Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Pesan


__ADS_3

Sella mulai risih dengan tatapan Ardio yang tak lepas darinya. Dia berpikir mungkin pria di hadapannya sedang mencurigai hubungan antara dia, Allin dan Vano.


Dia meminta izin kepada bunda untuk kembali lagi ke kamar Allin.


Ekor mata Ardio mengikuti langkah Sella. Pria tua yang tak jauh berada darinya, berdehem memperingati Ardio, seketika Ardio menatap pada pria tua yang ada di sampingnya.


Meski pria tua itu tak bicara sepatah kata pun, dia memberi peringatan pada Ardio, tapi Ardio tidak terusik sama sekali.


Ardio fokus lagi pada bunda Vano yang tak hentinya bertanya padanya.


***


Pintu terbuka, tampak Sella mengintip di balik pintu.


"Bolehkah aku masuk?" tanya Sella dengan sopan. Sebenarnya dia tidak ingin mengganggu, tetapi dia ingin meluruskan sikap Vano yang tadi tak terduga.


"Sebenarnya, apa yang terjadi. Kenapa kau berubah begitu cepat, dan bersikap kekanakan seperti ini." Tegur Sella tak mau berbasa-basi, dia lansung pada pokok pembicaraan yang dia ingin tahu.


Vano diam dan hanya mengulur ponselnya pada Sella.


"Aku tidak tahu kode kunci ponselmu!" Sella mengulurkan kembali ponsel itu dengan raut kesal.


Vano tersenyum samar dan mengambil lagi ponselnya.


Sella mencoba membuka salah satu pesan tanpa nama itu, menggeser layar hingga batas awal pesan.


Dia membeku dan terpaku.


Vano menyadari kalo wajar saja Sella terkejut, dia pun juga begitu, tetapi dia tidak mengerti.


Wajah perempuan di hadapannya membeku dan seperti tertekan. Matanya juga berkaca ada rasa kecewa yang dalam begitu menguar dari sorot mata dan wajahnya.


Pesan itu berisi gambar dan video tentang kegiatan Allin remaja. Menunjukkan beberapa kegiatan yang Allin ikuti, acara berjumpa artis atau acara makan-makan bersama. Terlihat sekali Allin begitu memuja artis idolanya. Dia terlihat menggelikan, memakai atribut aneh,


menuliskan kata memuja, menggabungkan gambarnya dengan idolanya. Dan hal konyol lainnya.


Semua gambar itu awalnya terlihat biasa, gambar gadis yang sedang tergila-gila pada idolanya.


Tetapi ada beberapa gambar membuat Sella syok, gambar ketika Allin mengetuk pintu kamar hotel. Gambar di depan pintu saat pria menarik Allin ke dalam dekapannya. Dan gambar Allin ikut masuk dalam kamar hotel itu.


Pria itu adalah Ardio, orang yang pernah ada dalam hatinya. Belum lagi keterangan di gambar itu menjelaskan secara detail tanggal, tempat, dan jam kejadian.


Lalu dia membaca sebuah pesan yang menyudutkan Allin. "Kau bodoh Tuan. Istrimu tak sebaik yang kau kira, dia gadis liar yang menjerat idolanya. Dia hanya berpura-pura padamu terlihat suci, dia perempuan licik dan liar. Dia gila bukan karena pemerkosaan. Dia gila karena terlalu mengidolakan artisnya."


Sella diam, berpikir sejenak, dan mengalihkan pandangan pada Vano.

__ADS_1


"Apakah Ardio ayah dari anaknya Allin?" batin Sella.


Dia kini bisa memaklumi perubahan sikap Vano, tetapi dia sadar pasti ada yang salah dari pesan ini. Dia kembali fokus lagi pada layar ponselnya, menggeser layar itu kebawah.


Lalu beberapa gambar muncul saat Allin dan Ardio di taman, mereka terlihat sangat intim. Dari gambar pelukan hingga gambar ciuman Ardio pada Allin, untuk memberi napas buatan pada Allin. Tanggal dan waktunya juga di tunjukan dengan rinci.


Saat melihat gambar terakhir Sella mulai merasa tenang, dugaan-nya salah telah berpikir buruk pada Allin.


Dia tahu sangat jelas kejadian itu. Karena Ardio menjelaskan padanya rentetan kejadian itu.


Sella menyimpulkan semua pesan ini adalah hoax, meski terlihat benar. Ini pelintiran informasi terhadap kebenaran, dengan menyuguhkan fakta sebagai alat pendukung.


"Kau terlalu gegabah untuk menyimpulkan. Kadang yang terlihat belum tentu menunjukkan kebenaran yang ada. Semua keterangan ini sudah di pelintir oleh pengirim."


"Kau yakin?" tanya Vano, sebenarnya, awalnya dia juga ragu tetapi emosinya sudah bergemuruh yang tak dapat dia bendung.


Sella mengangguk. "Aku ada setelah kejadian itu" jelas Sella. Seketika mata Vano memicing meminta penjelasan lebih, dia tidak paham maksud Sella.


Sella menarik napas dengan pelan, mengisi ruang kosong pada paru-parunya yang sempat terenggut. "Kemarin sore, Allin mengalami serangan panik lagi" ungkap Sella.


