainan ini. Aku kalah, membiarkan hatiku luluh tanpa pertahanan*.
Kini tangannya sudah bebas, ujung lorong dinding itu telah habis. Kini tangannya memukul dadanya, untuk menahan gemuruh yang makin menjadi. Atau menguatkan hatinya agar tak menangis.
Lagi-lagi dia menyalahkan dirinya.
Allin kau benar bodoh! Mengapa kau lepaskan pertahankan terakhirmu. Menerima keputusan-nya, tetapi ternyata? Itu hanya tipu daya, untuk menyerang mu hingga kau terkapar.
Hahaha ....
Kau tertipu Allin! Kau terlalu berharap! Kau lupa diri! Siapa kau Allin? Kau hanya wanita kotor yang sudah ternoda. Siapa yang sudi mau menerima dirimu apa adanya Allin.
Hingga dia sampai keluar dari pagar rumah besar itu.
Seseorang melihat Allin dari kejauhuan.
Perempuan itu terkekeh dalam tangisannya, dan menyeret langkah kakinya dengan susah payah. Tiap langkah itu seperti ada puluhan ranjau melilitnya, berduri dan beracun menusuk ulu hatinya.
Dia seperti orang lengah dan pesakitan.
Ardio mencoba mendekati. "Kau tak apa-apa?"
Wajah itu berpaling menatap Ardio. Dia tersenyum dengan mata berkaca. Lalu dia tertawa, seolah sedang mentertawakan seseorang.
Dan kau! Malahan mentertawakan nasibmu*.
"Hei ...." Ardio menegurnya lagi.
Pria itu sadar bahwa perempuan di hadapannya sedang tidak baik-baik saja. Perempuan itu mencoba tegar untuk menutupi kesakitannya. Dia terlalu sering melihat akting lawan mainnya memerankan adegan sosok perempuan tangguh yang tersakiti.
"Siapa kau? Aku tidak mengenalmu. Dan pergi dari hadapanku" sahutnya angkuh dan pura-pura tidak mengenal.
Dia tak peduli lagi dengan orang yang di hadapannya. Pikirannya fokus kemana harus dia pergi. Dia butuh tempat untuk menenangkan diri dan mengobati lukanya ini.
"Allin kamu mau kemana?" tegur pria tua tiba-tiba menghampiri mereka.
Ardio ikut berpaling mengikuti arah suara.
"Pulang Pak" dengan senyuman di paksakan untuk menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.
Allin tekekeh tanpa suara dan mengumpat dalam hati pada dirinya.
__ADS_1
Kau mau pulang kemana Allin. Baru berapa jam lalu kau begitu antusias mengabari tante Mia. Meluapkan rasa senangmu dan tiba-tiba kau pulang dengan membawa rasa sakit ini.
Bagaimana kau menjawab pertanyaan dari tantemu. Dia akan khawatir Allin. Cukup sudah kau menyusahkannya, jangan menambah bebannya lagi!
Ardio kembali fokus pada Allin, rasa khawatir menyelinap di perasaannya. Melihat raut perempuan di hadapnnya berubah sikap begitu saja, saat pria tua itu menghampiri mereka. Dugaannya benar perempuan di dahapannya sedang mengalami hal buruk, dia bersikap seolah tegar tapi kenyataannya tidak.
Allin mencoba menutupi keadaan dirinya, senyum menghiasi wajah untuk balas menatap sosok pria tua yang sedang khawatir padanya, badannya dia tegakkan selurus mungkin. Dalam hatinya, dia senang ada orang lain juga yang mengkhawatirkan keadaanya, tetapi raganya yang lemah itu tak mampu bertahan hingga tubuh itu jatuh dan tak sadarkan diri.
***
"Lalu berkas ini untuk apa?" tanya Ayah Sella menatap lembaran kertas yang sudah di persiapkan sejak pagi.
Mata ayah dan bunda Vano seketika melihat lembaran kertas yang di atas meja. Mereka saling bertukar pandang, saling bertanya tanpa suara. Menatap lebih lekat pada lembaran, mencoba membaca dari jarak jauh. Tak lama kemudian mereka mengerti.
"Jadi kau ingin menceraikan kedua istrimu Vano?" tanya sang ayah yang sedari tadi mencoba untuk memahami sikap anaknya, tetapi dia gagal, dia benar tak mengerti jalan pikir anaknya itu.
"Ya, aku sudah memutuskan untuk menggugat Vano." Tetapi Sella lah yang menyahuti dengan nada gusar.
Perempuan itu merasa tak enak hati untuk membahas masalah ini, mereka mungkin sedang sensitif, tetapi Sella tak ingin mundur lagi. Ini adalah pilihan dia dan Vano.
Vano hanya diam tidak membenarkan dan tidak menyangkal. Tatapan pria itu kosong ke depan tak berarah.
Kali ini ayah Vano tak tahan melihat kebisuan anaknya.
Akhirnya satu pukulan ia hantamkan di wajah anaknya itu.
Vano bergeming, sedangkan orang tua itu kepayahan, dia sudah mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menghajar anaknya itu.
Vano tak meringis sama sekali, wajah itu memerah, darah pun mengalir di sudut bibir dan hidungnya.
Tangannya mengepal kuat pada pinggiran meja, menompang tubuhnya supaya tak jatuh.
"Ayah ...!" pekikan bunda untuk menegur suaminya, berdiri dari kursinya.
Perempuan paruh baya itu menghampiri Vano, mencoba menghentikan darah dari lubang hidung Vano dengan beberapa tisu yang berada di meja.
Sella tak kalah panik, dia berlari ke belakang dan kembali membawa kotak obat, lalu di berikan pada bunda Vano.
Ayah Vano mulai frustasi melihat Vano yang hanya diam. Dia mengenal baik anaknya itu, dia tau pria muda itu tak setegar yang terlihat. Dia pria yang sensitif dan perasa.
"Sakit?" tanya bunda saat mengobati luka itu. Pria muda itu berpaling menatap bundanya yang telah berurai air mata.
__ADS_1
Vano mengangguk dan mengambil tangan bundanya. Membawa tangan perempuan paruh baya itu ke dada sebelah kirinya.
"Sakit!" ucap Vano tanpa suara, menekan tangan bundanya tepat di jantung.