
Isu pun beredar. Gonjang-ganjing rumah tangga Vano, Allin, dan Sella menyebar di semua media. Hujatan dan makian untuk Allin tak dapat di elakkan.
Pelakor, sebutan untuk Allin yang mereka sematkan di tiap komentar. Dan sebaliknya, Sella mendapatkan dukungan dan doa untuk dia selalu tegar dan segera mendapatkan pengganti yang lebih baik.
Kadang netizen lupa, itu hanya sepenggal kisah yang tak dapat mereka simpulkan dari satu sudut pandang saja. Mereka boleh kesal dan benci, tetapi bukan ranah mereka untuk menghujat dan menyudutkan pelaku.
Seharusnya mereka mengambil hikmah dari kejadian itu untuk menegur diri sendiri, bahwa yang namanya Pelakor adalah orang yang akan di benci semua orang.
Ardio dan Bams duduk bersama membahas masalah yang sedang booming yang membawa nama Sella disitu.
"Akhirnya dia mengambil keputusan" ucap Ardio
"Iya, kurasa itu pilihan terbaik menurutnya" ucap Bams
"Sella ada apa denganmu?" Ardio bermonolog dengan suara pelan, dia sedang sibuk dengan pemikiran sendiri, ucapan Bams tak dia sahutin. Ardio terlalu hanyut dengan pertanyaan yang menjanggal di benaknya, sedangkan temanya menatapnya dengan heran.
"Kenapa kau berpikir begitu, wajar Sella menggugat suaminya, pria itu menikahi perempuan lain" hardik Bams tidak paham dengan apa yang di pikirkan Ardio. Dia pun menyahuti gumanan temannya itu dengan kesal saat dia mendengar dengan samar, apa yang di ucapkan Ardio.
"Bukan itu maksudku. Kau tidak tau, bagaimana khawatir Sella dan keluarga suaminya saat perempuan itu jatuh pingsan"
"Mungkin gosip di media sosial itu benar. Perempuan itu hanya istri kontrak untuk memberikan pewaris keluarga Fahrizi, tetapi dia malah menggunakan kehamilannya untuk merebut suami Sella. Ternyata dia tak jauh beda dengan Mila"
Ardio mengangguk setuju, lalu dia mulai ragu mengingat momen bagaimana perlakuan keluarga Fahrizi termasuk Sella dan ayahnya. "Kurasa bukan seperti itu" sangkal Ardio cepat.
"Kita orang luar yang tak tau cerita sebenarnya, apalagi saat itu aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Sella dan ayahnya tak terlihat merasa terganggu dengan kehadiran perempuan itu." lanjut Ardio menambahkan penjelasannya.
"Kau yakin?" tanya Bams.
Ardio mengangguk.
"Dan berita keluarga Fahrizi terlalu tertutup, sulit untuk mencari informasi tentang mereka. Mungkinkah orang dalam yang menyebarkan berita ini. Beritanya juga mulai mehilang di media sosial." terang Bams.
"Wajar, mudah bagi keluarga Fahrizi menghapus berita buruk mengenai keluarga mereka. Pengaruh mereka sangat kuat di negeri ini"
"Lalu apa yang ingin kau lakukan?" tanya Bams.
Dalam hati Bams, dia mengagumi kedua temannya itu, Sella dan Ardio. Dia tahu bagaimana kisah mereka, meski temannya tak mampu lepas dari cinta masa lalunya, dia mampu menjaga sikapnya. Berita gugatan Sella pun bukan menjadi kebahagian pada Ardio, tetapi pria itu malah mengkhawatirkan keadaan Sella. Dia lupa, ada kesempatan untuk dirinya untuk mengejar cinta masa lalunya.
"Entahlah, mungkin aku akan mencoba menemui Sella"
"Kau yakin dia mau menemuimu?" tanya Bams dengan mimik wajah meremehkan, pria itu meragukan kemampuan Ardio untuk mendekati Sella.
__ADS_1
Ardio berdecak kesal mendengar pertanyaan temannya, yang selalu menyudutkan dirinya. Mata tajamnya menatap sekilas pada temannya, lalu membuang pandangan ke arah lain menunjukkan rasa tidak sukanya. Mulutnya terbuka sedikit mengeluarkan napasnya secara kasar.
Bams menahan senyum, dia mulai lagi memprovokasi. "Hampir enam tahun, hampir enam tahun" ucap pria itu bermonolog berulang-ulang dengan seringai liciknya. Dan dia juga pura-pura sibuk dengan pekerjaannya memunggungi temanya itu.
"Ah, Apa maksudmu" Ardio mulai sedikit emosi menanggapi sindiran temannya itu.
"Kenapa?" tanya Bams pura-pura tidak mengerti.
"Ucapanmu itu apa maksudnya!" Seru Ardio makin kesal.
"O ..., itu! Takut kau lupa. Dia tak ingin menemuimu sejak dia menikahi pria itu, dan kau selalu saja mencari cela untuk menemui Sella" ucap Bams menyudutkan Ardio.