Wajah Vano nampak sangat terkejut. "Kapan dan dimana?" cecarnya lansung. Dia sadar seharian kemaren dia sibuk di kantor untuk menghindar dari Allin. Dan malamnya mereka menghabiskan malam yang panjang dan bercengkerama cukup lama, tetapi Allin tak sedikitpun membahas penyakitnya kambuh lagi.


Dalam hati ada rasa kecewa pada dirinya, ternyata dia belum bisa menjadi tempat yang nyaman bagi istrinya, untuk berbagi cerita.


"Sore kemaren, pria itulah yang menelpon dan mengabari bahwa Allin mengalami sesak napas yang hebat. Kejadian itu di taman, sesudah gambar itu di ambil." Sella menjelaskan dengan sedikit gusar. Dia tidak mampu menyebut mantannya itu di hadapan Vano.


Vano menyimak dengan baik, menunggu Sella melanjuti pembicaraan-nya. "Pria itu menceritakan bagaimana Allin tiba-tiba syok saat dia mencoba menyapa, lalu Allin menghindar, dia mencoba menarik Allin, lalu Allin mengalami syok dan tak lama itu dia jatuh. Pria itu spontan memberi napas buatan" jelas Sella lekat membalas tatapan Vano.


Ada kelegaan dalam hati Vano setelah mendengar penjelasan Sella, tetapi juga menimbulkan pertanyaan dalam benaknya.


Vano menatap Sella dengan lekat melihat gerak raut gusar pada istrinya itu, dia pun memberanikan untuk bertanya pada Sella. "Mengapa dia menceritakan begitu jelas kejadiannya padamu. Apakah kau mengenalnya Sella?"


Vano tau Sella adalah rekan kerja pria itu, terapi anehnya Sella bersikap seolah tidak mengenalnya dan enggan sekali menyebut namanya. Sella tak mungkin, tidak mengenal nama pria itu, pikir Vano.


"Maaf. Aku belum bisa cerita padamu" jawaban Sella begitu ambigu, tetapi Vano menghormati dan tak menconba untuk mencari tahu lebih lanjut.


Dia kembali fokus pada Allin, ada kelegaan dalam hatinya, Allin tak seburuk dia pikir.


Vano benci dengan orang yang terlalu mengidolakan artis, mengejarnya, mengintai, dan mengikuti setiap kegiatannya lalu berbuat bodoh untuk menunjukkan rasa sukanya.


Karena baginya sosok artis itu boleh di sukai, tetapi bukan buat dijadikan panutan, apalagi sampai mencoba mengikuti setiap apa yang di pakai dan lainnya.


Saat pikiran-nya masih berkelana membayangi kegiatan Allin sebagai fans fanatik Ardio, pintu kamar itu terbuka, bunda masuk bersama seorang dokter.


"Sebaiknya kau keluar Vano!!" Perintah bunda.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Vano bingung.


"Allin ingin diperiksa, dan kau bukan suaminya lagi, sebaiknya kau keluar!!"


Vano dan Sella terkejut dengan pernyataan bunda.


"Aku masih suaminya Bunda"


"Kau sudah menceraikannya Vano"


"Itu hanya sebuah rencana, bukan ...."


"Stop Vano! Ini pelajaran untukmu, jangan semudah itu kamu mengucapkan kata cerai, kamu sudah menalak istrimu" potong bunda.


Sella hanya diam memperhatikan bunda, ada keraguan akan kebenaran ucapan bunda, dia lebih setuju dengan apa yang Vano katakan.


Sebagai orang yang minim ilmu agamanya, dia hanya diam, dan tak ingin juga menyalahkan yang di ucapkan ibu mertuanya itu.


"Baiklah, aku akan rujuk kembali pada Allin"


"Tergantung Allin menerimamu atau tidak"


"Terima atau tidak, dia, aku tetap ingin rujuk dengan Allin." Vano tak mau kalah, dia tau bunda hanya ingin menyudutkannya.


"Sekarang kau keluar" bunda mendorong tubuh Vano untuk keluar.


Sang dokter hanya kebingungan melihat perdebatan mereka, yang dia tahu Sella lah istri Vano, tetapi dia tetap diam, tidak ingin ikut campur.


Vano membalik badannya melihat Sella tidak ikut keluar bersamanya.


"Kau tidak ikut keluar Sella?" tanya Vano.


Sella menggeleng


Setelah pintu itu tertutup rapat Sella menghampiri bundanya.


"Kenapa Bunda mengusir Vano" tanya Sella.


"Bunda hanya ingin memberikan pelajaran padannya, apa yang dia lakukan tadi salah"


"Tapi bunda yakin, jika Vano sudah sah menjatuhkan talak buat Allin?" tanya Sella penuh rasa ingin tahu.


"Bunda juga tidak yakin" jawab bunda santai sembari tersenyum.


Sella mengerti dengan sikap bundanya ini, dia hanya ingin merusak suasana hati Vano.

__ADS_1


"Hmm" tegur sang dokter, sedari tadi dia belum dipersilahkan untuk memeriksa pasiennya.


"Ya, Bu dokter. Silahkan diperiksa, masa disuruh dulu!" goda bunda pada sang dokter sembari mempersilahkan bu dokter menghampiri Allin.


__ADS_2