"Sialan kau!" umpat Ardio. Pria itu tak mampu berkata lagi, apa yang dikatakan Bams tidak ada yang salah.
"Kau perlu seorang konsultan"
"Buat apa?"
"Buat menentukan langkah yang harus kau tempuh untuk cinta masa lalumu itu"
"Cih"
"Kau bisa gunakan jasaku, tapi di bayar dimuka ya!"
Plak. Plak. Dua pukulan beruntun menempel di wajah Bams. "Nih, di bayar dimuka!" Ardio memukul dengan kencang temannya dengan sebuah buku yang di ambilnya diam-diam.
"Sialan kau" umpat Bams sembari mengusap lembut pipinya
Ardio tertawa senang melihat umpatan temannya itu.
***
Di tempat lain Vano meradang.
Vano murka melihat gosip yang beredar di media sosial. Dia pun seketika menyuruh bawahannya untuk menghentikan peredaran isu itu.
Dan kali ini dia bersyukur dengan sikap Allin yang menjauhkan dirinya dengan media sosial dan gosip. Tetapi dia tetap waspada, takut berita tetap sampai di telinga istrinya, dia pun mengultimatum semua pelayannya untuk tidak menyampaikan berita apa pun pada Allin.
Dan ternyata Mila lagi yang menjadi dalang isu tersebut.
Perempuan licik itu sengaja membuat genderang perang dengannya. Entah tujuannya apa, malah dia dengan percaya diri menghampiri Vano di kantornya.
__ADS_1
Setelah dia izinkan dan di persillahkan masuk. Mila berjalan masuk dengan penuh percaya diri, saat mata perempuan itu bertemu mata Vano dengan senyuman menggoda dia menyapa.
Vano merasa jijik melihat sikap perempuan di hadapannya, tak perlu berbasi-basi dan tak mempersilahkan perempuan itu duduk, Vano lansung mengajukan pertanyaan padanya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Vano dengan raut wajah mulai menggelap, mencoba menahan, dia masih berusaha untuk tetap tenang.
Pikirannya terlalu kusut, banyak sekali kemarahan yang dia simpan untuk perempuan licik di hadapannya. Perempuan ini benar-benar menjadi penganggu dalam kehidupan tenangnya.
"Kau" tunjuk Mila menggoda sembari duduk di kursi yang berada di hadapan Vano.
Perempuan itu tampak tenang dan tak merasa malu dengan apa yang di ucapkannya. Mila merasa tak perlu lagi berpura-pura manis dengan suami adik sepupuku ini. Toh, pria itu sudah tahu bagaimana sikapnya.
"Cih!" sahut Vano jijik dengan raut wajah dinginnya. Mukanya tidak lagi terlihat biasa, pandangannya juga tajam menatap dengan rasa tidak suka.
"Kenapa, aku rasa diriku lebih cantik dan sexy dari pada simpananan-mu itu." Nada suara perempuan tidak lagi terdengar biasa. Vano tahu perempuan itu menunjukkan watak aslinya, dia seperti perempuan gila yang berkepribadian ganda.
Perempuan tak tau diri itu membanggakan dirinya dengan tatapan angkuh, dia membalas tatapan tajam Vano.
"Menjijikan" hardik Vano penuh penekanan.
"Hahaa, kau bilang aku menjijikan. Dan lihat dirimu, menikahi pengasuh anakmu dan meninggalkan istri cantikmu demi seorang pengasuh. Kau pria munafik, tapi aku suka itu. Dan Aku bisa menjadi simpanan lainnya dirimu"
"Aku bisa mempenjarakan dirimu Mila"
"Aku tau, tetapi aku juga bisa membuat nama baik keluarga kalian hancur. Dan aku tidak peduli dengan diriku, yang terpenting dari semua itu Allin akan tertekan dan merasa bersalah."
"Dasar perempuan gila" batin Vano
"Kau yakin orang mempercayaimu."
"Percaya dan tidak orang dengan tulisanku yang terpenting istrimu akan terganggu."
"Sebelum kau melakukan itu, sudah aku pastikan kau membusuk di penjara dan takkan mampu menulis apa pun"
"Ingat Tuan, istrimu itu sebelumnya pernah mengalami depresi dan trauma, dia belum sepenuhnya sembuh. Dan satu lagi yang akan memicunya penyakit kambuh, anaknya"
Ternyata dia tidak tahu, Allin sedikit demi sedikit sudah mampu mengatasi depresi dan traumanya itu.
"Cepat katakan, dimana kau sembunyikan anaknya!" hardik Vano.
"O ..., kau sudah tau ternyata. Tapi takkan aku biarkan kau menemukan anak itu. Kecuali kau mau tidur denganku"
__ADS_1
"Dasar perempuan gila!!" hardik Vano.
"Hahaha, pikirkanlah dulu, aku akan menunggumu" ucapnya sembari melangkah ke luar dari ruangan Vano.